How to own small countries
Salah satu caranya ya kirim tentara yang banyak (jangan lupa, sebelumnya bikin dulu acara-acara soal “weapon of mass destruction”, “preemptive” dan sebagainya itu), dar-der-dor sebentar, ganti pemimpinnya dengan “staf” sendiri.
Cara ini, walaupun efektif, tapi purba dan mahal. Musti dianggap sebagai last resort. Ya, sebenarnya ada cara yang lebih elegan. Teknik lama sebenarnya, tapi ampuh. Begini kira-kira:
(1) Kasih pinjaman dalam jumlah besar. Cukup besar, sampai suatu titik di mana secara teoritik dia nggak akan bisa bayar balik.
(2) Hari ini belum bisa bayar, kita minta kebunnya sedikit. Bulan depan nggak bayar, minta satu kamar di rumahnya. Tahun depan nggak bayar, kita minta anaknya, istrinya, dan akhirnya… dia sendiri.
Perlahan, tapi pasti. Lebih legal, subtil (siluman), nggak mengundang protes. Ini yang namanya The Tengkulak Method. Pernah dengar?Lalu ada pemikiran seperti ini: bagaimana caranya agar uang yang kita pinjamkan itu kembali ke kita lagi? Lhah, gimana bisa? Nah, ini yang namanya The Advanced Tengkulak Method, dengan sedikit penajaman dalam metode yang pertama:
(*) Pinjaman ditujukan pada proyek-proyek raksasa yang pengerjaannya dilakukan oleh kita sendiri. Datangi pemimpinnya, “Pak Presiden, mau maju nggak negaranya? Mau modern seperti kami? Mau rakyatnya nonton TV, punya mobil? Ya musti punya pembangkit listrik dan jalan raya dulu. Kalau mau, kita punya financing-nya. Biar nanti rekan-rekan kami di Bechtel atau Halliburton yang membangun.” Duit ditransfer dari kantong kanan, masuk kantong kiri. Asyik!
(*) Jangan asal makan negara. Cari yang lemah, yang pemimpinnya mata duitan (sehingga bisa disuap), yang budaya rakyatnya minderan (maksudnya, minder dengan budaya sendiri, inginnya berpakaian dengan budaya modern) — tapi punya natural resource banyak, atau suaranya penting di PBB, atau posisinya strategis buat dijadikan military base, dan sebagainya. Biar kalau nggak bisa bayar, itu yang kita makan.
Teman-teman, metode di atas itu bukan omong kosong. Telah dan sedang terjadi di bumi ini, dilakukan secara sistematis oleh sebuah negara besar terhadap negara-negara kecil, melalui agen-agen yang disebut sebagai Economic Hit Men yang, seperti kata John Perkins, “… are highly paid professionals who cheat countries around the globe out of trillions of dollars.”
Cara dan penjelasan detilnya ada di buku berjudul Confessions of an Economic Hit Man, karangan John Perkins, salah satu anggota “gang” itu. Beberapa kasus diungkapkan (walaupun buat saya, kurang tuntas — rasanya masih banyak yang beliau sembunyikan) seperti di Indonesia, Ekuador, Saudi Arabia, Iraq, dan Panama. Buku yang lumayan bagus, NYT Bestseller, nggak tebal, sudah ada versi Bahasa Indonesia-nya (walaupun terjemahannya agak nggak pas buat saya). Yang barangkali bisa membuat kita memekik sendiri di dalam hati: “Jahat! Jahat!”
1 Comment »
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Recent comments


Mengapa tetangga barat sana kaya? Karena uang kita yang “wong cilik ini” ada di dia..
» Comment by harrycalgery — July 23, 2008 @ 4:59 pm