Menjawab “What are your weaknesses?”
What are your strengths, and what are your weaknesses?
Yak, itu adalah pertanyaan favorit para headhunter dan kaum HRD ketika menginterview calon pekerjanya. Nggak cuma memberi overview tentang siapa kandidatnya ini, pertanyaan ini juga mencoba mengorek skala-skala yang dipegang si calon, apa yang dianggap penting apa yang tidak, bagaimana ia memandang dirinya, bagaimana ia menggunakan kekuatannya, dan menghadapi kelemahannya sendiri. Pertanyaan yang pendek, sederhana, tapi padat dan multi-purpose.
What are your weaknesses? Bener, ini sebenarnya pertanyaan bercula dua. Nggak dijawab, kok ya kelihatannya stupid (karena mana ada makhluk ciptaan-Nya yang nggak punya kelemahan) atau takut dianggap “wuik, suombong amat” (nggak bisa ngaca diri apa!). Tapi kalau dijawab, ya sama saja masukin kepala ke mulut kuda. ;-)
Santai, santai… Berikut ini ada contoh jawaban-jawaban terbaik, hasil dari ngobrol dengan teman-teman dan para saudara yang telah berhasil lolos dari perangkap pertama di dalam interview ini. Intinya satu: merendahkan diri untuk meninggikan mutu! Tapi sebelumnya… peringatan, peringatan! Semua jawaban ini bisa mengakibatkan, yah… sedikit mual-mual. ;-)
So, what are your weaknesses? Gini cara ngejawabnya:
» Ngnggg… saya workaholic. Saya itu sering jadi terlampau keras bekerja ya Bu ya… (Red - nulisnya aja udah mual nih)
» Nggak punya time management yang baik. Begitulah, Bu, kadang saya ini suka kerja nggak kenal waktu. Pas sadar harus pulang, sudah terlalu malam… (Red - wajah menerawang sedikit, antara menyesali dan tak berdaya)
» Kurang bisa menjaga Balance of life. Hidup memang harus seimbang ya, Bu. Tapi akhir-akhir ini saya terlampau mementingkan pekerjaan dibanding keluarga. Saya masih berusaha keras untuk memperbaiki ketidakseimbangan ini (Red - mungkin di sini diperlukan kerja keras agar wajah tetap serius dan konsisten, tidak cekikan).
» Sering terburu-buru. Naah… Ini kesan yang kerap ditangkap oleh lingkungan kerja saya, Bu. Barangkali karena fast-pace ya, ritme kerja saya yang cepat, sehingga mereka tidak bisa mengikutinya. Saya selalu ingin cepat selesai. (Red - bisa ditambah dengan geleng-geleng kepala, karena gemes).
» Terlampau keras terhadap bawahan. Entah ya, Bu, mungkin karena reflek di dalam diri saya yang terlalu tegas, tidak bisa mentolerir sifat bermalas-malasan… Atau mungkin karena target yang terlalu optimis yang saya bebankan ke mereka? (Red - sambil seolah meminta pendapat si interviewer)
* * *
Punya jawaban ‘najjjisss’ yang lain? Boleh tuh di-share. Salaam.
6 Comments »
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Recent comments


wah wah… sumpah keren bgt idenya! nanti saya praktekkan aaaahh :)
» Comment by dodski — January 18, 2007 @ 7:00 am
nanti akan saya praktekkan :D
» Comment by anima — January 24, 2007 @ 5:08 am
Aneh… kayaknya cuma gua doang yg pengen muntah. ;-)
» Comment by watung — January 24, 2007 @ 7:22 am
hahaha
» Comment by zarathustra — January 24, 2007 @ 10:05 am
wakakakakka,ko dulu pad interviu ga kepikiran ya jawab kaya gitu? tapi bacanya aja udah enek, apalagi kudu ngomong kaya gitu, kayanya muntah beneran, hwehehehehe. kewl answers! nice blog :D
» Comment by kinceu — March 30, 2007 @ 2:10 pm
Yup..tapi perlu latihan khusus supaya jawabnya gak ketawa..
» Comment by fadlly — June 5, 2007 @ 2:12 am