Watung Blog

Tiap orang, suatu misi

Tuesday March 21, 2006 | Filed under: Spirituality

mission.jpgMari sedikit berefleksi. Tentang sebuah misteri.

Sudah lama sebenarnya saya nonton Bourne Identity, tapi baru kemarin mencoba untuk revisit nuansa idenya lagi. Yah, termasuk film jenis gedebak-gedebuk, berkisah tentang agen CIA yang menderita amnesia akut, setengah rol dari film ini menceritakan perjuangan Jason Bourne (Matt Damon) menemukan kembali ingatannya. Tahu bahwa ia begitu cekatan bermain pisau, memiliki pengetahuan komplit soal senjata, jago berantem, tangkas ngebut, pandai ngobrol berbagai bahasa — yang bagi Marie (Franka Potente) dianggap sebagai skill-set yang “nggak wajar” — Bourne sadar bahwa satu hal penting yang tak ia ketahui: siapa dirinya, identitas dirinya.

Jason Bourne: Now, Marie, how could I know all that and not know who I am?

Who am I? Why am I here? Pernah nggak sih kita bertanya seperti itu? Sejenak saja, sambil malam-malam mengukur jalanan kota yang gloomy ini, membiarkan pikiran kita mundur ke masa lalu ketika bayi, ketika di dalam perut Ibunda, … dan jauh ke belakang membayangkan ketika kita pernah bertemu berhadap-hadapan dengan “sosok” yang sekarang kita sebut “Tuhan” (well, for those who believe):

…ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul, kami menjadi saksi”. (Qur’an [7]:172)

Pernah nggak kita coba membayangkan, apa saja yang dibahas di pertemuan itu? Apa yang terjadi sebenarnya di sana? Who are we? Why are we here?

…dan dia lupa kepada kejadiannya. (Qur’an [36]:78)

longroad.jpgCoba kita tengok lagi jalan panjang itu, hari-hari kita. Bergumul dengan peluh dan debu, pagi sampai petang, untuk memenuhi perut dan garasi rumah kita sendiri, then what? Mati, terkubur di dalam tanah… Is that all, my dear fella? Hidup cuma menonton pergantian siang dan malam?

“Tapi, Tung, kan kata Qur’an juga:”

Tidak kuciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. (Qur’an [51]:56)

“Kita disuruh sholat, puasa, berzakat, dan kalau timbangannya oke kita masuk surga, kalau nggak ya nggak kesana. Simpel. Jelas, Tung?”

Baik juga. Tapi barangkali kita pernah mendengar suatu pemaknaan lain tentang kata “ibadah” ini: “… supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” Menjadi abdi-Nya. Dan untuk apakah seorang abdi bila tanpa suatu peran atau tugas khusus yang diembannya? Kita dibimbing dengan puasa, sholat dan zakat, lalu menganggap bahwa itu semua as an end, tanpa mencoba menilik kembali bahwa barangkali itu as a mean, sarana demi sesuatu yang lebih agung, suatu maksud di balik diberlakukannya hukum-hukum, “standard operating procedures” itu?

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. (Qur’an [33]:72)

Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. (Qur’an [2]:30)

Ada sesuatu yang musti kita “ambil” di dunia ini. Suatu tugas yang dipercayakan kepada kita. Suatu amanat.

Baik, kita semua memang diciptakan untuk menjadi khalifah, abdi-Nya, sang pemakmur bumi. Juklak umum, memang seperti itu. Now here’s the question: adakah juklak khusus, untuk masing-masing kita? “Well, Watung, a purpose, yes. But a purpose for each of us? Please.”

Think this way:

Ibaratkan, sebuah perusahaan. Setiap perusahaan memiliki misi, ada tujuannya. And the hall of fame purpose of a company is… making profit, right? Itu juklak umum. Tapi bukankah tiap departemen, tiap divisi, tiap unit, memiliki specific-purpose, scope tersendiri, bidangnya sendiri, strateginya sendiri, juklak khususnya sendiri, yang walaupun berbeda satu sama lain tapi konvergen dengan misi perusahaan? Seperti keenam utas senar gitar yang bergetar, tahu perannya masing-masing dalam mendendangkan satu langgam. Marketing mendongkrak sales, dan Operation menekan cost. Apakah misi marketing adalah making profit? Yup! Tapi kita tahu bahwa ada tugas yang lebih spesifik di sana. Apakah kita diciptakan untuk menjadi wakil-Nya, pemakmur bumi? Tentu. But don’t you ever wonder… tugas khusus bagi masing-masing kita?

Tiap-tiap diri dimudahkan sesuai dengan untuk apa ia diciptakan. - Rasulullah SAW (HR Bukhari)

Ya, tiap-tiap diri. Dimudahkan sesuai maksud penciptaannya, tujuannya, tugasnya. Think again the story of Jason Bourne.

Kita jago melukis, bikin komposisi musik, jago ngelawak, jago ngomong (a.k.a persuasion), pinter me-lead orang, encer dalam programming, akuntansi, dan berbagai bidang lain yang bagi banyak orang lain di sekeliling kita sering sekali dianggap “extra-ordinary”? Suatu skill-set yang rasanya buat kita enteng sekali mengerjakannya (bahkan sambil tutup mata), tapi kita terheran-heran dalam hati “Gitu aja kok orang tepuk tangan?”

bodysch.jpgPernah nggak sih kita merenungkan karakter kita, kelebihan kita, beyond a mere coincidence, bukan semata suatu kebetulan? Bahwa bukannya tanpa suatu special-purpose Allah Ta’ala membuat kita mudah mencipta 100 lagu sehari, mudah luar kepala menghitung 93,562 x 45,379, bahkan seorang ibu yang dengan tangan ajaibnya making everything ticks bagi keluarganya dan selalu dicintai anak-anaknya? Bahwa Gusti Allah begitu serius mempersiapkan hal-hal (don’t you think?)… sebagai bekal, berupa talenta, karakter, with something in mind: a special mission?

“Oke deh, Tung: a special mission. Tapi buat apa? Apa urgency-nya?”

So man has come in this world for a particular task, and that is his purpose; if he does not perform it, then he will have done nothing. - Jalaludin Rumi

Seperti seorang marketer yang ngurusin akunting, atau kurir yang di tengah tugasnya tiba-tiba menjadi juru masak, atau manusia yang ingin menjadi binatang… Walau pekerjaan itu bermanfaat, tapi bila tugas asalinya tak tersentuh, maka seperti kata Rumi:

It is just as if a king had sent you to the country to carry out a specified task. You go and perform a hundred other tasks; but if you have not performed that particular task on account of which you had gone to the country, it is as though you have performed nothing at all.

Dianggap seperti tak mengerjakan apa-apa…

Jason Bourne: Who am I?
Conklin: You’re U.S. Government property. You’re a malfunctioning $30 million weapon.

Semoga bermanfaat.

P.S. Warning: Saya bukan ahli tafsir (dan tidak sedang berusaha menafsirkan), so you don’t have to believe any word I say here.


17 Comments »

siska says:

Humm…
hi watung,
Saya berharap blog mu lebih liar..tapi setelah membaca posting mu dari tahun 2005, sampai sekarang, sampai posting ini, ini meyakinkan saya bahwa saya tidak bisa lagi menemukan itu, mungkin juga saya tidak menemukan itu dalam diri saya sendiri.

Apa Jakarta yang telah membuat kita banal?

Atau bukan Jakarta, tapi kita yang semakin merasa aman?

Apakah kamu betul-betul mempercayai semua yang kamu tulis, dalam posting ini?

Apakah kamu betul-betul telah menemukan RAHASIA yang Terbesar dan TerAgung itu?

Atau kamu hanya “melompat”?

» Comment by siska — March 28, 2006 @ 4:32 pm

Watung says:

Halo, Siska. Wah, itu bener-bener komentar terbaik, so far…

What “Watung” stereotype are you thinking of, Siska? Like what? Kita kemarin dianggap “liar”, barangkali karena selalu gebrak sana-sini, mencoba redefining ourselves… using our own words! Well, Siska, I still now. As I redefine myself everyday, then how can you define me now? “Keliaran”… that’s not what I’m looking for!

Soal Jakarta. Seperti Gotham City kan? Lihat gedung-gedung itu, cahaya kerlap-kerlip… Senyap. A pointless hurrah! Jakarta has higher crime nowadays. Bagaimana mungkin kita merasa nyaman? ;-)

Soal posting ini, does it make you wonder, my dear friend? We came to this world. Then after 60 years, we die in a second. What are you looking for? (Well, I still have that question. Do you?) Apakah aku mempercayai yang kutulis? Rahasia itu? Why you worry me, Siska? It is not me that is important. It is YOU!

Poinnya gini, Siska. What is it that you’re looking for? Who are you? It is those. Bukan soal ayat-ayat itu dan lain sebagainya. It is those questions that stays. The same questions that came into my mind, a thousand years ago…

P.S. Drop me an email: watung [at] gmail.com

» Comment by Watung — March 28, 2006 @ 6:18 pm

siska says:

I Do. This is why i questioned ur answers. Sure, i’ll write you email.

By the way, why’ 60 years? not another Myth, i hope.

Wildness, in this context, just another word for freedom. it’s a “way” Watung, not a destination.

see u

» Comment by siska — March 28, 2006 @ 6:49 pm

Watung says:

60 years is equal to 63 or 52, or 81, or even 13 years. It’s another fancy thing to say “some years”. ;-P

Freedom? Good. But do you know what to be freed? Well okay, the “You”. Which one of “You”? And freed from what? These seems like pointless questions, right? Well then, do I look like a Jakartans, now?

Okay, Siska. Please come again… Share something. Share your thoughts! Blog ini nggak cuma IT kok isinya. Insya Allah. ;-)

» Comment by Watung — March 28, 2006 @ 7:07 pm

siska says:

Not bad. nice try. (comment to: which one of “you”). hum..You are a rare breed of “Jakartans” ha ha..

» Comment by siska — March 28, 2006 @ 7:18 pm

Watung says:

Serius kok. Which one of “you”? Your name? Your body, your pride, your career, your religion, your whatever you identify yourself as “You”?

Share your thoughts, Siska, how “Jakarta” are you now? ;-)

» Comment by Watung — March 28, 2006 @ 7:32 pm

kirana says:

hai, kang watung…
pa kabarnya ni ?

aduh, lagi asyik share ma mba siska ya ? ;-)

iya deh, good luck.
have a nice writing ! ;-)

» Comment by kirana — March 29, 2006 @ 10:35 am

siska says:

which one of me?
I am who I am.. :)

» Comment by siska — March 29, 2006 @ 3:16 pm

Watung says:

Lho, Kirana kenal juga sama Siska ya? Keren! Blog-ku dikunjungi kalangan sastrawan dan jurnalis. Hehehe… “Lukisan Malam”-nya oke juga tuh. :-)

Siska, nice try… Just make sure “who I am” is not him. ;-) (Tuh, udah mulai gila lagi kita… hehehe)

» Comment by Watung — March 29, 2006 @ 7:27 pm

kirana says:

alloow… kang watung…!
pa kabarnya ni ? ;-)

thanks udah share dikit ttg kartu atm yang hilang. (hilangnya bukan karena dicopet atau dihipnotis, tapi pada kedua peristiwa itu kartu atm terjatuh di sekitar BNI juga). dan baru sadar bahwa kartu atm udah nggak ada ketika dicek di jalan, sementara yang kasus ke 2 dicek di rumah.
(dompet dan isi lain masih utuh)

ok deh, sekarang tentang “Tiap orang, Suatu Misi”.
mungkin yang kang watung maksud adalah : “Tiap orang, Satu Misi”, ya ?

(dalam pengertian kata “suatu” bisa bermakna tunggal, bisa jamak) ;-)

hehe… ;-)

ok deh, kang, makasih banyak ya sharenya.
kerannya kang watung lagi ngalir deras ni ya ? hehehe…;-)

salaam,

» Comment by kirana — April 4, 2006 @ 12:32 pm

Watung says:

Soal kartu ATM, kalau untuk Mbak Kirana, itu “ujiannya” kali Mbak? Udah beyond tulisan itu kalo udah gitu… hehehe…

“Suatu” itu apa ya? Saya sih tadi mikirnya “suatu” itu dalam pengertian yang… “bisa apa aja”. Suatu barang. Suatu makanan. Suatu ketika. Sesuatu yang masih jadi “suatu”, masih rahasia, masih bisa apa saja. So, tadinya sih dimaksudkan lebih ke “tiap orang membawa suatu misi”. Anyway, thanks inputnya.

Soal keran… ya masih mencoba mengorek lumutnya mbak. Rasanya masih polluted, belum bisa diminum mentah-mentah… ;-)

Thanks for your comment.

» Comment by Watung — April 4, 2006 @ 6:32 pm

Irmanator says:

Jadi inget lagunya Nicky Astria, sori menyesuaikan dengan lagu-lagu pop jaman mudanya AA Tung :). “Setiap insan, dapat suatu peranan, yang harus ia mainkan…”. Dari yang buruk-buruk sampe yang baik-baik, jadi maling, jadi ex-agamawan, jadi koruptor, sampe jadi guru, ex-maling, dst. Termasuk juga ex-GM yoh ;;). Itu peran jangka panjangnya.

Peran jangka pendek tiap manusia juga ada, spt lagi butuh sesuatu, eh dapet bantuan dari seseorang yang tidak dikenal. Misal, Mr. X ban mobilnya bocor, terus ketemu Mr. Y yang nulungin ngganti ban. Muncul kalimat-kalimat khas anak Indonesia, “Ndilallah, saya bertemu Mr. Y, kalo nggak…”. Mr.Y juga kepikiran “Untung saya ketemu mr. X, dapet tebengan sampe Bekasi nich, cakep lagi, demen gw…”. Hiyyy… Just “open your eyes and see” (Queen, Bohemian Rapsody).

» Comment by Irmanator — April 25, 2006 @ 9:31 am

Tulus says:

Mas Watung,

Kepikiran nggak kalau tugas yang diberikan kepada seseorang tidak selalu tugas yang dipandang “baik” oleh orang lain ? Artinya, seorang pencuri, maling, garong, rampok, brandal, koruptor, pelacur, dan seabreg hal-hal buruk yang lain juga merupakan “tugas” dari sang pelaku.

Lalu, satu pertanyaan dari saya Mas Watung, seandainya Mas Watung dapet peran sebagai seorang kriminal, apa yang harus Mas Watung lakukan untuk bisa benar-benar menjadi sebuah “tugas” dari allah ?

Makasih ya mas, gusti allah sing mbales…

» Comment by Tulus — January 10, 2007 @ 2:28 am

watung says:

Wah, jangan pake ’seandainya saya’ deh, Mas. Kejauhan. ;-)

Anyway, Mas Tulus, apa sih ‘kriminal’ itu sebenarnya? Somebody who’s responsible to a crime. Pelaku kejahatan. Masyarakat kita dan hukum manapun menganggap membunuh anak sendiri yang tak berdosa adalah sebuah kejahatan, right? Maka coba bayangkan Nabi Ibrahim a.s., yang mendapat perintah dari Tuhan untuk menyembelih anak sendiri. Sebuah kejahatan kah?

Perintah dari-Nya memang tidak selalu dipandang ‘baik’ oleh orang lain. Tapi akan kita hadapkan kemanakah wajah ini, Mas Tulus? Kepada Dia? Atau orang lain?

» Comment by watung — January 10, 2007 @ 7:00 am

imam says:

Kita ini emang “somehow connected each other” ya. ada yang “jahat” karena ada yang “baik”, ada yang “kaya” karena ada yang “miskin” dst.

» Comment by imam — January 16, 2007 @ 8:02 am

rudykelanacinta says:

cukup enak dicerna guratan kang watung ini..menandakan “tanjakan spritual” yang terasah..warna putih bisa berbias menjadi warna yg tak terhitung..hakekatnya ya hanya warna tunggal putih..misi kita pun seperti itu..
“Cukup Ingat AKU..dah berbuat baiklah kepada sesama”..semoga kita diberikan kemudahan pemahaman..karena pemahaman bukan hak yang menyampaikan..that’s just given..

» Comment by rudykelanacinta — March 29, 2007 @ 5:41 pm

asik says:

Sepertinya pertanyaan Tulus terlalu disepelekan. Bukankah Iblis juga ditugasi? Kalau ada yang diberi peran baik, timbul pertanyaan: adakah yang diberi peran “buruk”? Saya kira itu dari situ sudut pandang Tulus.

» Comment by asik — November 26, 2007 @ 12:23 am

 

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

(required, but will not be displayed)



Garis
RSS | My Yahoo! | Google | Bloglines | My AOL | FeedLounge
All contents ©2005-2010 by Watung Arif, unless otherwise noted.
Contents under Creative Commons License.