Lady in the Water, Rumi
Film-film karya M. Night Shyamalan memang selalu menarik.
Ini sutradara muda asal India di balik film-film blockbuster seperti The Sixth Sense, Unbreakable, dan Signs. Lady in the Water, tak terkecuali sebenarnya. Tapi ia punya sedikit warna yang lain. Lebih personal, lebih idealis, lebih menunjukkan sisi spiritualis seorang Shyamalan. Yah, meski masih kita dengar suara sumbar para kritikus seperti di Yahoo! Movies bahkan mainstream-critics (I don’t give ‘em a sh*t actually, tapi rasanya itu juga lantaran mereka nggak paham ide sentral dari film itu).
Film yang berasal dari dongeng anak-anak di keluarga Shyamalan sendiri ini, berkisah tentang seorang peri laut yang tiba-tiba muncul ke sebuah kolam renang di balik apartemen, demi suatu tujuan: bertemu dengan seseorang yang nantinya akan menjadi bibit perubahan besar bagi peradaban dunia, di masa depan. Walau kita bisa merasakan insting mass-entertainment a la Spielberg, bumbu Twilight Zone di sana-sini, plus olah syaraf khas Alfred Hitchcock (adonan favorit saya!), tapi pesan utama dari seluruh film itu, buat saya, adalah berawal dari kalimat Story ini, sang peri laut:
You have a purpose
Everyone has a purpose
You think you are alone
We are all connected
Bahwa tiap-tiap diri, punya tujuan, masing-masing (deja vu, heh?) Eksplorasi tentang tujuan atau misi hidup, barangkali ini yang hendak diutarakan oleh Shyamalan. Bahwa kita tidak datang ke dunia ini lantaran sebuah kecelakaan sejarah (misalkan gara-gara Nabi Adam a.s. memakan buah dari pohon khuldi), bahwa tiap-tiap kita dipilih dengan sangat hati-hati untuk mengerjakan sebuah misi tertentu (and one does not necessarily choose purpose, purpose chooses you!), bahwa kita pun sebenarnya secara tak sadar dituntun ke arah “warna” dari misi itu melalui talenta dan karakter yang kita miliki.
Tiap-tiap diri dimudahkan sesuai dengan untuk apa ia diciptakan (the purpose - Red). Rasulullah SAW (HR Bukhari)
Maka kita melihat bagaimana setengah rol dari film ini mengisahkan bagaimana lintang pukang para tokoh menemukan dan memasangkan apa yang menjadi tugas hidupnya.
These people are called vessels. And they will suddenly feel very different. Everything they think will become very clear. If they were scared before, they won’t be scared. If they were shy before, they won’t be shy. And here’s the best part. Sometime in their life, it could be soon it could be many years from now when they are older; they will do something important for the world. - M. Night Shyamalan, Lady in the Water

Tentang ini, saya punya satu lagi dari Jalaluddin Rumi (diterjemahkan dari The Teachings of Rumi):
Sebenarnya, hanya satu hal saja yang tak boleh engkau lupakan di dunia ini. Jika engkau melupakan hal yang lain, tak perlu khawatir. Tapi jika engkau mengingat semua hal lain itu tapi melupakan yang satu ini, maka engkau seperti tak mengerjakan apa-apa dalam hidupmu. Itu seperti halnya ketika seorang Raja mengutusmu ke sebuah negeri untuk sebuah misi, lalu engkau mengerjakan seratus pekerjaan lainnya, dan tak melakukan tugas yang engkau telah diutus untuk itu.
Maka manusia datang ke dunia ini untuk mengerjakan sesuatu. Sesuatu itu adalah misinya, dan tiap-tiap misi berbeda bagi masing-masing orang. Jika engkau tak mengerjakannya, itu seperti sebuah pedang megah India yang cuma dipakai untuk memotong daging. Seperti juga halnya periuk emas, tapi hanya digunakan untuk menanak lobak. Sebilah pisau cemerlang yang ditanamkan ke dinding hanya sebagai kait gantungan.
Engkau bilang, “Tapi lihatlah, aku toh memanfaatkan pisau itu, bukan kudiamkan begitu saja.” Tidakkah itu terdengar menggelikan? Engkau bisa membeli sebuah paku besi untuk itu. Engkau bilang, “Tapi aku mencurahkan energiku untuk hal-hal yang hebat. Aku belajar hukum dan folosofi dan logika dan astronomi dan kedokteran dan segala hal lainnya.” Tapi coba pikirkan, mengapa engkau melakukan semua itu. Itu semua hanyalah cabang-cabang dari dirimu yang sesungguhnya.
Ingatlah tentang sumber keberadaanmu, kehadiran Tuhanmu. Serahkan hidupmu kepada Dia yang telah memiliki setiap hirup nafas dan waktumu. Bila tidak, engkau akan seperti si pemilik belati nan indah itu yang memakukannya ke dinding dapur untuk menggantung sendok sayurnya. Engkau akan menyia-nyiakan ketajaman yang amat berharga, mengabaikan kehormatanmu, dan misi hidupmu…
Purpose of your life. Doesn’t it make you wonder, my friends?
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia… (QS [33]:72)
Tonton deh filmnya, recommended. Kalau sudah nonton, tonton lagi, barangkali dengan sebuah perspektif yang baru. Salaam.
41 Comments »
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Recent comments


Asyik, bentar lagi khan mau mudik - jadi bisa masukin film ini sebagai daftar tontonan.. nuhun pisan buat blog entry-nya…
Seneng udh bisa mampir kesini, salam hangat dari Afrika Barat
—————
PS: Warung yang lama ini akhirnya di buka kembali setelah sekian lama ditinggal mudik, kalau longgar sok atuh mampir.. :)
» Comment by Luigi — January 21, 2007 @ 6:25 pm
mmmh…iya Mas, kesadaran akan tujuan itu yang membuat kita jadi lively dalam menjalani kehidupan, isn’t it?
» Comment by diannovi — January 22, 2007 @ 11:29 am
Halo, Luigi. Salaam juga dari kampung halaman. ;-) Saya sudah lihat blognya. Keren dan rapih! Semoga teman-teman di sana dimudahkan dalam misinya…
» Comment by watung — January 22, 2007 @ 11:40 am
Iya, Mbak Dian. Bayangin kita ada di jalan, plonga-plongo sendiri nggak tau mau ke mana… Heheh… Ngomong-ngomong, katanya punya tulisan, kapan nih di-share?
» Comment by watung — January 22, 2007 @ 11:43 am
saya juga terinspirasi oleh karya Night Shyamalan..
salam
» Comment by iman brotoseno — January 23, 2007 @ 11:32 am
Mencoba mengaitkan dengan “Teori Reinkarnasi”, barangkali karena kita nggak pinter-pinter sehingga sering menggunakan pisau emas (baca:jiwa) kita sebagai cantolan sendok sayur, maka kita selalu disekolahkan lagi. Sekolahnya melalui pemberian raga kembali. Insyaallah, kalau kita sudah selesai menunaikan misi kita, kita berarti udah pinter dan tidak akan disekolahkan lagi. Ada yang bilang, seseorang yang mengalami puncak reinkarnasi akan lahir sebagai orang biasa, menjalani hidup secara biasa dan wajar tanpa rekayasa dan meninggal secara biasa-biasa saja.
Bagi agama-agama di Timur, agama-agama yang tumbuh di India, Tibet, Cina, Jepang, dan di Kepulauan Nusantara; reinkarnasi bukan lagi sebagai hal yang aneh. Reinkarnasi bukan dipahami sebagai kepercayaan atau keimanan, tapi sebagai hukum alam.
Bagaimana dengan reinkarnasi di Dunia Barat? Sumber dasar filsafat Barat adalah budaya Yunani dan Romawi. Pada kedua budaya tersebut, reinkarnasi diterima sebagai kepercayaan saja. Di antara filsuf Yunani kuno, Plato yang hidup pada abad ke 5–4 seb. M, percaya bahwa jiwa tidak pernah mati, dan mengalami reinkarnasi berkali-kali. Lalu, kapan reinkarnasi itu berakhir? Ya, segala sesuatu pasti berakhir.
Menurut agama Hindu, reinkarnasi berakhir bila sang manusia mengalami moksa. Menurut agama Buddha kelahiran kembali tak akan terjadi lagi bila roda samsara telah berhenti. Sang Jiwa selanjutnya ke alam nirwana.
Intinya, reinkarnasi berahir ketika seseorang dalam perjalanan hidupnya sudah melampaui dunia fisik di mana pun ia berada. Itulah orang-orang yang benar-benar kembali kepada-Nya atau biasa disebut Insan Kamil (manusia sempurna).
Hanya Allah SWT yang mengetahui hakekat segala sesuatu…
» Comment by zarathustra — January 24, 2007 @ 4:08 am
You wrote:
> Di antara filsuf Yunani kuno, Plato yang
> hidup pada abad ke 5–4 seb. M, percaya bahwa
> jiwa tidak pernah mati, dan mengalami
> reinkarnasi berkali-kali. Lalu, kapan
> reinkarnasi itu berakhir? Ya, segala sesuatu
> pasti berakhir.
Menurut agama Islam sih (yg setahu saya), kalo meninggal, ya jiwa langsung ke alam kubur/barzakh, nggak terlahir kembali di dunia dalam bentuk lain. Barangkali betul ada reinkarnasi, tapi tidak seperti yang dipahami sebagian besar umat Hindu dan Buddha sekarang ini. Reinkarnasi adalah seperti yang dimaknai Rumi:
Aku mati sebagai mineral dan menjadi tumbuhan,
Aku mati sebagai tumbuhan dan muncul sebagai hewan,
Aku mati sebagi hewan dan aku menjadi insan.
Jadi, sebuah “kelahiran kembali” jiwa, dari jiwa yang buruk terlahir kembali menjadi yang lebih baik, lebih baik, dan lebih baik… ketika hidup di dunia ini yang sekali ini saja (nggak berkali-kali). Seperti juga kata Bawa Muhaiyaddeen:
“It is while you are living in this world, in this very birth, that you undergo all these rebirths. Every day, you are being reborn. Every new quality is indeed a rebirth… Look at a person’s face, for example… The heart and the face reveal the person’s state, whether it be happiness, sorrow, anger, vengeance, and all the other states that a person experiences. Each of these is a form that a person has taken at a particular time. In this way, without his even being aware of it, the person is reborn in different forms within his lifetime.”
Kira-kira gitulah. Dan rasanya, itulah yang dimaksud Buddha dengan ‘kelahiran kembali’ itu.
» Comment by watung — January 24, 2007 @ 6:59 am
Sebenarnya kepercayaan tentang adanya surga, neraka, padang mahsyar, dan hari perhitungan dengan meniti jembatan setipis rambut dibelah tujuh, merupakan kepercayaan yang telah berkembang di Timur Tengah jauh sebelum hadirnya agama Islam. Tentu, hal ini lebih menonjol di dalam Hadis daripada di Alquran.
Meskipun kepercayaan itu telah berkembang di masyarakat Timur Tengah, namun masyarakat Quraisy (Mekah) –terutama para elitnya– lebih menekankan pada keyakinan hidup dan mati hanya sekali. Maka, akhirat yang ditawarkan oleh Nabi Muhammad saw mendapatkan sanggahan yang amat keras dari mereka
Begitu juga kepercayaan reinkarnasi di tanah jawa ini juga sudah sangat populer seperti istilah titisan atau ketitisan.
Bisa jadi pemahaman-pemahaman yang menjadi background itulah yang menyebabkan terjadinya perbedaan, padahal yang ditelaah sama, Al Quran…hehehe
Jadi benar enggaknya, wallahu alam, tergantung pengalaman spiritual masing-masing pelaku sih…
Tapi ada ayat di Quran yang menyinggung tentang kejadian yang menyimpang, saya nggak tahu pasti apakah ini relate ke reinkarnasi or nggak ? Menurut saya sih relate…
Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabbat, lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina!†(QS 2:65)
Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari orang-orang fasik pada Sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah , di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi, dan penyembah tagut?†Mereka lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat jalannya. (QS 5:60)
Maka, tatkala mereka bersikap sombong terhadap larangan yang ditetapkan kepada mereka, Kami katakan kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina!†(QS 7:166)
Dan mereka berkata: “Apakah bila kami telah menjadi tulang-belulang dan sesuatu yang rusak, apa benar kami dibangkitkan menjadi makhluk yang baru?â€
Katakanlah: “Jadilah kamu batu atau besi,
Atau suatu makhluk yang tidak mungkin menurut pikiranmu!†Mereka bertanya: “Siapa yang akan menghidupkan kami kembali?†Katakanlah: “Yang telah menciptakan kamu pada kali mulanya.†Lalu, mereka menggeleng-gelengkan kepala kepadamu dan berkata: “Kapan itu?†Jawablah: “Semoga itu terjadi dalam waktu dekat.†(QS 17: 49–51)
Kalau mau memperhatikan ayat-ayat tersebut dengan seksama tanpa melibatkan emosi dan menjauhkan dari sikap apriori, mari kita baca dengan logika.
Pertama, perhatikan kata “Kami†pada ayat-ayat tersebut. Jelas yang dimaksud di ayat itu adalah mekanisme alam. Tuhan semesta alam itu Maha Penyayang. Dia dalam Diri-Nya senantiasa kasih. Alam semesta itu sendiri adalah firman Tuhan. Lalu, “Kami berfirman†sebenarnya lebih ditujukan pada “Sabda Alamâ€. Ya, alam yang bersabda. Mungkin kita menyangkal bahwa ada alam koq dapat bersabda. Lho bukankah diri kita ini bagian dari alam, tapi toh nyatanya kita dapat bersabda.
Orang yang melanggar Hari Sabbat atau Hari Keramat bagi pemeluk Yahudi disebut orang yang melanggar pantangan alam. Karena alam mereka rusak, makanya perbuatannya itu mengakibatkan mereka menjadi kera yang hina. Ya, tidak hanya menjadi kera, tapi kera yang hina pula… Banyak yang menafsirkan bahwa mereka yang merusak Hari Sabbat itu perilakunya seperti kera. Apa yang lepas dari ayat tersebut? Jelas sekali bahwa sabda itu bukan untuk menjadikan “seperti†kera, tapi kera sebenarnya. Bahasa Arab memiliki kosa kata untuk “seperti†yaitu ka atau kamâ.
Dan lagi, kalau dijadikan “seperti†kera, ya tidak usah menunggu lagi, wong mereka itu sudah seperti kera koq. Pelanggar Hari Sabbat itu perilakunya sudah seperti kera yang tidak tahu aturan. Masakan mereka masih diperintah jadi seperti kera. Hal demikian tentu tidak akan menyadarkan mereka.
Kedua, dalam ayat QS 5: 60! Dijelaskan pada ayat tersebut bahwa apa yang mereka lakukan itu sudah lebih buruk daripada orang fasik. Makanya, balasan yang diperoleh pun lebih buruk daripada orang yang berbuat fasik atau menyimpang dari jalan yang benar.Maka, perbuatan mereka yang amat buruk itulah yang mengakibatkan mereka ada yang bangkit kembali sebagai kera, babi, atau penyembah tagut. Ayat ini jelas sekali, karena ada pembeda yang jelas antara hewan dan penyembah tagut. Kalau dilahirkan sebagai penyembah tagut, itu artinya dilahirkan sebagai manusia. Tapi, ia menjadi manusia yang melampaui batas-batas kehidupan itu sendiri. Atau, dengan kata lain ia menjadi manusia yang hidupnya hanya memperturutkan hawa nafsunya semata.
Entah menjadi kera, babi, atau penyembah tagut; menurut ayat tersebut mereka dikategorikan sebagai makhluk yang posisi kehidupannya lebih buruk daripada rata-rata orang, dan tidak tahu lagi jalan yang benar.
Coba perhatikan! Menjadi hewan pun bukanlah hewan normal yang perilakunya berdasarkan perikehewanan. Artinya, secara wujud hewan, tapi perilakunya lebih buruk daripada hewan.
Hehehe…mungkin semacam itu yang menurut saya menarik untuk didiskusikan Aa Tung…
» Comment by zarathustra — January 24, 2007 @ 8:59 am
Zarathustra, terimakasih atas sharingnya. Bagus! Tapi pernahkah kita melihat ke dalam diri seseorang, ke dalam jiwanya? Percayakah kita bahwa ada orang-orang tertentu yang Allah anugerahkan kemampuan melihat ke dalam jiwa seseorang? Seperti apa?
Salah satunya adalah apa yang dialami Quchani Najafi, seorang ulama di Iran sana, yang diberi kesempatan ‘menengok’ kematiannya sendiri (mungkin semacam mati suri). Begini yang dia katakan:
“Kala itu aku menyaksikan diriku dalam keadaan berdiri, sementara jasadku terkulai tanpa daya… Lalu jenazah itu diusung ke pemakaman. Aku berada di antara mereka yang mengantarkannya. Aku melihat di antara para pengiring itu terdapat berbagai jenis binatang buas…”
“Aku melihat di antara para pengiring itu terdapat berbagai jenis binatang buas…” Apa yang dilihat Quchani di sana sebenarnya? Jiwa-jiwa orang! Quchani melihatnya sendiri. Bagaimana mungkin? Barangkali seperti yang diungkapkan Quran “… maka Kami singkapkan tutup matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.” (QS [50]:22)
Jiwa manusia yang berupa kera dan babi (juga yang sering disebut di Quran “… mereka bagai binatang-binatang ternak”) itu riel, zara. Nyata, dan sungguhan ada! Namun hanya bisa dilihat oleh hamba-hamba tertentu, yang dibukakan tutupan mata hatinya.
Coba perhatikan kata-kata Bawa Muhaiyaddeen ini:
“When you pass by me and I look within you, I may see something with four legs, I may see a snake, I may see a lion, a tiger, a demon, a cow, a horse, a donkey, or a crab. When I look inside, I will know this. I see this.”
Doesn’t it make you wonder? Yah… you don’t have to believe in such things. Suatu saat nanti, insya Allah, kita akan melihatnya sendiri. ;-)
» Comment by watung — January 24, 2007 @ 10:46 am
Mr Watung wrote:
Reinkarnasi adalah seperti yang dimaknai Rumi:
Aku mati sebagai mineral dan menjadi tumbuhan,
Aku mati sebagai tumbuhan dan muncul sebagai hewan,
Aku mati sebagi hewan dan aku menjadi insan.
He he he … dari tulisan Mas Watung saja, obyek yang sama, kita bisa mendapat pemahaman yang berbeda :)
Kalau Mas Watung memahaminya sbb :
Menurut agama Islam sih (yg setahu saya), kalo meninggal, ya jiwa langsung ke alam kubur/barzakh, nggak terlahir kembali di dunia dalam bentuk lain. Barangkali betul ada reinkarnasi, tapi tidak seperti yang dipahami sebagian besar umat Hindu dan Buddha sekarang ini.
Nah, kalo saya memahaminya, lha wong jelas Rumi mengatakan jiwa saya ini semula mineral, setelah sekolah agak pinter dikit jadi tumbuhan, agak pinter dikit lagi jadi hewan, agak pinter dikit lagi jadi manusia…nah dalam menjalani sebagai manusia ini terkadang melakukan tindakan bodoh lagi, melakukan perbuatan yang mendekati tingkah laku hewan (sex bebas, rebutan rejeki dgn bunuh-bunuhan, hopeless sampai bunuh diri, dll)…trus ya jangan menyalahkan alam kalau alam memprosesnya menjadi masuk ke binatang lagi…lha wong memang kecerdasannya pas banget dengan kecerdasan sapi…artinya pas meninggal, bekal energi metafisiknya amat sedikit, tidak memenuhi kuota untuk menjadi manusia standar lagi…
Hehehe…diskusi gini emang susah dibuktikan kalau paramater pembuktiannya panca-indra…ibarat eksperimen…obyek yg diamati adalah obyek metafisik sehingga prosedur eksperimen metafisik pula yang seharusnya dipakai… :)
Memang, jiwa akan memasuki alam barzakh setelah melepaskan diri dari baju dagingnya. Perjalanan hari 3, hari ke 7, hari ke 40, hari ke 1000 dapat dibaca di buku Mistik & Marifat Sunan Kalijaga…yang notabene pengalaman meditasi beliau menguatkan hasil penemuan Imam Ghazali…
Dalam perjalanan jiwa di alam barzakh ini, jangan dikira semuanya lancar…balik lagi tergantung bekal energi metafisik yang dibawanya…energi metafisik ini didapat dari hasil amalan selama “mampir ngombe di alam dunia”…
Kalau bahan bakar energi-nya udah habis…ya nggak bisa melanjutkan perjalanan panjang itu…harus balik lagi mengisi bahan bakar di SPBU dunia ini…Untuk itulah, para ulama mengajari yasinan, tahlilan dan lain-lain ritual untuk menambah perbekalan sang jiwa ini…tapi itupun tak berefek banyak…kalo bekal sang diri emang sedikit, susah di up-grade nya…kata Sunan Kalijaga di buku itu.
Jiwa-jiwa yang tekor energinya ini biasanya dilihat anak-anak kecil…ada yang nyantol di dahan pohon, di batu-batu, di rongsokan-rongsokan…mengapa mereka mengganggu manusia ? Ya karena mereka memang manusia, kecenderungannya memang berinteraksi dengan sesama manusia…
Ada yang menarik dari pemahaman Sunan Kali ini, bahwa ternyata beliau tidak mengakui setan or iblis sebagai entitas makhluk…Malaikat ada, Manusia ada…nah iblis dan setan ini adalah manusia sendiri atau suatu karakter, karakter yang membangkang terhadap kebenaran. Jadi yang nyantol-nyantol tadi itu bukan setan seperti kita pahami biasanya, tapi itu jiwa manusia yang kehabisan energi…
Btw, tentang binatang-binatang pengiring tadi…gw ada cerita serem dari kakak. Ada seorang wanita pontianak yang seringkali kawin tetapi sang suami selalu meninggal kurang dari 6 bulan…padahal wanita ini biasa-biasa saja dan tidak punya ilmu apapun…pas kebetulan berkunjung ke Lamongan, mampir ke seorang kyai…kyai ini terkejut melihat begitu banyak binatang buas spt harimau, gajah, pelanduk, badak, dll mengirinya. Setelah itu, kyai ini mengharapkan agar sang wanita tidak menikah lagi karena para pengikutnya itu selalu mengikuti anak keturunannya…
Kalo mertua saya sendiri yang cukup ilmu nglakoninya, pernah mengumpulkan kerikil-kerikil kecil hitam di tepian sungai yang akan dibuat sawah tadah hujan…kata orang, tanahnya keras gak bisa dicangkul…setelah para kerikil tsb dikumpulkan di karung 50 kg an…6 orang juga tak ada yang bisa mengangkatnya…akhirnya mertua saya sendiri yang mengangkat di pundaknya dan dibuang di tepian sungai yang lain…kenapa berat sekali mengangkatnya ? karena batu-batu tadi adalah manusia…
Wallahu alam bi shawab…
» Comment by zarathustra — January 26, 2007 @ 3:33 am
Zarathustra wrote:
> Nah, kalo saya memahaminya, lha wong jelas Rumi
> mengatakan jiwa saya ini semula mineral, setelah
> sekolah agak pinter dikit jadi tumbuhan, agak
> pinter dikit lagi jadi hewan, agak pinter dikit
> lagi jadi manusia…
Perbedaan Rumi dengan apa yang diyakini sebagian besar orang tentang reinkarnasi adalah ini: Rumi berbicara tentang ‘kelahiran kembali’ jiwa manusia, sementara yang lain berbicara tentang ‘kelahiran kembali’ jasad. Bagi Rumi, jasad nya ya yang ini-ini juga (cuma sekali di dunia ini, nggak akan muncul berulang-ulang kali dalam berbagai bentuk), jiwalah yang berubah-ubah. Sementara yang lain beranggapan, kalau kita mati, masih bisa turun lagi ke dunia dengan jasad yang baru.
Itu perbedaannya menurut saya.
» Comment by watung — January 26, 2007 @ 3:57 am
Mungkin agak membingungkan, maksud saya…wanita pontianak tadi secara alami telah berhasil menyingkirkan sifat-sifat negatif dari dalam dirinya dan dilihat oleh kyai tadi sifat-sifat negatif tadi dalam bentuk binatang buas…jadi kalau dia menikah dengan orang-orang biasa yang tidak “bersih” para penjaga ini “tidak terima” dan menyebabkan kematian…karena itu disarankan untuk tidak menikah. Jadi, kyai tadi bisa melihat bahwa binatang-binatang tadi adalah wujud karakter/kecenderungan negatif yang berhasil dihalau dari jiwa sang wanita tadi…
serem juga yach…
» Comment by zarathustra — January 26, 2007 @ 4:12 am
Kalau menurut saya, sorry masih berpegang pada pendapat saya sebelumnya…karena Allah SWT rahman dan rahim, maka kesalahan yang diperbuat jiwa dinilai 1 sedangkan kebaikan yang diperbuat jiwa dijadikannya berlipat ganda…lupa ayat-nya neh…
Nah, karena jiwa yang telah menjalani proses audit panjang ini telah ditingkat kualitasnya oleh Allah…melalui pengampunan…maka ketika turun lagi ke dunia ini…jiwa yang sama ini, sudah lebih baik lagi kualitas-nya…tapi…ada tapinya nih…kepintaraannya belum sempurna…karena itu diberi “daya” lagi agar bisa membuat bekal yg lebih banyak lagi…karena itu kita sebagai orang tua, tugas utamanya adalah menunjukkan “jalan pulang” pada anak cucu kita agar jangan muter-muter terus di pusaran kehidupan ini…kalau kita biarkan saja tanpa kita tunjuki…takutnya jiwanya mengalami kelelahan…kalau udah lelah, ya jadi yg nyantol-nyantol di dedaunan tadi…gak jelas juntrungannya..sampai Allah sendiri memberikan putusannya
» Comment by zarathustra — January 26, 2007 @ 4:23 am
logikanya…mana mungkin sih dunia bisa semakin maju kalau bayi-bayi yang lahir itu kemampunannya nol ?…pasti bayi-bayi itu membawa potensi dari kehidupannya dulu…yg dulu jadi ahli nuklir insyaallah sekarang juga jadi ahli nuklir lagi…karena itu dunia tambah maju dan tambah maju…
» Comment by zarathustra — January 26, 2007 @ 4:29 am
Zarathustra, you wrote:
> Nah, karena jiwa yang telah menjalani proses
> audit panjang ini telah ditingkat kualitasnya
> oleh Allah… melalui pengampunan… maka ketika
> turun lagi ke dunia ini…
Sepemahaman saya sih, jiwa tidak turun lagi ke dunia dan memakai jasad baru. Kita akan mengalami ‘penyucian’ itu di sana, di alam barzakh.
> logikanya… mana mungkin sih dunia bisa
> semakin maju kalau bayi-bayi yang lahir itu
> kemampunannya nol ?
Hehehe… menurut saya ya dunia semakin maju karena manusia belajar, dan jumlahnya semakin banyak… Dan betul, bayi-bayi memang tidak nol kemampuannya, bukankah jiwanya itu adalah jiwa yang suci yang berasal dari alam nur sana?
» Comment by watung — January 26, 2007 @ 7:13 am
Yach memang, membahas hal seperti ini memang rawan, rawan bagi kesadaran yang belum dewasa…karena itu hal seperti ini di filsafat jawa disebut “ilmu tuwa”…yaitu ilmu yang dipelajari oleh para orang-orang tua yang sedang dalam tahap menjalani keinsyafan hidup. Tapi insyaallah, bagi generasi muda yang telah mengerti konsep kelahiran kembali ini, tidak akan terjebak lebih lama dalam kebingungan hidup ini dan akan bisa menjalani hidup dengan tenang, madhep mantep marang Gusti Allah, Sang kekasih yang kita tuju….
Untuk konsep turunnya jiwa dan masuk kembali ke badan insyaallah saya susun dulu karena bukunya kebetulan tidak saya bawa…satu konsep hasil perjalanan spiritual Imam Ghazali dan beberapa ulama pelaku tarekat…
Tentunya, menguak misteri seperti ini memiliki konsekuensi yang tidak ringan dari Gusti Allah…semacam tidak mensyukuri nikmat karena telah menyebar-nyebarkan misteri yang hanya Allah berikan pada orang-orang tertentu yang telah melampaui fase ‘fana’. Hal seperti ini dapat dicek di alamat sbb :
http://media.isnet.org/sufi/Opini/Hallaj.html
Satu kisah kehidupan ulama sufi yang dihukum pancung dan mengalami penyiksaan lebih mengerikan ketimbang Isa. Dalam akhir cerita tersebut, suara gaib menyatakan bahwa siapa yang membunuh Al Hallaj dan siapa yang membenarkan Al Hallaj, sama-sama mendapatkan berkah dari Allah. Yang membunuh Al Halaj sebagai perwujudan hukuman Allah terhadap orang yang menyebarkan misteri yang tidak semestinya diajarkan. Yang membenarkan Al Halaj juga mendapat rahmat Allah karena memang realitanya demikian.
Insyaallah, minggu depan saya sharing tentang proses turunnya jiwa ke dalam bayi ya Mas…mohon maaf atas segalanya…semoga semuanya mendapatkan berkah dan bimbingan Allah meniti jalan setapak keberserahdirian kepada-Nya…amin
» Comment by zarathustra — January 26, 2007 @ 8:22 am
Baik, zarathustra. Terimakasih sharingnya, terimakasih telah sudi berkunjung. Alhamdulillah.
» Comment by watung — January 26, 2007 @ 9:49 am
Assalamualaikum Mas Watung…
Menyambung obrolan kemaren, mungkin saya hanya ingin sharing saja, tidak ingin memperlawankan pemahaman saat ini…just menyajikan wawasan lain saja…Trus, mohon maaf untuk Mas Watung, kalo kebanyakan ngasih comment…saya di black list aja…uhuk-uhuk :((
Banyak umat muslim menolak teori reinkarnasi berdasarkan QS Al Mukminun : 99-100
99. (Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia)
100. agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan
Jadi, orang kafir itu minta dikembalikan ke dunia tetapi ditolak oleh Allah. Kata Gusti Allah ada dinding dihadapan mereka sampai mereka dibangkitkan.
Apakah Mas bisa melihat keganjilan terjemahan depag di sini ? Ya, dinding itu dihadapan mereka, bukan di belakang mereka. Bapak Quraish Shihab mendukung pengertian “didepan†ini, mengapa ? karena dinding itu tidak ada efeknya sampai dengan kiamat tiba atau alam semesta ini nanti hancur, nah pada saat itu baru kita akan dibangkitkan.
Ada wacana lain, yaitu…di bagian akhir ayat tersebut ada kata “waro a idzim barzakhâ€. Kata ‘waro a’ artinya secara standar adalah di belakang, tetapi karena interpretasi ulama maka menjadi di depan. Eh sekalian dicek format arabnya yach…nanti kita akan tahu bahwa barzakh adalah dinding dan bukan alam yang biasanya kita pahami selama ini…Begitu juga makhsyar, artinya tuh memang lapangan…jadi bukan nama lapangan…
Kalau memang benar di depan…lha wong orang kafir tadi khan pingin kembali…dan tidak bisa karena ada dinding…lebih logis mana gerakan kembali itu arahnya ke depan atau ke belakang? Insyaallah, pasti ke belakang khan…Nah, untuk itu kalau diartikan “Dan di belakang mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan†lebih logis khan ?
Jadi, ayat itu bisa dipahami demikian…orang kafir itu tidak bisa kembali ke dunia, maksudnya ke jasadnya semula karena ada dinding dan dinding itu ada terus sampai mereka dibangkitkan. Jadi, kalau sudah dibangkitkan lagi, dinding itu tidak terasa efeknya…
Jadi, menolak reinkarnasi dengan ayat tersebut masih lemah…karena ayat itu hanya menerangkan jiwa kita tidak bisa mundur ke belakang yaitu ke jasad semula, bukan menerangkan secara umum bahkan kita tidak bisa kembali ke dunia. Trus pertanyaan sekarang, kalau ke jasad yang di depan atau next jasad bisa nggak ? Trus, waktu kebangkitannya cepat atau lama yakni setelah alam semesta ini hancur ?
Saya coba sharing ayat di Quran yang mencoba menginformasikan fenomena ini…
16:70 – “Allah menciptakan kamu. Kemudian, Allah mewafatkan kamu (mengakhiri hidupmu di bumi ini), dan di antara kamu ada yang dikembalikan pada umur yang paling lemah, agar dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sesunggunya Allah Maha Mengetahui dan Mahakuasa.â€
16:77 – “Dan kepunyaan Allahlah segala yang gaib di langit maupun di bumi. Dan, tidaklah perintah kebangkitan itu selain sekejap mata atau lebih cepat. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.â€
16:78 – “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Dan, Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan fuad agar kamu dapat bersyukur.â€
Umumnya, kalimat ardzal al-‘umur pada ayat tersebut diartikan “tua-rentaâ€. Sedangkan kalimat “tidak mengetahui sesuatu pun yang pernah diketahuinya†diartikan dengan “pikun†atau pelupa karena sudah tua sekali.
Kalau kita mau jujur, para penerjemah tidak menyadari bahwa “tua-renta†itu belum tentu lemah. Banyak orang di Indonesia ini yang umurnya sudah 80 tahun masih tampak lebih segar daripada yang berumur 40 tahun. Beberapa negarawan kita sudah berumur lebih dari 80 tahun, tapi masih berbicara tentang politik dan situasi negara kita dewasa ini secara kritis. Maka, jelas kalimat “dikembalikan pada umur yang paling lemah†itu tidak berarti tua-renta atau lanjut usia.
Karena itu, kita harus mencari tahu apa maksud sebenarnya “tidak mengetahui sesuatupun†ini. Ternyata, pada ayat 78 disebutkan bahwa kalimat tersebut terkait dengan pernyataan “dikeluarkan dari perut ibumuâ€. Artinya, “tidak tahu sesuatu pun†itu dimiliki oleh bayi yang baru dilahirkan.
Dan, di ayat sebelumnya bukankah telah dijelaskan bahwa kondisi kebangkitan adalah sekejap mata…Jadi, apakah Mas Watung melihat ada hubungan yang saling menjelaskan antara ketiga ayat tersebut, yaitu hubungan antara kebangkitan dan kelahiran ?
Kalau memang belum melihat hubungannya, coba diteliti Surah Yâ Sîn [36]: 68, hal reinkarnasi itu lebih jelas lagi. Bunyi terjemahan ayatnya, “Dan barangsiapa yang Kami panjangkan hidupnya niscaya Kami kembalikan pada kejadiannya. Apakah mereka itu tidak memikirkannya?â€
Apa arti dikembalikan pada “kejadianâ€. Bukankah kejadian manusia itu berawal dari seorang bayi? Kemudian, kalau kita melihat Surah Yâ Sîn di atas, ayat 68 itu ditutup dengan kalimat “apakah mereka tidak memikirkanâ€. Kalau kita dalam hidup sehari-hari ini menjumpai sesuatu yang lazim, maka kita tak perlu memikirkan maknanya. Kita baru memikirkan sesuatu jika kita ingin mengetahui makna di balik kejadian yang tampak itu.
Begitu juga di QS Waqiah, terlihat pola adanya hubungan kebangkitan dengan alat-alat reproduksi :
58. Maka terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan.
59. Kamukah yang menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya?
60. Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-sekali tidak akan dapat dikalahkan,
61. untuk menggantikan kamu dengan orang-orang yang seperti kamu (dalam dunia) dan menciptakan kamu kelak (di akhirat) dalam keadaan yang tidak kamu ketahui.
62. Dan Sesungguhnya kamu telah mengetahui penciptaan yang pertama, maka mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran (untuk penciptaan yang kedua)?
Sehingga, kalau memang benar reinkarnasi ini ada, pemahaman QS An Nisa…
56. Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Jadi kulit baru yang selalu diciptakan Gusti Allah ini adalah kulit bayi yg lahir alias kulit kita sekarang ini, supaya terus menerus merasakan azab.
Hutan dibabat, atmosfer dikotori, zina dilakukan, dan perbuatan negatif dilakukan diri manusia… dampaknya sebenarnya yach ke diri itu juga cuman udah ganti namanya “anak-cucu”, padahal sejatinya…ya jiwa itu-itu juga yang melakukan kerusakan plus ketimpa dampak yang dibuat sendiri….jadi saya memaknainya segala bencana di Indonesia ini adalah dampak ketidakseimbangan energi positif dan negatif di semesta (kosmos) yang telah terakumulasi sekian lama…
Pertanyaannya, jiwa kita termasuk nggak ya ?…Yach yang penting istighfar dan memperbaiki diri aja…misalnya kena azab, ya sudah…monggo saja Gusti Allah…itu kami pahami sbg cara mengembalikan jiwa kotor ini menjadi fitrah kembali…. ampun Gusti Allah…ampunnn….
Sebenarnya, masih banyak ayat Quran yang bisa dipahami menguatkan teori kebangkitan melalui kelahiran kembali ini, tetapi mungkin karena udah terlalu banyak, takutnya jadi bosen…hehehe…
Maturnuwun dan mohon maaf telah memenuhi blog nya Mas Watung…semoga bisa membawa kesadaran kita bahwa diri ini harus sekuat tenaga kita arahkan menuju Sang Maha Diri melalui prilaku lurus, karena azab dan nikmat Gusti Allah sangatlah cepat dan tidak bertele-tele…amin
» Comment by zarathustra — January 29, 2007 @ 5:45 am
Ada juga di QS Al Ankabut…
19. Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
20. Katakanlah: “Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi[1147]. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
[1147]. Maksudnya: Allah membangkitkan manusia sesudah mati kelak di akhirat
Di ayat 20, terjemahan Depag menginformasikan bahwa kebangkitan itu terjadi setelah di akherat kelak.
Gusti Allah memerintah kita untuk menjelajah bumi ini. Kita diperintah untuk melakukan study tour. Untuk apa? Untuk mengerti tentang bagaimana Allah menciptakan pada mulanya, dan menciptakan pada kali lainnya.
Coba renungkan dalam-dalam! Seandainya penciptaan pada kali lain itu terjadi kelak di akherat atau setelah dunia ini hancur lebur…bukankah hal itu menjadi perintah yang salah. Mengapa? Karena setelah akherat, khan kita udah tidak bisa lagi meng-upgrade tingkatan spiritualitas kita, di akherat kita tinggal menerima result prilaku kita khan ?
Kalau bumi sudah hancur, buat apa kita melakukan studi ? Sudah tidak ada gunanya bukan ?
Karena itu penyelidikan “penciptaan pada kali yang lain” itu cukup dilakukan bumi ini saja sehingga kita mendapatkan pemahaman “ngunduh wohing pakerti” atau memanen buah hasil prilaku. Ya,baik penciptaan pada mulanya maupun pada kali yang lain itu terjadi di bumi…berupa kelahiran kembali. Ya, lahir kembali adalah penciptaan pada kali yang lain.
» Comment by zarathustra — January 29, 2007 @ 7:15 am
zarathustra, you wrote:
> barzakh adalah dinding dan bukan alam yang
> biasanya kita pahami selama ini
Saya nggak paham Arab. Tapi setahu saya barzakh memang berarti dinding, tirai, atau batas… batas antara Ad-Dunya dengan Al-Akhirah. Bukankah itu sebuah alam juga? Seperti halnya, apakah batas antara SD dan SMA? SMP. Sebuah kehidupan juga. Bukankah begitu?
> Umumnya, kalimat ardzal al-’umur pada ayat
> tersebut diartikan “tua-renta”.
“… dikembalikan pada umur yang lemah.” Pada dasarnya umur kehidupan kita berjalan begini: lemah (bayi), lumayan (remaja), kuat (dewasa), balik lagi lumayan (setengah baya), lemah (sepuh). Dari lemah, kembali ke lemah.
> Dan, di ayat sebelumnya bukankah telah
> dijelaskan bahwa kondisi kebangkitan adalah
> sekejap mata…
Di alam Al-Akhirah (saat kiamat, saat Ad-Dunya ‘ditutup’), kita akan beroleh jasad yang baru di padang Mahsyar sana: jasad yang sesuai dengan apa yang telah kita petik di alam sebelumnya. Itu sejauh pemahaman saya.
Zara, rasa-rasanya nih, seberapa panjang pun saya menjelaskan tentang ini tidak akan memuaskan anda. Dan saya tidak punya dalil-dalil sekuat apa yang saya sendiri yakini.
Anda musti menemuinya sendiri, melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi, menengok alam barzakh, menyaksikan sendiri seperti apa azab alam kubur… Seeing is believing, kata orang sono. Otak tak bisa melakukan ini, bahkan ia tak sampai terpikir apakah itu mungkin. Ada satu titik lain di dalam diri, yang bisa mengetahui ini semua. Ada, zarathustra.
» Comment by watung — January 29, 2007 @ 4:22 pm
Zara, do you know that you can email me at watung[at]watung[dot]org? Ndak apa-apa, dimana aja yang disukai. Bisa email, bisa di sini. No problem.
» Comment by watung — January 29, 2007 @ 5:02 pm
Ok Mas Watung, saya cuma menyampaikan wacana lain. Tapi, mungkin masih seperti puzzle yang belum terangkaikan yach…
Sebenarnya, bukannya saya menafikkan realita akherat setelah berpisahnya jiwa dan badan. Saya mengetahui dengan detil dalil ayat-nya dan saya juga meyakini betul perlakuan balasan itu ada. Tapi, yang selama ini kita ceritakan ini adalah next nya jiwa setelah di neraka atau di surga.
So, jiwa ini terus menjalani pelatihan dan pendidikan sampai bersatu kembali dengan SANG ROH.
Pemahaman ini menurut saya cukup fundamental untuk membuat kehidupan bumi ini menjadi lebih baik. Yach kalau kata Rasul…Islam itu dulu datang sebagai sesuatu yang asing, dan suatu saat nanti akan muncul kembali sebagi sesuatu yang asing…
Bukankah pemahaman seperti ini cukup “asing” di telinga kita yang modern ini ?
» Comment by zarathustra — January 30, 2007 @ 2:17 am
Jadi maksud saya, uraian kemarin itu melengkapi pemahaman kita sekarang ini, bukannya menyangkal…justru menguatkan plus memberikan tambahan konsep. Selama ini khan kita berhentinya pada pemahaman, pokoke lanek wis nang surga wis ueenak, wis njaluk opo wae keturutan, wis gak lapo-lapo…pokoke uenak tenan…
Saya lupa ayatnya, ternyata ada ayat di Quran yang menerangkan bahwa para penghuni surga itu juga dalam kondisi ketakutan, selalu mengharap bantuan Allah…
Loh…surga seperti itu sebenarnya itu ? Jangan-jangan pemahaman surga kita yang salah…sayang ayatnya saya lupa, besok yach kalo pas ketemu
» Comment by zarathustra — January 30, 2007 @ 2:26 am
Zarathustra, heheh… saya senang kok membaca komen-komennya. Alhamdulillah, blog ini dikunjungi banyak para pencari. Semoga Gusti menganugerahkan petunjuk bagi kita semua.
» Comment by watung — January 30, 2007 @ 3:41 am
Iya Mas Watung, semoga teman-teman para pencari mendapatkan yang dicari…meminjam dhawuhe Syekh Siti Jenar…hakekat hidup ini antri menuju kematian, karena itu kematian jangan ditolak, paling cuman bisa menunda, karena itu marilah kita mencari bagaimana cara mati yang benar.
Kalau memang surga itu cuman ditempati oleh umat agama tertentu…ya mbok kita ramai-ramai aja minta dipercepat kematian kita agar tahu rasanya surga…ngapain kita mau nungguin sampai kita mati sendiri…:)
Setelah kita memahami bahwa surga adalah tempat semua manusia yang berprilaku lurus..ya ayo-lah kita hidup yang rukun…hamemayu hayuning bawana langgeng…menjaga kecantikan bumi yang sejak semula memang cantik ini…;)
» Comment by zarathustra — January 30, 2007 @ 9:59 am
Alhamdulillah, akhirnya gw bisa imel lagi ke blog-nya Mas Watung, kemaren terkapar karena flu…semoga bukan flu burung…;)
Menyambung cerita tentang surga yang selama ini kita pahami sebagai “mentok”nya perjalanan jiwa, ternyata QS At Tahrim menceritakan lain…
8. Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Teman-teman pencari, para penghuni surga itu masih ingin disempurnakan cahaya nikmatnya…mengapa ? para penghuni surga itu masih memohon ampunan pada Gusti Allah…mengapa ?
Kira-kira kalau memohon ampunan itu dalam kondisi psikologi ketakutan atau kegembiraan ?
Ya, karena penghuni surga itu melihat kenikmatan yang lebih tinggi lagi…yaitu bersatu dengan Sang Semesta…menjadi muqarrabun atau berada di sisinya.
Mungkin kayak gini gambarannya, kita memejamkan mata, menghirup napas dalam-dalam, sambil berdiri diatas tebing bukit, terhampar pemandangan hijau nan indah, matahari saat itu terang bersinar tapi tidak menyengat, sejuk, dan angin bertiup sepoi-sepoi…tentunya kenikmatan dan kedamaian menyatu dengan Sang Semesta melebihi deskripsi demikian…
Teman-teman pencari, dengan fakta bahwa kondisi surga itu masih ada ketakutan, masih bisa meningkat lagi kenikmatannya…kira-kira posisi demikian di dunia ini atau di akherat ? Kalau memang di akherat, bukankah di akherat kita tidak bisa meng-create prestasi amal kebaikan lagi? Padahal, amal kebaikan tsb akan menjadi bekal energi metafisik sang diri untuk menempuh perjalanan panjang ?
Ya benar…surga yang lebih riil adalah bumi ini…karena itu marilah kita membangun bumi ini. Bukankah di Al Quran hampir 90% isinya melarang merusak bumi…mengapa ? karena bumi ini rahim kehidupan…kalau sang jabang bayi mencakar-cakar dan merusak rahim ibundanya ketika masih dalam kandungan…bukankah sang jabang bayi sendiri yang akan meninggal…persis khan seperti kita…kalau bumi kita rusak, ya kita sendiri yang akan sengsara…bukankah demikian?
Karena itu, marilah kita hidup guyub rukun…menunaikan misi menjaga kecantikan bumi ini…pantas saja Gusti Allah menyampaikan sinyal dalam QS Al Waqiah…
11. Mereka itulah yang didekatkan kepada Allah.
12. Berada dalam jannah kenikmatan.
13. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu,
14. dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian
Semoga kita termasuk segolongan kecil dari orang-orang pada generasi “kemudian” seperti maksud ayat tersebut … amin
Nah cocok khan, kata-kata Shyamalan…all being connected…juga kata-kata rumi…jiwa manusia dulu mengendap-endap di alam mineral bebatuan, kemudian menjadi tumbuhan, kemudian menjadi insan…kalau kata Sunan Kalijaga…semua di semesta adalah famili kita…sedulur kita…yaaa…batu-batu itu adalah cikap bakal atau jiwa manusia yang sedang menjalani takdirnya…asalkan ikhlas, dia akan menjadi insan…
Cocok lagi khan dengan ayat…semua makhluk enggan memikul beban mempercantik dunia kecuali manusia…yaaaa…dalam reinkarnasi menjadi manusia adalah tahapan tertinggi dan mendekati kesempurnaan Sang Pencipta Semesta…Jadi, janganlah kemuliaan itu kita sia-siakan…janganlah pisau emas itu kita jadikan cantolan sendok sayur…begitu awal dari diskusi kita…:)
» Comment by zarathustra — February 1, 2007 @ 4:56 am
Terimakasih, zarathustra. Pemikiran yang menarik!
» Comment by watung — February 3, 2007 @ 10:28 am
Salam kenal…
Mas watung, gimana cara kita mengathui misi kita??? Katanya setiap orang punya misi sendiri2. Dan sebaiknya kita mengerjakan misi kita, pekerjaan lain kaloupun tidak dikerjakan tidak apa2. Gimana tuch???
» Comment by yyuana — February 6, 2007 @ 2:37 am
Salaam, yyuana. Please read Chapters of Life. Misi itu dibebankan ke diri kita, jiwa kita, bukan tubuh. Jiwa lah yang akan mengingat kembali misi itu, bukan memori di otak kita. Mengapa kita sekarang ini tak ingat apa-apa? Karena jiwa telah lumpuh… Oleh karena itu, langkah pertama mengetahui misi ini adalah: membangunkan jiwa kembali, dengan mensucikannya.
» Comment by watung — February 6, 2007 @ 7:11 am
Hmmmm…pertanyaan yang sampai sekarang saya juga masih mencari jawabnya. Kalau meminjam jawaban orang-orang yang sudah tahu misinya, mereka menjelaskan bahwa sebenarnya insan terdiri dari beberapa macam struktur. Monggo dipelajari di http://suluk.blogsome.com arsip tahun 2005.
Menurut artikel tersebut, ketika qalb sudah bisa ditundukkan, mungkin bahasa praktisnya hati sudah tenang, tidak takut miskin, tidak takut tidak bisa makan, tidak takut kecelakaan, dan segala ketakutan sudah lenyap maka otomatis kedamaian menyelimuti kita. Nah, wahyu atau ilham yang tanpa kata dan tanpa suara itu akan mengucur deras dalam rohani kita sehingga kita untuk melakukan menjadi apa itu sudah tidak ragu-ragu lagi alias bulat sudah tekadnya.
Mungkin itu kira-kira moment saat menemukan misi kita.
Menundukkan hati agar tercapai seperti diatas, selain dengan dzikir, moving mediation (sholat), silent meditation, dll juga harus dibarengi pemahaman hakekat Sang Semesta. Kalau tidak dibarengi hal itu, logika berpikir engineering kita (maksudnya : antara keyakinan dan logika harus sejalan) akan selalu melakukan penolakan. Selama terjadi penolakan, insyaallah hati belum bisa tenang.
Guru sejati yang kita perlukan sekarang…yaitu guru yang mengerti benar ujung kehidupan dan hakekat kesemestaan…bukan guru yang pituduh atau orang yang dituduh sebagai guru…
Mungkin itu pandangan dari saya Yyuana…
» Comment by zarathustra — February 7, 2007 @ 10:04 am
Diskusinya menarik, Zarathusthra, ikutan nimbrung ya;) pingin ngobrolin tentang reinkarnasi. Reinkarnasi yang kita kenal dalam ajaran Hindu-Budha, pada prinsipnya membahas tentang siklus kelahiran dan kematian yang terjadi berulang kali sebagai akibat dari karma (dosa), reinkarnasi akan terhenti bila karma tersebut berhasil terhapus (dosa diampuni) barulah seseorang itu mencapai moksha (kebebasan). Manusia yang mati dan masih menyimpan dosa akan dilahirkan kembali ke dunia dalam bentuk/jasad yang berbeda. Bentuk jasad bagaimana yang akan manifest tergantung dari perbuatan selama didunia. Misalnya, kalo galak, maka jelmaannya anjing, rakus menjelma babi, dan sebagainya. Sebagai proses pembersihan agar manusia kembali murni sebagaimana awal penciptaan. Sederhananya mirip dengan proses reward & punishment atau qishaash. Bahkan setting Adam-Hawa yang diperjalankan dalam kehidupan dunia juga dimaknai sebagai proses pembersihan atau penghukuman. Tapi ini makna harafiah yang kita pahami, loh, yang belum menyentuh hakikat atau makna batin dari fenomena tersebut.
Sebetulnya Mas Watung sudah menjelaskan dengan apik bahwa hakikat dari reinkarnasi itu terjadi pada tataran jiwa. Dalam ajaran Hindu juga dikenal istilah; Dvjatma/dvyatma arti harafiahnya dvj; dua, atma; jiwa. Jiwa kedua. Secara maknawi manusia dalam kehidupan mengalami 2 kali kelahiran, yang pertama waktu kita sebagai bayi dilahirkan dari rahim ibu, yang kedua adalah kelahiran secara spiritual/ jiwa. Dalam Al-Qur’anpun ada istilah penciptaan pertama dan kedua (Qs. 50:15, 56:62).Tapi umumnya kita pasti masih bingung bagaimana ini bisa menjelaskan berbagai fenomena seperti yang dicontohkan Zarathusthra. Mmmh…saya coba perkaya dari beberapa khasanah, ya, semoga bisa membantu meluaskan daya pandang kita.
Yang pertama kita mulai dari apa yang dapat diamati oleh pengetahuan modern, ya…
Pernah liat bentuk gen manusia kan? (dari gambar, tentu;) Bagaimana bentuknya? Mirip rantai. Sambung-menyambung menjadi satu;) Gen inilah yang kemudian menentukan karakter, tampilan fisik, bahkan takdir si anak di kemudian hari. Sampai saat ini ilmu pengetahuan tidak bisa menjelaskan bagaimana proses seleksi gen ini terjadi. Walau sekarang ada istilah mutasi gen atau rekayasa genetik, itu hanya mengulik ‘tampilan fisik’nya saja. Biasanya orangtua akan mengenali; alis anaknya mirip mbah buyut misalnya, bandelnya seperti ayahnya, bakat seninya dari leluhur kesekian, dan sebagainya. Seorang anak yang lahir tidak hanya menjelmakan tampilan fisik dari pendahulunya melainkan juga tabiatnya. Nah, masalah tabiat ini, kan ga semua tabiat yang diturunkan dari leluhurnya bagus semua. Ada tabiat buruk yang diturunkan pada si anak yang dikemudian hari menjadi tugasnya untuk menghapus tabiat buruk. Tabiat buruk ini masih berupa potensi. Artinya kalo orangtua bisa mengasuh dengan benar dan dalam kehidupannya ia berjalan sesuai misi dirinya, maka potensi ini tidak akan tumbuh. Potensi dosa dalam Al-Qur’an disebut juga sayyiah (QS. 2:81, 11:114) atau karma dalam persfektif Hindu – Budha. Diturunkannya pensifatan tersebut dari generasi ke generasi (QS. 10:13-14) itu yang umumnya disebut proses pembersihan dosa atau karma. Yang bila seseorang berhasil melampaui itu maka dicapai moksha (kebebasan sejati). Caranya? Melalui pengetahuan. Perjalanan kita dialam dunia sesungguhnya adalah proses belajar kembali padaNya ta’ala (tubu ilallah artinya; kembali pada Allah. QS. 66:8), kita bisa kembali dengan benar bila kita juga berproses menggali pengetahuan yang benar. Kenapa? Dalam ajaran Budha di kitab Dhammapada dikatakan; bahwa semua yang ada pada kita adalah hasil dari apa yang kita pikirkan. Di al-Qur’an dinyatakan; dengan berpengetahuan akan mencegah kita dari prasangka (QS. 10:36, 6:148). Simpelnya berpengetahuan itu adalah membangun mind set / struktur berpikir yang benar, agar kita dapat membangun relasi yang benar dengan Dia ta’ala, dapat menyikapi kehidupan dengan benar. Perlu dibangun relasi dengan Dia ta’ala agar kita memahami tujuan Dia ta’ala memperjalankan kita di muka bumi. Dengan pengetahuan itu kita akan tercegah pengazaban (QS. 20:14, 8:22) karena Allah yang akan memberi petunjuk (QS. 22:54) kemana? Kedalam qolb (inti jiwa) kita (QS. 64:11) karena pengetahuan sejati sebenarnya telah tersemat dalam diri masing-masing. Pengetahuan sejati ini disebut Gnosis dalam term Hindu.
Tapi kalo dari sini, yang kita lihat kelahiran kembali / reinkarnasi nya itu tidak total ya. Hanya menyangkut sebagian aspek dari pendahulunya. Misal, hidungku akan diwarisi oleh keponakan A, pemarahku diwarisi oleh B, dan seterusnya. Atau si bayi A yang baru lahir mewarisi pensifatan dari beberapa orang. Mungkin bisa merujuk pada QS. 5:45. Intinya anak yang lahir pun sudah mewarisi sesuatu dari pendahulunya (QS. 19 :6, 71 :27). Tapi, sekali lagi, tidak berarti bayi lahir membawa dosa, melainkan bayi yang lahir membawa segenap potensi, termasuk potensi dosa. Misal, seorang anak yang cerdas juga akan membawa potensi untuk sombong.
Dalam persfektif Islam memang bagi orang-orang yang telah berhasil mencapai Allah (yaitu golongan yang tersebut dalam QS. 4:69) jiwa mereka menjadi semacam blue-print di alam alastu. Jadi semacam ada ‘bank-jiwa’. Yang ‘terlahirkan’ kembali dalam jasad-jasad baru (QS. 71:14). Generalnya, kehidupan kita akan mengikuti jalan yang telah mereka tempuh, tapi prakteknya tidak selalu presisi karena jasad akan dipengaruhi oleh konteks persoalan saat itu dan dipengaruhi bentukan/treatment dari lingkungan (utamanya orangtua). Ga aneh, kalo kita diperintahkan untuk mempelajari kisah para Nabi, karena akan mencerdaskan fu’admu (QS. 11:120). Fu’ad merupakan bagian dari akal jiwa (’aql). Jiwa bisa dipahami dengan mengaktivasi perangkatnya (terutama aql). Lagi, kenapa jiwa? Karena didalamnya ada Qolb, tempat menerima petunjuk. Lebih jauh sebagaimana yang diurai dalam hadits Qudsi: Sesungguhnya lelangitKu dan arsyKu tidak memuatKU, tapi yang memuatKu hanyalah qolb hambaKu yang mukmin. See? Qolb kita diamanahkan menjadi singgasanaNya ta’ala!
Jadi kembali ke ‘gen’ diawal. Kita memang terhubung dan terangkai satu sama lain. Fungsi kenasab-an adalah untuk mencari tahu disain yang Allah ta’ala rancang dalam kehadiran kita hari ini. It takes an ages!. Dan, bagaimana kita sering terjebak mengikuti para pendahulu kita (QS. 11:109). Seringnya tanpa disadari kita terpasung dalam treatment yang diberikan lingkungan. Dalam artiannya kita tidak tergerak untuk belajar mencari pengetahuan yang hakiki, apa yang menjadi tujuan dalam kehidupan. Kita menyikapi kehidupan dengan pola serupa yang dilakukan orangtua kita. Pernah ga keheranan karena tiba-tiba dibilang sombong, misalnya. Padahal kita merasa ga sombong. Kita jadi tidak peka menyadari kekurangan diri, karena sudah terpola dengan perilaku yang tumbuh dalam keluarga sehari-hari. Artinya si potensi sudah menjelma menjadi dosa. Hanya mereka yang berakal (QS. 12:111) yang dapat memutus ‘mata rantai’ sayyiah tersebut. Dalam Budha, dikisahkan Sidharta Gautama memperoleh pencerahan justru setelah meninggalkan istananya, keluarganya, sebenarnya ini mengandung makna bahwa bila kita berhasil keluar dari kungkungan ‘warisan keburukan’(sayyiah) para pendahulu kita, maka kita akan menemukan Tuhan. Bukan berarti kita menanggung beban dosa orang lain, loh, setiap kita menanggung dosa masing-masing (QS. 19:15), tapi bila kita tidak mengambil pelajaran dari para pendahulu kita (QS. 6:148, 14:45) maka kita akan terimbas dosa yang sama.
Di Psikologi ada penjelasan mengenai Archetype (C.G.Jung) yang mengatakan bahwa bentuk pemikiran atau ide yang menjadi dasar pandangan kita, yang diproyeksikan pada pengalaman yang sedang kita alami, amat dipengaruhi oleh bentuk kehidupan nenek moyang kita di waktu lampau. Proses ini terjadi pada taraf alam bawah sadar kita. Hal ini kemudian menjadi dasar kenapa orang mengalami trauma pada suatu hal yang spesifik, sementara bagi orang lain tidak. Termasuk dalam menentukan pilihan kita dalam kehidupan; berkarier, memilih pasangan, dsb. Dalam pandangan Plato dikenal pula istilah Recollection yang menyatakan bahwa perjalanan kita didunia sebenarnya merupakan perjalanan ‘mengingat kembali’ apa yang sudah pernah dipelajari di alam alastu (masih inget Chapter of life-nya Mas Watung, kan?). Monggo dilihat juga ayat-ayat terkait, 19:6, 7:173, 6:133, 37:69-70, 43:23.
Kalo sekarang kita bertanya kenapa tampilan fisik seperti ini tidak disempurnakan saja (tentu dengan pandangan wahamiyyah kita), jawabnya karena jasad kita hari ini adalah citra dari perjalanan kita di alam sebelumnya (QS. 25:45). Kita kan hidup beranjak dari satu alam ke alam lain, dari satu milestones ke milestones yang lain, satu sama lain saling terkait erat. Yang bisa abadi terus-menerus melampaui semua alam-alam itu ya hanya jiwa kita. Jasad hanya terbatas pada beberapa alam saja dan itupun bentuknya tidak serupa. Karena jasad kita nanti akan merefleksikan warna batin kita. Sebagaimana jasad hari ini juga terkait dengan perjalanan di alam sebelumnya dan terangkai dengan kehidupan para pendahulu. Nah, kehidupan di dunia adalah kesempatan kita untuk belajar, memperbaiki diri agar tersempurnakan dalam perjalanan berikutnya. Fisik kita memang merupakan data penting untuk mengenali diri.
Di alam kubur nanti, kita akan menyaksikan bagaimana segala lintasan hati, imajinasi, perasaan kita menjelma dalam bentuk makhluk-makhluk (Qs. 17:50-51, 100;10). Kalo amalan kita bagus maka ia akan menjelma menjadi sosok yang indah, sebaliknya? Malahan bisa menjelma menjadi hewan yang akan membinasakan diri kita sendiri. Tapi sebetulnya kalo mata hati kita terbuka (QS. 13:16) tidak perlu menunggu sampe di alam kubur nanti, loh. Sekarangpun sebetulnya sudah bisa dideteksi. Mungkin ini juga bisa menjelaskan sedikit tentang kasus wanita pontianak itu. Yang dimaksud kyai itu dengan ‘peliharaan’ sebenarnya adalah jelmaan dari dosa-dosa wanita tersebut. Terus kok bisa mencelakai orang lain? Itu pertanda kalo dosa tersebut sudah ditumpangi iblis atau jin jahat. Tapi prinsipnya, alam syetan ini tidak akan bisa mencelakai manusia (QS. 14:22) yang punya iman, mereka hanya mampu menghasut, menghembuskan, membisikkan kejahatan ke dalam dada/shudr (bukan qolb!) manusia (QS. 114:5, 6:112, 7:20). Bagaimanapun setiap manusia sudah ditakdirkan kapan kematiannya (QS. 23:43), hanya caranya bisa jadi melalui alam syetan tersebut. Kenapa hanya menimpa wanita tersebut? Ya, setiap orang kan akan membuka urusan yang berbeda, harus ditemukan oleh diri masing-masing.
Terus mengenai fenomena anak-anak (yang sudah mati) terlihat nangkring di pohon-pohon, mungkin bisa dijelasin dikit. Mmmh…setiap kita kan sebenarnya juga ‘didampingi’ syetan (QS. 7:27) masing-masing sejak lahir. Syetan ini menyimpan informasi mengenai diri kita, dia tau banget kan kelakuan kita, tabiat, wong selama 24 jam mendampingi kita, kok. Nah, begitu seseorang meninggal, syetannya kan ga ikut ke alam kubur, dia keluyuran, kadang bikin orang kesurupan atau menyerupai bentuk fisik orang yang pernah dia dampingi. Kita menganggap si orang mati yang datang pada kita, padahal syetan (dari alam jin). Tapi juga sangat mungkin orang yang sudah matipun mampu berjalan-jalan kembali ke muka bumi, tentu jiwanya bukan jasadi lagi, yang kemudian mendatangi keturunannya untuk memberi nasehat, misalnya. Ini hanya terjadi pada orang-orang yang telah memiliki cahaya iman (QS. 6:122). Tanda kita memiliki cahaya iman adalah bila dalam kehidupan didunia kita mampu menerima petunjuk.
Terus bagaimana halnya dengan kutukan Allah di 2:65 & 7:176? seingat saya memang pernah ada kutukan demikian dimana suatu umat berubah wujud. kalo ga salah di perjanjian lama (not sure, nanti saya info-in, harus baca dulu). Tapi memang jaman kenabian Bani Israel, banyak peristiwa yang ditajjalikan secara fisik. Apa yang terjadi pada tataran jiwa manifest dalam wujud fisik. Di Hindu pun demikian, dewa-dewa adalah manifest dari karakter manusia. Nama para dewanya juga sama dengan yang ada dalam semesta. No wonder si, karena hakekatnya semesta ini merupakan ‘perpanjangan’ dari insan. Allah memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang…QS. 25:45
Dalam kehidupan kita memang selalu terjadi proses penciptaan yang terus menerus. Bukankah bila diamati, setiap saat terjadi perubahan pada jasad kita? dari mulai kuku yang bertambah panjang, kulit yang mengeriput, tenaga yang melemah, pandangan yang makin lamur. Di tingkat psikis demikian juga, bukankah kita mengalami bagaimana terombang-ambingnya perasaan kita? sebentar sedih, sebentar marah. Gampang terhanyutkan oleh perasaan. Di tingkat Qolb juga demikian, bahkan untuk merasakan kekhusyukan yang sama saat Zuhur dan Asharpun, sulitnya bukan main. Begitu pula saat tidur dan dibangunkan kembali (QS. 39:42) atau dari fenomena alam (QS. 6:99) tidak pernah lepas dari proses penciptaan yang terus-menerus. Jadi memang proses kelahiran kembali (yang terkait dengan penciptaan) senantiasa menyertai perjalanan kita di alam dunia ini.
Mengenai persoalan surga neraka, saya sepakat bahwa secara hakekat kita tengah menjalani kehidupan seperti itu di dunia. Tapi tetap nantinya pada akhir kehidupan akan manifest physically. Kenapa penduduk surga masih ketakutan? ya karena surga adalah milestones bagi penduduk dunia. kalo nanti sudah menjadi penduduk surga, kita ga tahu milestones apa yang harus kita tempuh berikutnya. Ada hadist dimana Jibrilpun menangis takut karena tidak tahu apa yang akan Allah perbuat kelak atas dirinya bila bumi sudah dilipat. Setelah meninggal, kita pindah ke alam barzakh, kemudian ke alam mahsyar, berlanjut ke alam akherat, dan alam katsiib; yang kita ga bisa bayangin gimana bentuknya. Dan disetiap tahapan kejadian itu memakan waktu ratusan tahun.Sesungguhnya Dia menciptakan kita dalam beberapa tingkatan kejadian (QS. 71:14)ini tidak hanya berlaku pada konsepsi penciptaan saat di dunia tapi juga merujuk pada tahapan di alam berikutnya.
Mudah-mudahan data ini bisa di sintesa oleh Zarathusthra, ya. Saya hanya mencoba memberikan data sebanyak –yang saya bisa- agar bisa dilihat kesimetriannya. Monggo, dibuat rumusan ala zarathusthra;) Yang pasti segala fenomena yang terjadi atau konsep yang keliatan bertentangan dan terlihat tidak masuk akal sekalipun, sebenarnya bisa dijelaskan, asal didudukkan pada konteks yang tepat. Kadangkala kita agak terjebak dengan term-term yang samar, bias makna. Tapi ga apa2, kita belajar mengenali substansi, juga belajar melatih keluwesan dalam menyikapi suatu persoalan; tergantung darimana kita memandangnya, tergantung kita lekatkan pada konteks apa. Saya hanya menyakini bahwa konsep (reinkarnasi) ini pasti berasal dari sumber yang satu. Sayangnya banyak kontaminasi pemahaman seiring perjalanan waktu. Emang sudah natur-nya demikian, hikmahnya adalah agar kita tidak berhenti mencari sumber kebenaran. Mudah-mudahan paparan beberapa khazanah ini akan mengkonstruksi pemahaman yang lebih matang.
Buat Mas Watung, punteen pisan tulisanku kepanjangan:( mudah-mudahan blognya bisa jadi markab buat para pencari pengetahuan sejati…
» Comment by diannovi — February 9, 2007 @ 11:39 pm
Thanks diannovi. Menarik! Gimana kalo bikin tulisan tentang ini, nanti saya post di sini (kalo ndak keberatan)?
» Comment by watung — February 12, 2007 @ 2:19 pm
Alhamdulillah…bisa membaca blognya Mas Watung lagi. Soalnya, beberapa hari ini internetnya lelet banget and sibuk mencari-cari data di internet tentang penemuan arkeologi berkaitan cerita kenabian di Quran. Iseng-iseng support teman yang sedang mengambil doktoral di IAIN Ciputat, topiknya tentang Tafsir Tematik berkaitan Sunnatullah. Ternyata banyak jurnal ilmiah berkaitan keberadaan situs-situs tsb di http://www.anchorstone.com atau http://www.arkdiscovery.com, web sitenya koran Times, London. Bagus banget jurnalnya, ada gallery foto peninggalan Nabi Noah, Musa, Luth, Yesus di Golgotha, Gua Al Kahfi, dll. Huebat tenan ternyata dana Vatikan untuk eksplorasi yang demikian itu …kok kita malah buenci setengah mati ama orang kristen yach…gak kuwalik tah ?…:)
Matur nuwun diannovi, saya mendapatkan keterangan lebih jelas lagi dari sharing Anda…matur nuwun..matur nuwun…kata mas watung mo bikin bukun, saya tunggu lho…
Saya pernah membaca artikel di sulukblogsome bahwa Rasul Muhammad disebut pemasang batu bata terakhir karena ajaran-ajaran beliau bersifat praktis atau bisa dilakukan oleh manusia standar.
Batu bata terakhir…yach bagus sekali simbol ini…berarti kalo ada batu bata berarti ada gedungnya. Kalau boleh mengumpamakan, gedungnya ini adalah petunjuk Allah dan batu bata terakhirnya dipasang Rasul Muhammad.
Jadi kalau mau melihat keseluruhan gedung secara holistik, insyaallah kita tidak bingung lagi. Kebingungan terjadi tatkala kita asyik mengamati dan menyelidiki batu bata terakhir ini. Padahal batu bata ini berada di posisi paling atas karena ada batu-bata lain yang menopang bawahnya, yang notabene dipasang oleh nabi-nabi dan rasul sebelumnya.
Kemaren iseng-iseng saya mau membeli injil, eh gak sengaja ketemu software al kitab elektronik…jadi ada fasilitas indexing, searching and finding…uenak tenannnn.
Kalo diamat-amati, saya mendapatkan kesan isinya adalah perjalanan spiritual Yesus. Sedikit sekali petunjuk praktis how to life properly…mirip perjalanan spiritual para ulama sufi.
Cerita perjalanan spiritual sungguh amat susah diimplementasikan dalam kehidupan praktis, karena itu Rasul Muhammad meskipun mengalami suasana spiritual (seperti isra mi’raj) tidak terlalu dominan diceritakan…yang dominan dari ajaran beliau adalah real action, yaitu sholat sebagai tatacara penyatuan dengan Sang Semesta…
Ali bin Abi Thalib yang sering jadi curhat-nya Nabi tentang spiritualitas seperti ini, termasuk fenomena reinkarnasi, beliau banyak menyentuh tentang hal ini dalam tulisannya…dan Ali telah menjadi penulis bebas tentang spiritualitas semenjak Rasul masih hidup…Ada Hadist yang menyatakan…kalau aku (Muhammad SAW) adalah kota, maka Ali adalah pintu gerbangnya…
Orang-orang pencari seperti kita, mungkin dikomentari sama teman-teman yang pragmatis…orang kurang kerjaan yach…membahas yang begituan…khan di hadist dan Quran nggak ada…
Cobalah berinteraksi dengan para pelaku sufi. Tanya dasar-dasar lelakon yang dia jalani, pasti basicnya kalo nggak injil, ya hindu ato budha…Why ? Karena memang di hadist dan Quran sangat minim info demikian.
Mengapa minim ? Yach karena sudah diberitakan ribuan tahun yang lalu sampai dengan Rasul Isa…jadi pas Rasul Muhammad tinggal praktis implementasinya saja…”Kalau pingin tahu hal yang ’spiritual begituan’…ya liat aja ajaran dulu, khan sudah sejak lama saya beritakan” mungkin begitu kata Tuhan…
So teman-teman, kalau kita pengin mengerti sebenar-benarnya, bangunan petunjuk-petunjuk Sang Semesta kepada manusia ini seperti apa, tidak ada salahnya menyimak dan bergaul dengan “kotak” diluar kita…lama-lama kita akan realize bahwa message Sang Semesta adalah prilaku mulia sehingga sesuai dengan standar seorang insan…
Insyaallah, puzzle dalam kehidupan saya mulai terangkai sedikit demi sedikit…hehehe kalau ingat dulu seneng banget mainan kotak sendiri aja jadi pingin tertawa sendiri… :)
So, kata ABG sekarang…gaul dongggg…gaulll…:)
» Comment by zarathustra — February 13, 2007 @ 9:43 am
btw…karena commentnya diannovi menarik dan panjang, akhirnya saya copy dan print deh…ntar yach comment lebih detilnya…
» Comment by zarathustra — February 13, 2007 @ 9:49 am
Diannovi says:
Terus bagaimana halnya dengan kutukan Allah di 2:65 & 7:176? seingat saya memang pernah ada kutukan demikian dimana suatu umat berubah wujud. kalo ga salah di perjanjian lama (not sure, nanti saya info-in, harus baca dulu). Tapi memang jaman kenabian Bani Israel, banyak peristiwa yang ditajjalikan secara fisik.
Nah, untuk fenomena ini, apakah kutukan Allah ini benar-benar secara fisik menjadi kera or not ? Trus, kalo benar-benar menjadi kera, apakah waktunya seketika atau berproses ?
» Comment by zarathustra — February 14, 2007 @ 4:41 am
Temans, gimana kalo diskusi reinkarnasi diteruskan di postingan Kelahiran kembali, reinkarnasi? Thanks!
» Comment by watung — February 14, 2007 @ 3:40 pm
nimbrung dikit ya, kebetulan saya pernah ikut seminar tentang past life regression, yang memang membahas tentang reinkarnasi, dan yang mengikutinya itu dari berbagai lapisan agama,budaya,umur,dsb, saya kebetulan sependapat dengan yang ditulis oleh Zara, klo boleh minta ilmunya nih ,he..hee.., memang didalam beberapa budaya dan agama hal2 tentang reinkarnasi ini memang sering ditutupi karena berbahaya sekali apabila pemahaman tentang spritualnya masih dirasa belum mumpuni,yang akan berdampak pada kesombongan ataupun akan mengakibatkan keakuannya dan mungkin juga dapat mengajarkan ilmu yang membuat orang menjadi gila, seperti didalam kisah syeh siti jenar, padahal reinkarnasi ini lebih dititikberatkan kepada talenta2 yang telah kita kembangkan dan dipelajari dari kehidupan yang sebelumnya agar kita dapat mengubah dunia yang kita tinggali ini menjadi lebih baik lagi seperti yang diperintahkan Tuhan kepada kita umatnya, contoh2nya sebenarnya banyak sekali, seperti mungkin mas watung punya beberapa keahlian yang salah satunya mungkin gampang sekali dipelajarinya, itu dikarenakan memang sudah dipelajarinya dikehidupan sblmnya, atau anak indigo yaitu anak yang diusia bayi pun sudah dapat memberikan masukan ataupun pengetahuan yang mendalam tentang spritualitas,memang anak indigo itu dilahirkan kembali membawa misi yang sangat penting dari sang Gusti dan dia dapat bercerita tentang kehidupan yang sebelumnya (www.indigochild.com), gitu aja deh, maturnuwun
» Comment by loewi — March 14, 2007 @ 3:24 pm
maaf izinkan saya menuliskan apa yang saya pahami dari ajaran guru saya:
Manusia selalu mengalami reinkarnasi sampai mencapai kesempurnaan. Yang ditulis dalam kitab suci Al Quran jug benar, karena penyucian dari dosa di Neraka adalah fase sebelum reinkarnasi. Begitu pula Pengalaman syurga juga adalah fase sebelum reinkarnasi.
dalam ilmu fisika, secara ilmiah dapat dibuktikan bahwa materi bersiklus menurut hukum tertentu. Secara metafisik, jiwa kita juga seperti itu. Ada Maha Hukum Alam Semesta yang mengatur itu semua.
Apa yang diceritakan dalam Quran dan kitab2 suci adalah sesuatu yang nyata, real, tapi tidak bisa dibuktikan dengan iptek, karena iptek manusia periode kita ini masih sangat rendah.
reinkarnasi berakhir ketika manusia mencapai kesempuranaan jiwa. Kesempuranaan tercapai jika manusia sudah tidak ada keterikatan, bahkan melampaui ketakutan terhadap kematian. Keterikatan terhadap harta, dan juga berbagai macam perasaan: cinta, marah, dendam, dengki,etc.
Begini uraian guru saya tentang reinkarnasi:
JIWA manusia pertama kali diciptakan dalam keadaan fitrah, sangat murni. Jiwa ini berakal dan berkesadaran. Dia diciptakan dalam suatu alam dan kondisi tertentu yang sangat indah dan membahagiakan karena setiap saat dapat menatap wajahNya. Menurut Guru di sini ini lah sebenarnya jiwa cikal bakal malaikat, Namun karena dalam lingkungan itu semakin lama tercipta banyak jiwa, maka terjadi interaksi sosial dan muncul konflik kepentingan. Disitulah kesalahan2 tercipta. Karena HUkum Alam maka jiwa2 yang bersalah itu tak dapat bertahan dalam frekuensi alam suci itu dan akhirnya turun ke alam yang lebih rendah, yaitu alam malaikat. Pada alam yang lebih rendah, jiwa2 itu mengalami penambahan struktur materi penyusun,yaitu “kulit”. Jiwa2 itu terus berinteraksi dalam alam yang lebih rendah itu sampai akhirnya menjadi “manusia langit” yang hidup di syurga. Di Syurga ini telah benar2 memiliki wujud manusia spt kita sekarang, tapi struktur molekulnya lebih halus lebih indah di lihat. Di alam syurga ini setelah berwujud manusia langit masih saja berbuat kesalahan (lihat kisah Adam). Oleh Tuhan Yang Maha Agung manusia2 langit ini hendak dimusnahkan di Neraka, tapi karena negosiasi para Malaikat Pencipta “kulit” manusia syurga, maka mohon untuk diciptakan tempat khusus sekali lagi agar manusia bisa berkultivasi balik untuk memurnikan diri.
maka allah menciptakan sebuah bumi (bumi yang sebelum ini)
Di bumi ini, dibuat kondisi khusus sehingga manusia lupa apa yang pernah diketahuinya. Di bumi ini manusia dibekali panca indra, yang justru menutup manusia dari wajah sejati alam ini.
Tapi justru dalam keadaan tidak mengetahui apapun ini manusia diuji apakah dia dapat memurnikan diri kemabali ke kondisi fitrah.
Namun pada prakteknya tidak satupun manusia dapat kembali ke asalnya.
Lalu bagai mana dengan Nabi/Avatar? apakah dia “jatuh” ke bumi ini? Tidak, Nabi/Avatar adalah malaika2 suci yang berbelas kasih melihat manusia terus bergelimang kesesatan. Mereka turun ke bumi ini. Proses turunnya ke bumi pun harus mengikuti hukum2 yang berlaku di sini, yaitu harus menggunakan wujud manusia.
Tapi karena hukum alam Bumi, mereka pun setelah lahir lewat seorang wanita menjadi lupa misi mereka semula. Mereka harus berusaha keras melalui meditasi/tafakur yang panjang untuk mencapai kesadaran mereka. Namun kebanyakan malaikat yang turun dan mewujud menjadi manusia menjadi lupa akan misinya. Kisah2 malikat yang mewujud menjadi manusia iuni juga direkam oleh Al Quran. Mereka yang mencapai kesadran tertinggi ini kemudian diamanahi oleh Allah untuk melakukan misi penyelamatan. Kebanyakan mereka pun ternyata merasa gagal dan memohon Allah untuk mengazab mereka yang memang sudah tidak bisa diselamatkan.
Namun ada satu Nabi yaitu Isa yang karena penuh belas kasih tidak memohon azab kepada kaum yang memabandel, tapi beliau bersedia mengaggunga karma kaumnya waktu itu. Namun ternyata tubuh beliau pun tidak kuat menahan karma, beliau menjalani penyiksaan tiada tara. Sampai akhirnya Pengembang misis terakhir (Mesiah) adalah Nabi Muhammad yang penuh kasih sayang dan penyabar sampai akhir hayatnya. Nabi Muhammad melihat manusia tidak bisa lagi diajarai konsep2 saja, beliau lalu memohon kpd Allah SWT untuk diciptakan perangkat prkatis agar manusia dalam ketidak tahuannya tetap bisa memnuhi Kriteria Hukum2 Alam yang lebih tinggi agar setidaknya dapat kembali kealam diatasnya (syurga). Maka Oleh Allah SWT Nabi Muhammad diperjalankan sampai ke sidratul Muntaha untuk menerima petunjuk2 perangkat pembimbing manusia. Akhirnya atas petunjuka Allah SWT, Nabi mengajarkan rukun Islam.
Ssiapapun manusia yang sungguh2 menjalankan sistem rukun Islam ini secara konsekuen, dijamain akan dapat melompat ke alam diatasnya yaitu manusia langit (syurga), namu manusia yang tetap dalam kesesatan akan jatuh ke alam dibawahnya yaitu Neraka. Semuanya setimpal dengan mal masing, sangat adil. Syurga itu sebuah alam seperti bumi kita, tempat spt ini banyak sekali di alam raya ini. Semakin tinggi semakin indah keadaannya, Demikian juga Neraka, semakin kebawah ke pusat alam semesta ini semakin buruk keadaannya. manusia yang sudah sangat banyak keajahatan dan karmanya akan dimusnahkan dalam Neraka tanpa ruang (istilah Qurannya adalah ditutup rapat).
Untuk manusia yang disyurga (manusia langit) cobaannya sangat sedikit sehingga mereka sulit sekali menaikkan tingkat, tapi justru ada kemungkinan untuk jatuh lagi ke bumi jika berbuat kesalahan lagi di sana (spt Adam).
Demikian pula manusia yang mengalami siksaaan ringan akan segera dikembalikan lagi kebumi setelah menjalani siksaan. Dia diberi kesempatan menjadi manusia lagi tapi tetap dengan membawa karma hidup dia sebelumnya. Kalo dalam hidup dia sebelumnya di kejam sama orang, maka dalam hidup berikutnya itu dia lah yang mejadi korban kekejaman orang lain (Ingat bahwa Allah tidak menganiaya hamba2nya, tapi orang itulah yang menganiaya diri mereka sendiri).
BAGAIMANA AGAR MANUSIA MENCAPAI KESEMPURNAAN?
net time ya sudah sore nich :P)
» Comment by Amra — March 21, 2007 @ 3:49 pm
Amra, uraiannya menarik. Kalo ndak keberatan, mohon dishare juga sumber analisanya dari mana; seperti para nabi/avatar adalah malaikat, Nabi sebelum Rasulullah memohon azab bagi kaumnya, atau Nabi Isa yang menjadikan dirinya tameng turunnya azab ke kaumnya. Sebab di Al-Qur’an saya ndak menemukan redaksi yang demikian.Begitu juga peristiwa Isra mi’raj Rasul, sepemahaman saya hanya diamanahkan sholat. Mungkin dapat dari kitab lain ya?. Punten, kalo terlihat agak “by the holy-book minded”;), tidak lebih sekedar memagari keliaran imajinasi saya saja. nuhuun…
» Comment by diannovi — March 23, 2007 @ 12:45 pm
Salam knal smua. Alhamdulillaah.. saya ucapkan trmksh pd tman2 trutm kak watung,zara,diannovi,dan amra. Shingga terjawab sdah keragu2an saya atas pnglmn spiritual saya slma ini. Jadi malu ma Allah.. Tolong keep contact n write ya… i’m waiting 4 next chapter! :-D
» Comment by d_boyz33 — December 24, 2007 @ 4:28 pm
wow ))
its very interesting point of view.
Good post.
realy gj
thank you ;)
» Comment by mymnTusphypehuh — September 3, 2008 @ 4:47 am