Angel of Death: Izrail
Kisah di bawah ini sungguh “aneh”, sekaligus luar biasa. Membaca ini - barangkali karena detilnya - bagai mengalami dan menyaksikan sendiri sosok yang misterius yang di jaman ngaji waktu SD dulu dianggap sebagai Malaikat Maut, Sang Pencabut Nyawa. Dari seorang sufi Srilanka, Bawa Muhaiyaddeen, yang kata-katanya diterjemahkan oleh para muridnya di Amerika ke dalam sebuah buku To Die Before Death.
Saya melihatnya sendiri. Ketika itu, kami berdua berjalan untuk suatu tugas. Setelah beberapa saat, saya meninggalkan yang lain dan melanjutkan perjalanan seorang diri.
Lalu, saya melihat Malaikat Izrail duduk di atas sebuah panggung yang kira-kira tingginya 250 mil. Saya tidak dapat melihat kakinya. Dia sungguh, sangat-sangat tinggi. Di dekatnya, ada sebuah pohon dengan rimbunan dedaunan sebanyak lima atau enam. Setiap lembar daun itu bercahaya seperti bintang-bintang, dan seluruh tempat itu berpendar lantaran sinar dari cahaya-cahaya itu. Agak jauh dari situ adalah tempat pengadilan. Di tempat itu, setiap jiwa yang datang akan ditanyai. Sebagian dipersilakan pergi ke suatu arah, dan sebagian lainnya pergi ke arah yang lain.
Satu kelompok diantar ke sebuah tempat yang tinggi, menuju singgasana Tuhan (‘Arsy); pohon bercahaya tadi terletak dekat sekali dengan singgasana itu. Sementara kelompok yang lain pergi menuruni suatu tempat: neraka. Itulah hal-hal yang saya alami.
Malaikat Izrail tampak berwajah empat: satu wajah berwarna hitam; satu berwarna putih bagai susu; satu wajah membara seperti api; sementara satu yang lain tampak senantiasa mengamati pohon itu, setiap saat.
Saya ucapkan salam kepadanya, “As-salaamu’alaikum, Ya Izrail.” Seseorang mengatakan pada saya dia lah Izrail. Sewaktu saya amati, tampak bahwa seluruh semesta ada di dalam matanya, seluruh kehidupan ada di dalam matanya. Saya tak bisa melihat dunia yang lain kecuali yang ada di dalam matanya.
Tampak bahwa wajah yang putih seperti susu itu begitu indah, sementara wajah lainnya menyengat bagai api. Wajah yang hitam sangat gelap, dan wajah yang keempat selalu memandang ke arah pohon itu. Ketika jiwa-jiwa mendekatinya, ia mengulurkan tangan dan merengkuh mereka. Pohon itu bagai sebuah gunung jiwa yang sungguh besar.
Saya mendengar teriakan-teriakan. Izrail melihat jiwa-jiwa itu dengan pandangan apinya. Mereka pun berteriak, “Tolonglah, jangan bakar aku. Rasanya panas seperti api!” Sementara yang lain melolong ketakutan, “Oh, mereka hendak memotong-motong aku. Mereka hendak membunuhku!”
Kemudian, saya berbincang dengan Sang Malaikat Maut. Izrail berkata, “Lihat mataku. Seluruh dunia ada di mataku. Aku melaksanakan tugas yang Allah bebankan kepadaku; itu sebabnya aku disebut ‘Izrail’. Aku hanya melakukan apa yang Allah perintahkan kepadaku. Tidak ada jiwa yang bisa terlepas dari pandanganku, sekalipun ia bersembunyi di bawah batu. Tiada yang dapat bersembunyi dariku. Tidak satu pun tempat yang aku tak bisa melihatnya.”
Kemudian saya melihat sekumpulan orang dengan terompet di kepala. Mata mereka serupa dengan mata Izrail. Mereka merenggut dan menarik orang-orang melewati sebuah hutan besar, menuju ke tempat di mana pertanyaan-pertanyaan diajukan. Di sana ada sebuah panggung setinggi lima kaki, dengan selembar tabir. Sebilah cahaya terang memancar melalui tabir itu. Rupanya ada “seseorang” di balik tabir di sana. Dia lah yang mengajukan berbagai pertanyaan dan menunjuk dengan tangannya ke arah mana setiap jiwa musti ditempatkan. Jiwa-jiwa itu pun dibawa.
Saya bertanya pada Malaikat Izrail, “Engkau selalu mengamati pohon itu. Cahaya-cahaya apakah itu?”
Izrail menjawab, “Setiap jiwa dari apa-apa yang hidup, semuanya ada di pohon itu. Setiap kali jiwa berhenti berpendar, kami tahu bahwa hidupnya telah berakhir. Cahaya yang bersinar di sini, adalah juga yang bersinar di setiap makhluk. Tiap cahaya itu mewakili jiwa yang hidup. Itulah jiwa di dalam diri. Dan di tempat ini, berupa cahayanya. Cahaya yang meredup di pohon ini memberitahu kami bahwa peruntukan makanan dan air (rizq) baginya di dunia telah habis, dan itulah waktu bagi kami untuk menariknya kembali. Maka aku mengulurkan tanganku ke arahnya dan menariknya ke sini. Aku harus mengamati pohon itu setiap saat kalau-kalau ada secercah cahaya yang meredup. Itu sebabnya aku musti senantiasa mengawasinya.”
“Jiwa-jiwa dari bangsa jin akan diajukan ke wajah apiku, sementara makhluk-makhluk jahat dengan wajah hitamku. Orang-orang baik yang memperoleh rahmat Allah, aku terima dengan wajah putihku. Seperti bayi yang baru lahir yang menghisap susu di dada ibunya dengan lembut tanpa kesulitan, seperti itu pulalah aku mencabut jiwa-jiwa yang baik. Aku mencabutnya dengan wajah putihku.”
“Aku tidak di atas, tidak pula di bawah. Engkau tak bisa mengatakan bahwa aku berada di suatu tempat. Seperti itulah aku. Dunia ada di dalam setiap orang, dan seluruh dunia akan terlihat oleh mataku. Aku menyaksikan apa-apa yang ada di dalam diriku.”
Lalu, ia menyarankan saya untuk melanjutkan dan melihat. Saya menyaksikan orang-orang yang menuju surga amat sedikit, dan mereka yang menuju neraka sangatlah banyak. Saya lelah, dan saya pun berhenti.
Al-hamdulillaah. As-salaamu’alaikum, semoga Allah senantiasa menganugrahkan keselamatan. Semoga Allah melindungi kita semua.
8 Comments »
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Recent comments


Assalamualaikum
Glek..(nelen ludah)..sereem bet…
Pak Watung tolong sering2 terjemahin buku Bawa yah,,mungkin ada waktu di sela-sela kesibukan Anda. Terima kasih..
Wassalam
» Comment by fadlly — June 8, 2007 @ 3:31 am
interesting. is that really happened?
» Comment by just human — February 20, 2008 @ 4:41 pm
wow it so very scream……..
ceritanya menjadikan aku betP kecilnyA AKU DAN MASIH BETAPA HINANYA DIRIKU dari semua itu…
» Comment by andika — March 1, 2009 @ 10:42 pm
subbkhanallah,semoga semua manusia dihadapkan dg muka putih izrail,biar hamba saja yg dihadapkan dg muka hitamnya karena kehinaan dan banyaknya dosa hamba
» Comment by sodiq — March 28, 2009 @ 9:08 pm
urip kuwi koyok mampir ngombe.
makane nek ijek urip, ngombeno sing akeh.
» Comment by crezen — June 19, 2009 @ 8:11 am
subhanallah… benar seperti itu atau tidak, yang jelas kita harus haqqul yaqin dan mengimani Allah, malaikat, serta datangnya hari itu.
» Comment by habiba — May 17, 2010 @ 2:50 pm
Hanya Rasul dan para Nabi yang bisa melihat atau bercakap-cakap dengan Malaikat terbesar dalam sepuluh nama malaikat… apa betul engkau berdialog dengan dia… jika ya semoga rahmat Allah tercurah atas kamu dan kami yg membaca tulisanmu… jika kau menulis dengan hanya ilmu dan fikiranmu… semoga Allah mengampunimu… dan penyair yg baik akan menulis suatu hal atau hal-hal yg hanya di alaminya bukan hasil pemikiran dan menurut hawa nafsu sendiri… :)
» Comment by Yogi — June 1, 2010 @ 2:13 pm
@Yogi: tulisan ini adalah rekaman dari diskusi Bawa Muhaiyaddeen dengan murid-muridnya, bukan tulisan saya. Apakah hanya Nabi & Rasul yg berbicara dgn Jibril? Tapi bukankah kita sendiri pernah bercakap-cakap dengan (bahkan) Allah s.w.t kala itu (Surat Al-A’raf:172)?
» Comment by watung — June 6, 2010 @ 7:05 am