“Urip mung mampir ngombe,” tegas nenek saya. Hidup itu cuma bersinggah untuk minum.
Mari sini, teman-teman yang baik, mari sini. Sembari mengukur jalan ini, membuang kembali ingatan ke masa kecil, yang kata orang, masa paling indah. Ingatkah ruang itu, ketika kita menyusuri kebun tebu dan melempari danau bersama kawan-kawan sebaya, tanpa tuntutan, tanpa prasyarat? Dan jejak-jejak gairah itu, luka itu, rasanya baru kemarin, bukankah demikian?
Dan sungguh, waktu meluncur begitu cepat. Hal-hal yang tak terbayangkan di masa kecil, kini kita hadapi. Maka sampailah kita di sini, para penyusur jalanan dan gedung-gedung kota yang suram. Pergi pagi pulang petang. Lalu untuk apa? Mengisi lambung yang hanya seukuran setengah bantal ini? Menunggu maut?
(Read the rest…)
Rupanya ada debat seru nih di milis-milis soal rencana pemerintah membeli lisensi produk-produk Microsoft. 35 ribu lisensi Windows dan sekitar 180 ribu MS Office ke berbagai instansi, yang kalau ditotal (kata ini dan itu)… yah sekian ratus milyar rupiah.
Dan kita semua pada ngungun: Kenapa kok nggak pake yang open source aja sih? Selain bikin pinter, apa pemerintah ndak tahu bahwa dengan begitu bisa dihemat sekian juta dollar?!
Sebentar, sebentar. Bikin pinter? Kalau buat bapak-bapak di bagian pengadaan, kayak nggak nyambung ya. Pembelian software, buat instansi seperti itu, sama saja dengan pembelian kebutuhan material lain, dan nggak akan ujug-ujug beli sesuatu karena jatuh cinta pada “The Cathedral and the Bazaar” atau for the sake of… bikin pintar (plis deh)? Mau software, mau kertas A4, pita mesin ketik, tissue toilet, kalender, baju safari, … nggak ada bedanya. Dan prinsip ekonomi tetap berlaku: asal bisa murah, mudah, kualitas sip, dan get things done… ya udah, deal.
But, Watung, Linux is $0!
(Read the rest…)
Browsing itu memang fun. Di hari Minggu, setelah session pecel Mediun, kopi berikut istrinya, sambil ongkang-ongkang kaki (wireless modem jek akhirnya, jangan sirik ya!), log on, dan wuuushh… Saya share deh dikit yang bikin blinking di kepala saya.
(Read the rest…)
Percaya nggak, orang bisa bikin kamera penyadap, cukup dengan handphone? Mari kita bikin eksperimen kecil.
Yang diperlukan adalah 2 set 3G handphone (dan yang tentu berada di wilayah 3G network), punya fitur video call, dan paling nggak salah satunya musti punya handsfree dan (ini yang penting) bisa AUTO-ANSWER. (Yah nggak usah beli handphone baru. It’s a kalo-ndak-punya-ya-minjem kind of project. A do-it-yourself, fun project!)
Kita orat-oret sedikit skema kerjanya:
(Read the rest…)
Pernah dapat email spam? Ya, yang isinya soal viagra, mortgage, atau yang sejenis “buy cialis now!” dan “pleasure your partner with a bigger, longer, stronger…” itu? Sure you do. Pernah kepikir ngapain mereka kirim-kirim gituan?
Well, because it makes money, Watung? Okay, it does. But have you ever wonder how much?
Bayangin, sejak dulu di tahun 1992 (ketika saya pertama kali punya email) sampai pagi ini yang kalau terima 100 email per hari ternyata 99-nya cuma nongol di Junk Folder, spam ini kok seperti bisnis prostitusi saja layaknya: nggak mati-mati. Ya nggak sih? Coba deh, pengirimnya aja, paling nggak, pinter ngomong Inggris, dia ngerti konsep marjin (baca: pedagang), tahu Internet dan bisa kirim email (baca: manusia modern, kalau mau kerja “bener” ya seminimalnya manajer lah, daripada cuma kirim-kirim yang nggak jelas kayak gini). But… we keep receiving the same spam message repeatedly, we never open the messages and just hit delete, and why in earth doesn’t the spammer just realize that we don’t read his spam and stop sending me those damn messages! (Hhh, sorry, esmosi…)
Well, because it’s a profitable business. Ever wonder how much a spammer can get?
Big enough.
(Read the rest…)
Fffuh, pindahan nih. (Oh ya, please update your bookmarks!)
Ya, pondokan baru, suasana baru. Lebih sederhana dan simpel (a.k.a. minimalist), lebih bebas mau apa (nggak juga sih, lebih tepatnya lebih bebas dengan berbagai keterbatasan baru, dengan kerumitan baru). Tapi bagaimana pun juga, rumah “sendiri”. :-)
Article-wise, nggak banyak yang berubah dari yang sebelumnya. Feature-wise, sebenarnya juga sama, kecuali beberapa pernak-pernik yang nggak penting dihilangkan. Domain sendiri (keren!), and Wordpress is great! — mereka punya utility untuk migrate isi blog di Blogger ke rumah baru ini.
Blog yang lama di Blogspot dibiarin gitu aja, buat kenang-kenangan (kalau Blogger nggak tutup). Page-loading kali ini semoga lebih cepat (100-an kbyte kalau dulu size di page awal, kini cuma 20-an saja). Harapan lainnya, semoga bisa bersemangat baru. Salaam.