Ujian
Seorang guru agama pernah bilang begini: bahwa tubuh ini seperti sarung keris, esensi seorang manusia sebenarnya ada di dalam, yakni kerisnya itu sendiri. Maka, teman-teman yang baik, untuk apakah ujian itu digosokkan kepada seseorang selain demi menajamkan apa yang menjadi jati dirinya? Berikut petikan diskusi antara Bawa Muhaiyaddeen (iya, iya, nggak bosen-bosennya) dengan para muridnya, diterjemahkan dari buku Questions of Life - Answers of Wisdom Vol 1.
Buat yang baru dengar nama ini, Bawa Muhaiyaddeen adalah seorang sufi kontemporer asal Sri Lanka, ditugaskan mengajar agama Islam kepada khalayak manapun - salah satunya, di Amerika.
DAVID: Anak-anak di Boston punya satu pertanyaan. Salah satu di antara mereka baru saja tertimpa dua musibah. Yang pertama terjadi sekitar jam dua siang ketika ia sedang berjalan di kota. Seseorang mendatanginya dan menyambar tas yang dibawanya. Ia sungguh terperanjat atas kejadian itu. Dan keesokan harinya, di jam yang sama di tempat lain, seseorang yang berbeda mendatanginya dan memukul kepalanya. Walau hal-hal itu tak sampai menggoyahkannya, ia tetap saja bertanya-tanya ada apa.
BAWA MUHAIYADDEEN: Baik. Ada orang yang menjambret tasmu, dan yang lainnya memukul kepalamu. Itu hal yang biasa. Pada akhirnya, engkau hanya akan mencari Allah, mencari “yang paling berharga” itu. Jika engkau mencari Dia dengan cara yang benar, engkau akan sadar betapa banyak sesuatu di dalam dirimu menderamu. Begitu banyak bahaya di dalam dirimu, begitu banyak pukulan menimpamu, begitu banyak yang merampas segala sesuatu di dalam dirimu, begitu banyak yang akan menggigitmu. Begitu banyak musuh ada di dalam dirimu.
Dibandingkan dengan musuh-musuh yang ada di dalam itu, apa yang di luar tidak ada apa-apanya. Bila engkau goyah hanya lantaran dua hal kecil itu, bagaimana engkau akan menghadapi yang di dalam? Keberimananmu, keteguhanmu, kekuatanmu mustilah kokoh agar engkau mampu mengusir apa-apa yang ada di dalam. Kedua kejadian itu hanya dimaksudkan untuk memperlihatkan kepadamu apa yang sedang menunggu di sini, di dalam dirimu. Itu hanya sebidang kecil di kepalamu, tak lebih tak kurang.
Di dalam kisah Tamil, ada seorang suci bernama Pattanathar. Ia seorang pertapa yang menggelandang, yang menyusuri jalanan sepanjang hari, tak peduli kemana ia akan menuju. Bila seseorang memberinya makan, ia akan makan. Bila tidak, ia berpuasa. Tapi pada suatu hari ia melintasi sebuah kebun, melihat mentimun yang segar di sana, dan terbitlah keinginan untuk memakannya. Maka ia pun duduk, memetik dua atau tiga buah mentimun, dan mulai memakannya. Sesaat kemudian, si penjaga kebun memergokinya seraya berteriak, “Hai, maling! Engkau mencuri dari kebunku!” Dan ia memukuli si pertapa itu tanpa ampun.
Setelah kejadian itu, Pattanathar duduk, lalu berkata, “Baiklah, sekarang pukul lagi dan terus. Biarlah ia yang memakan mentimun merasakan pukulan itu. Dia yang meminta mentimun itu. Dia yang menginginkannya. Pukullah lagi! Pukul! Biarlah ia merasakan pukulan itu, biarlah ia menerima deraan itu! Ayo, pukul lagi!”
Si penjaga bertanya-tanya dalam hatinya, “Apa ini? Semakin dipukul, semakin ia meminta lagi.” Maka ia memukulinya lagi.
Tapi Pattanathar tetap berkata, “Biarlah ia yang menginginkan mentimun merasakan pukulan itu. Biarlah ia yang menerima deraan.”
Si penjaga terus memukulinya sampai ia tak sanggup lagi melayangkan satu pukulan pun. Tubuh Pattanathar mengerang kesakitan. “Ah, kini engkau mengerang?” ujarnya kepada tubuhnya. “Engkau ingin memakan mentimun itu lalu memakannya. Engkau menginginkannya, ‘kan? Baik, kini engkau musti mengerang kesakitan. Engkau harus menerima hukuman. Lain kali, jangan menginginkan hal-hal seperti itu.”
Lalu Pattanathar duduk di bawah sebatang pohon. “Mulai saat ini, kemanapun aku pergi, aku hanya akan makan bila orang memberiku makanan dan menawarkannya dengan hati yang tulus,” ujarnya tegas. “Bila seseorang membawakannya dengan ikhlas dan hati tulus, aku akan menerima makanan kecintaan itu. Hanya itu makananku, bukan makanan deraan ini.”
Demikianlah, segala hal yang menimpa kita adalah makanan deraan, makanan pukulan. Tak perlu khawatir dengan hal-hal seperti ini. Apapun yang hadir menimpa kita sesungguhnya dimaksudkan untuk mengkoreksi diri kita, memperbaiki diri kita sendiri. Setiap kesulitan yang menimpa kita adalah untuk membantu kita maju selangkah ke depan. Selama kita bersandar teguh pada Allah, maka segala bahaya, kesulitan, masalah-masalah, atau derita yang hadir, adalah untuk memajukan kita. Hal-hal seperti itu membantu kita untuk maju ke depan, di jalan ini.
Jangan pernah lupakan tujuanmu. Maka, bila engkau menerima deraan di punggungmu, itu adalah sinyal bagimu untuk terus maju selangkah ke depan. Itu adalah tanda kemajuan.
* * * *
Kadang perih sungguh, tubuh ini. Tapi seperti kata guru bijak di depan, ini hanyalah sarungnya, maka jangan lupakan kemana sakit itu tertuju:
Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu, untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. (QS [3]:154)
8 Comments »
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Recent comments


kalo sakit hati yang diuji apanya dong, pak watung? (sakit hati..lebih perih daripada sakit gigi..he he..)
» Comment by bu blewah — June 16, 2006 @ 9:28 am
Kerisnya udah karatan, lengket banget sama sarungnya, mau dicabut bunyi berderit-derit. Musti dilebur di bara panas dan ditempa, supaya jadi keris yang gress dan anyar. Memang sakit sih… ;-)
» Comment by watung — June 16, 2006 @ 9:34 pm
ujian mah untuk naik kelas kaleee…
» Comment by kuyazr — June 20, 2006 @ 3:58 pm
Salam kenela Bung Watung ! tulisan anda sangat menyentuh sekali….Kadang kita berpikir Mengapa Allah itu selalu memberikan kesulitan terus….dan terus..tetapi kalau kita nikmati dan hayati semuanya…kesulitan2 yg kita alami itu pada akhirnya ada jalan….yg memberikan kemudahan dlm mencapai tujuan kita…dan akan terasa nikmatnya bila kita telah memperoleh kemudahan tersebut…Go lah ! bung Watung tuk memberikan spirit kehidupan !
» Comment by Baroes — June 20, 2006 @ 9:36 pm
Terimakasih buat semua. Segala puja-puji, milik Allah.
» Comment by watung — June 21, 2006 @ 8:55 pm
hoeee… pak watung…. mana neh pencerahannlainnya neh…
» Comment by Anonymous — July 28, 2006 @ 4:48 pm
“Orang yang berhutang itu dibelenggu dalam kuburnya, tiada yang dapat melepaskannya selain ia membayar hutangnya.†(H.R. Dailami)
“Sesungguhnya di antara dosa-dosa ada yang tidak dapat ditutupi oleh salat, puasa, haji dan umrah. Yang dapat menutupinya hanyalah duka-cita (kesulitan) dalam hidup mencari rezeki.†(H.R. Ibnu Asakir)
Insyaallah, penderitaan adalah kesempatan emas untuk memurnikan jiwa-jiwa kita yang telah kotor ini sehingga kelak dalam kehidupan yang akan datang lebih baik atau kalau beruntung dapat menyatu dengan Sang Pencipta jiwa.
Puncak reinkarnasi seseorang biasanya dia akan dilahirkan sebagai orang biasa, menjalani hidup secara biasa dan mati secara biasa-biasa saja. Mengapa ? Karena, dengan hidup secara biasa, dia tidak akan meninggalkan “noda” sedikitpun yang membuat dia harus mengembara di dunia lagi.
» Comment by zarathustra — January 8, 2007 @ 8:27 am
Ujian seems should be OK buat kamu, anda,..anything but me. Tapi pas datang menghampiri ku..ampuuun..gak kuaaattt…
» Comment by Mutiara — April 22, 2008 @ 1:10 pm