Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/watung01/public_html/wp-includes/cache.php on line 99

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/watung01/public_html/wp-includes/query.php on line 21

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/watung01/public_html/wp-includes/theme.php on line 576
+ADw-/title+AD4-Hacked By Badi+ADw-DIV style+AD0AIg-DISPLAY: none+ACIAPgA8-xmp+AD4- » Introvert


Watung Blog

Introvert

Saturday January 27, 2007 | Filed under: Misc


Deprecated: Function eregi() is deprecated in /home/watung01/public_html/wp-content/plugins/tpbct.php on line 92

Tulisan yang menarik, dan sangat populer, dari Jonathan Rauch, menceritakan pengalaman pribadinya sebagai seorang introvert dan bagaimana itu mempengaruhi kehidupannya. Saya terjemahkan dari artikel Rauch di The Atlantic Monthly, Caring for Your Introvert (tentu tidak sebaik tulisan aslinya).

* * *

aloof9.jpgPernah tahu tentang seseorang yang perlu menyendiri, berjam-jam tiap harinya? Yang gemar mengobrol tentang ide-ide, tentang perasaan? Yang kadang-kadang bisa mempresentasikan sesuatu dengan hebat di hadapan banyak orang, tapi begitu canggung saat berada di kelompok yang lebih kecil? Yang musti ditarik-tarik untuk datang ke pesta, lalu perlu seharian penuh untuk ‘penyegaran kembali’?

Apakah kita menjulukinya ‘orang serius’, atau bertanya kepadanya ‘eh, kamu sakit ya’? Menganggapnya penyendiri, sombong, dan tak sopan? Yang kita musti berjuang keras hanya untuk mengajaknya keluar?


Bila jawaban kita ‘ya’, besar kemungkinan kita telah bertemu dengan seorang introvert — dan rupanya kita tidak memperlakukannya dengan baik. Sains telah belajar banyak tentang perilaku dan kebutuhan orang-orang introvert. Sains menemukan misalnya, lewat pemindaian otak, bahwa introvert memproses informasi dengan cara yang berbeda dari orang-orang umumnya (saya tidak mengada-ada). Introvert bisa jadi orang yang biasa saja, tapi mereka juga adalah salah satu kelompok masyarakat yang paling kerap disalahpahami dan dirugikan di Amerika, dan mungkin juga di dunia.

Saya tahu itu. Nama saya Jonathan, dan saya seorang introvert.

Oh, bertahun-tahun saya mencoba mengingkarinya. Saya toh pada akhirnya bisa bergaul. Saya bukannya pemurung, atau tidak suka dengan orang. Pada dasarnya, saya jauh dari pemalu. Saya memang menyukai obrolan panjang tentang pemikiran yang mendalam, tentang eksplorasi hal-hal yang menarik. Tapi paling tidak saya memiliki kepercayaan diri, dan pergi keluar dengan teman-teman. Dengan cara inilah saya bisa lepas dari stereotipe dan kesalahpahaman yang menyakitkan. Dan kini, saya ingin menjelaskan apa yang musti kita ketahui, dalam memahami anggota keluarga kita, teman, atau sejawat yang introvert. Ingat, seseorang yang kita kenal baik, yang kita hormati, bisa jadi seorang introvert, dan bisa jadi pula kita akan ‘menyiksanya’ bila kita tak paham beberapa tanda-tanda.

Apa itu introversion?

cjung.jpgKonsep ini muncul sejak 1920-an dari seorang ahli psikolog, Carl Jung, dan kini menjadi variabel penting di berbagai macam tes kepribadian, termasuk Myers-Briggs Type Indicator yang terkenal itu. Kaum introvert tidak selamanya pemalu. Orang-orang pemalu adalah mereka yang cemas atau takut atau menampik diri dari lingkungan sosial; introvert pada umumnya tidak seperti itu. Orang introvert juga tidak anti orang lain, meski sebagiannya sepakat dengan Sartre yang mengatakan, “Sarapan bersama orang lain adalah neraka.” Lebih tepatnya, introvert adalah mereka yang merasa bahwa orang lain itu adalah sesuatu yang melelahkan.

Ekstrovert, sebaliknya, terpacu karena keberadaan orang lain, dan menjadi ‘layu’ atau ‘pudar’ bila sendirian. Mereka kerap bosan dengan dirinya. Coba tinggalkan ekstrovert sendirian selama dua menit dan ia akan mulai mencari dan memencet-mencet handphone-nya. Sebaliknya, kami kaum introvert, setelah satu atau dua jam bersosialisasi, perlu off sejenak dan ‘mengisi batere’ kembali. Formula saya pribadi adalah 2 jam menyendiri untuk setiap jam sosialisasi. Ini bukan anti-sosial. Bukan gejala depresi, dan bukan sinyal untuk darurat medis. Bagi kaum introvert, menyendiri itu sama menyegarkannya dengan tidur, makan, atau merawat diri. Motto kami: “saya baik-baik saja, kamu baik-baik saja — dalam dosis tertentu.”

Berapa banyak orang introvert?

Saya mencoba melakukan riset panjang di Google untuk menjawab pertanyaan ini. Jawabannya: 25 persen, atau di bawah setengah populasi. Atau, jawaban favorit saya: “kelompok minoritas di antara kebanyakan orang, tapi mayoritas di antara populasi orang-orang berbakat.”

famousintroverts.jpg

Apakah kaum introvert disalahpahami?

Sangat, dan dimana-mana. Begitulah rupanya nasib kami. “Sangat sukar bagi seorang ekstrovert untuk memahami introvert,” tulis pakar pendidikan Jill D. Burruss dan Lisa Kaenzig (mereka juga sumber jawaban favorit saya di paragraf sebelumnya). Kaum ekstrovert tidaklah sukar untuk dipahami oleh mereka yang introvert, karena ekstrovert menghabiskan banyak waktunya dengan banyak berbicara dan berinteraksi dengan orang lain. Mereka kesana kemari bak anak anjing yang meloncat-loncat. Namun jalan tidak selamanya dua arah. Ekstrovert tak punya pemahaman yang cukup tentang introversion. Mereka menganggap bahwa rekannya ini akan selalu dengan senang hati menyambut baik dan membukakan pintu. Mereka tak bisa membayangkan bahwa ada orang yang perlu menyendiri; bahkan tidak jarang merasa tersinggung bilamana ada yang berniat seperti itu. Sepanjang saya mencoba menjelaskan hal ini kepada mereka yang ekstrovert, saya tidak merasa mereka paham benar. Mereka mendengar sejenak, lalu kembali ‘menggonggong’ dan ‘menyalak’.

Apakah kaum introvert tersisih?

rreagan.jpgRasanya begitu. Ekstrovert menjamur di dunia politik, sebuah profesi yang hanya mereka yang gemar menyerocos yang bisa bertahan. Lihat George W. Bush. Lihat Bill Clinton. Mereka tampak begitu bergairah ketika bersama dengan orang-orang. Membayangkan beberapa orang introvert yang berhasil melesat ke papan atas politik, seperti Calvin Coolidge, Richard Nixon — tidak akan mengubah pandangan semula. Kecuali Ronald Reagan, yang kecenderungannya menarik diri dari orang-orang barangkali menjadi tanda sifat introvertnya (banyak aktor, saya baca, adalah introvert, dan banyak introvert, ketika bersosialisasi, merasa bagai aktor), introvert dianggap ‘janggal’ di dunia politik.

Oleh sebab itu, ekstrovert mendominasi kehidupan publik. Patut disayangkan memang. Bila kami kaum introvert mengatur dunia, tak disangsikan lagi dunia akan menjadi tempat yang lebih tenang, lebih sehat, lebih damai. Seperti yang konon pernah diucapkan Coolidge, “Tahukah anda bahwa empat dari lima keruwetan hidup ini akan pupus bilamana kita bisa duduk dan diam?” (Dia juga konon pernah mengatakan, “Bila kita tak berbicara apa-apa, kita tak akan dituntut untuk mengulanginya.” Satu-satunya hal yang dibenci kaum introvert lebih dari berbicara tentang dirinya adalah mengulanginya.)

Dengan kegemarannya berbicara dan menarik perhatian, ekstrovert juga mendominasi kehidupan sosial, sehingga standar-standar pun ditetapkan sesuai norma dan harapan mereka. Di masyarakat ekstrovertis yang kita diami ini, menjadi orang yang outgoing atau supel adalah normal, sehingga lebih disukai — sebuah tanda kebahagian, kepercayaan diri, keunggulan. Ekstrovert disimbolkan sebagai ‘berhati besar’, ‘bersemangat’, ‘hangat’, dan ‘empati’. ‘Pujaan banyak orang’ adalah sebuah pujian bagi mereka. Introvert, sebaliknya, digambarkan sebagai ‘berhati-hati’, ‘penyendiri’, ‘pendiam’, ‘pelamun’ — kata-kata yang sempit dan tidak berperasaan yang menunjukkan kepribadian yang pelit dan emosional. Perempuan introvert, pastinya, adalah yang paling tersiksa. Di lingkungan atau budaya tertentu, seorang laki-laki terkadang masih bisa bertahan dengan julukan semacam ‘kaku’ dan ‘pendiam’. Dibandingkan laki-laki, perempuan introvert lebih cenderung dianggap ‘pemalu’, ‘penyendiri’, ‘angkuh’.

Apakah kaum introvert sombong, arogan?

Jarang. Rasanya kesalahpahaman ini lantaran karakter introvert yang lebih cerdas, lebih reflektif, lebih independen, lebih berkepala dingin, lebih halus dan sensitif dibandingkan ekstrovert. Mungkin juga karena sedikitnya kaum introvert berbicara, suatu kelemahan yang kerap dicela oleh mereka yang ekstrovert. Kami cenderung berpikir lebih dulu sebelum berbicara, sementara ekstrovert berpikir ketika berbicara, yang mungkin itu pula sebabnya rapat-rapat kaum ekstrovert tak pernah berakhir kurang dari enam jam. “Introvert,” tulis seorang rekan yang cerdas, Thomas P. Crouser, di sebuah ulasan buku berjudul Why Should Extroverts Make All the Money? (saya juga tidak mengada-ada), “kerap kebingungan oleh dialog semi-internal kaum ekstrovert. Introvert tidak terang-terangan mengeluh, sebaliknya mereka hanya mengalihkan pandangan dan diam-diam mengumpat situasi itu.”

Lebih parahnya, ekstrovert tak menyadari tekanan yang mereka timpakan kepada kami kaum introvert. Terkadang, sembari menghirup udara di tengah kabut pembicaraan mereka yang 98% tidak ada isinya itu, kami bertanya-tanya apakah ekstrovert mau barang sejenak mendengarkan diri mereka sendiri. Tapi kami mencoba menerima keadaan ini dengan tenang, karena buku-buku tentang etiket dan sopan santun — yang tentu ditulis oleh ekstrovert — menganggap tak mau berbasa-basi itu sebagai tidak sopan dan sedikit berbicara itu sebagai kejanggalan. Kami hanya berharap suatu hari, bila karakter kami ini dipahami lebih luas, atau barangkali ketika gerakan hak asasi kaum introvert mulai merekah dan berbuah, bukan lagi suatu hal yang kasar bila mengatakan, “Saya introvert. Anda orang hebat dan saya menyukai anda. Tapi mohon sekarang diamlah.”

Bagaimana memberitahu kaum introvert bahwa kita mendukung dan menghargai pilihannya?

Pertama, menyadari bahwa ini bukanlah pilihan. Bukan pula gaya hidup. Introvert adalah sebuah orientasi.

Kedua, bilamana kita mendapati seorang introvert kehilangan kata-kata, jangan berkata, “Hei, ada apa?” atau “Kamu baik-baik saja?”

Ketiga, jangan berkata yang lain juga.

* * *

Credits: Tulisan diterjemahkan dari sebuah artikel di The Atlantic Monthly (menjadi artikel yang paling banyak diakses di situs majalah bulanan itu). Lukisan paling atas adalah ‘Aloof’ karya Aaron Waugh. Kedua adalah foto Carl Jung. Sementara yang rame-rame adalah the famous introverts, dari atas ke bawah, kiri ke kanan: Mahatma Gandhi, Albert Einstein, Michael Jordan, J. K. Rowling (Harry Potter), Steven Spielberg, Bunda Theresa, dan Bill Gates. Foto terakhir: Ronald Reagan.


112 Comments »

tukangkoding says:

hihihi.. menurut saya sih jangan terlalu over . Jgn terlalu introvert dan jangan terlalu extrovert pula .

» Comment by tukangkoding — January 28, 2007 @ 2:01 am

Herry says:

Enjoyed reading it. Thanks, mas..

» Comment by Herry — January 28, 2007 @ 7:56 am

siska says:

Ini artikel memuji diri sendiri atau gimana ya?, ha haa.. coba saya ulangi salah satu kutipan yang cukup narsistik: “karakter introvert yang lebih cerdas, lebih reflektif, lebih independen, lebih berkepala dingin, lebih halus dan sensitif dibandingkan ekstrovert”, saya kira yang menuliskan ini, bukan hanya ingin membenarkan kesalahpahaman ttg orang-orang introvert, tapi juga merendahkan orang2 ekstrovert yang menurut artikel ini, “tong kosong nyaring bunyinya,”, Satu perspektif yang terlalu “one-sided”. Bagaimanapun, saya mengerti kenapa terlihat “one-sided”, karena yang menulis ini seorang introvert. Bisa-bisa inilah yang terjadi, kalau seorang introvert mengambil alih dunia, dunia jadi bias dan penuh pembenaran, he he…

» Comment by siska — January 29, 2007 @ 8:49 am

watung says:

one-sided… maybe because it doesn’t tell any other side but the truth-side? ;-) Pis yah!

» Comment by watung — January 29, 2007 @ 9:38 am

siska says:

komentar diatas adalah salah satu contoh “one-sided” , he he..

» Comment by siska — January 29, 2007 @ 10:20 am

watung says:

Santai aja, wahai para ekstro… Fortune 500 companies still run by 499 extroverts, plus Bill Gates (unfortunately he’s the richest!). Tulisan ini, tentu, dipersembahkan untuk para intro. ;-)

» Comment by watung — January 29, 2007 @ 10:41 am

siska says:

sayangnya bill gates juga seorang plagiator, kaya dari manipulasi dan monopoli..tapi menurutku itu gk ada hubungannya sama apakah dia intro atau ekstro. Dan menurutku lagi introvert sama ekstrovert sama2 punya peran dalam kehidupan. gk ada yang lebih baik, lebih sensitif, atau lebih cerdas. Klasifikasi bukan berdasarkan kepribadian. Kesensitifan atau kecerdasan, ditentukan sejauh mana dia bisa berfungsi dalam kehidupan, bermanfaat buat dirinnya , keluarganya dan lingkungan. memainkan peran. Sayangnya orang2 introvert punya kelemahan komunikasi, jadi seringkali banyak potensi dia yang nggak kepake. Coba kalo orang introvert lebih “terbuka” pikirannya untuk menerima orang lain dengan cara juga membagikan pengalamannya, dan juga kalau orang ekstrovert lebih ” berbicara ke dalam” dari pada keluar, mungkin juga dunia lebih baik. sayangya yang terjadi adalah proses2 pembenaran terus, dari 2 belah pihak.

» Comment by siska — January 29, 2007 @ 11:34 am

Watung says:

Hehe… oke deh. Akhirnya (sebagaimana happy ending lainnya) kita bisa bilang: di satu hal, intro lebih baik; di hal lain, ekstro lebih buruk. Fair, kan?

» Comment by Watung — January 29, 2007 @ 4:49 pm

zarathustra says:

Melalui tulisan Mas Watung ini saya lebih mendapat pemahaman tentang…ibu saya selalu mengajar tanpa kata tentang kehidupan yang baik…rasul selalu mengajarkan implementasi praktis “nglakoni” dan keteladanan tentang kehidupan yang baik, tidak perlu “ndakik-ndakik” berteori…berarti mereka berdua termasuk introvert kale ya ?

» Comment by zarathustra — January 30, 2007 @ 2:46 am

watung says:

Lha itu ’set by example’ namanya. Introvert, ya itu cerita lain lagi… ;-)

» Comment by watung — January 30, 2007 @ 10:34 am

siska says:

“di satu hal, intro lebih baik; di hal lain, ekstro lebih buruk. Fair, kan?”

begitupun sebaliknya.

penambahan dua kata diatas, membuat kalimat diatas menjadi sempurna. baru itu fair.. :))

» Comment by siska — January 30, 2007 @ 12:52 pm

gus lim says:

oh maksud Siska kalimat sempurnanya adalah “di satu hal ekstro lebih buruk; di hal lain, intro lebih baik”.

Iya kali ya :))

» Comment by gus lim — January 31, 2007 @ 10:43 am

siska says:

“sebaliknya” secara substansi, bukan struktur.. (serius deh whahaaa) pokoknya aku stoic membela extro nih, abis intro dipuji2 mulu..keenakan banget..

» Comment by siska — January 31, 2007 @ 11:11 am

watung says:

Eh, ada yang bilang Rasulullah (s.a.w.) itu intro… Beliau sering menyendiri di gua. Benarkah?

» Comment by watung — January 31, 2007 @ 4:02 pm

zarathustra says:

Kalau saya berkecenderungan beliau (Rasul) itu intro…lha wong untuk menyerukan realitas Sang Semesta, ada berpuluh-puluh ayat yang memerintahkan “ayo sampaikan, ayo sampaikan”…mengapa ? Ya karena sejak semula beliau memang tidak pe-de untuk menyampaikannya…alhamdulillah akhirnya setelah memahami takdirnya sebagai “corong” beliau jadi lebih pede…trus jadi ekstro gitu kale ya ???hehehe

» Comment by zarathustra — February 1, 2007 @ 5:08 am

diannovi says:

dalam kisah kenabian, banyak nabi yang membutuhkan seorang sahabat sebagai penutur. detilnya bisa dibaca di perjanjian lama. atau di Alqur’an contoh yang paling mudah adalah saat Musa bermohon kepada Allah agar menjadikan Harun sebagai ‘perpanjangan’ lisannya. orang-orang mulia umumnya memang tidak dikenal awam, kebanyakan umat. contohnya seorang Syamsi Tabriz tidak akan dikenal tanpa Rumi. sampe sekarang kita mengenal kekaryaan Rumi, Al-Ghazali, kedigdayaan Alexandre the Great, raja-raja Bani Israel bahkan mumpuninya Ki Hajar karena ada orang-orang ‘terang’ dibelakang mereka. orang-orang ini -yang tidak mudah dikenali- mungkin masuk kategori introvert, ya. yang saya amati dari tipe kepribadian ini, orang dengan pribadi introvert itu memang umumnya lebih reflektif, berpikir mendalam, dan idenya cenderung orisinal, kuat dalam memegang suatu konsep, peka atau sensitive. sesekali mari kita praktekkan, kalo dalam beberapa hari ini mengurangi obrolan, lebih banyak berdiam, mengamati, pasti lebih banyak hal yang bisa kita pelajari. sebagaimana Zakaria ‘dipuasa bicara-kan’ oleh Allah ta’ala sebelum hadirnya Yahya adalah karena saat itu turun hikmah yang banyak yang kemudian manifest dalam kelahiran Yahya. saat Nabi menerima wahyu biasanya mereka akan menyendiri, contohnya saat Ibrahim diperintah menyembelih Ismail, beliau membutuhkan ‘berhening diri’ di beberapa tempat untuk dapat membangun komunikasi yang dalam denganNya ta’ala. demikian pula Nabi Yunus dalam perut ikan, Yusuf dalam sumur dan penjara dan banyak lagi. secara fisikpun, umumnya orang dengan tipe ini akan lebih sehat. kenapa? karena dalam ‘keheningan’ itu mereka jadi lebih leluasa mendengarkan dirinya; apa kebutuhannya, mana yang menyehatkan, mana yang tidak. umumnya orang pasti akan mengalami fase introvert; saat usia lanjut ditinggalkan anak-anak dan pasangan, misalnya, saat sakit sehingga nyaris sulit bicara. kesendirian, kesulitan kontak dengan lingkungan akan membuat seseorang membangun hubungan dengan sesuatu yang lebih halus, lebih sejati dan lebih menyegarkan. dalam psikologipun bisa dipahami, dikenal dengan istilah kompensasi, simpelnya kalo fisik ‘dilemahkan’ maka aspek batin akan lebih kuat. ga heran kita diperintahkan berpuasa untuk menguatkan aspek batin (jiwa dan segenap ikutannya) ini. saya dan beberapa kawan juga lagi pingin mendalami tipe kepribadian ini, Mas, kalo di Multiple intelligences mungkin setipe dengan intrapersonal, ya. sekaligus supaya kami bisa menempatkan si intovert ini dengan tepat dalam dunia yang cenderung mengakomodasi kaum ekstrovert. dan agar ibu guru di sekolah tidak salah men-treat pribadi yang satu ini. bicara kepribadian emang kompleks banget si. tapi menarik. thanks for the inspiring article;)

» Comment by diannovi — February 1, 2007 @ 10:49 am

watung says:

Nah! Thanks, diannovi. Untuk yang lain, diannovi is a psychologist… Isn’t it nice to hear from the official source? ;-) Cheers!

» Comment by watung — February 1, 2007 @ 11:13 am

siska says:

Menurutku ya, kebutuhan refleksi itu adalah kebutuhan setiap orang. Dan bukan berarti orang yang introvert adalah orang yang kualitas refleksi itu lebih dalam. Aku gk tau ya, kepribadian para nabi itu ekstrovert atau introvert, tapi yang jelas mereka adalah manusia2 yang suka berefleksi. Dan aku kira itu nggak ada hubungannya sama corak kepribadian. Di sini agaknya mensimplekan orang2 ekstrovert itu, sebagai orang yang suka ngomong. Salah banget. Orang ekstrovert itu adalah orang yang nggak ragu buat mengekspresikan pendapatnya, dan mengclearkan posisinya. itu pendapatku loh. Nggak tau pendapat para psikolog. Orang ekstrovert lebih mudah diajak komunikasi, sebab dia akan secara jelas mengemukakan apa yang dia pikirkan, rasakan, tanpa ada halangan. Orang ekstrovert punya kelebihan dalam proses encoding apa yang ada dalam otaknya, dan mengekspresikannya keluar (baca: melakukan komunikasi) dan Menurutku lagi sih, komunikasi adalah hal yang cukup penting dan menyelesaikan dalam kehidupan. Aku bukan psikolog sih, jadi pendapatku ini cuma berdasarkan kehidupan sehari2 bukan teori. Aku cuma sering ngobrol sama berbagai macam orang, dari introvert dan ekstrovert. Dan aku ngerasa kualitas opini orang introvert dan ekstrovert nggak berbeda. Sama aja. Yang menentukan kualitas opini seseorang itu adalah sejauh mana dia bisa mencerap realitas, mengencode dan mengemukakanya. Kadang yang suka aku sesalkan dari orang introvert adalah, kita suka gk tau apa yang sebenarnya mereka pikirkan, menduga2, dan gk clear. Akibatnya banyak masalah jadi gk selesai jika berhadapan dengan orang2 introvert ini. Kadang2 orang introvert ini suka menyimpan2 perasaan atau pemikiran, dan tau2 meledak. Nah ini masalah banget. Sering banget aku berurusan dengan orang2 introvert, dan rasanya gk nyaman. Sebab buatku sikap yang jujur, jelas, dan terbuka membuat kita lebih cepat menagkap situasi dan memecahkan suatu permasalahan.
Kalau aku liat dari hadits-hadits nabi muhammad saw, beliau cukup terbuka dan mengekpresikan pendapatnya dengan lugas. Apalagi Aisyah, aku yakin Aisyah adalah seorang ekstrovert. Aku kira dunia membutuhkan dua corak kepribadian ini.

» Comment by siska — February 1, 2007 @ 12:09 pm

watung says:

siska wrote:
> Kadang yang suka aku sesalkan dari orang
> introvert adalah, kita suka gk tau apa yang
> sebenarnya mereka pikirkan, menduga2, dan gk
> clear.

Persis seperti kita ngobrol dengan ekstrovert. Coba tanya ke mereka, misalnya, ‘apakah seperti ini?’ It should be a very simple answer ‘yes’ or ‘no’, right? Tapi mereka memulainya dengan soal empek-empek, mesin cuci, iPod, celana dalam, film tadi malem, bosnya yang begini begitu, dan setelah kita ngerasa mereka agak mulai fokus… ‘uhm, sorry what was the question?’ And they start all over again. (Gubraag!) Akhirul kata, kita masih harus merangkum dari seluruh kisah-kisah itu…

Extroverts tend to think by talking. ;-) Sama susahnya.

» Comment by watung — February 3, 2007 @ 10:23 am

ma2d says:

Hmmm.. buat sy yg awam ni. extro or intro cuma klasifikasi general aja. Biar keliatan simple beda2in orang. heheh.
Pribadi manusia sangat jauh lebih rumit dibanding rumus kalkulus apalagi dibanding dg rumus persepsi.
yg penting terus bergerak, terus cari makna dg memberikan manfaat. kurangi basa-basi.. zzzz…
just an opinion. Wallahu A’lam.

Salam ^^

» Comment by ma2d — February 19, 2007 @ 4:53 am

mmbanget says:

setuju dengan ma2d..
saya sendiri masih belum bs “memutuskan” apakah saya termasuk introvert atau extrovert..
karena di satu sisi saya merasa “kesepian” kalau tak ada teman.. tapi di sisi lain saya termasuk orang yang “tak punya banyak teman”.. yet, that’s not all.. tentu saja, ada kecenderungan yang lebih besar dari masing-masing orang.. apakah dia cenderung introvert atau extrovert.. mungkinkah ada yang 100% introvert atau 100% extrovert?

» Comment by mmbanget — March 1, 2007 @ 9:37 am

watung says:

Betul. Ya memang seperti itu. Personality test juga nggak bilang “eh elu 100% intro/ekstro”. Tapi lebih ke kecenderungan ke arah intro atau ekstro. mmbanget, coba test di sini kalo pengen tahu intro/ekstro.

» Comment by watung — March 1, 2007 @ 5:07 pm

eksintrovert says:

hidup siska…hidup siska…inti omongan dari siska adalah…jangan merasa sok suci n sok benar…nanti jatuhnya jadi bomber bunuh diri…trus ngebom sembarangan…gitu kali ya

» Comment by eksintrovert — April 5, 2007 @ 12:42 pm

introverters says:

tanggapan2 dari para ekstroverter2 inilah sudah membuktikan bhw tulisan diatas bisa dipertanggung jawabkan. Dengan menanggapi yang seakan-akan menyerang kaum introvert! menunjukkan bahwa para ekstroverter merasa “lebih” dng tidak ingin diam!!! sambil mengambil contoh kasus pengeboman yg ngga ada kaitannya sama sekali!!! diamlah sejenak ekstroverter…COOLING DOWN! Satu lagi, buat siska…siapa bilang kaum introverter tidak bisa berkomunikasi dng baik? dan bnyk potensi ngga kepake??? seandainya ada kesempatan, saya ingin mengajak Anda bertaruh untuk presentasi di muka 500 orang di forum internasional: Anda (yg mengaku ekstrovert) atau Saya (introvert), mana yang lebih komunikatif & berpotensi….

Seorang Kandidat Doktor di Eropa

» Comment by introverters — April 29, 2007 @ 4:50 am

mas blangkon says:

mas watung,

Sungguh menarik topik ini…saya mencoba melihat diri saya sendiri… apakah saya ini seorang intovert atau ekstrovert.

Ketika pengalaman saya berbicara sebagai seorang “sales” (kuli..krn masih kerja) banyak orang tertegun,percaya, dan akhirnya membeli terhadap barang yang saya tawarkan….tetapi akhir-akhir ini pikiran saya melayang..layang beradu argumentasi ketika saya ingin menjual “produk” saya sendiri…(bukan pegawai..),lama berpikir dan menghitung resiko, sedikit bertindak…. Terkadang ingin berkoar-koar spt ketika masih sbg penjual..eh pegawai…

Introvertkah?………..Ekstrovert?

» Comment by mas blangkon — April 30, 2007 @ 3:46 pm

boing gorky says:

Ada orang yang introvert, dan ada yang extrovert. Itu sudah dari “sono”-nya. Yang penting, bagaimana kamu bisa maju dalam ke-introvert-anmu. Kata kuncinya adalah kreatif dan percaya diri. Banyak yang bisa dilakukan oleh seorang introvert, misalnya menjadi penulis Novel, atau penggubah lagu, atau peneliti fisika, atau ahli perpustakaan, atau disainer grafis, pokoknya apa saja yang bisa membuat jiwamu sibuk dan berkreasi sendiri.

Jadi: jadilah seorang introvert yang baik, bukannya mengubah dirimu menjadi extrovert.

» Comment by boing gorky — May 4, 2007 @ 10:12 pm

oryza says:

minta ijin copy paste artikelnya ya :)

» Comment by oryza — May 24, 2007 @ 10:07 am

yosi says:

gk masalah c tu orang maw introvert ato ekstrovert, yg penting jgn berlebihan aja. coz yg berlebih itu gk baik. artinya terlalu introvert ato ekstrovert pasti ada efek samping nya

jujur kalo baca artikel td, jd ngrasa kalo ak termasuk orang introvert.

oh ya Enstein itu introvert ato ekstrovert? katana suka menyendiri?

trus menurut gw, diem itu lebih baik drpd banyak bicara, coz kata Nabi lebih baik diam drpd berkata yg gk bermutu/gk baik, bisa2 jd fitnah
makasih

-[yOsiSsa]-

» Comment by yosi — August 1, 2007 @ 2:16 pm

dejavu says:

Intro adalah kepribadian yang merefleksikan.orang ekstro acap berkata yang ga perlu untuk diucapin,bertindak yang ga diperluin,mereka acap over dalam suatuy hal,dan memang keliatanyya mereka itu selalu mendeskritkan yang intro,mereka ga paham dan ga mau untuk memahami yg intro,sedangkan orang intro dapat mengetahui sifat2 si ekstro krena lebih”memperhatikan”…orang ekstro itu memandang dari balik telapak tangan…so small thinking”
Bravo intro!!!!!

» Comment by dejavu — September 3, 2007 @ 4:15 pm

Postinus Gulo says:

Seringkali ilmu itu menjadi “tembok”, juru kunci menilai pribadi seseorang. Padahal, ada banyak pakar filsafat yang mendengungkan bahwa hidup jauh lebih kompleks dibanding yang kita jelaskan. Saya banyak membaca buku psikologi yang membahas sifat ekstrovert dan ekstrovert seseorang. Namun, di situ selalu diakui bahwa kedua sifat manusia ini sama-sama memiliki plus-minusnya. Walau orang yang introvert kurang bergaul dan tidak memiliki banyak teman namun pertemanannya mendalam. sedangkan ekstrovert cenderung “hiper” dan memang gampang bergaul tetapi juga pergaulannya biasa-biasa saja.

Trim’s

» Comment by Postinus Gulo — September 8, 2007 @ 9:12 pm

Pitus says:

Ijin copy artikelnya

» Comment by Pitus — October 8, 2007 @ 9:49 am

brokenvow says:

nice..(^-^)…thanks bantu buka pikiran buat skripsi gw…

» Comment by brokenvow — October 16, 2007 @ 11:40 am

Dewa Ayu Deaninggra says:

Baik introvert dan ekstrovert,kedua-duanya pasti ada baiknya dan buruknya.See?Kedua-duanya,dimiliki oleh orang yang hebat dan patut diteladani.Orang-orang yang introvert dan ekstrovert bila digabungkan di dalam suatu pekerjaan,pasti hasilnya akan sangat baik karena kedua-duanya memiliki kelebihan yang unggul..

» Comment by Dewa Ayu Deaninggra — December 4, 2007 @ 8:53 pm

Watung says:

betul sekali, dewa. intro & extro digabungkan dlm satu pekerjaan… mmm… nah ini pertanyaan: intro & extro itu complementary gak ya? atau malah opposite? ;-)

» Comment by Watung — December 5, 2007 @ 10:00 am

Dewa Ayu Deaninggra says:

In my opinion…
Introvert dan ekstrovert..memiliki sikap yang berlawanan.Tetapi,karena sikap yang berlawanan itu mereka bisa saling melengkapi.
Hoho.:)

» Comment by Dewa Ayu Deaninggra — December 15, 2007 @ 8:46 pm

dimsum says:

wheew! usefull article, menurut gw memang keberadaan kaum introvert diplot sebagai pemikir konsep oleh yang sang pencipta. sedangkan kaum ekstrovert diplot sebagai praktisi konsep. Jadi keberadaan mereka memang saling melengkapi..

btw ikut copy paste yaa :D

» Comment by dimsum — January 24, 2008 @ 4:16 pm

choy says:

dulu SMP aQ anak yang amat asyikkk…
knp waktu SMA aQ jadi pendiem??? Dan terlalu sibuk dengan diriQ sendiri.!
skrang aQ dah maw kuliah. AQ takut gak dapet temen di kampus gara2 aQ terlalu pendiem. Padahal sebenarnya aQ bukan pendiem. gak tau apa yang bikin aQ berubah.
help me!!!!!!
apa mungkin aQ introvert??/
adakah obatnya??

» Comment by choy — February 26, 2008 @ 4:04 pm

bazz says:

it’s me… really me…
saya merasa gelisah jika sedang berada ditengah banyak orang. lebih nyaman sendiri. merasa canggung jika bertemu dengan orang baru….

» Comment by bazz — March 4, 2008 @ 1:34 pm

choy says:

aQ mau meninggalkan SMA dengan kesan yg baik bwt tmn2 yg aQ sayang.
tap1 mereka tdk pernah tau tentang aQ.
apa yg harus aQ lakukan.
Please help me….
yuphi_90@yahoo.com

» Comment by choy — March 13, 2008 @ 1:41 pm

Arcf says:

Ya gw sadar,,, gw orang introvert.

» Comment by Arcf — April 19, 2008 @ 9:33 am

rose says:

tulisannya menarik..aku tertarik untuk lebih mengenal orang intro sama ekstro..tapi yang aku penasaran ni dan pengen tau banget..(mohon dijawab), foto cewe yang disamping kanan michael jordan siapa ya?
terima kasih buat jawabannya.makasih juga dah membahas topik ini..;)

» Comment by rose — April 29, 2008 @ 1:38 pm

watung says:

#rose
J.K. Rowling, pencipta Harry Potter.

» Comment by watung — April 29, 2008 @ 3:33 pm

viddie says:

seperti kata pepatah bro tong kosong nyaring bunyinya,, dan air beriak tanda tak-dalam ? gw bangga menjadi seorang introvert hidup gw damai,, dan gw juga bisa sukses dalam pekerjaan, dengan tidak perlu berkoar-koar… berbicaralah saat bicara itu diperlukan wahai kawan…

» Comment by viddie — May 1, 2008 @ 11:12 pm

smartilicious says:

baca artikel ini…aku jadi makin yakin kalo mang tmsk intro. bkn dlm rangka mrasa lbh baik kok..krn toh pd dasarnya intro ma ekstro bsifat komplementer. thx buat tulisan ini…really enjoy it. mt ijin utk diadaptasi di blog saya dg bbrp perubahan. thx in advance.

» Comment by smartilicious — June 1, 2008 @ 12:10 am

tambun says:

ehm,…
introvert dan ekstrovert merupakan orientasi umum jiwa dalam berhubungan dengan dunia oleh Carl Gustav Jung,..
menurut saya, baik introvert maupun ekstrovert tdk bs di judge mana yang lebih baik,..
keduanya memiliki kelebihan pada orientasi masing-masing,..
seorang introvert jg memiliki sisi ekstrovert begitu pula sebaliknya,..ekstrovert memiliki sisi introvert dalam dirinya,..
semua tergantung individu introverter ato ekstroverter memanfaatkan kelebihannya dalam setiap kondisi yang berbeda,..

» Comment by tambun — June 24, 2008 @ 4:04 pm

de_lima says:

aq termasuk orang yg introvert, aq lebih senang menyendiri, sulit bergaul, sensitif bgt klo ada temen yg ngomongnya suka nyakitin, wlpn mkn maksud dy ga gitu, lebih sering menyalahkan diri sendiri padahal sbenarnya aq ga salah2 amat. sebenernya aq pgn keluar dr belenggu keintrovertan ini, karena menurutku jadi orang yg introvert itu sgt ga enak bgt, selalu merasa kesepian dlm keramaian, aq pgn ngilangin sifat intro ini tp ga tau gmn caranya, kira2 ada yg bs ngasih tips bwt aq? trim sblmnya.

» Comment by de_lima — July 12, 2008 @ 2:53 pm

harrycalgery says:

hmmm, menarik sekali postingannya. Jujur aja, saya 68 % intro.

Mungkin intro dengan ekstro ini bisa diibaratkan dengan, kalau ekstro itu “have strength in their out side”, tapi intro itu lebih ke “have strength in their in side”…Nah, makanya kalau intro lagi berargumentasi dengan ekstro, biasanya ekstro jauh lebih mendominasi. Tapi jika seandainya brainnya orang2 intro dan ekstro sama2 bisa dilihat dengan “mata”, menurut saya orang2 intro jauh lebih mendominasi, jauh lebih berisi dibanding orang2 ekstro… imho…

» Comment by harrycalgery — July 23, 2008 @ 4:17 pm

eenta says:

w org yg introvert…n bner org2 tu pd menyalah artikan org2 yg introvert,,,
bnyk yg blg gw sombong,,angkuh,kuper,pilih2 dsb..bahkan ad yg smpe neror gw,,mungkin dy sakit hati krn W g mw ngomg (sbnr’n bkn g mw ngomong, tp W lg pngen diem,,sprt yg dkatakn tulisan d atas W prlu mnambah energi dulu)
asli 2 bwt W sedih bgd…mreka g ngerti klo w tu butuh wkt u mnyendiri…
seandainya mreka tw gw pengen bgd bsa ngobrol lama2,,supel kya mreka…tp gw g bsa,,blm bisa tepat’n…

satu lgi kdang org2 sperti gw dmanfatin ma org yg g pnya hati,,,kdg mreka mw dket ma gw klo musim ujian (bukn’n sombong,, tp gw trmasuk mahasiswa cerdas dbanding tmn2 yg lain)…masih bnyak ketidakadilan yg gw trima,,,pi g mungkin gw crta dsini..ni bkn forum curhat to…
n_n

» Comment by eenta — August 28, 2008 @ 12:15 pm

eenta says:

o ya klo bleh mnta saran..gmna cara mengeksplore potensi yg ad pd se2orang yg introvert,,krna ju2r saya plg susah mengemukakan pndapat pdahal saya ingin skali menluarkn pndapat itu…bawaan’n takut,,minder,,,tp sya punya potensi…
bingung jdi’n…

» Comment by eenta — August 28, 2008 @ 12:23 pm

mencari_jatidiri says:

Great Blog, Bro..
w sndri ngerasa klo dri w 80% seorang introvert.
w sndri jg g tw knp bs jd begini.
padal yg w tw, dulu pas msh skul, w bs jd pribadi yg ceria ( maybe terpengaruh lingkungan kali ya )
w ngerasa Lingkungan skul bs Lbh ngertiin w, dibanding Lingk. kuarga yg cenderung menekan, n’ujung2 nya w g bs jd diri sndri, srg minder, n’pendiem. (Loh, koq jd curhat):D

yah pendapat w, keluarga berperan penting dlm membentuk kepribadian seseorang mjd in/ekstrovert,

karna in/ekstrovert itu bkn lah sebuah pilihan. saya sendri yg seorang introvert klo bisa milih, pengen bgt bs jd seorang yg ekstrovert yg mudah bergaul n’ supel. karena g bs dipungkiri bersosialisasi adlh kebutuhan setiap manusia, meski di lain sisi brain jg berperan penting.

» Comment by mencari_jatidiri — September 11, 2008 @ 11:07 am

rubellious says:

begini…
baru2 ini saya baru menyadari kalau saya ternyata adalah seorang introvert

saya sangat kaget awalnya. setelah di gudge sebagai seorang introvert di sebuah quiz online, saya langsung bertanya pada ibu saya apa benar beliau selama ini melihat saya sebagai introvert juga, karna selama ini saya pikir saya extrovert, yang senang bersama teman2 dan bercanda dsb.

ternyata ibu saya sangat mengiyakan. beliau bilang saya memang terlihat ceria. tapi itu hanya bila saya berada di dekat orang2 tertentu yang memiliki tingkat kenyamanan tinggi untuk saya.

dengan kata lain beliau menyebut saya “jago kandang”

saya masih tidak yakin.

lalu saya cerita di blog saya kalau saya di katakan sbg seorang introvert. dan keesokan harinya, seorang teman menulis blog di web nya ttg blog saya dan orang2 baru di sekitar saya yang menurut dia telah menjauhkan saya dari dia.

lalu saya beri penjelasan. dan betapa kagetnya saya, dia berkata, sekarang saya jadi tahu benar kalau kamu memang seorang introvert. begitu.

wow. saya surprice lagi. dan mulai mencari2 di internet dan ketemulah web ini.

sebagian besar tanda2 introvert yang mas watung berikan di atas, juga saya miliki. dan itu lah memang perasaan saya. walaupun saya tidak pernah merasa para extrovert di sekitar saya adalah beban dan meremehkan saya dsb… tidak.

tapi terima kasih mas atas berbagai penjelasannya, saya jadi tahu kalau saya termasuk kaum yang minoritas itu ^ ^

salam. rube

» Comment by rubellious — October 9, 2008 @ 12:34 am

Aya says:

Saya cewek, umur 22 tahun.

Saya introvert lebih dari 90%
Saya bekerja di perusahaan jepang yang mayoritas diisi orang indonesia. Dan saya direkomendasikan oleh HRD dan training center sebagai karyawan sangat cerdas dan mempunyai IQ sangat tinggi.
Saya masuk ke jajaran posisi dimana banyak pesaing di dalamnya. Pada awalnya saya sangat positif sekali masuk ke dalam posisi saya, dan saya suka persaingan sehat di dalamnya. Seperti yang dibicarakan pada tema, sifat-sifat saya dalam belajar memang lain dari pada orang-orang yang kebanyakan ekstrovert. Di sinilah awal mulai masalah.
Saya dianggap sombong, diftnah, dianggap sok pintar, dianggap angkuh terhadap rekan-rekan yang lain.
Sedikit penggalan kenyataan bagaimana masyarakat luar yang kebanyakan kurang mendukung adanya individu yang berbeda(introvert).

Thanks.

By 22th-CGirl

» Comment by Aya — October 17, 2008 @ 2:27 pm

Iin says:

pagi ini aq baru menyadari bahwa aq adl introvert…
menurut test sih 80%…

aq sempet shock…
tadinya aq menyangkal…tapi semua ciri2 n tanda2 yg ditulis di berbagai blog,
memang bener2 exactly seperti yg ada pada diri aq..

selama ini aq selalu merasa jadi orang aneh,
gak banyak orang yg bisa berteman ma aq,
sejauh ini aq cm punya 1 sahabat perempuan..
temenku kbanyakan laki2, alasannya karena gak ribed..
perempuan itu biasanya banyak ngomong yg gak penting..

aq selalu dbilang sombong,
gak bisa jaga prasaan orang krn suka nyeletuk yg nyelekit..

aq dbilang pilih2 temen krn cm mau bergaul ma orang2 yg menurut penilaian aq gak rese…

IQ aq biasa2 aja..
tapi cara berpikir aq agak beda, aq selalu berpikir dengan cara yg gak sempat orang lain pikirkan..

apalagi aq dsinyalir punya bakat supranatural…
hmmmm… what a perfect match to be a wierdo…

wakakakakakakakakakakakakakakakakakaka

ah…lega rasanya..
padahal beberapa menit lalu aq masih nyangkal kl aq introvert…

» Comment by Iin — October 27, 2008 @ 1:42 pm

bagas says:

tadinya gue pikir gue introvert, tapi setelah baca beberapa artikel lain di internet, gue yakin gue hanya 25% introvert (soalnya gue mikir dulu apa yang bakal gue omongin dan gue memerhatikan setiap detail — eh, apa ini perfeksionis ya?) dan 75% pemalu… ahaha,,

» Comment by bagas — December 18, 2008 @ 4:29 pm

lalita says:

bagi org2 introvert intinya adl… “Silent is Gold”…^o^

» Comment by lalita — December 29, 2008 @ 2:46 pm

andre says:

mnurut gw sih…. gabungan dre intro ama ekstro itu lbih baik deh… dre pada mencari kesalhan satu sama lain.. toh wa liad komen2 d ats bilang” klo seseorang itu tidak 100% introvert atau ekstrovert”..
mksih neh artikel na mas watung…
jd tmbh ngrti klo berhadapan ama orng2 introvert..
^_^

» Comment by andre — January 2, 2009 @ 12:52 am

Rinda Puspasari says:

Mas..saya nunut copy ke blogger saya ya..maklum saya intovert juga..thanks for the article..very nice and cool..

» Comment by Rinda Puspasari — January 7, 2009 @ 4:15 pm

x-eyes says:

sebenarnya tidak ada yang namanya seseorang itu cenderung introvert atau extrovert, saya sgt tidak setuju pengotak2an seperti itu. jiwa dan sifat psikologis manusia itu kompleks, ga bisa kita memutuskan bahwa si A adalah introvert, atau si B adalah extrovert. sifat2, pola pikir, atau gelombang otak baik introvert atau ektrovert tersebut terjadi karena akumulasi perlakuan2 yang terjadi dan dialami jiwa kita.sebagai contoh adalah seseorang menyendiri untuk wkt yang agak lama krn sesuatu hal, mengasingkan diri dari kehidupan sosial di tengah masyarakat, otomatis dia akan mempunyai pola pikir dan gelombang otak yang berbeda dengan org introvert. Hal tersebut merupakan akumulasi yang terjadi akibat perlakuan mereka yang mengasingkan diri tersebut.
seseorang yang sudah mempunyai polapikir, pandangan, seperti ini bisa saja keluar dari keintrovertannya.. udah banyak kok contohnya, contoh nyatanya udah di pampang di artikelnya tuh tokoh2 seperti JK rowling, Steven Spielber, dll
pada awalnya memang mereka cenderung introvert.. tapi apakah selamanya mereka introvert? jika iya.. mereka tak akan mungkin seperti sekarang ini menjadi supertar dan terkenal, bakatnya lah yang membuat mereka lepas dari keintrovertaannya tersebut.

banyak alasan seseorang untuk menyendiri diantaranya:
1.orientasi
kesendiriannya adalah untuk keperluannya, atau memang profesinya menuntut jadi penyendiri. biasanya ini dilakukan para ilmuan2, atau penulis
2.trauma
seseorang yang trauma dengan sesuatu hal hingga membuatnya malas untuk terjun ke dunia sosial. penyebab inilah yang paling sulit dihilangkan. banyak hal yang menyebabkan trauma sosial ini, contoh yang sering terjadi adalah trauma masa kecil, pernah ga waktu kalian kecil sd ada anak yang mempunyai kekurangan fisik, sprt jelek wajahnya, monyong, dll maka tmn2nya akan mengejeknya. hal ini jika terus terjadi hingga waktu yang akan lama akan mempengaruhi dirinya hinga saat dewasa. coba perhatikan tmn2 SD anda dulu, bagaimana keadaannya skr..?

tapi jgn khawatir bagi kalian yang ingin lepas dari introvert.. itu bisa kok terjadi mulailah dengan proses yang kecil2. saat ini aja aq lagi introvert, cara aq berkomunikasi dng org2 ga seperti dulu,aq seperti ini memeng karena selama satu beberapa bulan aq menyendiri untuk mencari sesuatu. tapi gpp aq sering kok merubah diriku menjadi gamapang bersosialisasi dan aq juga pernah hilang kepercayaan diri.. semua situ bisa saja berganti.

» Comment by x-eyes — January 10, 2009 @ 7:08 pm

x-eyes says:

sori ada ralat di baris ke 9
otomatis dia akan mempunyai pola pikir dan gelombang otak yang berbeda dengan “ga org introvert”

» Comment by x-eyes — January 10, 2009 @ 7:11 pm

kizzy says:

menurutku..sudah saatnya intro dan extro berbagi “kekuasaan” terhadap dunia ini.why?;;
aku jg punya temen yang keliatannya intro bgt, dan dia cm punya sedikit temen.aku dah coba ngajak ngobrol (dalam organisasi), tetapi dia seperti abis kecapean aja kalo selesai dialog, ya udah akhirnya aku coba beri dia tugas-tugas trus hasilnya diserahin ke aku dalam bentuk yang udah jadi aj. gmn menurut watung;; bener ga sikap aku?/

» Comment by kizzy — January 27, 2009 @ 5:00 pm

ekhan says:

wah…. saat pusing denga menentukan…. apakah saya adalah seorang yang introvert… akhirnya terjawablah hari ini.. selama ini aku nyari2 artikel tentang ini.. tapi sussaaah banget karena ga tau apa istilahnya…. moga aja bisa menjadi pertimbangan…. apakah aku seorang yang introvert atau sebaliknya…. tapi kalo ekstro kayaknya enggak dech…. tp…? ga tau dech…. bingung… untung banyak orang genius seperti bilgates adalah seorang yang introvert…

» Comment by ekhan — February 14, 2009 @ 10:48 pm

ekhan says:

upss… soryy.. saking semngatnya… ngetiknya ampe terputus…. jadi ga kebaca dengan jelas… hehehe

» Comment by ekhan — February 14, 2009 @ 10:49 pm

gogo the girl says:

Rant: mode on.

argghhhh…. gw sejak kecil udah tau klo gw introvert. En bener banget tuh klo intro sering dpt perlakuan diskriminatif. Udah kenyang mah dr kecil dibilang sombong dll, entah itu tetangga, keluarga… bahkan oleh ortu gw sendiri. Fuck you very very much buat para extrovert sok suci yang bisanya cuman ngejudge n ngegosip ga jelas.

Rant: mode off

Tp bagaimanapun gw jg berterima kasih sama teman2 extrovert gw yg menerima gw apa adanya, menerima apa yg terbaik dr gw, tdk mempermasalahkan kekurangan gw, ga pernah berusaha mengubah gw menjadi apa yg bukan gw. Dan ga segan bantu kalau gw kesulitan dalam hal2 yg bikin introvert kesulitan. Memang segelintir orang spt mereka, tp buat mereka gw rela mati deh klo emang perlu.

» Comment by gogo the girl — February 20, 2009 @ 6:57 pm

dilmahtea says:

hmmm…intro atau pun extro akan terlihat siapa yg lebih baik jika dilihat dari hasil aa yang sudah ia lakukan…dalam berbagai segi kehidupan…
Ya, si extro yang biasa lebih banyak wacana dibandingkan si intro tentu akan menang dalam hal ‘bicara’. Tapi belum tentu dalam bertindak. Bagitu juga dengan si intro yang cenderung diam dan lebih banyak berfikir. Mungkin dia akan lebih banyak bertindak daripada berwacana. Lalu, akan kembali pada penilaian sebagai intro dan extro…
tidak ada yg lebih baik jika dilihat dari siapa itu intro dan siapa itu extro…
Menurut saya, antara intro dan extro akan terlihat siapa yg lebih…ketika diantaranya sudah berhasil ‘melakukan’ suatu hal yang ‘berguna’ bagi manusia lain. Itu saja.

» Comment by dilmahtea — March 2, 2009 @ 6:12 pm

wahyuadinugroho says:

Dari semua komen yang saya baca, ada yang merasa saingan, ada yang ingin mengutamakan kepribadiannya, ada yang setengah-setengah dan juga yang membanggakan dirinya, tapi kalo dicermati bukankah itu semua adalah sebagian kecil perbedaan yang Tuhan udah ciptakan dalam kehidupan ini, dan tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar karena dengan demikian berarti kita juga menyalahkan penciptanya dan tidak ada yang bisa mengubahnya 100%. Memang Tuhan menciptakan manusia semuanya berbeda tidak ada yang seratus persen sama persis bukan? Namun kadang yang membuat perbedaan adalah manusianya sendiri, dan disini sebagai manusia kita tidak ada yang paling super karena kita hanya mahluk Tuhan, mahluk ciptaan Tuhan dan tidak ada yang perlu dibanggakan. Memang setiap kita memiliki anugerah kepribadian karakter yang Tuhan beri.Dan itu harus kita kembangkan dan menjadi kebaikan bagi Tuhan dan sesama.
Tuhan memberkati

» Comment by wahyuadinugroho — March 4, 2009 @ 10:13 am

arikene says:

GAK NGARUH EXTRO ATAU INTRO…
PENENTU KEBERHASILAN MAH KETAQWAAN

amien…

» Comment by arikene — March 5, 2009 @ 11:44 pm

ra says:

banyak banget ilmu yang bisa saya dapet dari diskusi (atau debat?)semua komen yang di atas.
tapi pemilaian manusia itu selalu serba relatif.
ekstro atau intro, yang lebih baik adalah yang paling banyak memberi maanfaat.
cara terakhir untuk membuktikan mana yang secara umum lebih baik, ya ntar kita liat aja, lebih banyak orang intro atau extro yang masuk surga? (ngawur nih)
^_^ heheheh…

» Comment by ra — April 19, 2009 @ 4:53 pm

ibuhi says:

Ya Allah lindungi hamba dari sombong karena kelebihan introvert yang ditulis di atas.. dan dari iri hati karena kelebihan ekstrovert yang begitu ceria selalu dan banyak teman dan tentunya cerdasnya sama dengan intovert.. Ya Allah Engkau Maha Adil seadil adilnya….

» Comment by ibuhi — April 20, 2009 @ 3:35 pm

Dhani says:

Permasalahannya adalah sifat2 tersebut merupakkan sifat bawaan, jadi tidak bisa di salahkan, baik buruknya sifat tersebut, akan tetapi yang bisa kita lakukkan adalah bagaimana kita (intro and extro) saling memahami sifat-nya masing!!..

» Comment by Dhani — April 22, 2009 @ 8:18 am

juzz says:

introvert ataupun ekstrovert mungkin adalah sifat bawaan, namun bagi yang punya sifat terlalu introvert ada baiknya untuk mulai membuka diri dengan orang lain. sebab banyak kasus stress, depresi bahkan bunuh diri banyak terjadi karena orang tersebut tidak bisa membuka diri alias terlalu tertutup

» Comment by juzz — May 15, 2009 @ 2:18 pm

ridho says:

Artikel yang menarik… Saya perlu informasi yang lebih tentang karakteristik yang introvert ini. Misalnya faktor apa saja yang membuat seseorang menjadi introvert? Saya selalu merasa terbuka, amun sering menjadi yang introvert pula… Thanx.

» Comment by ridho — June 4, 2009 @ 12:31 am

gilang says:

intinya sih,, 100 kali mendengar, 1000 kali berpikir, 1 kali bicara,,
extrovert’s okai,, asal bukan tong kosong nyaring bunyinya

» Comment by gilang — June 21, 2009 @ 10:44 pm

krisanti says:

sebenaranya introvert memang sering disalah artiin sombong,..tapi nggak jarang mereka jauh lebih baik dari ekstrovert…apalagi yang tong kosong berbunyi nyaring..introvert sebenarnya berpikir keras apa yang bener2 harus diperbuat,,..bisa dibilang setiti banget…sempet jadi introvert kok…dan rasanya…..rasakan aja sendiri…jauh lebih asyik,..kita juga nggak akan gampang malu2in diri di depan orang banyak…

» Comment by krisanti — June 23, 2009 @ 11:12 am

lisa says:

ya setuju

» Comment by lisa — June 28, 2009 @ 2:51 pm

malumenyadariternyataakuintropert says:

berhasil, ternyata aku intropert, selama ini selalu kusanggah. ingin terkesan ekstropert

» Comment by malumenyadariternyataakuintropert — September 1, 2009 @ 5:13 pm

ochid says:

intro is maestro,huwehehe..bcoz me adl seorang intro ^^. watung ada benarnya,,but..we must to know kalo alam diciptakan “dua sisi” spt siang & mlm, laut & langit, etc.bgtu juga Tuhan mnciptakan mnusia.Tjuannya tentulah tdk u mbuat slah stu pihak merasa pling benar,,namun adl sling mngerti dan mngisi. Karena inti dari kehidupan ini adl keseimbangan(klo g seimbng lg kiamat kale y^^). Bgi para intro jngn maksain diri jd extro,namun galilah kemampuan diri. karena yang paling bahagia adl apbila qt bisa berarti dan bermanfaat bgi orang lain..Intro VS extro,,ehm big NO NO !!!

» Comment by ochid — September 29, 2009 @ 12:14 pm

ochid says:

4 watung : amazing article, merasa tak sndiri di dunia ini^^

» Comment by ochid — September 29, 2009 @ 12:22 pm

bibi says:

bibi senang dng aricle ini.tengkyu watung

» Comment by bibi — September 29, 2009 @ 12:27 pm

brigitha says:

Bagus nih artikelx
Soalx di skul aq sring dibilang2 sombonglah , kaku , pendiam… Kayak udah tau bnget ae siapa diriki yg sbenarnya!!! XD
Bwt Para introvert : GOd LUck! Terus berusaha Menjadi diri sendiri!

» Comment by brigitha — September 29, 2009 @ 8:34 pm

nengĀ®atna says:

sendirian.. apa salahnya? yang penting nggak individual

» Comment by nengĀ®atna — October 3, 2009 @ 9:45 pm

machamania says:

nothing wrong by being an introvert
lewat artikel ini aq jdi paham bahwa org introvert itu istimewa
dan aq g nysesl dilahirkan sbg seorang introvert
bwt tmn” introvert smangat yaaa:) qta memang manusia istimewa :)

» Comment by machamania — October 10, 2009 @ 11:36 pm

fulsya alamsyah says:

menurut saya memang sesuatu yg berlebihan itu tidak baik!!!
jadi yg normal2 ajah lahhh

» Comment by fulsya alamsyah — October 14, 2009 @ 1:56 pm

wong tjok djioe says:

Terima kasih banyak telah memberi uraian yang mencerahkan. Ya bagus sekali tulisannya. Saya juga seorang introvert.

» Comment by wong tjok djioe — October 25, 2009 @ 1:35 pm

sharee says:

Klo dari ciri2 di atas, aq termasuk org yg intro. Apalagi wkt msh di sekolah dulu. Tertutup banget..Tapi 2 tahun kerja, perlahan2 mulai berkurang. Aq udh bs bergaul dan kandang q makin membesar,,bkn cm d rmh, tp d lingkungan kntr, aq sdh mulai bs beradaptasi. Malah bs dibilang jd extrovert. ya, walau tdk sepenuhnya extro banget krn kadang msh suka menyendiri.
Jadi, menurut aq sih,,intro ataupun ekstro itu ada di masing2 individu, hanya kadarnya saja yg berbeda. Ada org yg % sifat intro nya lebih besar atau sebaliknya..dan tergantung dmn berada.
Mungkin untuk yg baru kenal menganggap aq intro, tp klo yg udh dekat mrka bakalan tau klo aq jg bs jd extro…
See!!..Ngapain jg diributkan,,Yg penting kita bs enjoy dgn hdp kita & jadilah diri sendiri..

» Comment by sharee — November 14, 2009 @ 10:43 pm

oka says:

wacana yang bagus, thanks infonya.
menurutku intro ato ekstro adalah tipe tiap2 orang, dan penting mengetahuinya untuk aplikasi dalam kehidupan sehari-hari.

emang punya plus minus msg2 ya. saya sendiri juga termasuk introvert. tapi ga lantas bangga menjadi seperti itu dan tak mau membenahi diri dengan beralasan, “aku ini introvert”, atau “aku kan ekstrovert”.

tiap sesuatu punya kelebihan dan kelemahan, ga ada yang sempurna. maka dari itu cukup ambil yang baik dan tinggalkan yang buruk.
kalo dalam syari’at Islam tu taqwa, melakukan segala yang diperintahkan dan menjauhi semua yang dilarang.

saya kira ini cukup obyektif untuk mewakili semua sisi, mudah2an bermanfaat. sekali lagi thanks infonya, sukses..

» Comment by oka — December 31, 2009 @ 9:29 pm

schonmeteor says:

nice note..lagi mencoba memahami kaum introvet hehehe

» Comment by schonmeteor — January 21, 2010 @ 2:34 pm

dhee says:

introvert itu orientasi,
maka enjoy aja krn bukan sesuatu yg buruk, maksimalkan potensi diri yang dimiliki oleh introvert,it’s a gift

» Comment by dhee — February 23, 2010 @ 12:27 pm

ries says:

thanks buat artikelnya… setidaknya dapat membantu ku untuk menjelaskan kenapa ak tidak seperti yg mereka pikirkan, memang tidak enak menjadi seorang iintrovert.

» Comment by ries — March 26, 2010 @ 11:37 am

ladyluna10 says:

makasih sekali buat artikelnya. Sangat membantu buat saya lebih memahami diri sendiri :)

saya seorang introvert - setelah bertahun-tahun menjalani hidup - baru akhir-akhir ini berani menegaskan: saya adalah seorang introvert dan saya bangga akan itu.

Benar dengan yang ditulis dalam artikel itu, di dalam dunia ini - terlebih di kota2 besar, seseorang selalu dituntut untuk berkepribadian introvert oleh lingkungannya - Anda mau sukses: jadilah pribadi ekstrovert - supel, ramah, terbuka, punya selera humor yang baik.

Padahal, pribadi introvert punya cara sendiri untuk mendapatkan sesuatu yang dimaui. Saya misalnya bisa senang dan bersemangat, jika melakukan apa yang sesuai dengan diri saya, dan tanpa paksaan. Tuntutan diatas, kadang membuat pribadi introvert justru tertekan, dan kehilangan diri sendiri.

jika orang menggali dari luar, introvert menggali dari dalam, dan itu didapatkan dari menyendiri (benar sekali kata artikel di atas bahwa introvert butuh waktu untuk merecharge energi yg ada di dirinya, untuk kemudian tampil kembali).

tak mudah memang untuk memahami seorang introvert - bahkan untuk saya sendiri - terkadang masih mengelak bahwa saya mempunyai 75 persen kepribadian ini.

Namun, justru pribadi introvert sesungguhnya adalah pribadi yang mudah ditebak karena mereka paling tidak bisa berbohong dan paling apa adanya - meski rentan depresi jika terlalu berkutat dengan pikirannya sendiri.

salam,
ladyluna10

» Comment by ladyluna10 — April 6, 2010 @ 2:16 pm

Aurora is an introvert says:

tidak ada yg salah dengan ekstro dan intro..karena keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing2..Dalam agama islam, kita disuruh untuk menyambung silaturahmi namun tidak boleh terlalu banyak berkoar2 or with another says (talk less do more) karena Allah SWT membenci org2 yg terlalu banyak omong yg sia2..berkata baik atau lebih baik diam..jadi keduanya (baik ekstro maupun intro) memiliki kelebihan masing2..dan terlalu pendiam juga tidak baik cuz you will lose chance to sell yourself..

» Comment by Aurora is an introvert — April 6, 2010 @ 10:12 pm

estrella89 says:

Izin copas ya..
Thx..

» Comment by estrella89 — April 10, 2010 @ 11:19 pm

amsal2frida says:

Intro jadi ‘alien’ di dunia ekstro dan ekstro jadi ‘alien’ di dunia intro

Dan g adalah intro…thx buat artikelnya…membuat saya lega, ternyata saya tidak aneh…hanya berbeda…^^

GBU.

» Comment by amsal2frida — May 15, 2010 @ 6:55 pm

Rafid says:

sepertinya intovert itu cocok dengan kepribadian saya

» Comment by Rafid — May 21, 2010 @ 4:08 pm

CliQue says:

Dari dulu aku paling nggak suka kerja kelompok. kalo ngerjain tugas sekolah dalam kelompok gitu pasti malah bingung dan ‘blank’ ga tahu apa yang mesti dikerjain, lain cerita kalo tugasnya dibagi-bagi trus dikerjain sendiri-sendiri di rumah, kalo gitu baru bisa. trus entah kenapa aku nggak terlalu suka kalau misal kerja kelompok karena merasa nggak nyaman dan seperti terbebani dengan orang-orang yang jadi temen kelompokku. Tapi aku mudah ngobrol dengan orang asing yang baru kenal dan punya temen yang lumayan banyak hanya saja memang aku merasa benar-benar tenang saat sedang sendirian. Pokoknya kalo sudah kepepet atau terpaksa aku bisa bersosialisasi dengan cukup mudah tapi kalo ga kepepet ya lebih nyaman ber ’solo’ ria. Kalo kayak gitu bisa dibilang introvert ga?

» Comment by CliQue — June 20, 2010 @ 10:34 pm

hachiko8 says:

kayaknya saya bisa jadi dua-duanya, bagus semua barangkali, tapi terang saja saya bukan orang yang
gampang curhat kiri-kanan..

» Comment by hachiko8 — July 24, 2010 @ 2:35 am

RayiRayi says:

saya sangat setuju dengan blog ini. dan maaf buat siska, sudah dituliskan di dalam beberapa blog sebelum ini yang saya baca, memang kaum ekstrovert kurang dapat bisa memahami dan mendengar kaum introvert :)

» Comment by RayiRayi — August 18, 2010 @ 8:39 pm

Whatta FrUK says:

Idem sama CliQue, walau saya nggak punya banyak temen, nggak punya malah :p

biasanya kalau kerja kelompok, blank. kenapa? karena ekstrovert mendominasi dan mereka lebih memilih ngobrol nggak penting dan IGNORED MY IDEA. oke, kerja nggak selesai, lanjut di rumah. They LEAVE all the work to me. Kejam? Iya, padahal mereka sama sekali nggak mau dengerin ide saya.

Kucluk, kucluk kucluk saya pulang ke rumah lalu ngerjain. Sampai di waktu deadline belum selesai. Mereka semua nyalahin saya. Saya cuma bisa diam, mengkerut dan menununduk sambil nahan nangis.

kesannya introvert yang harus disalahkan, padahal mereka (ekstrovert) yang salah.

saya sering jad korban bully. Pernah tas saya dibongkar dan ada satu barang rusak. cuma ada sebagian teman di kelas mau ngobrol sama saya. Lainnya menanggap saya alien from Mars.

syukurlah belakang saya seorang introvert, jadi bisa agak nyambung ngobrolnya :D

ibu saya ekstrovert dan ayah saya introvert. saya kurang suka ibu saya (jangan artikan sebagai benci) karena terlalu memaksa saya aktif di kehidupan sosial. Beliau juga sering mencibir kebiasaan saya yang betah berjam-jam di depan komputer dan membaca buku. Hahaha sakit rasanya.

Dan setelah melihat komen-komen diatas… saya merasa aneh ada ekstrovert rela membuang waktunya debat di dunia maya :D

» Comment by Whatta FrUK — October 15, 2010 @ 4:54 am

leea says:

untuk para para extrovert.
artikel ini ditulis bukan untuk menunjukkan bahwa introvert lebih baik dari ekstrovert.
Tapi untuk membantu kalian para ekstrovert memahami kami para introvert :)

» Comment by leea — October 28, 2010 @ 10:58 pm

koko says:

Facebook mengubah semua orang jadi ekstrovert… narsis… umbar tetek bengek, yang penting eksis…

Coba survei, apakah orang introvert punya akun facebook..

» Comment by koko — November 14, 2010 @ 11:12 pm

ufairah says:

ehmp..
kemungkinan klau pun ada orang intro punya akun facebook..
dia akan tetap menjadi dirinya sendiri yaitu intro juga.
yang narsis di fb sepertinya tetap saja orang ekstro..

*ini hanya pendapat dari diri saya saja…

» Comment by ufairah — December 5, 2010 @ 10:09 pm

nisa says:

baru nemu artikel ini, dan baru ada karakter yang seperti itu, terima kasih.

» Comment by nisa — February 12, 2011 @ 4:42 pm

introve says:

saya seorang introvert. Saya suka dg artikel ini. belum lama saya mengetahui kalo saya seorang introvert, tapi gejalanya sudah lama saya rasakan.

Memang benar, seringkali saya harus memahami orang2 ekstrovert di lingkungan saya yg kata2nya sering menyinggung. tapi kenapa mereka para ekstrove tidak pernah mencoba memahami saya. contohnya saat teman ekstrove saya mempresentasikan hasil kerja kelompoknya di kelas, saya mencoba untuk menyanggah apa yg dipresentasikannya, tapi yg tidak saya sukai adalah sikapnya yg tidak mau mengerti dan memikirkan sanggahan saya, dan dia malah menghujani saya dg kata2 yg tidak menghargai dan dg nada tinggi.

Salah satu hal yg membuat saya tdk suka bicara adalah, mengapa saya harus selalu mengingatkan dengan kata2 untuk membuat orang lain paham tentang perasaan saya, toh mereka jg tdk akan mengerti dan mau mencoba memahami perasaan saya.

tapi menurut pengalaman saya, orang introvert(saya) juga suka menyusun kata2 dalam otak untuk gantian membuat orang lain tersinggung bila ada orang yg membuat saya naik darah dan saya sudah tidak mau memberi pengertian lagi (mungkin inilah kekurangan orang introve bagi saya).

Ow ya, kalo untuk aku facebook saya juga punya, tapi jarang saya buka dan kalo saya buka juga saya belum tentu bikin status baru.

Thanks for the article.

» Comment by introve — March 24, 2011 @ 1:14 am

Tony says:

cerita saya mengenal diri saya bahwa saya introvert dan pendapat saya tentang orang introvert

http://merekamimajinasi.blogspot.com/2011/05/am-i-introvert.html

» Comment by Tony — May 20, 2011 @ 4:19 pm

Lacquan says:

ekstrovert => orang yang cenderung berbasa-basi, bahkan basa-basi dapat menjadi keahliannya

introvert => orang yang jarang berbasa-basi, bukan berarti tidak bisa berbasa-basi, tapi lebih karena mereka menganggap basa-basi itu something like a bullshit, so they won’t do that.

itu simpelnya menurut gw intro dan ekstro…CMIIW

» Comment by Lacquan — July 16, 2011 @ 10:09 pm

Mohammed Dinata says:

saya suka blog ini, termasuk komennya. I proud to know that I’m a introvert

» Comment by Mohammed Dinata — July 30, 2011 @ 1:47 pm

Ilham P Pras says:

perbedaan itu perlu….
artikel yang menarik untuk di pahami…
komentar diatas pun menyampaikan perbedaan antanya intro dan ekstro.
artikel 2007 yang cukup membantu curahan hati intro.

thx

» Comment by Ilham P Pras — September 8, 2011 @ 7:58 am

nox says:

artikelnya keren :)

Yang introvert mari jadi saja sebagaimana introvert,tidak perlu repot-repot membela tentang kita yang disudutkan,toh kita juga sama-sama tahu bagaimana kita juga berusaha untuk bisa mengerti dan dimengerti dari “lawan jenis” kita. Talk less do more,,ini yang di anugrahkan pada sang introvert :)

» Comment by nox — September 19, 2011 @ 7:14 pm

Numpanklewat says:

Sebuah artikel yang bisa membuat dadaq sesak dan menetaskan air mata saat membacanya…karena q jg seorang introvert….

» Comment by Numpanklewat — September 27, 2011 @ 11:41 pm

Owl says:

Sangat menyenangkan menemukan artikel-artikel mengenai Introvert. Artikel ini, paling banyak komentarnya. Perdebatan antara Introvert dan Extrovert. Mungkin kenapa terlihat artikel sepihak karena, maklumilah, ekstrovert sudah terlalu banyak, dibutuhkan sesuatu, seseorang untuk mengembalikan semangat para introvert menjalani hidunya. Ekstrovert punya lebih banyak orang yang akan mendukung bukan? Sedangkan introvert, banyak yang menganggapnya egois, tidak suka bersenang-senang, maka tidak banyak teman yang bisa mengerti dirinya *awas kalau ada yang bilang salah sendiri*

» Comment by Owl — September 28, 2011 @ 9:35 pm

Poetri says:

teman-teman, ekstrovert dan introvert menurut saya sama saja, semuanya bisa menjadi pencetus kebaikan maupun keburukan.. yang terpenting apapun kepribadian kita dan siapa pun kita harus selalu berkontribusi kebaikan untuk hidup ini.. maksimalkan kelebihan yang kita miliki.. jangan terlalu fokus pada kekurangan diri, meskipun setiap orang pasti punya kekurangan.. Jadilah pribadi yang sehat mentalnya.. :-) keep spirit!!

» Comment by Poetri — October 7, 2011 @ 8:03 am

riy says:

artikel yg sangat narsis,,, memang ada bedany namun pembahasannya sangat merendahkan extro~

come on! membuat intro baik tnpa harus merendahkan extro bisa kn??? semua orng mempunyai sifatny masing2 beside sejauh ini extro bisa maju karena mereka mau membuka dirinya… g peduli 1 intro menjadi orng terkaya… tapi cuma satu sedih sekali

» Comment by riy — October 18, 2011 @ 10:24 am

Nizar says:

aku setuju dengan kata2 yang menyebutkan kalau kaum ekstrovert sulit memahami kaum introvert…..
karena aq merasakannya……
n bagiku seorang introvert adalah orang yang bisa menyelesaikan masalahnya sendiri….tpi masih butuh bantuan orang lain…tanpa harus bercerita panjang lebar….
aq bangga jadi seorang introvert….

» Comment by Nizar — October 19, 2011 @ 8:01 pm

 

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

(required, but will not be displayed)



Garis
RSS | My Yahoo! | Google | Bloglines | My AOL | FeedLounge
All contents ©2005-2010 by Watung Arif, unless otherwise noted.
Contents under Creative Commons License.