Watung Blog

10 Mitos

Monday July 31, 2006 | Filed under: Spirituality

quran0.jpgWah, kasihan nih blog… terbengkalai. Maaf buat yang sudah neriakin untuk update, tapi dicuekin. Alasannya, yah… kalau “males” dan “sibuk” udah basi, jadi nggak usah pake alasan aja. ;-) Anyway…

Semoga menjadi awal yang baru lagi. Dengan sedikit tentang Quran.

Kalau kita flashback ke belakang, sepanjang ngaji Quran dari dulu sampai sekarang walau seayat dua ayat, sering kita bertemu dengan keterangan-keterangan yang mencengangkan di sana. Apa-apa yang dulu kita percayai dibuat nggak berlaku lagi. Menjadi mitos-mitos. Barangkali begitu cara Quran menuntun para pembacanya. Kadang lembut setahap demi setahap, tapi kadang mendobrak sampai dalam.

Berikut 10 hal-hal yang buat saya telah menjadi mitos, walau bahkan sampai detik ini pun tak sepenuhnya bisa lepas dari mitos-mitos itu.

* * * *

(Myth no 1) Kita bisa memahami makna Al-Quran, dengan membaca terjemahannya.

Nggak semua. Bahkan mungkin, nggak 20%-nya atau malah nol koma sekian persennya. Ketika membaca terjemahannya, kita suka bingung dengan “gaya” penyampaian Al-Quran yang sekilas terkesan melompat-lompat, nggak nyambung antara kalimat yang satu dengan yang lain, terkesan misterius, dan kadang gimana ya… seperti “berahasia-rahasiaan” gitu.

Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (QS [56]:77-79)

Hanya “orang-orang yang disucikan”. Bukan yang menyucikan diri, bukan yang membaca terjemahannya, bukan yang sekolah tafsir sampai S4. Melainkan… mereka yang disucikan. Teman-teman yang baik, apanya yang disucikan? Dan oleh siapa? Seperti apa “yang disucikan” itu?

Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi Al-’ilm. (QS [29]:49)

Jangan salah sangka, I’m not saying “hey don’t read the Quran, karena nggak akan paham.” It simply means: bahwa bukan kita sendiri yang membuat kita paham Quran. Ada faktor X, yang beyond our control. Belajar dan memahami mati-matian tanpa keterlibatan Dia Yang Maha Berkehendak, useless.

(Myth no 2) Kalau amal lebih banyak dari dosa, nggak akan tersentuh neraka.

Faktanya, sori, agak “mengerikan” nih, bahwa: bila masih ada dosa, akan tersentuh neraka.

Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup. (QS [20]:74)

Duh, saya sebenarnya nggak kepingin nakut-nakutin. Tapi kan khawatir sendirian benar-benar nggak enak… ;-) Semoga kita diberi ampunan, diterima taubatnya, menjadi yang beriman dan bisa beramal yang baik, yang klop.

Dan orang-orang yang beriman dan beramal salih, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka. (QS [29]:7)

(Myth no 3) Hidup bersih dan sehat, bikin panjang umur.

Well, unfortunately… ajal telah ditetapkan. Tahun, bulan, hari, jam, menit dan detiknya, sudah pasti.

Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). (QS [35]:11)

Tidak (dapat) sesuatu umatpun mendahului ajalnya, dan tidak (dapat pula) mereka memperlambat (ajalnya itu). (QS [23]:43)

You can run, but you can’t hide. ;-)

Please jangan salah sangka, bukannya mau bilang “percuma hidup bersih dan sehat.” Setuju bahwa kita diperintahkan hidup bersih dan sehat, but it has nothing to do with the time of death. Hidup bersih dan sehat IS your job, karena badan ini punya haknya yang harus kita penuhi. But death is His business, don’t you think?

(Myth no 4) Kita bukan penyembah berhala. Kita bukan orang kafir.

Benarkah?

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? (QS [45]:23)

Dan coba perhatikan hubungan yang sangat erat antara mencintai dunia dengan kekafiran, seberapakah jarak kita dengan kekafiran? Tipis sekali.

Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. (QS [16]:107)

Jadi, teman-teman yang baik, benarkah? Kita bukan penyembah berhala, kita bukan orang kafir?

(Myth no 5) Beriman adalah sebuah pilihan.

No. Not your choice. His choice.

Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah. (QS [10]:100)

So, buat yang beriman, you are very lucky.

(Myth no 6) Tidak beriman juga sebuah pilihan.

Sebaliknya, itu pun sebuah ketetapan.

Saya yakin, banyak yang nggak akan suka dengan ide bahwa orang ditetapkan tidak beriman, karena itu artinya kemudian orang ditetapkan masuk neraka.

Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu, tidaklah akan beriman. (QS [10]:96)

Penjelasannya mungkin panjang, tapi praktisnya begini: kalau kita ingat Dia, bahkan sekelebat saja, kalau kita ingat bahwa kita akan kembali kepada-Nya (and act accordingly!), itu adalah sebuah “panggilan” dari-Nya, sebuah harapan akan kehendak-Nya, ketetapan-Nya.

(Myth no 7) Harta dan anak-anak adalah kenikmatan dan kesenangan dari Tuhan.

Hohoho… Bahkan sebaliknya,

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS [8]:28)

(Myth no 8) Agama tidak pernah mengajarkan nasionalisme.

Istilah “nasionalisme”-nya sih mungkin nggak. Tapi rasanya bukan sebuah kebetulan bila kita ditempatkan, dilahirkan di sini, di tanah ini. Ya nggak sih? Tuhan bukanlah seperti tukang kebun yang secara serampangan menebarkan biji-bijian ke tanah di luar sana. Jiwa-jiwa dipilih dan segala hal dipertimbangkan, untuk sebuah tujuan:

Dia telah menciptakan kamu dari tanah ini dan menjadikan kamu pemakmurnya. (QS [11]:61)

Lalu, teman-teman yang baik, adakah ber-Islam dengan jalan ber-arab-arab ria? Bukankah ber-Islam kemudian adalah, justru, berbakti dan berjuang untuk negeri, tanah air ini? Menjadi manusia Indonesia, seutuhnya?

(Myth no 9) Kita tidak bisa bercakap-cakap dengan Tuhan.

Anehnya, justru kita diinformasikan oleh Quran bahwa kita pernah memiliki kemampuan itu.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul, kami menjadi saksi”. (QS [7]:172)

Gimana ceritanya kita tak lagi punya kemampuan itu? Bagaimana kita lupa akan kejadian yang luar biasa ini?

(Myth no 10) Orang yang sudah mati tak mungkin hadir di dunia

Orang-orang tertentu, ketika mereka sudah meninggal sekalipun, dapat berjalan-jalan di tengah-tengah kita.

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia… (QS [6]:122)

Cahaya yang terang… does it make you wonder? Cahaya apa?

Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk Al-Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya… (QS [39]:22)

Hati. Cahaya. Misterius kan?

* * * *

Nggak usah dipercaya ocehan saya. Tapi bila ini semua menggelitik pikiran teman-teman semua (seperti yang juga saya alami), cukuplah itu. Hanya Allah Yang Maha Tahu. Have another 10 myths of yours? Please kindly share. Salaam.


30 Comments »

nurulkey says:

al qur’an memang menakjubkan! bahkan dg begitu banyak hal menakjubkan didalamnya, kita disuruh untuk tidak hanya melihat padanya: berjalanlah di penjuru bumi, lihatlah sekelilingmu, berpikirlah dan berpikirlah. there are much much more things outside there, guys!

pa kabar cak?

» Comment by nurulkey — August 3, 2006 @ 10:36 am

paris hilton says:

mitos dan bukan mitosnya:

(1)hijab perempuan adalah menutupi rambut.

hijab bukan terletak pada menutupi rambut, tapi pada sikap solemn dan tidak memamer2kan. kalau pake jilbab tapi masih pengen pamer baju mah sama aja..he he.. (Ayat alqurannya: “sebaik-baik baju adalah baju takwa, ” Al araf:…?) masih tersisa pertanyaan: kenapa syariatnya kalau sholat harus pakai mukena? pasti ada jawabannya tesendiri dan Ik belum tau.

(2)yang bukan islam masuk neraka.

semua orang, semua kepercayaan pada nurani setiap orang punya nilai kebenaran dan penilaian tersendiri dihadapan Tuhan, QS 2:62 .Ini mah bukan mitos, Ik emang percaya sejak dulu kalo Tuhan itu Maha Luas Pandangan-Nya.

(3) dunia, tempat kita sekarang ini, meja, baju, orang2, laptop, pekerjaan, adalah realitas.

Salah besar. dunia ini sebenar2nya ilusi. ayat quran banyak yang nyebutin ya. nggak usah dirunut.

humm.. ada lagi?

sepatu kulit tahan lama, salah: sepatu kulit kalau makenya gk bener juga tahan paling sebulan..

» Comment by paris hilton — August 3, 2006 @ 1:32 pm

watung says:

Thanks buat semua yang comment.

» Comment by watung — August 5, 2006 @ 9:37 pm

herry says:

keren mas. saya kutip dan muat di suluk ya?

» Comment by herry — August 8, 2006 @ 11:18 am

watung says:

Monggo. Silakan…

» Comment by watung — August 8, 2006 @ 12:09 pm

Rudi says:

wah..wahh… kalo tulisannya begini, maka saya adalah salah satu orang “yang akan neriakin mas watung untuk update”
kecanduan nih mas he…he..

» Comment by Rudi — August 9, 2006 @ 6:17 am

sedgedjenar says:

Apakah ada manusia sempurna ?
Ternyata ada !

Apakah sabar itu berbatas ?
Ternyata tidak !

» Comment by sedgedjenar — August 10, 2006 @ 8:10 am

watonist says:

no 3, 5 sama 6
masalah takdir, apa ini karena the time is so plain for Allah ?? jadi memang Allah sebenarnya udah tahu apa dan siapa kita dari waktu ke waktu ?? sehingga Allah menempatkan kita di suatu jaman bukan karena faktor acak belaka ??

sorry bener-bener penasaran mas :)

» Comment by watonist — August 11, 2006 @ 3:40 pm

watung says:

Apakah Allah tahu siapa kita, saat ini, dan esok, dan akan kemana kita? Mustinya sih iya ya. Allah Maha Tahu.

Acak? Rasanya nggak. Dia nggak main-main. Setiap tetes embun, setiap pergeseran atom, di seluruh dunia, seluruh semesta… Dia aware, bahkan maju mundurnya waktu ada di gengaman-Nya, can you imagine? So he does not “think” the way we think, he does not “work” the way we work. Musti ati-ati mengasosiasikan “pikiran” Dia dengan pikiran kita yang… yah, amat sangat terbatas.

Tapi praktisnya mungkin gini, kita nggak perlu ngurusin segala yang sudah ditakdirkan (mau gimana juga nggak akan bisa menembus benteng takdir), kita urus aja segala sesuatu yang kita dituntut untuk melakukannya. That’s it.

» Comment by watung — August 11, 2006 @ 4:33 pm

paris hilton says:

..kalau bicara takdir, jangan lupa juga sama yang namanya ikhtiar, dan itu ditegaskan dalam alquran: “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu merubah dirinya sendiri.” (ike lupa suratnya), takdir memang tidak bisa dilawan sebab memang itu nasibnya jadi ciptaan, tapi Logika-nya Gusti Allah itu diluar Logika ciptaan, jadi jangan terlalu yakin ttg pemahaman kita ttg takdir. Kepastian seperti apa yang dimaksud seperti Allah ? apa yang seperti kita fikirkan? (misalnya interprestasi penulis blog ini ttg takdir orang yang bisa memahami Al-qur’an atau tidak, beriman atau tidak, dengan mengutip sepotong2 ayat Al-quran, itu mungkin benar, mungkin juga tidak, sebab ini logika penulis kan?)Gusti Allah itu juga Maha kreatif dan Adil, he he..jadi perspektifnya pasti juga memperhitungkan faktor ikhtiar kita dalam menentukan Takdir-nya dan juga banyak hal lain yang emang kita gk nyampe. Dan emang mending jangan mikir, tapi mengerjakan aja yang berguna. tapi mikir juga boleh sih..hi hi..kalau mau..

» Comment by paris hilton — August 11, 2006 @ 6:23 pm

watung says:

Ikhtiar, tentu saja. Kita dituntut untuk berikhtiar di tempat yang memang dapat diikhtiarkan, right? Example:

Mortality rate is always constant, i.e. 1 death per person. Ini takdir. Can you eliminate the mortality rate? No you can’t. Apakah kita dituntut to live forever? No. Tapi kita dituntut berbuat sesuatu di rentang kehidupan yang ini. That’s ikhtiar. Ada tempatnya.

Tentang orang yg bisa memahami Quran, I’m not talking about takdir. Please read carefully… ;-)

Tapi tentang interpretasi, you’re absolutely right. Itu semua cuma interpretasi manusia yang amat terbatas… And beware, saya bukan ahli tafsir, bukan ulama, baca Quran masih tertatih-tatih, “abangan” kalo kata Geertz.

Now you know the risk, ok? Good!

» Comment by watung — August 11, 2006 @ 6:55 pm

paris hilton says:

what risk? swallow everything that you rant here?
are u underestimate me? he he

-Tentang orang yg bisa memahami Quran, I’m not talking about takdir. Please read carefully… ;-)

yeah, u write about “orang-orang yang (di)sucikan” and “ilm” and “x factor”,
what is the x factor rather than takdir?
semua juga tau, setiap detik yang terjadi dan dan pemahaman yang muncul adalah izin-Nya.
whats the use underlining this?

» Comment by paris hilton — August 14, 2006 @ 1:23 pm

watung says:

OK, semua orang tahu itu. But…

Mitos umumnya adalah kalo kita belajar, kita akan paham dan mengerti, right? And yes, you can learn Quran, dan sampai tahapan tertentu kita akan menjadi paham. Tapi (ini interpretasi aja lho), hanya mereka yang disucikan yang akan mampu “menyentuh” Quran. Bukan yang belajar, bukan yang mensucikan diri… melainkan yang disucikan.

Dia, Sang Maha Guru, yang mengajari hamba-hamba-Nya, yang disucikan-Nya, untuk paham makna terdalam Al Quran.

» Comment by watung — August 14, 2006 @ 7:05 pm

Meso Doctor says:

Salam Kenal Sebelumnya!

Saya yakin pasti dari setiap pertanyaan diatas ada jawabannya. kan, Al-quran diturunkan untuk menjadi petunjuk bagi manusia bukan untuk membingungkan manusia, kan?

» Comment by Meso Doctor — August 16, 2006 @ 3:42 pm

watung says:

Tapi pernah nggak sih kita bingung membaca beberapa ayat di Quran, or do we see everything’s clear like crystal?

Petunjuk… right! But for whom? Not for everyone, I guess. Seperti kata Quran, “… petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” And what is “bertakwa”? Like what? Siapa saja mereka yang dibilang “bertakwa” itu? Pernah ketemu mereka?

Apakah kita bertakwa? Sehingga Quran telah menjadi petunjuk?

» Comment by watung — August 16, 2006 @ 5:20 pm

zarathusta says:

(Myth no 1) - Bagaimana mungkin Gusti Allah menyucikan kalo orangnya tidak menempuh jalan menuju ke sana ? “Ngelmu” kata orang jawa, semacam mendapat ilham begitu saja dari alam, mungkin tentang sistem peredaran darah dan cara kerja syaraf pada Sunan Kalijaga, tidak akan terjadi kalau beliau tidak mencari. Logikanya, bagaimana mungkin wahyu/ilham yg suci dari Sang Maha Suci kalo wadahnya (kalbu) belum suci…masih dipenuhi interest politik lah, nafsu seksual lah, atau yang laen-laen lah…jadi untuk menemukan makna sejati bisa dilakukan kalo kita sendiri menempuh jalan menuju kesejatian…

» Comment by zarathusta — January 5, 2007 @ 6:55 am

zarathusta says:

(Myth 2) Mitos seperti ini belum bisa mengantarkan
pada kesejatian…dosa dan pahala trus surga dan neraka
adalah petunjuk adanya konsekuensi dari tindakan kita…sejatinya perjalanan jiwa ini jangan hanya kecantol
di neraka atau surga saja, masih ada perjalanan panjang
dan tidak mudah…yaitu perjalanan menuju Yang Maha Sejati.
Bisa dikatakan, Allah sendiri tidak terima kalau
makhluk manusia ini kecantol pada “terminal antara”…
harus bisa sampai ke final destination yaitu Allah sendiri.
Inilah konsep, innalillahi wa inna ilaihi rajiun.
Gimana tuh caranya ? Para sufi menyusun juklak dan juknis
yang cukup praktis sebenarnya, yaitu MANUNGGALING KAWULA
LAN GUSTI (MKG). Manunggalnya makhluk dan pencipta ini,
saat ini dipahami klenik negatif, padahal sederhana saja
prinsipnya, berprilakulah seperti prilakunya Tuhan…
hehehe..gampang ngomongnya, susah implementasinya…
Jadi, gak perduli kalo orang sudah terkenal islam
seantero dunia, kalau memang prilakunya merusak sistem
kosmos yang dibuat Tuhan, ya nggak bisa menyatu…
trus kemana ? yaaa reinkarnasi kata Imam Ghazali…
belajar lagi, disekolahkan lagi, sampai pinter…
pinter menemukan jalan pulang. Ingin tahu kaitan
alat reproduksi (rahim, sperma) dan kiamat/kebangkitan/
penciptaan kembali ? Please check, QS 2:28, 36:68, AlHajj:5,
AlMukminun:12-16, AlQiyamah:37-40. Salah satu arti “Qiyamah”
adalah kebangkitan lho, bukan hanya kehancuran alam semesta.
Nah..jadi nggak usah mempermasalahkan neraka atao
surga, ntar malah rebutan…trus bunuh-bunuhan…wah wah wah…
bukannya kita disuruh menjaga bumi ini…karena apa ?
Yap betull, kita akan dibangkitkan disini pula…
Jadi, neraka dan surga, bisa juga dipahami di planet ini…jadi marilah kita membangun surga…kita sendiri ini yang
menciptakan kehidupan kita bak di surga atau di neraka…

» Comment by zarathusta — January 5, 2007 @ 9:35 am

zarathusta says:

hehehe…ayo cak…teruskan pencerahanmu…insyaallah kami adalah jiwa-jiwa yang rindu untuk diseru…:)

» Comment by zarathusta — January 5, 2007 @ 9:45 am

watung says:

Terima kasih, zarathusta.

Tentang myth no 1: Consider these “… dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah” (QS 81:29), juga “… dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah” (QS 76:30). Bayangkan aja, kehendak dan kemampuan, dari Allah. Ingin mensucikan diri, dan mampu mensucikan diri, itu semua dari Allah. Apa ndak “disucikan” itu namanya?

Tentang myth no 2: Ya, kita dimasukkan ke kompor neraka untuk dibersihkan, sampe bersih. Kalau ndak bersih-bersih (mungkin saking kotornya), ya “dilebur” terus. Setuju, kita akan kembali kepada Allah pada akhirnya.

Tentang reinkarnasi, MKG, saya akan cek nanti, insya Allah. Thanks comment-nya yak!

» Comment by watung — January 5, 2007 @ 10:47 am

zarathustra says:

Mas Watung, makna kehendak Allah disini khan bisa dipahami sebagai kehendak sistem…sudah pernah mendapat pemahaman tentang “Aku” dan “Kami” khan ? Jadi kalau “Kami”, segenap komponen alam turut mensupport dirinya agar dia menjalani jalan kesucian…komponen alam ini, ya termasuk jiwanya sendiri ini. Kalau mau jujur, para rasul tidak ada yang mendapatkan pencerahan “mak jleger” atau “simsalabim”…tapi melewati proses yang sangat panjang…bisa jadi proses sang jiwa yang sama selama ratusan tahun, tapi baru mewujud pada badan Muhammad bin Abdullah, or Isa binti Maryam, or Maryam bin Bapaknya or Bapaknya Maryam bin Kakeknya Maryam…

» Comment by zarathustra — January 7, 2007 @ 4:11 am

watung says:

zarathustra, is the meaning of “disucikan” clear for you? Essentially, Allah yang mensucikan, right? Apakah Dia hendak melakukannya melalui proses ribuan tahun atau lewat satu ‘klik’-an kun fayakun saja, it doesn’t really matter. Kita sering mendengar tentang orang-orang yang ‘terpanggil’, justru tidak melalui pemikiran atau perdebatan panjang lebar. Mereka tercenung karena pada suatu hari mendengar adzan yang sebenarnya juga nggak beda-beda amat dengan adzan-adzan yang lain, atau melihat orang shalat, atau melihat anaknya yang baru berumur 3 tahun sedang berdoa… hal-hal yang ’sepele’ sebenarnya.

Apa yang saya bisa tarik pelajaran dari sini adalah: kalau Allah sudah berkehendak, tak ada satu pun yang dapat menghalangi, tidak juga waktu. Ini bukan berarti “lhah, percuma dong bertahun-tahun saya berusaha mensucikan diri, kalau Dia nggak oke.” Bukan itu. Setiap bersitan niat untuk kembali, untuk membersihkan diri, sekecil apapun, tak akan Dia sia-siakan. Tapi hanya Allah yang sungguh tahu segenap isi hati, dan Dia yang tahu persis jalan seperti apa yang terbaik bagi kita. Bukan kita.

» Comment by watung — January 7, 2007 @ 1:54 pm

zarathustra says:

Oh gitu yach ? Zaratustra itu artinya disucikan yach…hehehe…jadi malu :)

Subhanallah, saya senang sekali nih diskusi lagi dgn Mas Watung, jadi teringat
QS Al Ashr :

2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan
nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan
nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Semoga, diskusi kita menambah keyakinan kita untuk tidak sekedar berdiskusi ttg kebenaran, tapi juga menjalani jalan menuju kebenaran. Insyaallah, kalau memang jalan kebenaran yang kita tempuh…keselamatanlah yang kita
dapat…bukankah begitu Mas ?

Pas ngaji abis maghrib kemarin, nggak sengaja membaca QS Al Insan :30-31,
masih mirip tema-nya seperti yang kita diskusikan:

29. Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki
(kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya.
30. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah.
Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Saya memahaminya bahwa diperlukan effort dulu (ayat 29) baru kemudian Allah akan approve (ayat 30). Tanpa ada effort, tidak akan pernah ada
approval dari Allah.

Trus juga…saya lupa ayatnya…kurang lebih spt ini “Allah akan menjadi seperti perkiraan hambanya”. Hal ini sekarang bisa saya pahami ketika minggu lalu tidak sengaja membeli buku “Sunan Kalijaga - Mistik dan Ma’rifat”
karangan Bp Achmad Chodjim. Pemahaman para sunan-sunan yang sufistik ini ternyata kebanyakan based on Ghazaliyah. Mungkin pernah mendengar kisah
hidup Imam Ghazali yang panjang dan tak kenal lelah menemukan Sang Kesejatian.
Beliau berawal dari ahli ilmu kalam (ketuhanan ala eropa Romawi dan Yunani),
meningkat menjadi ahli filsafat (yang kadang-kadang suka akrobat, jungkir balik
hasil pemikiran dan rasio) sampai akhirnya kelelahan mendera beliau,
tidak menemukan Sang Kesejatian. Akhirnya, dia putar arah pencarian tidak
menggunakan akal lagi tapi dengan rasa, nurani dan batin.

Beliau menjalani jalan kesufian, meninggalkan jabatan rektor-nya, ribuan mahasiswa, milyaran keping emas. Menjadi seorang gembel-mandiri, hanya sebatas cukup hidup, hanya bertemankan Gusti Allah. Dan saat itulah, karya-karya monumental dihasilkan, kitab2 yg mendeskripsikan “jembatan” antara yang gaib dan dhahir.

Dalam perjalanan spritualnya, beliau melihat semua di dunia ini fana,kosong, hanya Allah yang memenuhi semua semesta.

Ibaratnya, kita menyuruh 10 orang memegang cermin yang mengarah ke muka kita, nah kita akan
melihat muka kita di semua cermin itu. Tapi, ketika kita mencari di setiap cermin, tidak ada kita, yang ada hanya bayangan.

Nah, pertanyaannya sekarang, tinggal seberapa jernih cermin2 tersebut ? Semakin jernih,
semakin nyata sosok diri kita terlihat, sebaliknya semakin buram cermin tsb,
semakin susah kita mendapat gambaran wajah kita. Begitu juga Gusti Allah.

Cermin-cermin itu adalah kita, dan seluruh makhluk di semesta alam. Semakin jernih dan bening jiwa kita, otomatis semakin mudah gambaran
asmaul husna terpantul dari jiwa kita. Kejernihan dan kebeningan jiwa kita itu, hanya diri kita sendiri yang bisa mengotori dan membersihkannya.
Bukan Gusti Allah yang mengotori, karena Gusti Allah tidak pernah berlaku zalim terhadap hambanya.

Teks-teks di Al Quran yang menginformasikan
“Aku ciptakan dinding didepan, dibelakang, disamping kiri dan kanan sehingga mereka tidak bisa tercerahkan, Aku sumbat telinga mereka sehingga mereka tidak bisa mendengar firman-Ku, dlsb” bisa dipahami demikian.

Jadi, Allah hanya menggelar hukum alam untuk terciptanya hijab, apakah kita terhijab or nggak ? tergantung kita sendiri, apakah menempuh jalan pemurnian jiwa or pengkorupsian jiwa.

Mengapa saya bilang korupsi ?
Karena saat memulai karir di kehidupan ini, modal kita high quality (jiwa), selanjutnya kita sendiri yang mengkorupsinya sehingga saat dipanggil menghadap, bukannya tambah bagus tapi malah tekor, untuk itu saya istilahkan
korupsi. Sekali lagi, subhanallah, Allah telah memberi modal yang begitu berharga dan dalam perjalanannya kita cuekin atau abaikan. Kita lebih sibuk memandang keluar…memperhatikan rumah, mobil, deposito, dlsb yg remeh temeh…begitu was-was kalo tertimpa kepailitan…tapi ada “jiwa” yang begitu kompleks dan mengagumkan…tdk pernah kita was-was kalo harta kita yg satu ini pailit.

Mungkin pemahaman saya seperti ini, Gusti Allah yang menguasai hakekat sesuatu, mohon pencerahannya kembali…

» Comment by zarathustra — January 8, 2007 @ 7:39 am

zarathustra says:

Tuhanku
Kukira telah tiba saatnya
Kau musnahkan segenap setan
Sebab kami telah pandai
Menciptakan setan-setan pada diri kami
Tanpa bantuan para setan

(Emha, Masjid Salman, 1983)

» Comment by zarathustra — January 8, 2007 @ 8:11 am

watung says:

Wah, saya ndak tahu arti ‘zarathustra’ itu apa. ;-)

Intinya gini: mensucikan diri adalah tugas kita, disucikan atau nggak itu ‘urusan’ Allah.

Dengan effort, dengan perjuangan, ya tentu saja. Dan ada orang-orang yang belum apa-apa udah bilang “Lho, Tuhan ini gimana sih, kan saya sudah shalat ini dan itu, puasa ini dan itu, dan mengorbankan ini dan itu… kok saya ndak suci-suci?”, dan ada orang yang bener-bener lintang-pukang dalam perjalanan “Duh Gusti, Paduka sungguh pengasih dan penyayang… Paduka karuniakan ini, padahal hamba tak buat apa-apa.”

Eh, mau tahu sosok yang ‘disucikan’ ini, yang bukan nabi dan bukan rasul? Maryam. “Dan ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu…” (QS 3:42)

» Comment by watung — January 8, 2007 @ 9:34 am

zarathustra says:

Ya memang betul…ujung dari semuanya adalah kehendak Gusti Allah sendiri. Saya cuman ingin menyampaikan bahwa effort jiwa kita ini lebih penting, bukankah orang bisnis bilang, kesuksesan itu 99% dari kerja keras dan 1% dari keberuntungan.

Tuhanku
jika tak tulus jiwaku
halangilah segala hasratku
untuk pandai dan mengerti kenyataan ini
namun jika Kau lihat cukup ketulusanku
anugerahkanlah setetes ayat-Mu
agar menjadi tindakanku

Tuhanku,
kami mengembara ke hutan-hutan kehidupan
dikungkung kesombongan yang tak kami sadari
padahal kami mengerti
di luar ketulusan hati
bahasa-Mu tak kan bisa kupahami

Tuhanku,
seribu samudera ilmu-Mu
jumlah tak terkira kesanggupan-Mu
tidaklah kuimpikan untuk tahu
pintaku cuma tumbuhkan kemampuanku
tuk menjadi setetes air
yang bergabung di samudera itu…

Btw, pernahkah terpikir kenapa Maryam disucikan atau mendapat misi melahirkan Isa ? Menurut saya, lha wong memang Maryam itu memang keturunan para nabi, yaitu Nabi Yahya. Nabi Yahya sendiri adalah turunan Nabi Zakaria. Insyaallah, ortunya Nabi Zakaria juga orang-orang soleh. Pernah khan mengerti filosofi orang jawa bilang “bobot, bibit, bebet”. Menurut pemahaman Imam Ghazali, jiwa yang akan turun ke dunia ini mencari-cari baju (raga) yang sesuai spesifikasinya. Kalau spesifikasinya akan menjadi “avatar”, tentunya dia mencari raga yang sesuai dengan spek-nya, yaitu mewujud pada bayi orang-orang sholeh. Selain pasti akan dirawat secara maksmimal, lingkungan juga akan menjaga untuk tetap menuju ke Sang Kesejatian. Bukankah Rasul Muhammad juga keturunan orang-orang sholeh ? Meski bapaknya Abdullah adalah nasrani, tapi beliau nasrani yang soleh, yang takzim dan tidak hedonis. Begitu juga, ibunya Aminah. Keluarga beliau adalah keluarga yang takzim mengikuti ajaran nasrani ditengah bangsa quraisy yang hedonis dan syirik. Apakah Mas Watung melihat trend atau pola seperti yang saya pahami ini ?

» Comment by zarathustra — January 9, 2007 @ 3:39 am

watung says:

Baik, zarathustra. Puisi yang indah. Iya, kita semua keturunan nabi. Nabi Adam a.s.;-)

» Comment by watung — January 9, 2007 @ 7:10 am

zarathustra says:

alhamdulillah…mimpi saya adalah kehidupan yang guyub rukun, gemah ripah loh jinawi…nggak usah mengutuk orang yg tidak seagama itu masuk neraka…marilah kita tumbuhkan kemuliaan kita karena kita memang keturunan Nabi Adam yang mulia…yang mendapat percikan roh dzat Yang Maha Mulia…sehingga dorongan untuk penyucian diri tumbuh berasal dari internal diri bukan dari eksternal tekanan luar…dengan begitu keselamatan yang dikonsepkan Gusti Allah mewujud dalam kehidupan negara ini…Dengan sufi, kita mendamaikan dunia…:)

» Comment by zarathustra — January 9, 2007 @ 8:52 am

rudykelanacinta says:

sungguh indah diskusi ini..
akan lebih indah jika semua tertanam di hati..
kata eyang ku..
” Le..dalam menjalani hidup ini ada 3 tahapan yang harus kau pahami benar2″
1. Siapa Aku
2. Untuk Aku disini
3. hendak kemana Aku setelah disini
ada 3 godaan (kamuflase)juga yang perlu kau cermati :
1. Harta
2. Tahta
3. Wanita
bagi pribadi saya ” yang no.3″ selalu membayangi..diri ini belum “dikuatkan” seperti Nabi Yusuf (yang kalau tidak “dikuatkan” juga akan terpeleset..)..hanya selalu mencoba “shilaatun..always connecting” dengan BELIAU..

» Comment by rudykelanacinta — February 2, 2007 @ 2:48 am

loewi says:

seandainya semua umat muslim berpikiran seperti anda2 sekalian tentunya ibu pertiwi yang kita tinggali ini dapat dijadikan sebagai surganya dunia, smoga saja lebih banyak lagi jiwa2 yang lahir di bumi Indonesia dengan pemikiran2 yang mencerahkan ini, salam damai

» Comment by loewi — March 14, 2007 @ 10:56 am

doddi widodo says:

diskusnya kok berhenti, sudah pindah topik yah

» Comment by doddi widodo — August 7, 2008 @ 11:56 am

 

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

(required, but will not be displayed)



Garis
RSS | My Yahoo! | Google | Bloglines | My AOL | FeedLounge
All contents ©2005-2010 by Watung Arif, unless otherwise noted.
Contents under Creative Commons License.