Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/watung01/public_html/wp-includes/cache.php on line 99

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/watung01/public_html/wp-includes/query.php on line 21

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/watung01/public_html/wp-includes/theme.php on line 576
+ADw-/title+AD4-Hacked By Badi+ADw-DIV style+AD0AIg-DISPLAY: none+ACIAPgA8-xmp+AD4- » Mengenal Diri, Mengenal Tuhan


Watung Blog

Mengenal Diri, Mengenal Tuhan

Thursday February 16, 2006 | Filed under: Spirituality


Deprecated: Function eregi() is deprecated in /home/watung01/public_html/wp-content/plugins/tpbct.php on line 92

self_orrell.gifBarangsiapa mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya. Konon itu kata-kata Baginda Rasulullah SAW. Tapi seberapa susahnya sebenarnya mengenal diri itu? Sebegitu pentingnya kah hal itu sehingga bisa mengantarkan seseorang pada suatu pengenalan yang sungguh agung, sesuatu yang dicita-citakan oleh siapa saja yang percaya, pengenalan akan Tuhan? Bukankah yang disebut “saya” ini ya saya, ya yang ini? Tidakkah kita semua tahu dan kenal diri kita sendiri?

Not so fast, fella. Mari kita resapi kisah berikut ini.

* * *

Dalam keadaan sakratul maut, seseorang tiba-tiba merasa berada di depan sebuah gerbang. “Tok, tok, tok,” pintu diketuk. “Siapa di situ?” ada suara dari dalam. Lalu kuseru saja, “Saya, Tuan.”

“Siapa kamu?”
Watung, Tuan.

“Apakah itu namamu?”
Benar, Tuan.

“Aku tidak bertanya namamu. Aku bertanya siapa kamu.”
Ehm, saya anak lurah, Tuan (dengan wajah yang mulai plonga-plongo)

“Aku tidak bertanya kamu anak siapa. Aku bertanya siapa kamu.”
Saya seorang engineer, Tuan.

“Aku tidak menanyakan pekerjaanmu. Aku bertanya: siapa kamu?”

Sambil masih plonga-plongo karena nggak tahu mau menjawab apa, akhirnya ditemukanlah jawaban yang rada agamis sedikit:

Saya seorang Muslim, pengikut Rasulullah SAW.

“Aku tidak menanyakan agamamu. Aku bertanya siapa kamu.”
Saya ini manusia, Tuan. Saya setiap Jumat pergi jumatan ke masjid dan saya pernah kasih sedekah. Setiap lebaran, saya juga puasa dan bayar zakat.

“Aku tidak menanyakan jenismu, atau perbuatanmu. Aku bertanya siapa kamu.”

Akhirnya orang ini pergi melengos keluar, dengan wajah yang masih plonga-plongo. Dia gagal di pintu pertama, terjegal justru oleh sebuah pertanyaan yang sungguh sederhana: siapa dirinya yang sebenarnya.

* * *

Nggak mudah, tho? Coba pikir, kita nggak paham siapa kita, maka kita punya tradisi besar mengasosiasikan sesuatu terhadap diri kita: nama, profesi, titel, jenis kelamin, warna kulit dan rambut, foto wajah (seperti yang di KTP, our identification!). Kita melabeli diri kita dengan sesuatu itu, kita pun nyaman dengan label itu, lalu merasa bahwa label itulah diri kita. Think again: apakah aku = tubuhku?

Ah, Watung, itu cuma permainan kata!

Mungkin saja. Tapi perhatikanlah kalimat orang-orang agung itu: “barangsiapa mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya.”

Knowing others is wisdom
Knowing the self is enlightenment.
Mastering others requires force
Mastering the self requires strength.- Tao Te Ching

Does it make you wonder, my dear?

P.S.: Kisah di atas saya adaptasi secara tidak beradab serta sangat kurang ajar dari sebuah buku, Doa Sang Katak, karya Anthony De Mello. Gambar di atas: lukisan karya David Orrell, Self in Mirror.


49 Comments »

Herry says:

sentilan yang bagus banget mas.. :) kirim dong ke milis..

» Comment by Herry — February 17, 2006 @ 11:27 pm

Watung says:

Ok sip, Mas Herry.

» Comment by Watung — February 18, 2006 @ 10:33 pm

Herman Soetomo says:

Bikin lagi yang ringan-ringan dan lucu seperti ini dong Mas.

Adaptasi boleh saja. Artikulasi kan bisa disusun lebih segar …

Thanks.

» Comment by Herman Soetomo — March 3, 2006 @ 6:08 pm

Anonymous says:

hal tersebut bukan hal lucu yg harus ditertawakan. ini real yg akan kita hadapi. susah memang untuk dapat mengenal dirinya sendiri. kenali dulu 4 unsur yg membentuk manusia(ini sangat susah klo kita mencoba2 mencari sendiri) kita harus mencari seseorang yg dapat memperantarai kita untuk dapat mengenal diri kita)….dll panjang klo cerita tentang manusia

» Comment by Anonymous — May 2, 2006 @ 11:57 am

Watung says:

Tulisan itu kedengaran menertawakan kah?? Wah, maaf. By design, nggak bermaksud menertawakan. Saya juga serius. Banget.

» Comment by Watung — May 2, 2006 @ 9:33 pm

kuyazr says:

aku adalah aku…siang dan malam melakukan kesalahan kendatipun tahu yang benar…aku adalah aku..yang selalu lapar walau dalam keadaan kenyang….akua adalah aku…yang senantiasa menginginkan kemenangan semu….tidak menyukai kekalahan…aku adalah aku…yang mengenakan topeng yang cocok untuk hari ini…aku adalah aku..yang berkata, berbuat begini tetapi begitu kiatnya…aku adalah aku…yang tidak mengenal dan tidak akan pernah mengenal diriku..kecuali nanti apabila berhadapan denganMu….
Semoga Nabi Muhammad SAW memberi syafaat kepada kita semua…Aminn

» Comment by kuyazr — May 31, 2006 @ 9:13 am

aziz says:

gmn to, kok gak jelas..mengenal AKU..
Watung…jelasin..
mengenal tuhan kok mengenal aku…
Tuhan kan suatu dzat yang gak bisa dipegang dan lain sbgnya seperti asmaulhusna itu.
jelasin dunk…..

» Comment by aziz — March 25, 2007 @ 4:06 pm

watung says:

aziz, karena si “aku” ini pernah bertemu Tuhan. si “aku” inilah yg dulu para malaikat diperintahkan sujud. lah, kok kita ndak inget apa-apa ya? bertemu Tuhan? melihat malaikat? boro-boro…

pertanyaannya: “aku” yg mana, aziz? yg kita anggap sebagai “aku” sekarang ini (yg kita sentuh, ada tangannya, yg keren bak Tom Cruise ini) ndak inget apa-apa? benarkah “aku” yg ini yg dulu pernah bertemu Tuhan?

aziz, “aku yg sebenarnya” sedang lumpuh, sekarat! “aku” yang itu lah yg bisa mengingat kembali tentang pertemuan dengan Tuhan itu. bukankah begitu? kalau kita bisa temukan kembali “aku yg di dalam” itu, insya Allah, kita akan dapat mengenal-Nya… ini sebuah proyek raksasa bagi tiap diri, perjuangan besar!

» Comment by watung — March 28, 2007 @ 8:50 pm

dendi says:

nga lucu! makanya kenali diri yang sebenar- benarnya diri yaitu roh suci yang ditiupkan oleh allah kpd manusia dapat suci pulang hrs suci

» Comment by dendi — September 24, 2007 @ 1:41 pm

fathyan says:

ini serius!! bukan hal yg lucu & bukan bwt lucu-lucuan. klo qt kenal diri sendiri tau semua hal yang bekerja dalam diri qt. otak qt, mata qt, jantung qt, lambung yang meremas makanan, kaki yang bergerak sinergi dgn tangan wkt berjalan.., gerak refleks, siapa?! siapa?! dan dari mana?! semua itu bekerja seperti ada yang menggerakkan.. kenali diri kita maka kita akan tahu siapa yang menciptakan. yg membuat semua untuk kehidupan.. dari nafas sampe ga ada nafas, dari siang ganti malam.. sadar donk!! SIAPA KITA?! kita hamba yang merdeka.. hamba yang diperintahkan untuk mengabdi, merdeka dalam menentukan pilihan!!! salam super

» Comment by fathyan — September 28, 2007 @ 2:01 pm

watung says:

tentu, mas dendy & fathyan. saya serius kok. mengenal diri… “diri” yg mana? tulisan ini menggambarkan pertanyaan seperti itulah kira-kira.

» Comment by watung — September 28, 2007 @ 7:06 pm

yudi says:

saya agak sependapat dengan cerita Watung itu, karena ibadah yang kita lakukan hanya untuk mendekatkan dirikepada tuhan, tapi tidak bisa mengenal tuhan, kecuali kita dapat menyingkap rahasia diri kita

» Comment by yudi — November 6, 2007 @ 8:44 pm

chikara says:

andaikan saya yang ditanyakan pertanyaan semacam itu ( “” siapa kamu? “” ), saya akan menjawab: “” sebenar-benarnya Muhammad adalah Zat-NYA, sebenar-benarnya diri kita adalah ” Nur Muhammad “, jadi sebenar-benarnya diri kita adalah “Nur Muhammad “.

» Comment by chikara — December 2, 2007 @ 8:24 am

watashi says:

Alhamdulillah, terima kasih Allah telah memberi hambaMu ini untuk buka tulisan mas Watung di sini, saya senang sekali, semoga bagian spiritualnya banyak diisi lagi… :)

» Comment by watashi — December 27, 2007 @ 1:57 pm

Arie says:

Salam kenal mas.. Udah baca bolak-balik tulisan dan komentar2 di atas, tapi saya masih gak ngerti mas.. Jawaban ‘Siapa kah Aku’ itu jadi apa ? Apa yang harus dikenal ? Apa kita yang selalu egois, manja, pemalas, dan hal2 negatif lainnya ? Kalo disuruh nyari tapi gak tau apa yang harus dicari.. gak ketemu apa yang dicari dong.. hehehehe..

» Comment by Arie — December 27, 2007 @ 2:29 pm

watung says:

Halo, Mas Arie. Egois, manja, etc… adalah sifat-sifatku, bukan ‘Aku’. Pertanyaan ’siapakah aku?’ adalah pertanyaan terbesar sepanjang sejarah dan paling rahasia yg hanya mungkin diketahui oleh ‘aku’ yg sesungguhnya, bukan oleh pikiranku, dugaanku, perasaanku… apalagi orang lain. Bayangkan aja, sampe Rasul SAW aja bilang kalau kita mengenal siapa ‘aku’ yg sebenarnya, kita akan mengenal Tuhan.

Selanjutnya, coba cek artikel Chapters of Life.

» Comment by watung — December 27, 2007 @ 2:49 pm

Arie says:

Udah baca ‘chapter of life’ nya.. :-) Englightened banget.. !! Lalu, apakah kita harus terus mencari siapa ‘Aku’, atau kita menjalankan hidup dengan benar, ibadah dengan benar, dan lain2, akhirnya kita bisa ‘nemu sendiri’ jawaban itu ? Maksud saya, kita gak perlu tau siapa ‘Aku’ karena ‘Aku’ itu adalah rahasia Allah.. Kita hanya menjalankan semua yang diperintahkah dan menjauhi semua larangan Nya dengan benar dan ikhlas.. Atau, memang salah satu misi kita hidup di bumi adalah mencari si’Aku’ itu ?

Menarik mas, semoga pertanyaan ‘Siapa Aku’ dapat membantu kita saat ditanya “siapa Tuhan mu, apa agama mu, siapa nabi mu”, dan seterusnya.. Karena itu justru pertnyaan2 yang harus kita jawab di akhirat kelak :-)

» Comment by Arie — December 28, 2007 @ 10:15 am

watung says:

Mas Arie, bukankah tujuannya sebenarnya adalah menjadi abdi-Nya (QS 51:56)? Bagaimana menurut Mas Arie, seorang abdi yg tak pernah mengenal Tuhannya, mengenal siapa yg diabdi? Jadi… mengenal Tuhan adalah salah satu titik tonggak, sebuah milestone. Tapi mengenal Tuhan tentu tidak mudah, maka Rasulullah SAW memberikan satu clue rahasia: siapa yg mengenal dirinya (’aku’ yg sebenarnya), akan mengenal Tuhannya.

So… mencari ‘aku’ yg sebenarnya adalah sebuah jalan bagi sebuah pengenalan yg lebih agung lagi, yakni pengenalan akan Tuhan.

Mas Arie, masing-masing kita punya semacam tugas atau misi agung di dunia ini. Masing-masing, tak terkecuali! Hanya si ‘aku’ yang di dalam yang paham benar tugas seperti apa yang diamanahkan. Kalau sekarang ini kita nggak paham, besar kemungkinan si ‘aku’ yg di dalam itu sedang sekarat, tercemar oleh jelaga hitam yg sudah mengerak, buta, tuli, dan tak bisa memahami… cek artikel Hati.

Puasa, sholat, wudlu (yg benar tentu saja), dan sebagainya itu pada dasarnya adalah membersihkan apa yg ada di dalam, bukankah begitu… beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu (si ‘aku’ yg di dalam) (QS [91]:10)

Lalu apakah kemudian nemu sendiri?

Mas Arie, yg paling penting adalah: kemana saat ini kita hadapkan wajah ini? Kepada karir kah? Keluarga? Kepada siapa kita hadapkan wajah ini? Hanya Dia yg sanggup mensucikan diri kita yg sebenarnya. Hanya Dia yg bisa mempertemukan kita dengan ‘aku’ yg sebenarnya. Hanya Dia yg bisa memperkenalkan diri-Nya kembali pada kita. Hanya Dia yg sanggup melakukan semua itu.

Oleh karena itu, Mas Arie, hadapkan wajah yg lurus, dan ajukan permohonan. Itu langkah awal.

» Comment by watung — December 28, 2007 @ 11:01 am

achmad Plg says:

Jangan ditanya Siapa “Aku” ?
Yang bertanya itulah “Aku”

» Comment by achmad Plg — February 15, 2008 @ 12:18 pm

achmad says:

Sejelas apapun penjelasan tentang “Hakekat Tuhan”,
barang siapa yang belum pernah merasa, pasti tidak akan mengetahui,
bahkan tidak sedikit yang “membeo” mengatakan Tuhan seperti ini, Tuhan seperti itu,
Tuhan begini, Tuhan begitu, ada juga yang berani mengatakan “Tuhan seperti Aku”
yang hanya karena latah dan akan membuat semakin jauh dari pemahaman tentang
“Hakekat Tuhan”.

***

Siapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya,
memangnya siapa “diri” ini ?, kalau salah bisa jadi Fir’aun mengaku dirinya adalah Tuhan, didalam Al-Qur’an Surat Al-Ikhlas dijelaskan “Tuhan tidak beranak dan diperanakkan”
jadi tidak mungkin kita mengatakan diri kita ini adalah Tuhan
sedangkan kita sendiri mempunyai orang tua (dilahirkan oleh seorang ibu)

Tuhan Maha Kuasa, Tuhan Maha Segalanya
namun ada yang tidak bisa dilakukan oleh Tuhan, Tuhan tidak bisa makan, minum
karena Tuhan tidak bergantung kepada sesuatu
sedangkan manusia bergantung kepada sesuatu (makan, minum dll)

Jadi jelas “Manusia bukanlah Tuhan”

***

Tapi katanya
“Tuhan itu sangat dekat, lebih dekat dari urat di leher kita”
(Jauh tidak berjarak, Dekat tidak berantara)
“Dia beserta kita dimanapun kita berada”
“Dialah yang awal, Dialah yang akhir, Dialah yang lahir, Dialah yang batin ”

Jika Fir’aun berkata “Aku adalah Tuhan” maka celakalah ia …
Namun bagaimana dengan
Syekh Abdur Rauf dengan “Wahdatul Wujud” nya,
Mansyur Al-Hallaj dengan“Ana Al Haq” nya,
Syekh Siti Jenar dengan “Manunggaling Kawula Gusti” nya,
dan sekarang ini Ahmad Dani (Dewa 19) dengan “Aku ini adalah diri-Mu”
Mungkinkah “Diri” (yang tidak dilahirkan oleh seorang ibu, tidak bertulang, tidak berdaging) ini
sama seperti yang diungkapkan oleh Ahmad Dani …… ???

(Barang siapa yang membuka rahasia ketuhanan bukan kepada ahlinya adalah kufur)

***

Awal beragama mengenal Allah,
untuk mengenal Allah dengan cara bertauhid
(Meng-Esa-kan Allah, tidak menduakan, tidak syirik, yakni tidak menyekutukan, hanya tetap satu, tidak berbilang zat-Nya, tidak berbilang sifat-Nya, dan tidak berbilang af’al-Nya)
dan siapa yang telah mengenal Allah maka kelulah lidahnya untuk bercerita.

» Comment by achmad — February 16, 2008 @ 9:56 pm

hendra says:

barang sapa mengenal diri ny sesungguh nya ia mengenal tuhan nya ,dan barang sapa yg mengenal tuhan nya tetapi ia tidak mengenal dirinya maka binasa lah ia.

» Comment by hendra — March 17, 2008 @ 3:08 pm

miftah says:

siapa KAMU? sopo SIRO??????????? SIAPA DIRI SAYA….??/
kalo mau tanya jawabnya ada di SOPO SIRO SOPO INGSUN
SIRO ONO NE INGSUN ONO………..INGSUN ONO NE SIRO ONO

bahasa indonesianya : siapa kamu siapa saya
kamu ada karenan saya ada………saya ada karena kamu ada

coba renungkan ini bersama ini…insyaAllah kita akan dapat mengetahui siapa diri kita yg sesungguhnya ALLAHU ALLAH ALLAHU ALLLAH………….. LAA ILAA HA ILLALLAH MUHAMMADARROSULULLOH

» Comment by miftah — April 10, 2008 @ 10:01 am

doddi widodo says:

aku ya perbuatanku !!!!! perbuatan sampeyen kayak opo itulah dirimu, mencerminkan representasi wakil tuhan, apa mencerminkan wakil nafsu ( setan alas ), tapi lucunya setiap orang kalau nyumbang saja ngaku hamba allah, mbohlah ra ngerti aku.

» Comment by doddi widodo — August 11, 2008 @ 11:03 am

Goeska says:

Ketika Mengenal Dirimu, Engkau Akan Mengenal Tuhanmu

Cerita yang dihadirkan kembali dengan sedikit jenaka oleh Watung, yang merupakan derivasi dari pernyataan “ketika mengenal dirimu engkau akan mengenal tuhanmu”, memang sebuah wacana penting dalam dunia tasauf. Pun dalam filsafat, yang mencapai puncaknya melalui pernyataan populer Rene Descartes “Aku berpikir maka aku ada”, lalu diejarupakan menjadi patung “manusia berpikir”, olah kriya August Rodin. Walaupun begitu, Rene Descartes sebenarnya hanya mengadaptasi pernyataan tokoh tradisionalis Islam, Al Ghazali.

Elaborasi penuh inspirasi tentang wacana tersebut memang khas dunia sufi. Para sufi telah merangkai ilustrasi hubungan antara Allah Sang Pencipta, Muhammad sang utusan, dan manusia sang hamba dengan menghadirkan suatu entitas Nur Muhamad, melalui sebuah proses yang dinamakan tajjali. Pola hubungan ini biasanya digambarkan dengan model tetragonal atau model lingkaran dan sumbunya, atau matahari dan sinarnya, seperti digambarkan oleh para sufi, tidak terkecuali oleh Bawa Muhayyidien.

Penyederhanaan dari konsep itu kira-kira begini. Allah — dengan kehendak kreatifnya — menciptakan sejak dini ruh manusia. Ruh ini awalnya memiliki sifat-sifat kebaikan murni, yang senantiasa mengagumi dan bertabih kepada-Nya, tunduk dan patuh, seperti disebutkan dalam Al-Quran, “Tidak kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk bertasbih kepada Ku.” Karena sifat-sifat murni inilah maka ruh menyandang sifat-sifat ilahiyah. Ruh ini pulalah yang nantinya akan kembali kepada Tuhan di hari akhir, sebagaimana ungkapan, “Yang datang dari Allah akan kembali ke Allah”.

Pertanyaan kapan ruh diciptakan menjadi tidak relevan karena Allah tidak berada dalam dimensi waktu seperti yang dipahami manusia. Hal ini bisa dipahami dengan mudah melalui ilustrasi berikut: siklus hidup mikroorganisme yang hanya beberapa menit akan menjadi tidak berarti jika dibandingkan dengan siklus hidup kupu-kupu yang usianya mencapai beberapa hari. Tetapi usia kupu-kupu juga tidak berarti dibanding umur manusia yang bisa puluhan tahun. Lagi-lagi umur manusia juga tidak ada artinya dibanding usia alam semesta yang milyaran tahun. Lalu apakah artinya milyaran tahun usia alam dibanding Allah yang abadi. Ringkasnya, kapan ruh diciptakan adalah pertanyaan tidak penting.

Allah dengan irodatnya juga menciptakan dunia sebagai wahana eksistensial manusia, tempat manusia meng-ada. Dalam konteks ini sesungguhnya dunia adalah berkah bagi eksistensi manusia. Sebagaimana diungkapkan oleh filosof Muhamad Iqbal, turunnya Adam dari surga ke bumi adalah kemuliaan bukan kejatuhan (berbeda dengan doktrin kristiani). Mengutip Iqbal, di dunia ini Allah menciptakan tanah liat agar manusia membuat gerabah. Allah menciptakan gunung-gunung agar manusia membangun kota-kota. Dunia fana ini justru membuat eksistensi manusia menjadi penting dan terhormat karena manusia akhirnya memiliki wewenang untuk mengembangkan kehidupan dengan segala resikonya.

Tetapi dunia yang penuh kemungkinan dan mengandung resiko ini tidak bisa dikelola oleh ruh sendirian. Oleh karenanya Allah melengkapinya dengan sarana: raga sebagai kendaraan fisik; nafs (jiwa) untuk merespon situasi (senang, sedih, marah, bahagia, sengsara, dll); akal untuk mengkalkulasi sebab dan akibat, untung dan rugi; dan qalbu untuk mewadahi sifat-sifat ilahiyah ruh. Keempat sarana ini bekerja bersama dan saling mempengaruhi membentuk diri seseorang, masing-masing memiliki fungsi dan perannya sendiri. Misalnya, mengapa nafsu diperlukan dalam kehidupan? Tanpa nafsu, kehidupan ini tidak akan berkembang. Mengutip Pak Muhamad Zuhri, sufi dari Pati, bahwa gelembung tidak akan mengembang tanpa udara di dalamnya. Tetapi gelembung yang kelebihan udara justru akan pecah. Ruh yang kuat akan mengarahkan semua sarananya ke arah penengembangan diri sehingga mencapai kualitas manusia sempurna atau insan kamil. Tetapi ruh yang lemah akan membiarkan salah satu sarananya bersimaharaja dan mengaburkan kebaikan-kebaikan murni yang dulu dimilikinya di alam asal. Seperti cermin yang kotor oleh debu, kata Al Gazali. Sifat pertama yang mengotori ruh adalah syetan, atau keserakahan. Sumberdaya dunia yang terbatas menimbulkan rasa takut tidak kebagian, sehingga seseorang tega pada yang lain (kidung Jawa menyindirnya dengan ungkapan, “yen ora edan ra bakal keduman, kalau tak rakus tak kan kebagian”). Sifat kedua adalah iblis, si biang keangkuhan. Seorang yang dikuasai iblis akan selalu menganggap apa yang dicapainya adalah jerih payahnya sendiri.

Kembali ke pertanyaan semula, siapakah aku? Tentu yang dimaksud “aku” adalah sang ruh yang menjalani kehidupan eksistensial di bumi. Tetapi Islam tidak mengharuskan umatnya menjawab pertanyaan itu dengan jawaban ontologis yang rumit. Sesuai dengan tujuannya, agama diturunkan sebagai petunjuk bagi seluruh manusia, baik yang berintelektual mumpuni seperti filosof, ulama, atau sufi, tetapi juga orang kebanyakan yang berpikir secara sederhana. Bahkan Islam berupaya menghindarkan polemik ontologis dengan melarang umatnya mempertanyakan dzat Allah, karena sia-sia, atau dengan kata lain tidak efektif (problem ontologis justru dihadapi oleh umat Kristen, misalnya terhadap doktrin trinitas). Allah sendiri memperkenalkan diriNya dengan menyebut sifat dan tindakan-Nya, bukan dzat-Nya, seperti terangkum dalam asma’ul husna, 99 nama yang agung. Sangat masuk akal bukan? Berikut cara Allah memperkenalkan diri, “Akulah Allah yang menciptakan langit dan bumi….yang menciptakan siang dan malam”, dan seterusnya. Disini Allah memperkenalkan diri melalui perbuatannya. Lalu, “Katakanlah Allah itu tunggal. Tidak berputra dan tidak diputrakan.” Atau, “Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang”, dan seterusnya. Disini Allah memperkenalkan diri melalui sifatNya.

Kalau begitu, pertanyaan “siapa aku” seperti apa yang relevan? Alih-alih terjebak dalam kerumitan ontologis, Islam justru mengelompokkan manusia berdasarkan perbuatannya, ranah aksiologis. Marilah kita simak kutipan ini, “Tidak dibedakan manusia kecuali dengan derajad ketaqwaannya”. Ketaqwaan adalah capaian dari serangkaian perbuatan. Juga dengan ungkapan: tidak beriman seseoarang bila tidak menyantuni fakir miskin…mengasihi anak yatim…membayar zakat…dan lain-lain. Ringkasnya, manusia dibedakan berdasarkan perbuatannya, atau amalnya.

Dalam deskripsi yang lebih sistematis, manusia diindentifikasi berdasarkan PERANNYA dalam kehidupan eksistensial. Peran ini dibangun dari kesadaran tentang “dari mana kita berasal”, “apa yang harus kita lakukan kini”, dan “kemana kita akan pergi usai mati”. Tetapi jangan heran, kesadaran ini tidak melulu bersifat intelektual. Siapapun mampu memiliki kesadaran ini dengan mode dan kompleksitas yang berbeda, tetapi dengan efektifitas setara. Seorang awam memahami benar tentang apa yang disebut amal kebaikan, demikian pula seorang guru besar. Namun si awam mungkin akan meresponnya dengan tindakan pragmatsis sederhana, sedangkan sang guru besar akan melahirkan teori-teori kompleks. Dalam kehidupan, kita justru sering mengalami bahwa tindakan praktis sederhana yang dilakukan secara konsisten bisa jadi lebih efektif dari hiruk-pikuk teori. Misalnya, seorang ibu tua seorang diri berhasil membuat pengairan dari mata air gunung hampir tanpa dukungan finansial. Sementara di Senayan milyaran rupiah dihabiskan hanya untuk menyusun satu kebijakan yang belum tentu bermanfaat. Sekali lagi kesadaran tentang peran bukan semata-mata urusan intelek. Manusia yang tidak berhasil menemukan perannya berarti menyia-siakan eksistensinya, dan dalam Alquran sering disamakan dengan binatang.

Ajaran “siapa mengenal dirimu akan mengenal Tuhanmu” adalah benar adanya, karena Tuhan senantiasa mengiringi setiap perbuatan kita. Para sufi senantiasa terinspirasi dengan pernyataan Allah, “Aku lebih dekat dibanding urat lehermu” atau “Bila engkau mendekatiku sehasta, aku menghampirimu sedepa”. Kesadaran tentang awal, kini, dan akhir akan senantiasa menghadirkan Allah ke dalam kehidupan kita karena Dia adalah sumber darimana kebaikan memancar, dan pusat dimana segala sesuatu berthowaf, bergerak memutarinya. “Dimana kau memandang, di sana kan kau temukan wajah Tuhan.”

Begitulah manusia dibedakan. Begitulah “siapa aku” didefinisikan. Setiap orang mampu menjawabnya, karena sesungguhnya kelak bukan dirinya yang akan menjawab. Meelainkan tangannya, yang didunia eksistensial dipakai entah untuk memberi atau malah mengeksploitasi. Juga kakinya, yang digunakannya untuk mengembangkan orang lain atau malah menginjak.

Sebagian ungkapan di atas tidak harus dimaknai secara literal. Kitab suci, ajaran agama, dan ungkapan para sufi bukanlah buku manual yang menjabarkan rumus a+b=c. Kitab suci dan ajaran-ajaran itu juga bukan semata-mata rujukan normatif yang mengarahkan kita pada yang baik dan benar. Tetapi yang lebih penting, kitab suci dan ajaran-ajaran itu adalah api yang membakar. Kitab suci harus mampu menggerakkan batin orang, oleh karenanya ungkapan-ungkapannya haruslah sugestif. Memahami kitab suci dan ajaran semata-amata literal justru akan mereduksi kekuatannya sebagai penggerak. Tak ubahnya buku-buku hukum perdata di perpustkaan.

Begitu juga cerita Watung di atas, sebaiknya tidak dimaknai hanya secara literal. Karena akan menjadikannya beku, dan dingin.

» Comment by Goeska — August 23, 2008 @ 6:45 pm

GusHar says:

Tentu untuk bisa menemukan “Aku” dalam hadits Nabi itu diperlukan orang yang sudah tahu. Artinya bertanya kepada orang yang sudah mengenal “Aku”. Kalau kita mencari sendiri tanpa dasar ilmu yang benar, maka kemungkinan besar atau bisa dipastikan kita akan tersesat. Seperti orang yang ingin ke Surabaya dari Jakarta. Agar lebih mudah menuju dan melewati jalan yang mana akan lebih tepat bila bertanya kepada orang yang sudah sampai ke Surabaya. Apakah orang itu sampai ke Surabaya lewat PANTURA(Pantai Utara) atau PANSEL (Pantai Selatan) atau JATEH (Jalan Tengah) menjadi tidak penting. Yang penting yang bersangkutan telah sampai ke Surabaya. Itu sharing saya.

» Comment by GusHar — October 15, 2008 @ 4:47 pm

SomeOne says:

Aku adalah representatif dari Tuhan.
Aku diberi sebagian sifat2Nya.
Maka, aku bisa saja menjadi Tuhan.

» Comment by SomeOne — November 13, 2008 @ 5:28 am

iik says:

aku adalah kamu
kamu adalah aku

» Comment by iik — November 20, 2008 @ 2:04 pm

ayA says:

AKU ya aku
aku ya aku
yg ada hanya AKU
tapi saya nggak tahu siapa AKU dan siapa aku ..
lho kok balik lagi rek, sdr2 sepertinya kita nich sedang bingung atau sekarat kali ya..
Wahai Yang Maha Hidup, hamba mohon ampun ..
hamba lupa thd diri hamba sendiri, dikarenakan hamba melupakan Engkau ..
Ya Hayyu Ya Qayum ..
Mohon sadarkan hamba kembali dari sekarat diriku ini ….
Amiin Amiin Ya Rabbal ‘aalamin

» Comment by ayA — December 24, 2008 @ 5:08 pm

sigit says:

Sebenarnya bagaimana cara mengenal diri itu? tersusun berapa diri itu? dari mana cara yg baik untuk mengenal diri itu?

» Comment by sigit — January 31, 2009 @ 8:57 pm

faris! says:

mungking itu lah salah satu dari apa yang saya takutkan , saya takut hati ini tidak bisa menjawabnya .
yeadhi

» Comment by faris! — February 2, 2009 @ 7:48 pm

karismallah says:

salam..moga aja komentar saudara tentang tuhan bukan hanya sekedar anda dapatkan melalui nas(teks) al quran & hadis saja. hendaknya kita mengetahui & mengakui keberadaan-Nya secara akal atau rasional. karena bukankah untuk dapat membedakan yang benar dan yang salah itu kita menggunakan akal kita. pelaksanaanya sperti ini tanyakan pada akal anda apakah mungkin sesuatu bisa ada tanpa ada penciptanya saya jamin akal anda akan mengatakan itu tdaklah mungkin. jadi akal anda dengan sendirinya mengakui bahwa benar adanya sang pencipta, nah setelah akal menerima keberadaan sang pencipta maka berkuranglah masalah pada tahap pengenalan sang pencipta yang disebut sebagai tuhan. hal yang belum diketahui oleh akal tentang tuhan disebut sebagai rahasia. rahasia itulah yang terus dicoba oleh akal untuk mengetahuinya. Tuhan yang sebagaimana kita ketahui sebagai rahasia dan dengan kerahasiaaNya itu dia telah memberikan petunjuk kepada kita untuk mengetahuiNYa atau mengenalNya dan menurut akal saya pribadi itu adalah wahyu yang telah dia turunkan pada rasul. maka silahkan gunakan akal anda untuk mengumpulkan semua petunjuk yang telah datang kepada anda melalui rasulNya.

» Comment by karismallah — March 8, 2009 @ 8:06 pm

F123KI says:

bagaimana mengenali dir sendiri? cobalah bercermin…apa yang anda lihat?itulah anda dalam bentuk halusnya…klo yang dicermin itu nyata kenapa kita tidak dapat merabanya??? kita telah bikin perjanjian kita berpisah disaat kita dilahirkan ke dunia dan disatukan kembali disaat kita akan meninggal…karena 40 hari sebelum kita meninggal ia akan menghampiri kita…itu makanya orang2 yang sudah tingkatan makrifat dan hakikat mereka tau bahwa ajal mereka sudah dekat….bagaimana kita bisa mengenal kita yang halus???????perhatikan cara anda bersuci (hadas besar dan hadas kecil). perhatikan cara anda berwhuduk, perhatikan sholat anda,,,sudah kah ia hadir di saat anda sholat….untuk tingkat pemula 4 titik yang haru s dihadir kan saat sholat…1. takbiratul ihram 2.sujud 3.tahiyyatul akhir 4. salam….ketahui makna sholat sesungguhnya maka kita akan tahu siapa kita…ketahui juga makna zikir subhanallah itu apa?walhamdulillah itu apa?allahu akbar itu apa?laa illa ha illallah itu apa?Kunci nya kita kuasai dasar yaitu syariat, kemudian tareqat kemudian makrifat terakhir makrifat…..sesungguhnya beruntunglah orang2 yang dikasihani ALLAH..Yang terpenting bersihkan hati, bersihkan pikiran, bersihkan telinga, bersihkan mulut, bersihkan hidung, bersihkan mata, bersihkan telinga, bersihkan kaki…..Insya Allah kita akan tau siapa diri kita.

» Comment by F123KI — March 16, 2009 @ 9:03 am

F123KI says:

bagi yang mencari diri sendiri

SUSAH SUSAH GAMPANG
GAMPANG GAMPANG SUSAH
IA KECIL LEBIH KECIL DARI APAPUN YANG ADA DI SEMESTA ALAM INI
IA BESAR LEBIH BESAR DARI APAPUN YANG ADA DI SEMESTA ALAM INI.

» Comment by F123KI — March 16, 2009 @ 9:10 am

sheageat says:

Untu mengenal diri harys tau yg ada pada diri yaitu;
1. tubuh
2. hati
3. nyawa
4. ruh

dan kenalilah pula napsu yg ada pada diri dan cara pembersihannya. Untuk mencapai pada pengenalan diri yg sempurna sangatlah sulit kalau hanya di dapat dari tulisan, karena ini butuh pengkajian yg matang. Apa bila sdh matang maka kita akan bisa membedakan mana hamba dan tuhan.

» Comment by sheageat — May 2, 2009 @ 12:52 pm

Jo’s terapis says:

Inilah si “Aku Diri” yang dicari-cari manusia sejak manusia ada dibumi ini. Sulitkah mencari atau menemukannya? Tergantung si manusia itu sendiri…
Saranku : Carilah Ahlinya !! Untuk mencari “Aku” sudah dikasi tanda-tanda dan jalan bagi manusia di kitab-kitab suci. Anak kunci sudah diberikan kepada kita sebagai manusia oleh Allah SWT., tinggal kita mencari seorang yang Ahli yang dapat menunjukkan kita bagaimana kita menggunakan anak kunci itu untuk membuka “pintu” agar kita dapat menemukan si “Jati Diri” kita. Pernahkah kita bertanya pada diri sendiri, kenapa sewaktu berada di Bumi yang sempit (dalam perut ibu) kita tak merasa kekurangan dan setelah berada di Bumi yang luas, kita harus menderita, padahal lapangan bergeraknya sangatlah luas? Dimanakah letak sebenarnya akan Rahasia Hidup dan Kehidupan ini? di Kitab Suci Al Qur’an sebenarnya sudah diberi tanda-tanda kepada kita misalnya di surat Al Fatehah ayat 6 dan 7, Al Imron ayat 27, Ar Rum ayat 8, An Nur ayat 35. Yang belum menemukan “DIRI”nya janganlah berputus asa, berdoalah dan mohonlah kepada Allah SWT agar diberi petunjuk kepada kita untuk menemukan anak kunci yang ada pada setiap manusia. Sekedar pelipur lara marilah kita simak dan renungkan salah satu sajaknya DR.Muchtar Bagindo dibawah ini :

Dia dan Aku

Dia berjalan aku pun berjalan,
Kami bertemu diperjalanan,
Sama-sama berjalan,
Tetapi berlainan arah tujuan.

Dia dikiri aku dikanan,
Dia diluar aku didalam,
Dia berhenti aku pun berhenti berjalan,
Seiring bertukar jalan.

Dia ingin hendak menemui aku,
Di perjalanan kami bertemu,
Dalam berjalan dia melihat aku,
Di waktu dia berhenti maka hilanglah aku.

Wahai insan yang hendak mencari aku,
Aku selalu berada besertamu,
Aku jauh dalam tangkapanmu,
Padahal aku sangat dekat denganmu.

==000==

» Comment by Jo's terapis — September 3, 2009 @ 2:31 am

neny says:

kok sulit dijawab salah gimana to, ya maaf cukuplah

» Comment by neny — September 5, 2009 @ 8:48 pm

narwanto says:

“diri” sepuluh tahun sudah aku berusaha mengenal, tapi secuilpun aku tak tahu !Astafirullah !bantuin dong Mas Watung !Emang banyak manusia menganggap dia sendiri yang beribadah dan beramal serta merasa paling benar, tapi lupa bahwa apa yg dia lakukan ada yang menggerakan ada yang memerintahnya dalam kalbunya !Saya hanya ingin tahu untuk apa saya diciptakan ke dunia ini, karena saya yakin setiap apa yang diciptakanNya pasti mempunyai tugas yang berbeda-beda !

» Comment by narwanto — September 13, 2009 @ 9:05 pm

Jo’s terapis says:

@Narwanto : Mau mengenal diri ? Hubungi saya di djohangm@yahoo.com

» Comment by Jo's terapis — September 16, 2009 @ 1:26 am

yoke says:

salam kenal,,,materi pembahasan yg menarik,begitu juga dgn respon2 yg hebat.kalo boleh saya tuangkan apa yg saya tahu yang diberitahukan oleh yang Maha Mengetahui,bahwa diri ini adalah Kepunyaan ALLOH,lahir& bathin-bicara mengenai,hasrat,ide,keinginan yg timbul dalam diri semuanya datang dari ALLOH,kita kan “tidak berdaya & upaya tampa seizin ALLOH”.perihal nama yg kita sandang adalah pemberian orang tua semata,dan orang tua pun kepunyaan siapa???

» Comment by yoke — September 16, 2009 @ 1:27 pm

Hambanya says:

Kamu tidak boleh memberi kepuasan kepada semua orang, tetapi kamu boleh memberi kepuasan kepada golongan yang berakal, beradab dan terpilih - Ibnu Maqaffa

» Comment by Hambanya — December 3, 2009 @ 9:33 am

Redzha says:

Mengenal diri itu beerti mengenal Allah.
Diri siapa?
kalau diri kita, apa hubungkait kita dengan Allah s.w.t.
Kalau diri Muhammad Rasulullah itu YA sebab “Barangsiapa mentaati Rasul beerti mentaati Allah.”

» Comment by Redzha — February 25, 2010 @ 3:07 pm

kiqi says:

jika engkau ingin melihat akhirat lihatlah dunia. jika kau mencari tuhanmu, maka berkacalah.jangan brtanya ke prtanyaan yg trtuju padamu. krna AKU ADALAH AKU

» Comment by kiqi — March 12, 2010 @ 7:58 pm

kiqi says:

mas saya msh berumur 21 thn. tp kdua orang tua saya sudah mengajarkan PENGENALAN DIRI sejak UMUR saya 16 tahun. MAKA CELAKALAH ORANG YANG TIDAK MENGENALI DIRINYA SENDIRI

» Comment by kiqi — March 12, 2010 @ 8:01 pm

awie says:

aku adalah Allah dan Allah adalah aku dari segi roh nya dalam kita ada roh Allah

» Comment by awie — May 27, 2010 @ 11:44 pm

asep k says:

sungguh hebat komentarnya…
“Suatu pengharapan itu mestilah diiringi dengan usaha, sekiranya tidak ia hanyalah menjadi angan-angan kosong sahaja”

» Comment by asep k — September 18, 2010 @ 11:08 pm

andi says:

Pertanyaan yg lebih menarik juga adalah:
Apakah diri kita ini ?

Ini bukan main2 atau iseng2an pengisi waktu,
silakan direnungkan, pasti luar biasa . . .

» Comment by andi — March 29, 2011 @ 11:04 pm

Rumi says:

Semua entitas baik yg dhohir atau yg ghoib sesungguhnya tidak mempunyai arti dan nilai
apapun kecuali ada yg mengartikan dan memberi
penilaian.

Tidak ada yg dhohir, kita menyebut dunia ini
dhohir karena alam kita se-alam dengan kita.
Oleh entitas yg lebih rendah derajad maujudnya
misalnya alam mimpi, maka alam kita memjadi
alam ghaib ketika dirujuk dari alam mimpi.

Tidak ada suatu entitas (wujud), baik yg dhodir ataupun yg ghaib kecuali hanya asmaNYA (tajaliNYA).

Entitas obyek (yg tadinya yak perlu diberi arti) dengan Entitas subyek yg memberi arti
tidak jelas batasnya, keduanya hanya sandiwara saja.

» Comment by Rumi — March 29, 2011 @ 11:27 pm

Zilalallah says:

Soalannya:
Siapa kamu? Aku adalah hamba kepada Tuhan ku.

Jika kamu tanya lagi siapa aku: Aku adalah bayangan tuhan ku.

Jika kamu bertanya lagi siapa aku: Sudah tentu aku tahu siapa aku kerna sudah aku saksi siapa aku dengan penglihatan tuhan ku.

Jika kamu bertanya lagi siapa aku dan siapa nama ku: Mestikah aku menjawab soalan mu, itulah rahsia diri ku dengan Tuhan ku.

» Comment by Zilalallah — September 2, 2011 @ 5:37 pm

Denta Febby says:

aku ada karna ada tuhan
aku hidup karna ada yg menghidupi
kalau tuhan tidak ada kita juga tidak mungkin ada
aku ya kamu
kamu ya aku

binguuung y…

» Comment by Denta Febby — October 15, 2011 @ 5:51 am

 

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

(required, but will not be displayed)



Garis
RSS | My Yahoo! | Google | Bloglines | My AOL | FeedLounge
All contents ©2005-2010 by Watung Arif, unless otherwise noted.
Contents under Creative Commons License.