Chapters of life
“Urip mung mampir ngombe,” tegas nenek saya. Hidup itu cuma bersinggah untuk minum.
Mari sini, teman-teman yang baik, mari sini. Sembari mengukur jalan ini, membuang kembali ingatan ke masa kecil, yang kata orang, masa paling indah. Ingatkah ruang itu, ketika kita menyusuri kebun tebu dan melempari danau bersama kawan-kawan sebaya, tanpa tuntutan, tanpa prasyarat? Dan jejak-jejak gairah itu, luka itu, rasanya baru kemarin, bukankah demikian?
Dan sungguh, waktu meluncur begitu cepat. Hal-hal yang tak terbayangkan di masa kecil, kini kita hadapi. Maka sampailah kita di sini, para penyusur jalanan dan gedung-gedung kota yang suram. Pergi pagi pulang petang. Lalu untuk apa? Mengisi lambung yang hanya seukuran setengah bantal ini? Menunggu maut?
Ah, sudahlah… ;-)
Ijinkan saya bercerita tentang bab-bab kehidupan, perjalanan sebagian besar kita, yang bermula dari suatu masa jauh sebelum kita dilahirkan, dan berakhir dengan… entahlah, saya ingin membiarkan jari-jari ini jatuh kemana pun yang disuka. Hanya dengan memahami bab-bab awal itu, kita akan beroleh clue dimana kita sekarang, untuk apa, dan kemana semuanya ini menuju.
* * * *
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul, kami menjadi saksi”. (QS [7]:172)

Tentang apakah ayat ini berkisah? Siapakah itu jiwa-jiwa keturunan Adam, yang berhadap-hadapan dengan Allah Yang Maha Tinggi itu, teguh bersaksi tiada ragu “Betul, kami menjadi saksi”?
Kita, teman-teman yang baik. Itu kita. Saya, anda, masing-masing, semuanya! Jiwa yang ada di sana itu, adalah juga yang ada di sini. Sosok yang bercakap-cakap dengan Sang Raja Diraja Semesta Raya itu, adalah juga sosok yang ini. Bukan siapa-siapa, bukan para tokoh di dongeng dan kisah pahlawan, tapi kita.
Kita adalah saksi tentang keesaan Tuhan, bukankah demikian? Kita lah, makhluk mulia yang diciptakan dengan sebaik-baiknya ini, yang akan angkat suara atas segala keraguan tentang keberadaan Tuhan. Karena bukankah kita telah melihat Dia, teman-teman yang baik? Berbicara dengan-Nya? Kita lah yang paham benar, kita yang tahu. Siapapun itu: presiden dan tukang cukur, guru dan para murid, sarjana dan kaum awam, laki-laki dan perempuan, kaya dan miskin, tak satu pun terkecuali. Kita berasal dari sana, kita semua bersaksi, dan akan dituntut tentang persaksian itu.
… agar di hari kiamat engkau tak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini.” (QS [7]:172)
Akan tetapi, lihatlah diri ini kini. Ingatkah kita tentang semua kejadian itu? Ingatkah kita akan sosok “wajah” yang kepada-Nya kita menghadap dahulu?
Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami, dan dia lupa kepada kejadiannya… (QS [36]:78)
Kebanyakan kita, tak sedikit pun mampu mengingatnya. Mengapa? Coba kita teruskan, barang sebentar.
Di Dalam Rahim
Di rahim ibu, lumbung kokoh nan penuh kasih sayang, sebuah “kendaraan” pun hati-hati disiapkan, ditumbuhkan dari segumpal tanah.
Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya. (QS [71]:17)
Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. (QS [39]:6)
Empat bulan lamanya (atau 120 hari, atau 3 kali 40 hari) adalah usia janin ketika terjadi apa yang di dunia kedokteran disebut sebagai quickening, ketika sang ibu mulai merasakan gerak-gerik yang kuat di rahimnya, ketika seluruh bagian tubuh mengalami perkembangan cepat — yang oleh sebagian tafsir disebut sebagai saat ketika jiwa dan ruh mulai ditiupkan.

Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya ruh-Nya… (QS [32]:9)
Dia-lah yang menciptakan kamu dari turaab, kemudian dari nuthfah, sesudah itu dari ‘alaqah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak… (QS [40]:67)
Jiwa anak-anak adalah jiwa yang bersih nan suci, begitu kata Rasulullah s.a.w.
Lihatlah bayi-bayi itu, teman-teman yang baik. Mereka tersenyum kepada setiap orang, walau tetap sensitif pada setiap bersitan niat buruk yang hadir, bukankah begitu? Mereka bercakap-cakap dengan hewan dan tumbuhan, bahkan bercanda memandang ke arah sesuatu yang kita tak mampu melihatnya. Mereka menyentuh sana dan sini, memasukkan apa saja ke mulutnya, belajar tentang dunia barunya, dunia yang asing yang kini musti dijalani, bumi beserta seluruh penghuninya, juga tubuh — kendaraan barunya ini, yang memungkinkannya merambah belantara, samudra dan angkasa, di sini.
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menjadi abdi-Ku. (QS [51]:56)
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi.” (QS [2]:30)
Dan babak baru pun dimulai…
CHAPTER 3
Dunia, Tempat Persinggahan
Tubuh, kata Al-Ghazali, adalah kendaraan bagi jiwa, kendaraan kita. Tubuh dengan kepala dan kaki, tangan dan punggung yang kita sentuh ini, adalah bak kereta kuda bagi kita kusirnya, sang pengendali kuda. Namun semenjak hari pertama itu pun, kita menumbuhkan “aku” yang lain, egoisme, dan melakukan apa saja demi keakuan yang baru ini. Kita bercermin, dan menyangka bayangan itulah diri kita. Kita mengambil foto dan meyakinkan semua orang, lihatlah diriku, betapa ayu dan gagah sungguh.
Teman-teman yang baik, adakah sama, kusir dengan keretanya? Adakah sama, “aku” dengan “tubuhku”? Pernahkah kita bertanya, di manakah diri kita yang sebenarnya, kini? Di manakah kita yang dulu berhadap-hadapan dengan Sang Penguasa Semesta? Kapan terakhir kita sanggup melihat-Nya?
Dan keserakahan, hawa nafsu, syahwat pun kian mewabah. Sang bayi yang telah tumbuh besar itu pun kini tak lagi mudah tersenyum pada orang-orang, atau berbicara pada pohon dan kupu-kupu. Kita jadi mudah marah, dan merasa diri telah bersikap tegas. Kita mengurangi timbangan pelanggan dan karyawan, dan merasa diri telah melakukan hal yang cerdik. Kita pergi haji, dan merasa lengkaplah sudah satu set kapling di dunia dan villa di surga. Padahal kepada Tuhan dan kisah para nabi, diam-diam kita menepisnya “Dongengan jaman dulu! Berbicara dengan Tuhan? Ah, hari gini?”, sembari mengangkat cawan selamat hari raya, demi koneksi dan relasi.
… seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. (QS [59]:19)
Teman-teman yang baik, jiwa ini telah lumpuh! Digerogoti oleh prahara dosa, nafsu dan amarah. Lumpuh, dalam arti sebenarnya, pingsan dan tak sadarkan diri, tak bisa bangkit, terpuruk!

Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS [91]:10)
Maka siapakah kini yang tengah berjalan-jalan ini?
Teman-teman yang baik, kereta kuda itu telah melalang buana tanpa kendali, pergi kemanapun yang disuka: kepada harta, kekuasaan, dan senggama. Terbangun di pagi hari, sampai terkulai di malam hari, tubuh kita menjalankan berbagai hal, tanpa tahu untuk apa semua itu.
Mari pikirkan baik-baik persaksian itu. Adakah tubuh ini turut bersaksi di sana?
Tentu tidak! Tubuh terbentuk di dalam rahim, dan tak tahu menahu tentang persaksian yang kita alami. Tubuh tak punya “acara” di bumi ini, selain sebagai kendaraan bagi jiwa, bagi kita. Tubuh tak peduli soal kita yang musti menjadi abdi-Nya, yang musti menjadi wakil-Nya, khalifah-Nya di muka bumi. Teman-teman yang baik, kita lah yang merekam peristiwa persaksian itu, tubuh tak ingat apa-apa. Hati yang bersih yang akan sanggup mengingatnya, otak tak tahu apa-apa. Tubuh tak ada di sana! Namun bila bahkan jiwa dan hati ini tak mengingat apapun… wahai, tidakkah itu berarti jiwa ini tengah sekarat, teman-teman yang baik?
Tanpa sang kusir, bukankah tubuh akan bak kereta kuda yang pergi kemana pun yang disuka, melakukan apapun yang dimauinya?
Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya… Mereka itu tak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya. (QS [25]:43-44)
Dan hal ini pun berlangsung, sampai senja menyadarkan kita… tatkala jiwa dilepaskan, dicabut dari tubuhnya, maka kita akan paham. Kita akan tahu, teman-teman yang baik, kita akan melihat semuanya!
Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam. (QS [50]:22)
* * * *
dan CHAPTER 4, 5…
Dan chapter 4 adalah sebuah perjalanan di alam yang berbeda, alam barzakh. Sebuah kehidupan yang jauh lebih panjang, jauuuuhh lebih lama dari yang kita jalani di dunia sekarang ini. Sebuah masa yang berawal ketika jiwa dan ruh “dicabut” dari tubuh, ketika tubuh menyelesaikan tugasnya dan kembali ke tanah dan kita (jiwa) meneruskan perjalanannya, dan berakhir tatkala sangkakala mulai ditiup, yang menandai awal dari qiyamah ketika semesta raya ditutup dan seluruh makhluk dikumpulkan di sebuah padang, Chapter akhir dari kehidupan.
Maka, bila kita (jiwa ini) dalam keadaan lumpuh, bagaimana kita akan melanjutkan perjalanan yang jauh nan panjang nanti?
Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat ia akan lebih buta dan lebih tersesat dari jalan. (QS [17]:72)
Teman-teman yang baik, kita masing-masing di sini, di tempat persinggahan ini, ditugaskan untuk mengambil sesuatu, dan kita diberi fasilitas yang berbeda-beda.
Tiap-tiap diri dimudahkan sesuai dengan untuk apa ia diciptakan. (Rasulullah SAW — HR Bukhari)
Dan Al Quran adalah sebuah peta rahasia, yang menceritakan tentang seluruh alam ini, kehidupan ini, apa yang akan dihadapi, dan bagaimana melewatinya dengan baik, dari awal sampai akhir, bukankah begitu? Al Quran pada dasarnya berkisah tentang diri kita, ketika berbicara tentang orang-orang kafir dan para pencinta dunia. Al Quran menunjuk diri kita, ketika berbicara tentang penyembah berhala yang menuhankan hawa nafsunya. Al Quran tidak menunjuk siapa-siapa, ketika berkisah tentang Bani Israil. Kita, teman-teman yang baik. Kita yang ditunjuk.
* * * *
Semoga sebuah kehendak yang sungguh-sungguh untuk kembali… barangkali itu sebuah awal yang baik.
Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (QS [7]:23)
Allah menarik orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada-Nya orang yang kembali. (QS [42]:13)
Kembali, teman-teman yang baik. Dan jika kita kembali berjalan menuju-Nya, Dia akan berlari menjemput. Itu pasti. Insya Allah.
32 Comments »
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Recent comments


Tulisan yang bagus.Untung blog mas watung pake domain lokal, jadi masih bisa diakses nich…
» Comment by yyuana — December 28, 2006 @ 2:49 am
Tulisan yang menyadarkan diri. kenapa tidak tiap saat diri ini dalam keadaan sadar mas ??
» Comment by fsiddieq — December 28, 2006 @ 7:57 am
Server di US, yyuana. Suatu saat nanti insya Allah kalau menjadi orang-orang yang ‘kembali’, pasti akan sadar terus. ;-) P.S. kembali = taubat (in Arabic)
» Comment by watung — December 28, 2006 @ 1:08 pm
hidup di dunia ini seperti mimpi saja ya mas watung .. mati lah yg akan membangunkan kita ke dunia ‘nyata’ hiks
» Comment by tukangkoding — December 29, 2006 @ 9:43 am
penasaran banget dengan chapter 1 of our life…
bertemu dengan Allah..wow..gak kebayang!!
kapan ya..jiwa ini bisa mengingat kembali pertemuan itu..hope not too late :(
» Comment by mutiara evolution — December 31, 2006 @ 12:08 pm
Mas Watung
Matur nuwun sudah mengingatkan kita semua.
Wassalam
» Comment by Danar — January 2, 2007 @ 2:09 pm
Wah, sang sufi Watung ini tambah semakin matang…semoga tidak kenal lelah walaupun harus melalui jalan setapak keberserahdirian yang berbatu, berduri dan berlumpur…
» Comment by zarathusta — January 5, 2007 @ 5:58 am
Writing and talking about sufi doesn’t make someone become a sufi. Plis deh. Suka film, iya. Kemarin baru nonton Lady in the Water (udah nonton?) Menarik, karena seperti dikatakan salah satu tokoh di film itu: “You have a purpose. All beings have a purpose. You think you are alone. We are all connected.”
» Comment by watung — January 5, 2007 @ 11:05 am
buat Kita jadikan bahan renungan yg panjang, jgn hanya saat baca tulisan Mas Watung aja…
Saat tubuh balik ke tanah, jiwa menunggu hisab dan ruh balik ama Allah…”Ingatlah Aku niscaya Aku pun akan mengingatmu”…kalo Kita pernah ketemu ma Allah(emang benar) trus apa yg ada pada Kita(saat masih hidup)bisa Kita gunakan utk mengingat Allah…karena hukumya mengingat(menurut saya nih…)pernah saling ketemu, bertatapan…cara ngingat Allah(dzikrullah)yg benar(bukan bacaan dzikir)gimana…? bantu ya Mas Watung ma yg lain juga…
» Comment by copo' — January 6, 2007 @ 4:49 am
numpang mampir, salam kenal. dapet link ini dari milis yg aku ikuti. masya Allah, sebuah tulisan yg membangunkan.
» Comment by wiwie — January 8, 2007 @ 9:20 am
Salam kenal, wiwie. Dari milis mana?
» Comment by watung — January 8, 2007 @ 10:37 am
Mas, punten, kosakataku terbatas. Yang bisa aku bilang tentang tulisannya cuma: Bagus banget. Paling ga, urun komentar aku disini menjadi pertanda keterpanaanku. Btw, aku juga sedang menyelesaikan tulisan dengan tema ini loh, tapi pas liat Mas nulis dengan apik, aku jadi minder…
» Comment by diannovi — January 8, 2007 @ 12:24 pm
Asik nih, jarang-jarang dipuji… Eh, bukan ngledek kan ya? Plis, plis, plis…
» Comment by watung — January 9, 2007 @ 9:48 am
Tulisan yang sangat bagus, Tung: menggugah, tidak menggurui, dan membuat hati pembacanya tergetar. Sebuah tulisan yang mampu menggetarkan hati pembaca-pembacanya, semestinya tulisan tsb dihasilkan oleh penulis yang hatinya telah tergetar.
» Comment by Hudha — January 9, 2007 @ 2:59 pm
Tulisan yang sangat bagus, Tung: menggugah, tidak menggurui, dan membuat hati pembacanya tergetar. Sebuah tulisan yang mampu menggetarkan hati pembaca-pembacanya, tentunya tulisan tsb dihasilkan oleh penulis yang hatinya telah tergetar.
» Comment by Hudha — January 9, 2007 @ 3:00 pm
Mas Watung, bisa nggak jiwa itu keluar sementara ruh tetap ada… matur nuwun yo mas.. gusti allah sing mbales.
» Comment by Tulus — January 10, 2007 @ 1:39 am
Terimakasih semua. Untuk Mas Tulus: bisa. ;-)
» Comment by watung — January 10, 2007 @ 3:57 am
Tulisan yg menarik, utk menjadikan renungan kita.
Untuk sy akan saya tulis ulang, salah satu teknis sy agar bisa lebih mendalami.
mohon ijin, utk disebarkan
» Comment by sonhadji — January 11, 2007 @ 6:02 am
Silakan, sonhadji, dengan senang hati. Semua yang ada di sini free to share, free to remix, under Creative Commons License.
» Comment by watung — January 11, 2007 @ 6:03 pm
tlah sekian lama aku hanyut denganmu
namun mengapa aku sering mengabaikanmu yang slalu mencoba mengingatkanku?
ingin rasanya aku berhenti mengurai,
namun aku tak ingin melupakan aku dan mereka
tak seharusnya aku melupakan pengakuanku
bukankah kau tlah menjadi saksi bunda tlah membekaliku?
amanah tlah kusanggupi walau sebenarnya kutahu terlalu berat untuk kutanggung
bukankah semuanya tidak lain bagian dari rahasia,
yang tak terlampaui oleh akal dan kalbuku?
wahai dikau yang tajam menusukku,
kau tahu aku terlalu sibuk dengan fatamorgana ini
terlalu banyak kesempatan yang tlah engkau berikan, … kusia-sia kan untuk tidak memahamimu
aku ingin kembali seperti dulu …
kesederhanaan laku dan kata bersama mereka yang slalu belajar memahami hidup dalam kesederhanaan pula
…
oh bunda …
aku rindu padamu,
aku rindu kasih sayangmu,
aku rindu kesederhananmu,
aku rindu nasehatmu,
aku rindu sepiring nasi putihmu,
dan
aku rindu kesetiaanmu yang tak pernah lelah membimbingku tuk memahami sang waktu …
» Comment by Rudi — January 17, 2007 @ 5:07 am
mas… tulisan mu itu loh…
Mas… bener kata mu Lho..Kembali Kepada-Nya…
Dan mas…. Ada harap di dalam waktu yang kelak akan aku temui…”saat ajal tiba…”
Aku ingin segera bertemu dia yang terpisah sementara karena kehendak dan ijin-Nya…tuk kembali bersama dalam damai Surga-Nya..
InsyaAllah….
» Comment by Rosma Agustin — January 18, 2007 @ 9:08 am
Mas watung..maha suci Tuhanku..yang telah menngilhamkan kepada mas kata2 yang “mudah dipahami”..semoga kita semua dimudahkan BELIAU untuk memahami..
ada yg mengelitik di benak saya tentang “bagaimana” kita merasa yakin..ketika “Menghadap” BELIAU (sholat dan diluar waktu sholat) benar2 ke BELIAU dan apa “indicatornya”?
Cak Abu Syangkan mengajarkan “sholat Khusyu”..beberapa saudara kita menempuh “Tharekat”,Pak Agus Mustofa” mencoba menangkap indicator melaluai “Photo aura”
semuanya satu maksud “mencoba mereka ulang “pertemuan yang pernah terjadi” dengan SANG PENCIPTA..
Semua tidak pernah akan terjadi lagi…kalau orientasi “self awareness” masih pada layer “Kesadaran fisik”..karena yang bisa bertemu dengan BELIAU sesuai konsep “Innaillahi wa Innaillahi rojiun” adalah Ruh Kita
Apa itu “Ruh “,analoginya seperti yang ditulis oleh pak Agus Mustofa “Menyelam dalam kedalaman Jiwa & Ruh”..ketika Tubuh dan Ruh berpadu..maka muncullah “jiwa”..disini “Ilham kebaikan dan kejahatan” ditanamkan potensinya..jiwa berhak memilih..dan tentunya dengan segala resiko yg harus ditanggung..
Kuncinya “bagaimana menghadap/mengingat” BELIAU dengan benar dan tepat..dan sesuai hukum “sebab akibat”..selalu ada akibat yang kita rasakan (indicator) ketika kita ” telah menghadap” dengan tepat..
Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israel, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. QS 19-58
mohon maaf jika kurang berkenan..
» Comment by rudykelanacinta — February 2, 2007 @ 3:30 am
salamualaikum..
well said pak …great..
& also i love all the sketches around your blog
wassalamualaikum
-i-
» Comment by ialexs — February 6, 2007 @ 3:37 am
Wa’alaikum salaam, ialexs. Thanks!
» Comment by Watung — February 6, 2007 @ 6:59 am
Alhamdulillah, Allah memberi petunjuk untuk hambaNya ini membuka blognya mas Watung..
terima kasih mas Watung
» Comment by watashi — December 27, 2007 @ 3:30 pm
Assalamualaikum w.w mas Watung
boleh tau ngga, mas Watung tertarik untuk mencari tau tentang “diri” itu sejak kapan, lalu bisa mengupas seperti ini sampai mampu memberikan penguraian seperti ini gampang dimengerti oleh orang lain ini butuh waktu berapa lama?
Terus terang saya sangat kagum dengan “titipan” yang Allah berikan kepada mas Watung.
Terima kasih…
» Comment by watashi — December 28, 2007 @ 9:53 am
saya minta izin ya mas, saya mau copy paste chapters of life dan mungkin tulisan2 mas Watung lainnya khususnya yang di spirituality, untuk di catatan saya, karena begitu menyentuh hati.
Terima kasih sebelumnya.
» Comment by Edlina — December 28, 2007 @ 11:42 am
watashi: soal gimana saya, ndak penting. yg penting, gimana dgn watashi sendiri.
edlina: monggo aja silakan, it’s free!
» Comment by watung — December 28, 2007 @ 1:25 pm
Sering baca buku, tapi belum pernah baca tentang “Jati Diri” ini. Si “aku” ini. Nggak pernah kepikiran bahwa tubuh ini hanya punya “tugas” selama kurang lebih 80 tahun. Setelah itu jiwa atau ruh akan melanjutkan perjalanan. Amazing. Never crossed my mind. Thanks for reminding me. It’s great. Keep writing ya Mas!
» Comment by AdeReena — January 3, 2008 @ 11:09 am
alchamdulillah saya menemukan web ini ingin rasanya saya menuangkan sketsa gambar sekarat dan prosesinya dalam puisi di blog saya bila diijinkan
» Comment by hasan-pml — March 22, 2008 @ 12:37 am
Monggo aja, silakan mas hasan…
» Comment by watung — March 24, 2008 @ 4:06 pm
Alhamdulillah, saya sempat membaca tulisan ini.
Bagus. Terima kasih sudah mengingatkan kami…
» Comment by @nugrah — July 1, 2009 @ 3:59 pm