Puasa
Pasti ada sesuatu yg besar di dalam puasa.
Umat Hindu memiliki Ekadasi, demi membebaskan diri dari “the cycle of birth and death”. Umat Buddha menjalankan seperti apa yg ada di Vinaya (kecenderungan jiwa, fitrah diri), keharusan berpuasa sebagai semacam austerity - menahan tarikan dari keinginan duniawi. Jesus pun berpuasa 40 hari 40 malam, dan umat Kristiani berpuasa di Rabu Abu, Jumat Agung, Sabtu Suci, dan Pantekosta. Bukan demi berlapar-lapar ria, seperti ajaran umat Kristen Orthodox, melainkan sebagai sebuah jalan untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Kaum Yahudi juga punya puasa sehari penuh (nggak 24 jam kok, tapi 25!) pada Tisha B’Av (di hari hancurnya Kuil Sulaiman), juga di hari pertaubatan (Yom Kippur).
Dan umat Islam diperintahkan berpuasa:
…agar kamu bertakwa. (Quran [2]:183)
Tidakkah menarik, hampir setiap agama di dunia memiliki tradisi yg aneh ini: lewat lapar dan haus, menuju sesuatu yang… gimana ya, sebuah kesadaran tentang Jati Diri: bahwa we’re NOT this body, we are WE! Seperti propellant fuel, tubuh ini musti disulut, dibakar, agar roket Diri bisa meluncur ke atas. Bukankah tubuh akan kembali ke asalnya, yaitu tanah, dan kita yang sejati pun akan kembali ke asalnya?
Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikembalikan. (Quran [58]:9)
P.S.: Dengan asma-Mu. Duh Gusti, hamba tak paham tentang hakekat puasa menurut-Mu. Engkau memerintahkan kami berpuasa, Engkau pula yang memberi kekuatan dan petunjuk kepada kami. Engkau Yang Maha Tahu: puasanya tubuh ini, puasanya batin ini. Semoga melalui ini semua, Engkau Yang Rahmaan berkenan menganugrahkan ampunan, sehingga kami dapat kembali…
No Comments »
No comments yet.
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Recent comments

