Dibajak? Malah untung kok!
Berita Detik kemarin: Microsoft bilang bahwa 87% software di Indonesia adalah bajakan, merugikan perekonomian, menghalangi budaya kreasi, bla-bla-bla… Dalam hati saya nih, “C’monnn!!”
Teman saya punya pertanyaan lucu: ya kenapa software-software itu gampang dibajak?
Dulu waktu bareng teman-teman bikin riset kecil tentang solusi copy-protection, kita mendapati sebuah fakta yang menarik ini: kebanyakan software mass-product bisa dibilang nggak diproteksi sama sekali. Kita beli license dari distributor, dapat CD, install ke PC cukup dengan memasukkan serial-number yang selanjutnya bisa kita share ke seribu teman-teman kita yang lain. There’s little to no copy protection in business software!
Kita ngelus-elus dagu waktu itu. Kok begitu ya? Bukannya mereka mustinya concern dan mencoba melindungi intellectual property mereka sendiri? Paling nggak lebih serius dikit lah dibanding cuma dengan sekedar memasukkan cd-key… Plisss. Tapi kok kayaknya mereka emang nggak ada effort yang signifikan dengan protek memprotek ini?
Jawabannya adalah dari Steve Ballmer sendiri:
If you’re going to get pirated, you want them to pirate your stuff, not your competitors’ stuff. In developing countries, it is important to have a high share of the piracy software.
So, being pirated bukannya nggak ada masalah, justru itu strateginya! Kita tahu bahwa di segmen software mass-product, market share dan product loyalty adalah segalanya (teman-teman di consulting service mungkin agak susah merasakan degup jantung teman-teman yang di sini). Logika di kepala mereka kira-kira seperti ini:
“Karena marginal-cost saya nol, orang yang membajak software saya nggak akan menjadikan biaya buat saya barang sepeser pun, nggak sama dengan orang yang mencuri komputer misalnya. Toh kebanyakan mereka yang membajak, memang nggak mampu membeli. Jadi, relatif saya nggak akan kehilangan banyak di sales. Dan bila suatu saat mereka masuk ke situasi di mana mereka musti memilikinya secara legal, mereka sudah hooked up dengan software saya, bukan software milik kompetitor.”
Kebayang nggak? It’s a way to boost market share!
Kenapa Microsoft dulu ngotot banget men-translate Windows dan Office ke bahasa Cina? Padahal, mereka tahu betul bahwa produk mereka akan dibajak habis-habisan (Cina rangking 2 tertinggi di dunia untuk urusan ini, lebih parah dari Indonesia yang nomor 5). Mereka tahu persis bahwa mereka akan cuma mampu jual satu license dari sepuluh yang dipakai Cina. Tapi mereka juga telah memperkirakan bahwa: begitu Cina masuk ke pasar bebas, China will already be Microsoft-compatible!.
Although about 3 million computers get sold every year in China, but people don’t pay for the software. Someday they will, though. As long as they are going to steal it, we want them to steal ours. They’ll get sort of addicted, and then we’ll somehow figure out how to collect sometime in the next decade. - Bill Gates
Sedikit ilustrasi bagaimana praktik hook-up seperti ini terjadi di lapangan? Ada kisah dari seorang teman saya di IBM dulu, ketika manajemen perusahaan itu suatu hari menginstruksikan semua karyawannya untuk tidak lagi menggunakan Microsoft Excel.
Maka semua PC pun dibersihkan, dan dipasang lah spreadsheet buatan sendiri, yang nggak jelek juga sebenarnya, yakni Lotus 1-2-3 (Lotus dibeli IBM tahun 1995). “Yah malu dong. Apa kata orang kalau tahu kita pakai produk orang lain yang kita sendiri punya.”
Namun tidak lama setelah itu, seorang sales di sana dengan terpaksa menginstall Excel diam-diam di salah satu PC lantaran banyak customer mengirimkan quotes dalam format Excel. Sembari diiringi debat dan cekcok, cara itu pun akhirnya direstui manajemen sebagai bentuk “pengecualian”, dan mulai lah PC ber-Excel itu di-share ke dua atau tiga orang sales untuk membuka file-file Excel dari para customer, partner, vendor.
Waktu berlalu, 5 orang akhirnya musti mengantri di belakang teman saya ini karena masing-masing ingin membuka file Excel… Sampai suatu ketika, karena melihat antrian panjang yang aneh di salah satu PC di pojok ruangan, manajemen pun akhirnya menyerah. Dan kita pun per hari ini bertanya, kemana Lotus 1-2-3 sekarang ya? ;-)
10 Comments »
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Recent comments


kalau menurut saya..
sama seperti lagu juga…
lagu2 di indonesia atau bahkan dinegara lain yang dibajak itu ga selamanya merugikan.justru juga menguntungkan secara jangka panjang juga ke artis tersebut…
tambah terkenal, tambah diminati yang ujung2nya tawaran manggung, tawaran iklan dan lain sebagainya akan menyubsidi silang dari pembajakan…
» Comment by esge — April 3, 2006 @ 9:05 am
Nah, kalo lagu agak tuh beda konsepnya. Artis nggak dapat yang namanya hooked-up effect itu. Dalam kasus temen kita di IBM di atas, dia nggak punya pilihan lain selain memiliki Excel atau yang compatible dengan itu. Untuk kasus lagu, beda lagi, penikmat lagu masih punya sekian banyak pilihan. Nature-nya beda. Dan rasanya begitu juga dengan e-book. Ya nggak sih?
» Comment by Watung — April 3, 2006 @ 12:36 pm
bener juga..
dilumrahkan dulu baru dipaksa secara sistem..
tapi yang operasi sw/ legal diindonesia atau di china dah sampi dimana sih, pak watung?
berapa persen yang bisa kejaring
» Comment by esge — April 3, 2006 @ 4:26 pm
Yang saya denger sih, ya sweeping gitu-gitu lah. Sebentar rame, sebentar hilang. Sebuah shock-therapy dari Tuan-Tuan Vendor itu, ngasih tau “Eh, pake software itu bayar lho!” Jadi, ini fase para “collector” itu bergerak dikit-dikit. Walau nggak bisa drastis sak drek sak nyet juga… sembari menjaga supaya orang gak pindah ke open-source misalnya. ;-)
» Comment by Watung — April 3, 2006 @ 11:36 pm
Yang jelas, perusahaan-perusahaan, terutama perusahaan besar sudah mulai ketakutan untuk menggunakan s/w bajakan
» Comment by Gus Lim — April 4, 2006 @ 3:53 am
Walau nggak bisa drastis sak drek sak nyet juga
hehe..bener,pakde..tempatku mencari sesuap nasi setiap pengadaan pc mahal banget anggarannya. tapi kok sw/ pada bajakan semua.padahal instansi pemerintahan.
kalau kena sweeping lah mesti kaget..
» Comment by esge — April 4, 2006 @ 2:29 pm
saya selalu mikir gini mas ..
di masa kesempitan , kita akan lebih berpikir kreatif dalam menciptakan sesuatu .
aplikasinya..ketika misal software bajakan disikat ! developer kita akan makin kreatif dalam membuat sesuatu . Software dalam negeri makin berkembang . Orang-orang mulai mencari compiler gratisan dan belajar Linux . Dan walaa… kira2 kita akan makin maju atau makin mundur ya..atau malah stagnan kayak sekarang ? cuman bisa make dan make software bajakan tanpa pernah membuat !
memang penuh resiko dan hambatan .. tapi itu cara satu2nya supaya kita bisa mulai ‘dipaksa’ belajar . User belajar , developer belajar , perusahaan belajar , pemerintah belajar . Enak gak sih punya bangsa yang niat belajar ?
» Comment by tukangKoding — April 4, 2006 @ 10:20 pm
Mudah-mudahan tulisan itu nggak dipahami sebagai apa ya… encouragement atau pembenaran melakukan pembajakan. Maksud tulisan itu sih satu saja: bahwa ada business rationale dibalik maksud para vendor “membiarkan” pembajakan itu, bahwa ada strategi bisnis juga di sana.
Belajar dalam kesempitan… Good point. Tapi faktanya adalah kita belajar dari orang sebelum mampu membuat sendiri. Kita dulu mengcopy Windows dari temen dan di sana kita belajar prinsip-prinsip sebuah operating system, lalu beranjak ke hal-hal yang lebih hardcore dan menantang di Linux dan OpenBSD, baru kemudian mampu punya project di SourceForge, ya nggak sih?
Nggak bisa dipungkiri juga, bahwa kita perlu akses pada informasi, model-model, best practices… Apple “membajak” Xerox, Microsoft “membajak” Apple, dan KDE “membajak” Microsoft (?). Lucu kan?
» Comment by Watung — April 5, 2006 @ 1:35 pm
yaa.. benar
yang utama kita punya akses informasi . yaahh.. balik ke isu bandwidth murah lagi dung :p . Boleh ga bajakan.. asal bisa punya bandwidth . Hmmm bisa gak ya.. dana yang katanya merupakan kerugian pemerintah dialokasikan buat subsidi bandwidth :p
» Comment by tukangKoding — April 5, 2006 @ 1:50 pm
Akses kan gak musti berhubungan dengan bandwidth to, Mas… Akses internet sih iya. Kalo orang mau belajar tapi nggak ada “akses” (dalam arti “nggak bisa ngeliat, ngeraba, masuk ke lab-nya”… ya mohon maaf, musti ngebajak dulu. “Minjem” aja kok sebentar… Hahaha!
» Comment by Watung — April 5, 2006 @ 5:07 pm