Maaf kalau rada horor. Ini tentang satu kejadian yang pasti kita alami, yang kerap kali pengetahuan tentang itu males banget kita sentuh. Tapi buat saya penting, lha wong pengetahuan tentang yang nggak pasti seperti “besok makan apa” aja kita kejar sampai sekolah MBA segala kan?
Kalau bisa diibaratkan, seluruh kehidupan yang kita lalui ini terdiri dari 4 chapters, Chapter 1 = somewhere di tempat Allah Ta’ala, yang kita sudah lupa, entah berapa lama; Chapter 2 = di perut Ibunda, sembilan bulanan; Chapter 3 = hidup sekarang ini, sekian puluh tahun; dan Chapter 4 = … yah God bless us, maka ini adalah sebuah kisah tentang fase transisi dari Chapter 3 ke Chapter 4 dari kehidupan kita. Baru satu fase saja.
(Read the rest…)
Nggak cuma Detikcom sih. Bisa juga Kompas, Antara… practically everything! Detikcom ini favorit saya, favorit semua orang. Masalahnya, untuk mengakses page pertama aja, modem kita kadang musti kerja romusa. Maklum, halaman awal Detikcom ini kalau dihitung-hitung, plus gambar dan iklan-iklannya yang kerlap-kerlip itu, totalnya sekitar 500 Kb. Bener-bener nggak user friendly buat “penggemar” bandwidth lelet kayak kami ini. ;-)
Anyway, baca Detik di Outlook itu… cool! Oke. Langsung. Mari kita bikin sedikit “proyek percontohan”.
(Read the rest…)
Sebelumnya, maaf ya. Bukan maksud menyerang kaum dokter (lha wong saudara saya sendiri seorang dokter) atau para suster atau para apoteker, saya kagum sama anda-anda semua yang telah berkorban (dengan sekolah yang luamaa, dan para orang tua yang kadang musti jual sawah untuk biayanya), dan tangan magis anda yang bisa membangkitkan orang dari sekaratnya. Betul kok, I love you all! Tapi ada satu hal yang menggelitik nih.
Sebuah report yang dipublikasikan oleh American Medical Association bilang begini:
We estimated that in 1994 overall 2,216,000 (1,721,000-2,711,000) hospitalized patients had serious ADRs and 106,000 (76,000-137,000) had fatal ADRs, making these reactions between the fourth and sixth leading cause of death.
ADR, Adverse Drug Reaction ini menurut ensiklopedia: “… the unwanted, negative consequences sometimes associated with the use of medications.” Singkatnya barangkali: efek samping. Jadi, 100.000 ribu orang meninggal per tahunnya di Amerika sono — bukan gara-gara salah pengobatan (medication error) lho — justru karena pengobatan normal! Top 10 Causes of Death di Amerika lagi…
Nah, tahu nggak berapa yang meninggal karena medication error? Menurut jurnal yang sama, berkisar 37.000 orang per tahun. Hmmm… medication error = 37.000 korban, yang pengobatannya “bener” = 100.000… Bingung nggak sih? Nggak tahu nih di Indonesia seperti apa angka-angkanya. Yang jelas, di kepala saya sekarang ini lagi blinking merah: Hati-hati dengan dokter, eh… obat maksudnya. ;-)
So, dear doctors over there, please explain this.
P.S.: Saya juga lagi nyari kenapa bisa gitu, tapi lebih enak kalau ada yang kasih inputan. Please.
Babak terakhir, kelanjutan dari Penciptaan: Part 1 dan Part 2, saya terjemahkan dari To Die Before Death karya Bawa Muhaiyaddeen.
* * * *
Kala itu, ketika Tuhan menciptakan Adam a.s., iblis tinggal di surga sebagai raja para jin. Ia dipanggil dengan sebutan “Abu”. Lalu ia datang, ditemani seribu pengikutnya, melihat apa yang sedang terjadi. Ketika iblis melihat Adam a.s., ia menyaksikan betapa indahnya makhluk itu. Berkat cahaya yang ada di dalamnya, Adam a.s. menjadi begitu indah, bersinar.
(Read the rest…)