Tulisan yang menarik, dan sangat populer, dari Jonathan Rauch, menceritakan pengalaman pribadinya sebagai seorang introvert dan bagaimana itu mempengaruhi kehidupannya. Saya terjemahkan dari artikel Rauch di The Atlantic Monthly, Caring for Your Introvert (tentu tidak sebaik tulisan aslinya).
* * *
Pernah tahu tentang seseorang yang perlu menyendiri, berjam-jam tiap harinya? Yang gemar mengobrol tentang ide-ide, tentang perasaan? Yang kadang-kadang bisa mempresentasikan sesuatu dengan hebat di hadapan banyak orang, tapi begitu canggung saat berada di kelompok yang lebih kecil? Yang musti ditarik-tarik untuk datang ke pesta, lalu perlu seharian penuh untuk ‘penyegaran kembali’?
Apakah kita menjulukinya ‘orang serius’, atau bertanya kepadanya ‘eh, kamu sakit ya’? Menganggapnya penyendiri, sombong, dan tak sopan? Yang kita musti berjuang keras hanya untuk mengajaknya keluar?
(Read the rest…)
Film-film karya M. Night Shyamalan memang selalu menarik.
Ini sutradara muda asal India di balik film-film blockbuster seperti The Sixth Sense, Unbreakable, dan Signs. Lady in the Water, tak terkecuali sebenarnya. Tapi ia punya sedikit warna yang lain. Lebih personal, lebih idealis, lebih menunjukkan sisi spiritualis seorang Shyamalan. Yah, meski masih kita dengar suara sumbar para kritikus seperti di Yahoo! Movies bahkan mainstream-critics (I don’t give ‘em a sh*t actually, tapi rasanya itu juga lantaran mereka nggak paham ide sentral dari film itu).
Film yang berasal dari dongeng anak-anak di keluarga Shyamalan sendiri ini, berkisah tentang seorang peri laut yang tiba-tiba muncul ke sebuah kolam renang di balik apartemen, demi suatu tujuan: bertemu dengan seseorang yang nantinya akan menjadi bibit perubahan besar bagi peradaban dunia, di masa depan. Walau kita bisa merasakan insting mass-entertainment a la Spielberg, bumbu Twilight Zone di sana-sini, plus olah syaraf khas Alfred Hitchcock (adonan favorit saya!), tapi pesan utama dari seluruh film itu, buat saya, adalah berawal dari kalimat Story ini, sang peri laut:
(Read the rest…)
Prakarya (full of photos)
Situs atelier v ini keren! Serius. Tentang bagaimana barang sehari-hari memiliki kegunaan alternatif, jauh berbeda dari aslinya. #
Karya seni kertas di sini luar biasa. Lebih luar biasanya lagi, semuanya terbuat dari kertas A4 biasa. #
Ibu-ibu, kalau ketinggalan caranya bikin hewan-hewanan dari balon, di sini caranya. #
Dan bapak-bapak, listrik mulai mahal nih, gimana kalau bikin pembangkit listrik tenaga angin sendiri? Proyek menarik sebenarnya, terutama untuk mereka yang ada di wilayah dengan kecepatan angin cukup tinggi (di mana ya?). Renewable energy resource, kayaknya Indonesia perlu banget tuh. #
Patung-patung yang indah dari pasir. #
Aneh, Lucu
Ini adalah salah satu dari website terjelek di dunia. Tapi tunggu, sebuah artikel di SiteReference bilang bahwa website jelek (maksudnya, desainnya) malah seringkali bisa menjadi begitu sukses, financially. Desain yang jelek, jelas artikel itu, justru membuat orang percaya, bahwa ia nggak akan terjebak pada marketing liars, pada desain yang mengiming-imingi tapi menjebak. “You can trust us. We are a family run business and do not employ a marketing team. Our website is simple, but functional. Most importantly, our goal is to serve our customers, not necessarily learn HTML.” Di Indonesia agak kebalikannya kayaknya. #
Nokia bikin webserver yang bisa jalan di handphone. (Udah kaya biasanya aneh-aneh kelakuannya) #
Convert Google Map ke ASCII art. #
Dunia yang dilihat oleh mereka yang buta warna. #
Kejadian di tahun 2006: bahwa Laut Merah terbelah untuk yang kedua kalinya, bahwa ilmuwan sekarang bisa menulis di atas air, bahwa teknik invisible man (seperti dimiliki Mak Lampir) mulai berhasil diciptakan… semuanya di LiveScience. #
Software untuk memprediksi orang yang akan jadi pembunuh. #
Dan menghitung Pi dengan cara melempar roti ke udara. #
Sekian untuk minggu ini. Salaam.
What are your strengths, and what are your weaknesses?
Yak, itu adalah pertanyaan favorit para headhunter dan kaum HRD ketika menginterview calon pekerjanya. Nggak cuma memberi overview tentang siapa kandidatnya ini, pertanyaan ini juga mencoba mengorek skala-skala yang dipegang si calon, apa yang dianggap penting apa yang tidak, bagaimana ia memandang dirinya, bagaimana ia menggunakan kekuatannya, dan menghadapi kelemahannya sendiri. Pertanyaan yang pendek, sederhana, tapi padat dan multi-purpose.
What are your weaknesses? Bener, ini sebenarnya pertanyaan bercula dua. Nggak dijawab, kok ya kelihatannya stupid (karena mana ada makhluk ciptaan-Nya yang nggak punya kelemahan) atau takut dianggap “wuik, suombong amat” (nggak bisa ngaca diri apa!). Tapi kalau dijawab, ya sama saja masukin kepala ke mulut kuda. ;-)
(Read the rest…)
Tulisan seorang sahabat, dan kakak saya. Mungkin agak terlambat karena Idul Qurban telah sekian minggu lewat, tapi bukankah senantiasa ada hal yang tetap melekat dari sebuah tulisan yang baik?
* * *
Sudahkah kita berkurban?
oleh Kuswandani
Bismillah ar-Rahman, ar-Rahim, semoga hamba bisa meminjam dua asma-Mu ya Rabb, semoga ini menjadi tulisan pengantar renungan kita semua. Better late than never…
Iedul Qurban, bersumber dari dua kata dalam bahasa Arab, “Ied” dari kata ‘aada - ya’uudu, artinya “kembali”. “Qurban”, dari kata qaraba-yaqrabu, “mendekat”… Iedul qurban kemudian dimaknai oleh nalar saya sebagai sebuah hari di mana setiap kita belajar untuk kembali merenungi hal apa yang dapat membuat kita dapat mendekati Dia Sang Maha Lembut.
(Read the rest…)