Belajar dari Kematian
Najafi adalah seorang ulama terpandang, di Quchani nun jauh di sana, di negeri Iran. Suatu hari ia mengalami peristiwa yang sungguh luar biasa yang telah mengubah seluruh kehidupannya sejak itu: sebuah pengalaman tentang kematian.
Dan aku pun meninggal dunia. Kala itu aku menyaksikan diriku dalam keadaan berdiri, sementara jasadku terkulai tanpa daya. Sanak keluargaku menangisi tubuh yang terbaring itu, dan aku pun sedih melihatnya. Aku berkata kepada mereka bahwa aku belum mati. Namun tak seorang pun dari mereka mendengarku. Mereka tak melihatku, tak mendengar suaraku. Maka aku pun sadar, mereka sungguh jauh dariku…
Begitulah Najafi mengawali bukunya, Petualangan Setelah Kematian, yang sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia ini. Bisa diperoleh di mana saja (yah, saya membelinya di Gramedia). Tipis dan lugas, karena kita bisa menghabiskan buku ini sembari ngabuburit, walau kita akan dibuat tercenung sekian lama oleh detil kisah yang menakjubkan, sekaligus “tragis”. Tragis, membayangkan kelanjutan tragedi manusia, tragedi kita sendiri.
Konon, statistically, kematian adalah nomor 1 yang paling ditakuti di dunia, mengalahkan AIDS, hantu dan gendruwo, penjara dan kemiskinan. Segenap usaha dikerahkan di seluruh negeri untuk menekan tingkat kematian, but mortality rate is always constant all the time… one death per person!
Sebuah “akhir” yang tak selamanya mudah dipahami. Sebuah keniscayaan yang meruntuhkan segenap formula tentang hidup yang makmur dan sejahtera. Coba lihatlah, teman-teman yang baik, rumah cicilan nan asri dan karir yang dibangun dengan sabungan nyawa ini, Nokia N-series yang kita tenteng pagi malam, yield 12% investasi, beragam rumusan efficiency and effectiveness and competitiveness and competence and quality and leadership and leverage and all those smart-ass jargons… apa yang telah kita bangun dengan darah dan tangis ini akan lepas, kita tinggalkan begitu saja, at once, begitu palu akhir waktu diketuk.
* * *
Yang menarik dari buku ini adalah bahwa, walau berkisah tentang sebuah petualangan setelah kematian, namun bila kita coba renungi halaman per halamannya, akan terkuak sedikit misteri tentang diri, tentang siapa kita. Sebagai contoh, bahwa diri bukanlah jasad kita. Jasadlah yang mati, sementara apa yang kita sebut “saya” atau “aku” ini ternyata adalah sesuatu yang sama sekali berbeda dan akan tetap hidup.
Kala itu aku menyaksikan diriku dalam keadaan berdiri, sementara jasadku terkulai tanpa daya.
Juga tersirat di sana bahwa di dalam diri kita terdapat kemampuan penglihatan yang luar biasa.
Lalu jenazah itu diusung ke pemakaman. Aku berada di antara mereka yang mengantarkannya. Aku melihat di antara para pengiring itu terdapat berbagai jenis binatang buas…
Manusia, yang tampak bagai binatang. Persis seperti apa yang dialami Bawa Muhaiyaddeen, “When you pass by me and I look within you, I may see something with four legs, I may see a snake, I may see a lion, a tiger, a demon, a cow, a horse, a donkey, or a crab. When I look inside, I will know this. I see this.” (To Die Before Death, 1997)
“… maka Kami singkapkan tutup matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.” (QS [50]:22)
“Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.” (QS [7]:179)
Betapa pun, di sepanjang buku ini, kita akan dibuat paham (tentu, buat mereka yang percaya), bahwa kematian bukanlah akhir, bukan ujung dari segala. Kematian hanyalah satu turning-point, sebuah milestone di rentang kehidupan kita yang panjang menuju kehidupan lain yang jauuuuh lebih panjang. Barangkali seperti berpindah tempat tinggal ke lain kota atau negeri, di mana kita bertemu dengan nature, budaya, dan para penghuni yang sama sekali baru.
Ya, kini aku tak sendiri. Akhirnya ia tiba di depanku. Sosok berkulit hitam, bertubuh tinggi, berbibir tebal dengan gigi yang besar panjang menjulur, hidungnya lebar, dan berbau busuk.”Siapa namamu,” tanyaku.
Dijawabnya, “Aku adalah saudara kembarmu. Namaku Jahalah (kebodohan). Pekerjaanku merusak, menyesatkan…”
Berbagai peristiwa yang terjadi tampaknya adalah refleksi dari apa yang ada di dalam diri kita sendiri. Segala yang dialami, adalah wujud dari apa yang kita sendiri telah pupuk di dunia ini, di sini.
Mereka membawa sangkar besi dengan tujuh jerujinya. Aku diletakkan di tengah-tengahnya. Perlahan-lahan sangkar besi itu menyempit dan mengecil sehingga aku terjepit dan nafasku terhenti… Maka kini aku tahu bahwa himpitan itu merupakan bentuk penyucian seseorang dari kotoran dan keburukan… cairan minyak hitam pekat itu pun keluar dari diriku.
“Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu.” (QS [3]:154)
Berbagai kengerian yang menggetirkan hati juga tak lepas dikisahkan.
Aku melihat orang-orang yang tertimpa bencana, jumlahnya amatlah banyak! Mereka yang mengalami berbagai siksaan, berusaha melepaskan diri dari lumpur panas itu. Di antaranya ada yang berhasil membebaskan diri, namun batu besar jatuh dari langit dan mengenai kepalanya…
Satu hal yang juga membuat saya agak trenyuh setelah membacanya, adalah bahwa orang yang meninggal terkadang mendatangi keluarganya pada malam Jum’at untuk memperoleh semacam “bekal”, walau kerap kembali dengan tangan hampa, sedih karena yang didapatinya hanyalah upacara dan doa-doa seremonial semata.
Sampai malam Jumat, tak ada satu berita pun. Aku pergi ke rumahku dengan menjelma seekor burung. Aku bertengger di sebuah ranting pohon di dekat rumah dan menyaksikan kehidupan keluargaku… Mereka datang ke rumah membantu memasak, menceritakan kisah duka, dan membacakan Al-Fatihah untukku… yang sama sekali tak bermanfaat bagiku, karena tujuan utama acara itu hanyalah untuk kehormatan mereka sendiri. Mereka tidak mengundang orang-orang fakir miskin yang kelaparan… Dengan rasa putus asa dan hati hancur, aku kembali ke kubur… Hampir-hampir aku mengutuk istri dan anak-anakku…
Yah, sebuah pelajaran bagi mereka yang memiliki orang tua atau saudara dekat yang sudah meninggal. Berdoa pada Sang Maha Pemberi, untuk mereka, dengan sungguh-sungguh dan hati yang ikhlas, karena siapa tahu mereka amat sangat membutuhkan.
* * *
Begitulah, rasanya tanpa pengetahuan tentang kematian, bagaimana kita akan paham makna kehidupan ini? Bukankah kematian hanyalah bab-bab lanjutan dari buku besar kehidupan, sebuah chapter panjang tersendiri yang mengungkap maksud dari kisah-kisah di bab sebelumnya.
Until you are placed in the grave and covered with earth and everyone has taken seven steps away, you will know everything… (Bawa Muhaiyaddeen, To Die Before Death, 1997)
Yah, barangkali kita musti bersiap. Tapi persiapan seperti apakah, teman? Segalanya akan ditanggalkan, segalanya, semuanya, bahkan tubuh ini! Dan seperti diungkapkan Najafi, the self remains… diri lah yang akan melanjutkan perjalanan panjang setelah ini. Maka sudahkah kita tahu tentang siapa diri kita sendiri, yang bukan tubuh ini, teman-teman yang baik?
“Dan barangsiapa yang buta di dunia ini, niscaya di akhirat ia akan lebih buta dan lebih tersesat dari jalan.” (QS [17]:72)
“Barangsiapa mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya.” (Rasulullah SAW)
6 Comments »
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Ya, kini aku tak sendiri. Akhirnya ia tiba di depanku. Sosok berkulit hitam, bertubuh tinggi, berbibir tebal dengan gigi yang besar panjang menjulur, hidungnya lebar, dan berbau busuk.”Siapa namamu,” tanyaku.
Recent comments


Hidup adalah titipan…
Kita tidak pernah merasa memiliki sampai apa yang kita miliki hilang dari kita…
Tung, kenapa orang2 menjadi bijaksana saat melewati 30an atau mendekati 40an ?
» Comment by Herry — October 12, 2006 @ 10:46 am
Mungkin orang perlu waktu buat spend their life, memenuhi berbagai kebutuhan yang dia rasa dia butuhkan, mencari sana-sini, tentang pemaknaan, tentang hidup… sampai 40 tahun ketika sadar bahwa apa yang ia cari sebenarnya ada di dalam dirinya sendiri. Most of the successful men and women give their best in late 30s and after 40, don’t you think? ;-)
» Comment by watung — October 13, 2006 @ 12:12 am
Betul sekali kata Mas Herry…Hidup adalah titipan…bukan hadiah…kalo hadiah nggak akan pernah diminta…tapi kalo titipan suatu saat akan diminta lagi sama yang punya…jadi jangan sampai rusak “jiwa” yang dititipkan ini…sering kita mengkorupsinya…Demi jiwa dan penyempurnaannya - Dan Dia mengilhamkan kepadanya jalan salah dan benar - Sungguh beruntung orang yang memurnikan jiwanya - Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya (mengkorupsinya)(QS 91:7-10)…
begitu juga titipan jiwa ini, niscaya kalo tidak kita gunakan secara benar, kita akan bangkrut…tdk usah jauh2 di akherat, di dunia ini and real time…biasanya orang yang bangkrut ini bego, tidak bisa analisa dan mengabaikan realita…ntar nyeselnya belakangan…lha wong berangkat bekalnya banyak kok pas pulang nggak nambah malah hilang…semoga kita semua tidak demikian…amin
» Comment by zarathusta — January 5, 2007 @ 6:39 am
Jiwa ini pada dasarnya adalah… diri kita sendiri. Kalau rusak, ya pada dasarnya yang rusak diri sendiri. “Dan tidaklah Kami menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS 43:76)
» Comment by Watung — January 5, 2007 @ 11:14 am
kebayang ga ditanya tapi yang nanya suaranya sekeras gledek? sambil bawa gada duri api? trus kalo kita ga jawab, yang nanya suaranya tambah keras?….setelah kita jawab,tiba-tiba muncul teriakan laksana guntur mengelegar di langit,”KATAKANLAH, DARI MANA ENGKAU MENDAPAT JAWABAN ITU?!”
» Comment by kuyazr — February 21, 2007 @ 2:53 am
hidup manusia itu ibarat jam saja, habis satu ,dua ,tiga dan seterusnya lalu balik lagi ke satu lagi, apakah dapat dianalogikan seperti itu, kadang pada jam2 terang jam 6pg-6sore, kita dapat melihat sinarnya Tuhan,tingkah laku kita baik2 saja,tetapi apabila lewat jam itu kita seperti buta, tidak dapat melihat sinarnya Tuhan, maka kadangkala kita tersesat, lalu lewat jam itu balik lagi kita dapat melihat keagungan Ilahi,yg akhirnya dinamakan sadar,kerennya bertobat, trus jam berputar trus sampai lupa hidup ini sudah tua tapi tidak dapat membedakan dan memahami arti dari sejatinya hidup ini, smoga kita yang masih sadar hidup, tidak peduli kita didlm jam2 gelap maupun terang dapat selalu melihat keagungan Sang Gusti,sehingga pada saat roh keluar dari jasad ini kita dapat melihat sinarnya Tuhan,alias tidak tersesat, Smoga saja
» Comment by loewi — March 14, 2007 @ 12:29 am