Apa yang Tuhan inginkan
Ada sebuah fase ketika seorang pejalan dan orang-orang yang percaya musti sejenak berhenti, barangkali di antara jeda-jeda nafas ini: apa yang sebenarnya Tuhan inginkan? Apakah diam saja bagai emas atau berbicara? Apakah tetap tinggal atau hijrah? Apakah musti ke dokter atau biarkan saja? Apakah sekolah lagi atau bekerja? Apakah musti memberinya atau membiarkannya?
Yang mana yang Ia maui?
Pertanyaan serupa diajukan di sebuah diskusi bersama Bawa Muhaiyaddeen (seorang sufi asal Srilanka), terekam di (dan diterjemahkan dengan semena-mena tanpa ijin dari) buku Questions of Life, Answers of Wisdom Vol. 2.
* * *
Tanya: Kadang saya tak tahu lagi apa yang Tuhan maui. Apakah Dia ingin saya melakukan sesuatu agar terjadi, atau Dia mau saya diam saja dan menerima apapun yang terjadi?
Bawa Muhaiyaddeen: Baik. Coba kita perhatikan seorang dokter, misalnya. Setelah belajar di sekolah kedokteran, jika ia menjadi ahli bedah, ia akan memiliki akses ke semua peralatan bedah yang diperlukannya untuk menangani pasien. Apa tugasnya saat itu? Ia paham bahwa pasien yang ditanganinya bisa saja meninggal selama operasi. Ia barangkali berpikir, “Jika operasi gagal dan pasien meninggal, maka aku akan tersalah sebagai pembunuh dan masuk neraka. Tapi jika pasien hidup, aku akan dipuji.” Mungkin saja seperti itu. Tapi ia seharusnya tidak beranggapan bahwa ia bertanggungjawab terhadap hasil yang muncul.
Ada Sang Pencipta yang telah membuat tubuh ini, dengan segenap urat nadi dan syaraf-syarafnya. Segala sesuatu adalah kepunyaan-Nya, begitu juga hidup dan mati. Bahkan segala pujian dan tuduhan adalah milik-Nya semata. Sang dokter harus paham ini. Ia seharusnya berkata, “Wahai, Tuhanku, ini pekerjaan-Mu. Datanglah dan lakukan tugas-Mu. Aku hanya pembantu-Mu. Aku hanya alat di tangan-Mu. Engkaulah yang melakukan operasi ini, melindungi pasien ini, menghidupkan atau mematikannya. Ini tugas-Mu. Aku hanya instrumen. Instrumen tak punya tanggungjawab terhadap apa yang akan terjadi nanti. Sang Pelaksana dan Pelindung adalah Engkau. Oleh karena itu, Engkau, Paduka sendirilah, yang harus mengerjakan operasi ini.”

Anakku, engkau harus sadar bahwa engkau hanyalah instrumen-Nya, dan tanggungjawab tidak terletak di pundakmu. Ingatlah bahwa Tuhan-lah Sang Ahli Bedah itu dan engkau adalah tangan-Nya. Jika engkau mengerjakan tugasmu dalam keadaan seperti ini, maka tak akan ada bahaya yang akan menimpamu. Tuhan yang akan melakukannya. Namun jika engkau berkata, “Aku lah yang melakukan operasi ini,” maka pujian dan tuduhan ada di pundakmu.
Jika engkau mengerti bahwa tanggungjawab akan pujian dan tuduhan hanya tertuju pada Allah semata, dan jika engkau menyerahkan segala sesuatunya kepada-Nya, maka engkau akan mengerjakan tugasmu sebagai perangkat-Nya, “Semoga hanya Paduka-lah yang mengerjakannya, wahai Tuhanku.” Oleh karena itu, jadilah instrumen-Nya dan lakukan tugas dengan kemampuan terbaik yang engkau miliki. Itulah jalannya.
* * *
Credits: Tulisan diterjemahkan dari buku Questions of Life, Answers of Wisdom Vol. 2. Foto paling atas adalah Bawa Muhaiyaddeen. Lukisan di tengah, karya Jennifer Linton “St Agatha’s Vision of God as a Surgeon“.
6 Comments »
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Recent comments


Bukankah kita dah “berikrar” hidupku,matiku,…adalah hanya untuk “beliau” maka hidup tentunya adalah kehidupan dan isinya.Bagus banget Mas,gimana “titipan” ke 2 dah bisa apa?salam
» Comment by Alwi — July 11, 2007 @ 9:09 am
‘Titipan kedua’ baik-baik saja. Insya Allah nanti bisa cerita. Thanks yak!
» Comment by watung — July 11, 2007 @ 12:02 pm
Yang Tuhan inginkan adalah kembalinya jiwa kita ke jalan yang benar…dengan jiwa yang lurus maka bisa memelihara bumi ini…itulah makanya kita semua disebut khalifah, wakil Allah di bumi…cuma itu saja…gampang-gampang syusyah khan :)
» Comment by Zaratustra — July 13, 2007 @ 2:14 pm
Wah, contoh yang bagus mas. Dikehidupan nyata sebagai dokter, keputusan seperti ini seringkali membingungkan. Tapi satu hal yang kupelajari sebagai dokter, bahwa ternyata belajar aja gak cukup, sebagai hambaNya yang lemah dan selalu bingung dalam menentukan pilihan terbaik bagi segala sesuatu, petunjukNya menjadi sangat krusial. Saya juga yakin bahwa Allah senantiasa memberikan petunjuk bagi kita, yang jadi masalah, cukup bersihkan hati kita untuk bisa membacanya?
» Comment by nadia — September 4, 2007 @ 8:50 am
Thanks, Nadia. Inginnya berdoa: “Duh Gusti, mohon petunjuk. Tapi yang hamba bisa denger, lihat, atau apa aja yg bisa hamba mengerti ya…” ;-)
» Comment by watung — September 4, 2007 @ 3:18 pm
Mas Watung, lam kenal..
Artikel2 yang diterjemahkan ini (dari Bawa) bisa minta tolong diemail ke inung71@yahoo.com, nda..bisa menjadi bahan renungan dan pengingat..(anyway, krn bingung niih mau ngebjak caranya gimana ya,,, maaf agak lemot, wong ndeso) trimakasih
» Comment by nunung — September 8, 2007 @ 4:45 pm