VoIP with Fring
Mungkin udah setengah tahunan Fring muncul di arena VoIP, tapi baru sekarang bener-bener nyoba (alasannya simpel: setengah tahun yang lalu handphone ini belum secanggih sekarang ;-))
Sederhananya, Fring ini sebuah program yang jalan di handphone (saat ini baru untuk yang Nokia tipe Symbian, jadi Nokia 66xx, N-series, dan sejawatnya) yang memungkinkan kita nelpon atau kirim pesan ke sesama Fring user, termasuk ke Skype, Google Talk, MSN, atau jaringan SIP… gratis! Bahkan, kalo handphone-nya WIFI enabled, we can even make a free mobile call without SIM card! Tapi yah maksud ‘gratis’ ini, betapapun, bukan berarti tanpa biaya: meski Fring charges you nothing, tapi dia beroperasi di atas jalur data 3G/GPRS atau WIFI, dan itu yang musti kita bayar ke operator/provider.
Anyway… saya mau eksperimen dikit, sambil mencoba merasakan degup jantungnya industri telekomunikasi terhadap ‘mobile VoIP‘, yang kata orang: operator’s worst nightmare ini.
Registrasi
Masuk ke websitenya Fring, ngisi nomor handphone, tipenya apa… done. No problem. Dan sedetik kemudian, dapat SMS dari Fring untuk download dan instalasi over-the-air. Setting sana, setting sini. Buat saya kayaknya nggak terlalu njlimet. Buat Ibu saya? Nggak yakin (kebayang aja komennya “Iki SMS opo tho? Kok isine plungkar-plungker gak karuan?”)
Dan voila! Fring jalan, mulus. Ada beberapa service di sana: Skype, Google Talk, MSN, dan SIP. So, satu-satunya yang missed cuma Yahoo Messenger. Oke, kita coba turn-on service Google Talk, dan coba send message ke beberapa contact.

Hmm… cepet juga, hampir nggak ada jeda, message di-klik send… langsung bluip nyampe. Sementara untuk voice, kualitasnya bener-bener nggak bagus, putus-putus. Apalagi kalo siang, sering ngira kalo orang yang diajak ngobrol di sana sudah pergi… lost in translation. ;-)
Sempet juga mencoba jaringannya SIP, salah satunya VoIP Rakyat. Keren, karya bangsa sendiri!

Itung-itungan biaya
Kita coba orat-oret cost/benefit (cieee) soal Fring ini, mencoba mengira-ngira situasi mobile-VoIP di Indonesia, sekarang dan nanti.
Sebelumnya… soal asumsi: karena saya pakai Indosat, maka saya pake tarif data normal mereka sebesar Rp 1/Kb.
Fring adalah sebuah aplikasi yang always-on, selalu terhubung dengan jalur data (3G, WiFi, HSDPA, EV-DO, whatever…), mau nelpon atau nerima telpon, tetap bayar. Dalam keadaan stand-by, Fring ini akan memakan rata-rata 10 Kb/jam. Artinya, kalau hidupkan Fring ini 24 jam penuh, ongkos yang musti kita bayar = 10 Kb/jam x 24 jam x Rp 1 per Kb = Rp 240,- atau sekitar Rp 7.500,- per bulan. Hmm… masih oke, belum keliatan.
Itu yang pertama, soal overhead. Untuk percakapan voice, Fring menggunakan 8 Mb/jam. Yah… semenit sekitar Rp 135 perak. Masih murah sih, walau masih belum bisa mengalahkan plan tarifnya beberapa operator CDMA kayak Flexi yang sanggup main di Rp 49/menit.
Chatting… nah barangkali ini yang sangat-sangat kompetitif. 100 message hanya dengan ongkos Rp 5,- saja! (Itu dari itungan 0.05 Kb/message-nya Fring). So, daripada pacaran sambil SMS-SMS-an, mending dua-duanya install Fring… Bisa sampe pagi. ;-)
As a wrap-up (using Indosat’s data tariff Rp 1/Kb):
Overhead: Rp 7.500/bulan
Voice: Rp 135/menit
Messaging: Rp 5,- for 100 messages (it rocks!!)
Itu untuk konfigurasi Fring to Fring: penelpon punya Fring, penerima juga ada Fring di handphone-nya. Rp 135/menit masih cukup kompetitif. Nggak terlalu menarik hanya di beberapa kasus, seperti kalau disandingkan dengan tarif lokalnya Telkom yang Rp 100 - 130/menit (dan musti diingat, di Fring baik penelpon maupun penerima, dua-duanya bayar). Di SLJJ, kalau menggunakan data tarifnya Telkomsel 3G misalnya (yang Rp 12/Kb), dua kali lebih mahal dari SLJJ-nya Flexi yang cuma Rp 900/menit.
SMS? Wah, lalu lintas chatting 100 message di Fring yang total cuma merogoh sekitar Rp 5,- ini… no one can ever beat it! Dan ini bisa menjadi horor buat mobile operator, mengingat sekarang 20 - 25% revenue mereka dari SMS.
So… sekarang bagaimana dengan konfigurasi “antar-operator”-nya Fring? Fring di handphone kita nelpon ke pesawat telpon atau handphone yang nggak punya Fring di dalamnya? Juga sebaliknya, nerima panggilan ke Fring kita?
Fring to landline/mobile
Landline ini maksudnya pesawat telpon biasa, biasa yang ada kabelnya dan tergeletak di atas meja di ruang keluarga sana. So how to make a call to landline or mobile phone from Fring?
Alternatifnya: bisa via SkypeOut, yang ongkosnya kalau nelpon ke Amerika sana cuma $3/bulan, unlimitted (!), sementara ke Malaysia atau Singapore, sekitar Rp 200/menit. Bisa juga dengan solusi SIP to landline/mobile seperti VoIPDiscount misalnya, yang kalau kita nelpon ke Amerika, Malaysia, Singapore, ongkosnya Rp 150/menit.
Nelpon ke Indonesia sendiri? Baik SkypeOut maupun VoIPDiscount nge-charge biaya yang nggak murah, sekitar Rp 800 (landline) sampai 1.500/menit (mobile).
So, dari Fring ke nomor telepon internasional cukup murah sebenarnya, sekitar Rp 500/menit, lebih murah dari Rp 2500/menit tarif 01017-nya Indosat, baik via SkypeOut maupun VoIPDiscount.
One more pertanyaan, saudara-saudara: how to receive calls di Fring from sanak sodara yang ada di Amerika sana?
Landline/Mobile to Fring
Nah… this one is really cool, coba yang ini! Go to IPKall, kemudian setup satu nomor lokal di sana dan map ke SIP ID kita.

Semenit kemudian, kita dapat email dari IPKall yang bilang bahwa nomor telpon lokal kita di Amerika adalah sekian-sekian. Lumayan, dapat nomor Washington +1 253 242 24xx. Kita minta salah seorang temen di Amerika sana call ke nomor itu dan tadaaa!… kriiing di Fring! Keren, kan? What IPKall does is simply nglempar panggilan telfon lokal ke SIP gateway, dan dari situ pembicaraan berlangsung via Internet. Penelfon cuma kena local-charge, sementara kita… yeah it’s free!
Cara lain… bisa juga kalau tega bayar $60 per tahun untuk solusi yang agak lebih (mungkin) reliable, seperti SkypeIn, kita bisa dapat nomor lokal Amerika, atau negara-negara lain seperti Inggris, Hongkong dan Australia. (Nomor Indonesia? No luck… it seems that there’s a policy that you are not allowed to use a telephone number outside the country you live in. Meaning… Skype nggak bisa jualan nomor telepon kita ke orang Nigeria, misalnya).
Lamunan
Mobile-VoIP sebenarnya udah mulai punya jalan masuk ke dunia telco, tapi rasanya sih belum akan merangkul banyak pengguna di Indonesia sini (entahlah, mungkin 2010 ke atas baru kerasa derunya). Alasannya kira-kira gini:
Pertama: handphone yang bisa menjalankan software mobile VoIP seperti Fring, atau Mobiboo, Barablu, Jajah, Yeigo, Truphone, EQO, Challenger Mobile, MiNO, Skype for Mobile, Agile Messenger, Talkplus (buanyak kan?) ini masih amat sangat terbatas. Biasanya cuma jalan di model-model tertentu: Symbian-based, Java, Blackberry, Palm, Windows Mobile.
Kedua, secara teknis… rasanya kok masih njlimet. Baca aja postingan ini dari awal sampai akhir: registrasi, install ini dan itu, bikin account ini dan itu, kalau kasusnya gini dan gitu pakai ini dan itu. Belum lagi soal coverage 3G yang cuma setitik di peta, atau lokasi hotspot WiFi yang entah di mana aja (itu pun syukur-syukur kalau jalan). Belum lagi bayar ke VoIP service, beli voucher, musti connect internet dulu, musti punya kartu kredit. Juga kendala bahasa teknis: apaan tuh SIP proxy, gateway, ngapalin nomor-nomor, dan sebagainya… Ruwet!
Ketiga, kualitas suara. Dari beberapa eksperimen, terus terang, nggak terlalu bagus sih. Bahkan seringkali bisa sangat parah, kemresek, putus-putus, sering lost di tengah pembicaraan…
Baterai handphone sering cepet habis dimakan koneksi data dari mobile-VoIP software yang standby terus menerus.
Itu kendala di dalam, paling nggak untuk saat ini.
Dari luar, yah existing operators nggak akan tinggal diam juga. Coba bayangkan situasinya. Voice adalah 75 - 95% dari revenue mereka, mobile VoIP jalan di jaringan mereka dan mereka punya kontrol atas itu, baik dari segi pricing, quality of service, availability, dan sebagainya… Mereka punya sekian cara sebagai counter measures:
Kontrol terhadap tarif data. Sebelumnya, apa sih motivasi utama orang pake VoIP? Yak, harga. Ongkosnya yang murah. Tapi operator tahu bahwa komponen biaya terpenting di skema mobile-VoIP adalah tarif data dan interkoneksi. Mereka punya kontrol terhadap itu semua (kecuali pemerintah turun tangan). Strategi operator ya kayaknya: berusaha menjaga agar tarif data dan interkoneksi tidak terlampau rendah (walaupun tren-tren tertentu seperti multimedia service bisa menurunkan tarif data). Konsumen biasanya nggak akan menempuh semua kenjlimetan di atas hanya untuk memperoleh alternatif komunikasi yang murahnya nggak terlalu signifikan.
Operator juga punya kontrol terhadap akses. Respon mereka bisa macam-macam, dari yang konservatif seperti MTN di Afrika Selatan atau T-Mobile di Eropa yang memblokir penggunaan Skype, sampai yang promotor kayak “3″. Intinya: mereka yang punya infrastruktur, dan mereka (secara teoritis) bisa melakukan arrangement apa aja.
Operator sendiri akan mencoba terjun di arena VoIP, terutama untuk SLI, demi sepagi mungkin punya kontrol pasar terhadap VoIP. Indosat (lewat FlatCall di nomor 01016) dan Telkom (TelkomGlobal di 01017) misalnya menawarkan solusi yang jauuuhh lebih praktis dibanding Fring. Harga murah, tinggal tekan nomor sekian-sekian, tanpa install-installan, tanpa setting-settingan… langsung terhubung ke sekian ratus negara.
SMS versus IM. Barangkali yang patut diwaspadai para operator adalah mobile instant messaging (MIM), karena 20 - 35% revenue para operator adalah dari SMS (dan proporsi ini still growing). SMS adalah sebuah “alert” service, dan by-design memang bukan buat ngobrol atau chatting. Tapi coba perhatiin: kita semua ngobrol via SMS! Fring yang menyediakan MIM ke Google Talk, MSN Messenger, dan Skype ini merupakan pembunuh yang handal bagi SMS. Kita baca dan nulis message di screen yang sama, nggak menuh-menuhin inbox, mudah send/receive files atau foto (Barablu misalnya)… dan Rp 5 for 100 messages, murah abis! Soal waktu sih kayaknya. Adoption takes time. SMS aja perlu waktu luamaaa untuk diadopsi secara luas oleh pasar.
Salaam.
11 Comments »
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Recent comments


Kendala yang lain, bandwidth! Di sini bandwidth masih mahal, kalau dapat koneksi yang murah kualitasnya menyedihkan walau iklannya berbandwidth gede ;-) Kalau mau bagus ya harus bayar mahal. Itu mungkin sebabnya suara masih putus2 Tung.
Kalau di Amerika sono sedang rame tarik-menarik tentang network neutrality, di kita gak ada isu2 tentang ini gak ya? Kalau network neutrality itu kita pakai hal ini paling tidak bisa mengeliminir pembatasan dari operator ;-)
Emang kalau liat2 teknologi diluaran yg IP based kayaknya jadi ngiler, tapi ya itu tadi kalau diluaran bisa bagus & murah disini sama aja mahal/payah-nya dibanding teknologi lama ;-)
» Comment by Hansen — June 21, 2007 @ 3:47 pm
mmm… iya. jadi gimana kalo kita bikin satelit sendiri? makanya… update dong blognya.. ;-)
» Comment by watung — June 22, 2007 @ 10:46 am
ikut..ikut..bikin satelit sendiri-nya.
Absen dulu mas..
» Comment by indra — July 4, 2007 @ 4:52 pm
ngomong2 biaya bikin satelit berapa rupiah?tq
» Comment by yatno — October 1, 2007 @ 3:05 pm
i agre
» Comment by wildang — November 1, 2007 @ 9:15 am
jangan bandingin harga pake VoIP utk aplikasi HP (seperti fring) sama harga telf lokal dong… kl mau lokal pake aja esia, gratis tuh… tp kl fring to fring dipake utk telf int, IMHO amat sangat murah, dan itu dari HP ke HP loh… apalagi kalau telf-nya di tempat yg ada akses Wifi gratisan, kan jadi ga bayar…
» Comment by kampretz — November 6, 2007 @ 6:54 pm
mas-mas …
gimana nih pakai fring .. saya pakai XL tp ko kena pulsanya berat banget yaa …
» Comment by runi — January 2, 2008 @ 6:06 pm
bagus untuk internasional,untuk lokal esia lebih murah
» Comment by ius — March 21, 2008 @ 7:21 pm
Duh, gw sebenarnya tertarik dengan Fring. Tapi ternyata ga mensupport YM. Padahal itu satu2nya media gw chatting ama temen2 gw. Duh, perlu regis ke MSN dll neh >_<
» Comment by Yudis — June 18, 2008 @ 6:22 pm
Mas2 smua, saya pengguna fring. Dengan simcard mentari dan syukur 3g jaringannya sudah sampe ketempat saya, walau masih sering hilang. Kualitas suara lumayan bagus kalau diarea 3g, karena bagus besaran data juga besar pula.. Bayarnya jadi lumayan deh. Untuk xl parah lg tarifnya, sepuluh kali lipat mentari dan 25 kali lipat kl pake telkomsel. Buat pengguna fring, versi sekarang ym sudah bisa walau untuk chat saja.. :-( buat handphone symbian 0s 60 versi3 /0s 9.1 bisa kirim file.. Untuk voice&chat (skype,fring,gtalk,icq,msn,sip) chatt only (ym, twitter,aim) kendala yg saya rasakan, susah mencari fring user , g bisa liat frofilenya.. Tp top buat voice servicenya.. Hp jadi canggih.. Kalau ada yang tau komunitas fring jakarta/indonesia boleh tuh diinfokan. NB: Coba mig33 (www.mig33.com) muanteb bwat chat ato chat room
» Comment by agus3salim — August 12, 2008 @ 3:31 am
thenkiu bro, artikel nya informatif
buat kita-kita yang masih ijo
mengenai teknologi voip dan mobile.
salam.
» Comment by slashdotfx — December 1, 2008 @ 12:48 am