MLM? Bikin sendiri saja!
Ehm. Barangkali tulisan ini akan menyinggung banyak pihak. Mohon maaf sebelumnya. Tidak semua bisnis MLM mengikuti skema yang hendak saya ceritakan ini. Tapi rasanya teman-teman wajib tahu alur logika dari skema piramida, alur duit keluar masuknya, di mana fraudulent-nya, karena skema ini cukup jamak di negeri ini.
Jadi… pada suatu hari (begitulah biasanya cerita diawali), saya ditawari untuk jadi anggota sebuah jaringan MLM. Ini untuk yang kesekian kalinya. Presenter yang mendatangi saya, seperti yang sebelum-sebelumnya, juga luar biasa semangatnya. Entah kenapa, rasanya mereka itu seperti telah kejatuhan lailatul qadr yang mengubah seluruh jalan hidup mereka. Hebat!
Anyway, teknisnya begini: tiap bulan saya harus membayar X rupiah sebagai iuran rutin anggota jaringan. Kemudian saya musti mencari sekian anggota baru (istilahnya downline) termasuk membantu mereka memperoleh anggota-anggota lainnya. Saya akan dibekali materi-materi untuk memotivasi orang supaya mau turut serta menjadi anggota. Jika sukses, saya dijanjikan akan mendapat income 10 kali lipat dari yang saya bayarkan tiap bulan, atau bahkan 100 kali lipat. No product, no nothing. Cari downline, bayar iuran. Dapat duit. Simple.
Saya pikir, dari mana sih mereka dapat duitnya ya? Sebenarnya cukup lama saya mendengar soal skema piramida atau MLM atau yang semacamnya. Tapi kali ini saya ingin coba hitung-hitung lebih dalam. Corat-coret sebentar di kertas. Dan setelah itu, voila!, di pikiran saya: kenapa nggak kita bikin sendiri saja!
Langsung saja. Begini cara bikinnya:
(1) Cari 2 orang sebagai downline. Cari yang punya banyak teman, nggak suka selidik-selidik (ketahuan entar), secara financial mampu.
(2) Jangan bilang apa-apa dulu soal skema piramida, atau MLM, atau network marketing. Konotasinya buruk. Fokuskan pembicaraan lebih pada jargon-jargon motivasional: “Huge income!“, “Financial Freedom!“, “Kaya adalah hak setiap orang!”, atau quote aja buku Rich Dad, Poor Dad atau yang semacam itu.
(3) Begitu tertarik, masing-masing dari mereka harus mencari 2 orang lagi sebagai downline mereka sendiri, dan begitu seterusnya. “Cuma 2 orang lho, Pak!”
(4) Nah, sebagai source of income, kita bilang ke mereka, “Untuk ikut serta ke jaringan ini, murah kok. Cuma bayar Rp 500.000 per bulan.” Sebenarnya, model alternatifnya bisa macam-macam, bisa berupa iuran, keharusan membeli produk dalam jumlah tertentu. Silakan diimprovisasi sendiri.
(5) Lalu, kalau kita tidak punya produk? Yah, kumpulan artikel motivasional yang kita kompilasi dari Internet, itu pun jadi. Dibundle yang bagus dan wah, lalu kita katakan ke mereka, “Monggo, silakan diperbanyak, dan diberikan ke prospek anggota.” Lah, apa bagusnya produk itu? Yah, untuk sementara ini, produk nggak penting. Yang penting adalah kompensasi yang nanti bisa diraih. Lihat saja nanti.
(6) Sebagai percobaan, kita coba skema kompensasi yang simpel. Kita test, masuk nggak angka ini, layak nggak model bisnis ini. Kita bilang ke setiap anggota: “Bapak akan mendapat 25% pendapatan dari tiap level di bawah bapak.” Oke, itu saja dulu.
Is it going to work? Coba kita lihat. Pertama, buat oret-oretan sederhana, satu kotak mewakili satu anggota, lalu buat 2 kotak di bawahnya mewakili downline, dan buat 2 kotak lagi untuk masing-masingnya, dan seterusnya. Kita coba dulu sampai 3 level di bawah.

Kebayang? Now let’s see how big it is. Dari struktur sederhana ini, berapa sih banyaknya uang yang masuk ke bank account jaringan MLM kita setiap bulannya dari pembayaran iuran anggota?

Total Rp 7.500.000. Yah, memang nggak banyak. Tapi nanti kita akan lihat bagaimana bila ada lebih dari 3 level downline di bawah kita. Untuk saat ini, kita ingin tahu bagaimana model bisnis ini dijalankan.
Nah, coba kita perhatikan, tiap orang membayar Rp 500 ribu per bulan sebagai iuran anggota, dan memperoleh pendapatan 25% dari penghasilan tiap level di bawahnya. Maka, tiap orang di Level 1 misalnya, akan memperoleh 25% penghasilan Level 2 (atau 25% dari Rp 500.000 x 2 = Rp 250.000) plus 25% penghasilan Level 3 (25% dari Rp 500,000 x 4 = Rp 500.000). Total, dia akan memperoleh Rp 750.000 setiap bulannya. Oleh karena ia sendiri harus membayar Rp 500.000 per bulan untuk iuran, maka pendapatan bersih yang dia dapat sebesar Rp 250.000 per bulan.
Mmm. Nggak banyak. Tapi oke, kita coba terapkan perhitungan ini untuk level-level lainnya. Kita rapikan sedikit di Excel, seperti ini:

Kita perhatikan di situ, anggota di Level 2 dan 3 masih berpenghasilan minus, karena mereka belum punya banyak downline di bawahnya, dan di sisi lain mereka masih harus membayar iuran Rp 500 ribu setiap bulannya. Sementara Level 1 sudah memperoleh positive income. Kita sendiri, di top level, memperoleh cash bersih Rp 1.250.000 tiap bulannya. Bagaimana dengan perusahaan MLM-nya sendiri? Seperti kita lihat di tabel itu, perusahaan kita ini memperoleh pemasukan Rp 7.500.000 dari iuran semua anggota, dan pengeluaran untuk membayar komisi para anggota (termasuk kita sendiri) sebesar Rp 2.750.000. Pendapatan bersih sebesar Rp 4.750.000. Paling tidak kita bisa gunakan itu untuk membayar biaya cetak kompilasi artike-artikel dan materi-materi lainnya.
So far so good! Pendapatan kita (juga 2 orang di bawah kita) positif. Perusahaan pun positif. Para anggota di Level 2 dan 3 toh nanti akan berjuang mencari downline supaya mereka sendiri bisa, ya paling tidak, balik modal dan menikmati pendapatan seperti level-level di atas mereka.
Lalu, bagaimana bila bisnis ini mulai dikenal, dan para anggota di Level 2 dan 3 mulai memperoleh downline, sehingga jaringan MLM ini membentuk tambahan 2 level lagi di bawahnya? How big is this?

Penghasilan kita per bulan menjadi… Rp 7.250.000! Now you see, that’s a real money, heh? Para anggota di Level 2 pun sudah menikmati apa yang kita peroleh sebelumnya. Pendapatan bersih perusahaan pun meningkat, sehingga tidak cuma mengeluarkan artikel, tapi juga kaset-kaset heboh seperti “The Secrets of Getting Rich”, mengadakan berbagai seminar, barbeque party, dan lain sebagainya.
Kebayang kan? Kita coba beberapa alternatif skema, misalkan: bagaimana bila bukan 2 untuk downline, tapi 3? Jangan kaget ya…

Holy cow! 44 million per month! Bagaimana bila 4 atau 5? Bayangkan sendiri. Ada yang salah dalam perhitungan? Sama sekali tidak. Coba perhatikan, skema yang cukup sederhana: 3 orang downline, bayar iuran Rp 500.000 per anggota per bulan, memperoleh 25% pendapatan masing-masing level dari downline kita. Tidak ada produk berarti. Lalu, dari mana uang itu sebanyak itu?
Tepat! Sebagian besar pendapatan itu kita diperoleh dari sekian banyak anggota yang ada di level dasar. Dan kalau kita perhatikan lebih seksama lagi, tampak kesenjangan yang mencolok: 13 orang berpendapatan di atas Rp 3 juta, bahkan hanya 1 orang memperoleh Rp 40 juta, sementara 300-an anggota lainnya masih berhutang setiap bulannya alias pendapatan minus.
Nah, kita tahu sekarang mengapa di Amerika sana, skema piramida ini dilarang…
Melalui skema yang sederhana ini, uang yang cukup besar yang ada di bawah, tersedot ke atas. Kita, bersama beberapa orang lainnya, ongkang-ongkang kaki menikmati apa yang kita sendiri namakan “Financial Freedom”, sementara 300-an anggota lainnya itu pun sedang lintang pukang, berjuang mati-matian memperoleh downline.
“Tapi, Watung, bukankah 300 orang itu memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendapatan seperti kita?”
Baik, berapa banyakkah anggota baru yang musti dibujuk agar masing-masing dari 300 orang itu berpenghasilan Rp 4 juta? Jawabnya, 8.000 orang. Silakan hitung sendiri. Tapi kemudian, 8.000 orang itu kini berpendapatan minus. Lalu, berapa banyak lagi anggota baru agar masing-masing dari 8.000 orang itu berpenghasilan Rp 4 juta? Jawabnya, 200.000 orang! Tapi, sekali lagi, mereka ini pun menjadi orang-orang baru berpenghasilan minus. Dan kalau toh — jika kita teruskan perhitungan ini — kota berpenduduk 20 juta jiwa ini seluruhnya menjadi anggota jaringan MLM kita, maka akan ada 18 juta orang berpenghasilan minus, sementara segelintir lainnya memperoleh penghasilan di atas 100 milyar. Got the point? Silakan nilai sendiri.
So, buat yang sudah di atas, please remember where those blood you are sucking from. Buat yang masih di bawah, semoga amal-amal anda semua diterima…
Ada sekian banyak variasi di luaran, lebih kompeks dari sekedar skema kita yang sederhana tadi. Ada yang model matrix, unilevel, Australian, dan sebagainya. Kalau paham alur logikanya, pada prinsipnya hampir sama. Kindly share!
27 Comments »
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Recent comments


Good Job Tung
» Comment by Gus Lim — January 28, 2006 @ 7:38 am
Tung, aku daftar jadi downline mu dong….;)
» Comment by Anonymous — January 30, 2006 @ 8:37 am
^
|
— tomi
» Comment by Anonymous — January 30, 2006 @ 8:38 am
This post has been removed by a blog administrator.
» Comment by HotRandomizer — February 17, 2006 @ 7:10 pm
Maaf ya saya delete. Iklan MLM ada tempatnya sendiri. ;-)
» Comment by Watung — February 20, 2006 @ 5:06 pm
kamu mau nggak jadi donlenkuh? :D
» Comment by ripai — March 8, 2006 @ 1:40 am
Oke. Udah nih, aku udah di line yang paling down… ;-)
» Comment by Watung — March 8, 2006 @ 9:58 am
hohohoho.. aku juga pernah ngajuin perhitungan kayak gini ke orang yg prospek aku..
dan dia terdiam…..
dan tak berani datang lagi….
hahahaha..
» Comment by tikabanget — March 8, 2006 @ 11:57 am
Saya lagi berusaha bisnis MLM marketingnya diganti berdagang dengan Allah jadi Multi Level Pahala dijamin untung guede Khoiru mina dunya wa ma piha.
» Comment by di4n — March 8, 2006 @ 6:11 pm
dasar orang bego luh…ga tau apa2 diem aja…mental miskin…
» Comment by Anonymous — March 9, 2006 @ 11:59 pm
Pernah nonton film Pay It Forward ? MLM berbasis pahala, setiap ada orang yang melakukan kebajikan kepada kita. Balas kebajikan itu kepada 3 orang lain dan seterusnya… Aku lebih memilih MLM jenis ini ^_^
» Comment by JiE — March 16, 2006 @ 8:14 am
bagus mas,
sepertinya ini bukan MLM yah, tapi skema piramida/money game…
tlg di cek yah mas di
sini
» Comment by cornel — March 23, 2006 @ 10:23 am
Itu susahnya ya. Ada yg ngaku “MLM”, padahal skema piramida. Mustinya ada guide mana yg MLM-putih dan mana yang MLM-hitam. ;-) Anyway, thanks link-nya!
» Comment by Watung — March 31, 2006 @ 10:03 am
salute buat bang watung,, jadi sadar deh gw……
» Comment by Anonymous — March 31, 2006 @ 6:49 pm
that’s it, im quitting those!
» Comment by anima — April 2, 2006 @ 9:14 pm
Hey. Congrats! ;-)
» Comment by Watung — April 2, 2006 @ 10:10 pm
Top BGT Lu…. Kalo Ga Baca Ini Blog.. Gw Mungkin Udah……. Ya.. Lu Tau sendiri Lah……..
Thanks Bro Atas Infonya
» Comment by Anonymous — April 17, 2006 @ 2:46 pm
maaf, itu gambar piramida yg awal apa ga bs diganti? soalny itu gambar mencerminkan sesuatu..
» Comment by Anonymous — June 26, 2006 @ 4:04 pm
Penjelasan yang sangat menarik.
I really like it…
» Comment by zaenal — August 12, 2007 @ 2:02 pm
itu mah money game om, bukan mlm
:)
» Comment by fikri69 — November 13, 2007 @ 11:50 am
MLM yang BAIK…
fokus pada produk yang terbukti bermanfaat,
misal… buktinya…
sudah banyak kesaksian
di majalah TRUBUS untuk 2 tahun terakhir
dan harga produk tersebut pantas
produk gampang dijual, bukan untuk ditimbun…
misalnya…
selling point produk adalah:
1. satu-satunya yang kerjasama dengan majalah TRUBUS
2. satu-satunya yang diakui Islamic University of Malaysia
3. satu-satunya yang di-produksi oleh
perusahaan besar Amerika tertentu, sehingga MLM
tersebut adalah distributor tunggalnya…
saat join, upline tidak dapat sepeserpun..
sistem ABG = atas bawah gede…
tutup point ada, tetapi…
tidak banyak dan khusus hanya untuk
distributor yang penghasilannya sudah besar saja.
produk hasil tutup point itu pun
mudah dijual lagi,
karena cuma sedikit dan
karena barang tersebut laku keras
Terimakasih…
diambil dari : http://www.profitinthrift.com
» Comment by acco — June 30, 2008 @ 3:15 pm
Money game jangan dibilang MLM dong. Tolong jangan asbun.
» Comment by « ashD » — July 17, 2008 @ 10:40 pm
Masih ada yang comment juga disini.
Saya memang suka sekali tulisan ini, soalnya saya benci MLM. :D
» Comment by zaenal — December 5, 2008 @ 10:22 am
ya benar lebih baek, jual gorengan aja,,, :D
» Comment by Zakis — December 27, 2008 @ 2:23 pm
Nice! Thanks for the insight
» Comment by Ikun — June 22, 2009 @ 4:53 pm
ini namanya pencerahan … sbelumnya juga aq curiga dengan bisnis sejenis ini … thanks berat mas watung ….
» Comment by yeni — July 4, 2009 @ 2:16 am
bagus bagus..
pelajari aja…
kalo saya lebih suka langsung Action drpd banyak teori..
terbukti Tuhan jg liat2 mana org yg memang mw kerjakeras.
don’t giveup!
» Comment by Dhika — December 18, 2009 @ 6:46 pm