Bisnis Spam
Pernah dapat email spam? Ya, yang isinya soal viagra, mortgage, atau yang sejenis “buy cialis now!” dan “pleasure your partner with a bigger, longer, stronger…” itu? Sure you do. Pernah kepikir ngapain mereka kirim-kirim gituan?
Well, because it makes money, Watung? Okay, it does. But have you ever wonder how much?
Bayangin, sejak dulu di tahun 1992 (ketika saya pertama kali punya email) sampai pagi ini yang kalau terima 100 email per hari ternyata 99-nya cuma nongol di Junk Folder, spam ini kok seperti bisnis prostitusi saja layaknya: nggak mati-mati. Ya nggak sih? Coba deh, pengirimnya aja, paling nggak, pinter ngomong Inggris, dia ngerti konsep marjin (baca: pedagang), tahu Internet dan bisa kirim email (baca: manusia modern, kalau mau kerja “bener” ya seminimalnya manajer lah, daripada cuma kirim-kirim yang nggak jelas kayak gini). But… we keep receiving the same spam message repeatedly, we never open the messages and just hit delete, and why in earth doesn’t the spammer just realize that we don’t read his spam and stop sending me those damn messages! (Hhh, sorry, esmosi…)
Well, because it’s a profitable business. Ever wonder how much a spammer can get?
Big enough.
Business model
Iklan di media. Iklan TV, ambil contoh. Temen marketing kita biasa bilang seperti ini, “Ini produk baru. Kita mau pasang iklan di TV anu, saat prime time karena yang nonton 3 juta saat itu, sekian kali. Yah targetnya sih 5% dari 3 juta itu tertarik dengan produk kita, sehingga paling nggak 1% (called success-rate) yang bener-bener beli. Itu pun udah oke.”
1%, 2%… yah sekitar segitulah. Model bisnis spam, is pretty much the same!
The ratio is very-very small, around 0.01%. But it’s just a game of numbers and percentages; even the smallest number can give a large return. - Spammer X, Inside the Spam Cartel
0.01%… how much is that? Yah, kalau spammer nawarin viagra atau porn-site membership ke 10.000 alamat, paling cuma 2.000 yang baca email (dan kebanyakan langsung di-delete), 100 yang iseng-iseng tertarik dan mencoba masuk ke link yang di-refer, dan cuma 1 yang bener-bener sign-up. Dari 10.000, cuma 1. Sa’uplik. 0.01%.
But now, what if the spammer has 2 million emails in his database (yes, it’s possible. I’ll talk about this later)? Given the same ratio, spammer akan memperoleh (dam-di-dam, *calculating*)… 200 sign-ups.
Now, how big is this 200-signups? Well, it depens on the product.
The product
Produk, ada di mana-mana. Software, obat-obatan (yes, those viagra and cialis things), t-shirt, pornografi… apa aja. Apa aja yang punya demand.
Mari kita googling sebentar, search “webmaster cash”, submit. See? So many. Mari kita pilih di list yang paling atas: Sexmoney.com (search result di situ mungkin berbeda, sekedar contoh saja).
Earn a $30 flat rate for each and every sign-up you send to the SEXMoney.com line-up of paysites… bla-bla-bla…
Intinya, $30 per sign-up (member) di Sexmoney.com, plus 50% dari apa yang di-spend oleh member ini per bulannya (disebutnya “recurring”).
Kita coba site yang lain: Largecash.com (yes, another porn sites gateway). $35 - $40 per sign-up, 65% recurring. Hampir sama. Beberapa produk lain punya program yang harganya rada murahan (tapi big-chance buat dapat sign-up), sekitar 15$ per signup.
Solving the equation
So. Sudah kebayang? 200 sign-ups, dikali $15.
Sekitar $3000 gross profit: gaji asisten direktur di Indonesia. Hahaha! Kerjaan: sejam untuk compose email (yang dipermak sedemikian rupa biar nggak ketangkep spam-filter — ini pun sebuah seni tersendiri), 10 menit cari public-proxy atau open relays (supaya nggak gampang ke-track), lalu nunggu 2 sampai 4 jam sampai bulk-email software selesai mengirim message ke seluruh alamat.
Now, the last question: how could they get the 2 million email addresses in their database?
The 2 million emails
Most of the case, dari agen. Si agen adalah juragan email yang mengumpulkan beribu-ribu, berjuta-juta alamat email dari para bandit elektronik,
Black hat hackers are always eager to earn quick money doing what they love. Many of them target companies from casinos to drug stores to porn sites, earning anywhere from $500.00 to $5,000.00. The goal is always the same: get the customer database, e-mails, real names, age, addresses, everything possible. - Spammer X, Inside the Spam Cartel
dari para pemulung email yang telaten memungut alamat-alamat dari berbagai website, address book, forum, blog, bahkan chat-room dan whois database; juga dari “oknum” orang dalam di free-email service semacam Yahoo atau Hotmail atau situs-situs ber-subscription, atau dari para pembina milis yang (teganya, teganya, teganya) menjual email para membernya, dan sebagainya. Banyak channel.
Alhasil. Para agen ini mampu menjual database berisi 100 juta alamat email dengan harga sekitar $100 - $500. Nggak percaya? Monggo saja query di Google untuk “email addresses” (initrobemarketing.com misalnya, lagi sales untuk paket 150 juta alamat email seharga $300, atau 0.02 rupiah per email!).
Jadi, begitu lah. Satu hal jelas, untuk saat ini, spam is very worth it for some people. Sebuah bisnis yang rasanya akan terus berevolusi, dari dulu (di print-media, flyer, pamflet, yang merusak tembok-tembok kota), sampai sekarang (email, messenger, SMS, dan ke depan: VOIP, RFID, tunggu aja) dan yang didukung oleh kartel-kartel baik di sisi supply dan demand.
This is not to encourage you to become spammer (saya juga yakin nggak ada dari teman-teman yang rela “merendahkan” martabatnya dengan jalan seperti ini). Lagi pula, spamming bukannya tanpa kerugian di pihak lain: overhead di mail server, bandwidth, waktu yang dibutuhkan buat nge-delete-in spam setiap harinya, maintenance untuk spam filter, dan sebagainya. Ini tadi juga bukan membahas solusi apa atau spam filter apa yang paling bagus with all those bayesian stuffs (udah banyak yang bahas).
Yang coba ingin ditekankan di sini, solusi apa pun yang dicoba dikenakan terhadap spam, selama itu tidak tertuju pada breaking the economic scale of spam, selama itu pula spammer akan tetap exist.
No Comments »
No comments yet.
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Recent comments

