Watung Blog

Takdir. Then why are we here?

Thursday July 12, 2007 | Filed under: Spirituality

walk1.jpg

Tanya: Berapa banyak dari hidup kita yang sudah ditakdirkan, dan berapa banyak yang kita sendiri bertanggungjawab atasnya?

Bawa Muhaiyaddeen: Tuhan telah mengajarimu segenap hal. Segalanya tertulis di dalam dirimu. Sebelum engkau datang ke dunia ini, Dia mengatakan, “Aku mengirimmu ke sebuah sekolah bernama ‘dunia‘. Sebuah tempat sementara. Pergilah ke sana barang sebentar untuk belajar tentang ’sejarah’-Ku, sejarahmu sendiri, dan sejarah yang lain. Cari tahu siapa yang menciptakan semuanya ini, siapa yang bertanggungjawab atas semuanya ini, siapa Sang Penjaga yang melindungimu, dan apa yang menjadi milikmu sebenarnya. Jika engkau telah belajar dan paham seluruh sejarah ini, engkau akan tahu siapa dirimu dan siapa Dia yang engkau butuhkan, Dia yang sebenarnya, Dia yang akan hidup selamanya.

“Setelah engkau mempelajarinya, engkau akan menempuh sebuah ujian. Setelah itu, barulah engkau bisa membawa apa yang menjadi milikmu dan kembali ke sini. Jika engkau mengerjakannya dengan baik, engkau akan beroleh sebuah kerajaan yang dapat engkau kuasai selamanya. Tapi pertama-pertama, pergilah sekolah dan belajar. Lalu datanglah kembali.”

Tuhan mengatakan ini kepadamu dan mengirimmu ke dunia ini. Kini, tugasmulah untuk menemukan Dia kembali, mengenal dirimu sendiri, dan menyadari kekayaanmu yang sesungguhnya. Inilah alasan kedatanganmu di dunia ini. Maka, jadikan kebijaksanaanmu sebagai dua bilah gunting tajam dan buang potongan-potongan film yang salah. Dia telah memberimu semuanya, tapi engkau musti memotong semua gambar-gambar yang telah kau ambil dengan kameramu dan sisakan gambar yang baik, yakni yang menunjuk kepada Penjagamu. Satukan apa-apa yang baik itu dan buang yang lain. Maka, kerajaan-Nya akan menjadi milikmu.

* * *

Credits: Diterjemahkan dari Questions of Life, Answers of Wisdom Vol. 1. Ilustrasi foto di atas dicuri dari Internet.


22 Comments »

Hansen says:

Lagi gak banyak kerjaan ya? Atau malah sebaliknya, lagi stress karena kerjaan? ;-)

» Comment by Hansen — July 12, 2007 @ 4:53 pm

watung says:

biar nggak terlalu ‘menuhankan’ kerjaan.. heheh.

» Comment by watung — July 12, 2007 @ 6:49 pm

Zaratustra says:

Assalamualaikum Kang Watung…sekedar update berita saja, ibunda Pak Haji Agus Jum baru saja terkena stroke dan lumpuh…semoga beliau segera diberi kesembuhan oleh Sang penyembuh…

Hidup adalah perjalanan menuju pulang, itulah prinsip saya…

Kadang saya berpikir mau pulang saja kok ribet banget ya, diberi kekayaan dulu ntar mlesetin, diberi anak yang ganteng cantik cerdas ntar mlesetin juga, diberi istri yang cantik mlesetin juga, diberi posisi yang melimpah gajinya (kadang gitu masih juga kurang nilep sana-nilep sini) mlesetin juga…wah semuanya serba mlesetin kalau “tidak waspada”…

Jadi apa maunya Allah ini ???!!! Ooo ternyata bener jare sampean itu mas…training…latihan. Saya kurang sependapat dengan kata “ujian”, seolah Gusti nggak ngerti kapabilitas manusia sehingga perlu diuji sampe mana kapabilitasnya…subhanallah Maha Suci Sang Semesta ini dari karakter yang demikian.

Menurut saya yang bener…ya LATIHAN tadi…semua manusia punya kapabilitas menemukan DIA, tinggal kita ini ada yang melatih diri atau tidak melatih diri…

Ya kita dihidupkan disini adalah untuk mencari jalan pulang yang benar…kalau belum nemu2nemu juga ya terus dikasih kesempatan…lha wong Gusti itu rahman - rahim…wah wah wah ke reinkarnasi lagi neh….:)

Btw ternyata setelah saya baca sejarah peradaban dunia…Yerikho deket Palestine sana itu…sebelum Ibrahim ada, ada 9 kali pertempuran besar yang meluluhlantakkan peradaban disitu…nah boleh jadi mengapa disitu terus konflik… ya karena semenjak bayi yang seharusnya dikasih kesempatan mencari jalan pulang, malah diajari oleh yang dewasa untuk saling membunuh lagi, mana mungkin bisa menemukannya?!…nah begitulah akhirnya, jiwa-jiwa yang disana itu mungkin terlalu jauh tersesatnya dari jalan pulang, meskipun labelnya islam, kristen atau yahudi…

Karena itu, hakekat kita sebagai orang dewasa/tua adalah menunjukkan jalan pulang kepada bayi-bayi/ anak-anak kita sehingga kelak mereka menjadi “insan kamil”…Begitulah makna “anak itu titipan Allah”…semoga kita menjadi perpanjangan tangan Gusti Allah untuk memberi “kesadaran” akan eksistensi Allah…

Mari-mari kita terus mengingat dalam setiap aktifitas kita bahwa hakikatnya kita ini meniti, menyeruak semak-semak, yang menghalangi jalan pulang…ihdinashiratal mustakim…Ya Allah tunjukilah kami jalan “pulang’ yang lurus…amin

» Comment by Zaratustra — July 13, 2007 @ 11:47 am

watung says:

Wah, seneng juga membaca komennya Zarathustra ini. Terasa begitu banyak perubahan, semenjak terakhir kita ketemu. Yo iku sing jenenge ng-alhamdulillah… Soal ‘ujian’, barangkali maksud Gusti Allah memang bukan ‘ngetest’, tapi lebih ke “…untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu.” (QS [3]:154) Buat kita sendiri sebenarnya.

» Comment by watung — July 15, 2007 @ 7:21 pm

Zaratustra says:

Iya betul Kang Watung, sudah sejak lama sebenarnya pencarian tentang “apa mau-nya DIA” ini saya lakukan…mulai sejak SMA sampai mahasiswa sebenarya saya intens dgn kelompok dan sekretariat para pendakwah dengan tujuan - pokoke “ISLAM” ini sing bener - lainnya salah, mulai dari yang paling halus dengan indoktrinasi pendidikan balita sampai cuci otak untuk “nge-bom”.

Kemarin saya diskusi tentang isra mi’raj dgn seseorang yang menurut saya sangat logis penjelasannya tentang pertemuan Rasul dengan sosok Nabi Adam. Jadi menurut dia sosok Nabi Adam adalah sosok nabi yang telah berhasil melepaskan keterikatannya dengan materi di dunia ini. Lho kok bisa ? Iya, buah kuldi yang dibisikkan iblis adalah materi yang bisa mengekalkan kita, begitulah bisikan iblis. Meskipun akhirnya Nabi Adam kepleset jua, tapi akhirnya Allah mengampuni-nya jua. Proses pengampunannya juga gak gampang lho…

Demikian salah satu prasayarat bertemu Allah di Sidratul Muntaha, tahapan seorang Nabi Adam harus kita lalui dulu…baru tahapan idris, Isa, Harun, Musa dan terakhir Ibrahim.

Wah, melalui tahapan adam aja uangel setengah mati gimana bisa sampai tahapan isa - yang menuntut pengorbanan diri demi kebaikan - belum lagi ibrahim, wik, wik, wik…uangel yo dadi menungso :)

» Comment by Zaratustra — July 16, 2007 @ 1:46 pm

siska says:

kalau sampai pada pemahaman bahwa takdir manusia di dunia adalah untuk memperpanjang dimensi Iliahiah, mengembangkan khazanah Allah dengan segala potensi yang diberikan kepadanya, rasanya sedikit putus asa ya? melihat keadaan kita sekarang. carut marut. penuh polusi dan kekotoran. Kenapa kok jiwa kita saat dipanggil Allah untuk turun ke dunia ini mau-maunya.. mengemban tugas yang amaaaat beraaaat ini .. :((

» Comment by siska — July 16, 2007 @ 4:56 pm

watung says:

Berat sih. But do we really have much choices? Anyway.. jangan kuatir! Bukankah Tuhan Maha Pengampun? Maha Penerima Taubat? Maha Kasih dan Sayang… as Rumi once said: This court of ours is not a court of despair. Even if you have broken your repentance a hundred times, come again!

» Comment by watung — July 16, 2007 @ 10:17 pm

diannovi says:

Iya, Kehidupan ini kan sesuatu yang given. Ndak pernah ada transaksi sebelumnya agar dilahirkan dalam kondisi tertentu.
“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka” Q.s.28:68

Apa ya maksud Tuhan memperjalankan kita ke muka bumi? Kabarnya sih agar kita mengenal ayat-ayatNya. Ayat-ayatnya? Ya, karena hakikatnya segala yang maujud di alam ini adalah manifestasi dari pensifatanNya.

Kenapa harus dikenali? Merujuk ke hadist qudsi; ternyata Allah itu rindu untuk dikenali, maka itu Dia ciptakan manusia. Terus kok kita (manusia) yang ketempuhan? Kenapa ndak malaikat saja yang memang sejak asal mulanya di setting untuk suci terus. Hehe..Ya, kenapa kita yang ketiban kemuliaan seperti ini panjang kisahnya. Manusia memang tidak disetting untuk suci terus. Melainkan harus melewati alam kegelapan dulu, menempuh dosa dulu, melewati neraka (dunia) dulu sebelum mencapai ‘arsy. Dimensi manusia meliputi sisi tergelap alam iblis hingga cahaya alam malakut. Karena apa? Karena manusia mencitrakan sifat Rahmaniyyah-nya Allah (next time kita discuss soal ini ya:)

Nah ini yang sering jadi masalah. Ga kuat menempuh itu, yang membuat kebanyakan manusia berkeluh-kesah adalah ketakutan akan segala-sesuatu yang tidak sedap dalam pandangan hawa nafsu, ini di idiomkan dengan ujian, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu supaya Allah mengetahui orang-orang yang takut kepadaNya.” Iya Allah akan menguji kita dengan segala pemberianNya. Tuh kan, kita ndak minta kok, dikasih begitu saja, eh masih diuji juga…gimana siih???? Kayaknya Allah tuh ga boleh liat orang seneng:(

Iya karena manusia disetting untuk “cerdas” melihat segala persoalan. Ketika diberikan sesuatu harus dipahami hakikat dari pemberianNya. Itu yang dimaksud dengan bersyukur; bisa merespon dengan tepat segala pemberianNya. Dan kualitas insan ditentukan dari kemampuannya bersyukur. Tapi kan susah memahami maksud dari pemberianNya, wong ga kita minta kok…

Sshhh…sabar dulu. Kata Allah di Al Hikam: jika engkau tidak berbaik sangka kepada Allah karena sifatNya yang baik itu, maka berbaik sangkalah kamu kepadanya karena nikmat yang telah dilimpahkan kepadamu. Bukankah Dia selalu memberimu sesuatu yang baik-baik? Dan bukankah Dia senantiasa memberimu nikmat?

Jadi step pertama dalam berjalan adalah membangun prasangka baik kepada Allah. Apapun fenomena yang kita hadapi hakikatnya adalah gerbang pengetahuan untuk mengenal Dia. Itu definisi nikmat; bila segala yang dihadirkan/ditimpakan kepada kita menjadi pengetahuan.

Last, doa Imam Ali ini mungkin bisa kita contoh bagaimana beliau berusaha membangun etika ke-ubuddiyyah-annya:
“Wahai Tuhanku, cukuplah kebanggaan bahwasanya Engkau menjadi Tuhan bagiku, dan cukuplah kemuliaan bagiku bahwasanya aku menjadi hamba bagiMu. Sesungguhnya Engkau seperti yang kuinginkan. Maka jadikanlah aku seperti yang Engkau inginkan”

» Comment by diannovi — July 17, 2007 @ 2:37 pm

zenal says:

Takdir? tema yang tidak habis-habis dibicarakan.

AFAIK, takdir — sebagai yang umum kita fahami sebagai keniscayaan atas sebuah kejadian atau peristiwa — hanyalah subset dari qadar (see rukun iman: qadha [dekrit] dan qadar [takaran]).

Itu sebabnya ada suatu malam yang disebut “lailatul-qadar”, bukanlah malam takdir alias keniscayaan peristiwa tetapi malam takaran.

» Comment by zenal — August 6, 2007 @ 6:23 pm

zaenal says:

Qadha = dekrit, timbangan
Qadar = takaran, ukuran

“Timbangan” adalah sesuatu yang precise, dengan batasan-batasan yang juga presisi; sementara “takaran” adalah sesuatu yang meruang. Itu sebabnya ketika seorang guru Zen ditanya tentang takdir, ia mengibaratkan: “seperti ikan di air sungai”.

Sungai adalah takdir sang ikan. Sang ikan bisa bergerak kesana-kemari, ke hulu ataupun ke hilir, tapi dibatasi oleh sebuah ruang takdir bernama sungai. Disitu ada kebebasan kehendak; tetapi pada saat yang sama, ada ke-tidak-bebasan kehendak.

Dalam menjelaskan persoalan qadha dan qadar ini hingga ke tataran lahiriah (syariat), pernah diutus seorang nabi, Syu’aib as.

Untuk sampai kepada keimanan tentang Qadha dan Qadar, kita harus bergerak dari lahiriah, yakni tidak mengurangi timbangan dan takaran. Ini tentunya dalam segala aspek hidup kita, bukan hanya dalam perkara jual-beli. Misalnya, seperti sering dinasihatkan Bawa, menimbang dan mengukur kekurangan dan kelebihan yang telah Tuhan anugrahkan kepada diri kita masing-masing.

» Comment by zaenal — August 12, 2007 @ 1:47 pm

kuyazr says:

Halo mas, kabar baik?..
Takdir bisa dikatakan sebagai hal yang selalu membayangi di setiap jengkal langkah yang akan kita ambil. Tanpa kita sadari, sudah setahun ini kita bekerja sebagai karyawan kantor, buruh pabrik, pedagang, sopir, pramunikmat, montir, seniman, penulis, pejabat, dosen, dan lain sebagainya. Padahal, kalau kita kembali setahun ke belakang, kita tidak pernah tahu bagaimana rasanya menjadi karyawan, menjadi buruh, pedagang dan seterusnya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah kita telah menentukannya? Ataukah orang lain? Memang benar, apa yang telah terjadi pada diri kita sekarang adalah karena kita telah mengupayakannya secara maksimal. Seperti mengajukan lamaran, tawaran, rayuan, bahkan kebohongan-kebohongan demi tercapainya tujuan yang ada di benak kita. Tetapi, kita ambil satu contoh sederhana, misalkan ada 30 pelamar yang melamar kerja pada satu perusahaan periklanan untuk satu posisi yang sama. Kalau dilihat dari latar belakang mereka, kecakapan dan kemampuan mereka boleh dikatakan tidak jauh berbeda. Dan tiba-tiba anda mendapat surat bahwa besok lusa anda akan diwawancara oleh perusahaan yang anda lamar. Mengapa anda yang menjadi pilihan perusahaaan itu? Mengapa tidak ke-29 orang yang lain? Atau ternyata salah seorang dari pelamar tersebut adalah kawan anda dan ia mendapatkan panggilan untuk wawancara, bukannya anda. Apakah lantas anda melabrak perusahaan tersebut? Tentu tidak bukan? Satu contoh lagi, sebuah harian pagi yang terkenal memberitakan sebuah kecelakaan yang terjadi di jalan. Kecelakan tersebut merenggut tiga nyawa sekaligus, tetapi satu orang selamat dengan sedikit luka gores. Mengapa tiga orang harus meninggal dunia sedangkan yang lain selamat? Mengapa tidak meninggal dunia semuanya? Padahal mereka menumpang pada kendaraan yang sama, dan berada pada ruang dan waktu yang sama pula. Nah, apakah yang sedang terjadi? Bagaimanakah kemungkinan-kemungkinannya? Apakah ini yang disebut takdir? Satu contoh lagi, Anne adalah salah seorang penghuni lokalisasi di salah satu kota besar. Istilah yang sering terdengar adalah “cau bau kan” atau cabo, pelacur, pekerja seks komersial, dongdot, ayam, homing, ublag, bahkan ada istilah yang dipinjam dari teman saya, yaitu ungkluk!
Profesi ini dilakoninya dengan sungguh-sungguh. “Servis”nya benar-benar memuaskan, sehingga di lokalisasi tersebut, Anne adalah kembangnya. Anne sadar dan mengerti seperti apa profesi itu di mata orang lain. Kadang ia melamun, mengapa ia tidak menjadi seperti jeng itu, bekerja sebagai akunting. Berangkat pagi hari dan kembali ke rumah pada petang hari. Teratur, bersih, kelihatan bersahaja. Tidak seperti dirinya, kadang sore, kadang malam, malah kadang larut malam baru berangkat untuk bekerja. Hal ini kadang membuat hatinya menangis. Cuma saja Anne tidak tahu kalau jeng itu sebenarnya adalah WIL-nya si bos! Tersentak ia dari lamunannya itu, kala “maminya” berteriak memanggil namanya, “Anneeeeeeee…..?!”
Ketiga contoh tadi menunjukkan bahwa kejadian-kejadian yang dialami oleh kita, tidak sepenuhnya dikendalikan oleh kemauan dan pikiran kita semata. Tetapi ada satu hal yang ikut menentukan jalan hidup ini. Sesuatu yang halus namun dashyat. Sesuatu yang agung dan tak terbendung. Sesuatu yang maha kuasa. Sesuatu yang tidak akan pernah kita sanggup mengatasinya.
Kesimpulan dari beberapa ilustrasi tadi adalah apakah kita akan telah ditakdirkan untuk selalu menjadi baik? Tidak. Apakah kita akan telah ditakdirkan untuk selalu menjadi buruk? Tidak juga. Kemungkinan pertama mengenai takdir adalah bahwa setiap orang telah ditetapkan mempunyai takdir yang baik dan juga takdir yang buruk. Masing-masing orang mempunyai dua buah takdir yang berseberangan. Tergantung bagaimana kita memilih jalannya. Kita telah dibekali juga rasa atau nurani untuk memilih takdirnya. Hidup adalah untuk memilih. Kemungkinan kedua adalah dialektikanya, kita tidak bisa memilih karena takdir yang memilih kita. Hidup adalah untuk dipilih. Buat apa hidup di dunia ini kalau sekedar untuk dipilih takdir? Oleh karenanya, memilihlah sebelum dipilih oleh takdir…atau menunggu dipilih? Atau ragu?

“…sebab takdir adalah persoalan tentang segala sesuatu yang menggerakkan kita dan bergerak dalam diri kita, dahulu dan sekarang, dan segala sesuatu yang bergerak dan menggerakkan kita di masa-masa mendatang - dan karenanya hanya membuka rahasianya pada akhir jalan, dan akan tetap tidak akan dipahami ataupun hanya separuh dipahami selama kita menjejakkan dan melangkahkan kaki kita di jalan itu.” (Moh. Assad)

» Comment by kuyazr — April 19, 2008 @ 4:14 pm

awabuha says:

bagus mas tulisannya…. menangis hati ini jika mengingat begitu banyak kesalahan yang telah kita buat…. semoga tulisan dan tanggapan yang baik ini dapat bermanfaat buat saya pribadi. salam kenal dari saya…

» Comment by awabuha — April 20, 2008 @ 9:30 pm

watung says:

#kuyazr
Terimakasih atas comment-nya. Saya nggak paham tentang takdir. Atau lebih tepatnya: saya nggak paham ‘takdir’ seperti yg saya maknai sekarang ini. Karena jika takdir kita ditetapkan terlebih dulu, maka nggak ada point-nya kita diperintahkan berdoa dan meminta, diutus sekian banyak nabi dan rasul… Tuhan memerintahkan agar kita mohon ampun kepada-Nya jika berbuat salah, bukankah begitu? Lalu buat apa kalau segalanya telah ditetapkan?

Saya cuma tahu satu hal: Tuhan itu Maha Baik. Saya ciptaan-Nya, dan kalau Dia berkehendak apa saja… saya tak kuasa sedikit pun. Dia tak bergeming walau kita menghujat-Nya. Dan kita takkan kemana-mana, kecuali ke haribaan-Nya… dalam keadaan apapun.

» Comment by watung — April 29, 2008 @ 4:10 pm

kuyazr says:

haloo…
hey..maksudku takdir yang ditetapkan itu pada saat akhir, husnul khotimah atw suul khotimah…begitu mas watung…bagaimana kita memilihnya…mau yang mana…sampai jumpa

» Comment by kuyazr — May 6, 2008 @ 8:04 pm

diannovi says:

Mas kuyazr..-how should i call you? Siska bilang, kuyazr itu nama julukan waktu kuliah dulu ya..:)

Btw, ikutan ngobrol ya?

Persoalan takdir…selalu menarik perhatian saya. Dan bagi siapapun yang pernah mengalami beratnya tempaan ujian kehidupan..;)

Bagi saya dan kebanyakan kita yang masih berorientasi kenyamanan, biasanya memang masih mengukur segala tindakan dari kacamata untung-rugi. Means: kalo menguntungkan i’ll take it..kalo enggak..?:)

Misalnya begini, ini pertnyaan yang sering terlintas pada saya: apa yang bisa menjamin bahwa ibadah yang saya lakukan, perbuatan baik saya selama ini, dapat menggiring saya untuk menjadi penghuni surga? bagaimana jadinya kalo takdir kita ternyata berujung pada su’ul khotimah. Berarti sia-sia dong perjuangan kita selama ini..

Kita seakan butuh jaminan dari Tuhan, bahwa setiap tindakan kita akan membuahkan hasil/manfaat sebagaimana yang kita harapkan (sesuai standard ‘keduniawian’). Maka kita seringkali meniatkan: shodaqoh agar terhindar dari bencana, sholat agar doa terkabul sesuai maunya kita, berbuat baik agar orang lain juga berbuat yang sama pada kita..

Prinsip berpikir kita mirip pedagang.

Padahal, belum tentu cara berpikir / cara Dia ta’ala bekerja sebagaimana yang kita imajinasikan.

Tuhan kok jadi terlihat..-sorry- egois, ya. Wong kita juga kan ndak minta di hadirkan ke dunia. Begitu lahir ke dunia kok ya malah di bebani macam2 persoalan lagi. Jadi maunya Tuhan tuh apa siiih..??

Nah, kejawab sendiri nih, mas..;)

Jadi, ternyata dalam berkehidupan itu, yang terpenting adalah: berusaha untuk memahami kehendak Dia ta’ala.
Memahami bagaimana Dia ta’ala bekerja..

Bahwa kemudian kita beribadah, berbuat baik dan sebagainya sebenarnya adalah penyiapan diri agar Dia ta’ala berkenan untuk mengenalkan DiriNya, kehendakNya, apa yang menjadi TujuanNya menghadirkan kita, mentakdirkan kita menjadi manusia bumi. Hari ini.

Ga bisa dengan sekedar berpasrah diri, mas..atau pokoknya sholat sing bener, berbuat baik, puasa, naik haji bila mampu…terus ujug-ujug masuk surga. Lha ya ndak begitu, mas. Buat apa dong dibekali berbagai instrumen spesial seperti akal dan hati kalo kehidupan se-linier itu.

Menuju Tuhan tidak bisa dengan prasangka belaka atau sugesti diri. Akan mudah runtuh..

So, musti gimana? kalo saya memang memulai dari berbagai pertanyaan, mas..dari mulai mempertanyakan kenapa saya lahir dari orangtua/karakter keluarga yang seperti ini, kenapa kehidupan saya begini, semua saya cermati. Dan selalu saya coba cari jawabannya di Al-qur’an. Agak sulit memang mehaminya.. tapi paling tidak ini merupakan cara saya untuk sebisa mungkin komunikatif dengan Dia ta’ala.

Berharap agar Dia selalu meliputi setiap langkah yang saya tempuh. Yang menjadi pengharapan saya adalah..saya bisa mengerti kenapa saya harus hadir..untuk urusan apa. Perkara bahwa saya harus menjalaninya sebagai seorang gembel, pengelana atau berujung pada su’ul khotimah tidak terlalu menganggu saya.. yang terpenting saya paham kenapa Dia ta’ala berkenan memperjalankan saya ke muka bumi, saat ini..

Bukankah dengan memahami reasoning suatu kejadian, kita jadi lebih mudah untuk menerima?

» Comment by diannovi — May 9, 2008 @ 1:35 am

kuyazr says:

sipp…met kenal sama neng dian…hehheee…
ternyata neng dian sudah berani memilih untuk menjalankan hidup ini apapun hasilnya dengan cara apapun….tidak hanya menyerah saja untuk dipilih takdir, berarti neng dian sudah mengusahakannya, ya kita sama-sama tunggu pada akhirnya….yang mana?,,,takdir baik atw takdir buruk yang bakal datang…yang paling esensial adalah bahwa neng dian sudah memilih…. :) awas lho…banyak yang mengganggu…

Bagi saya (bersifat fana), untuk menuju tuhan (bersifat abadi), tidak akan pernah bertemu…kecuali menjadikan sifatnya sama…menjadikan tuhan itu fana…atau kebalikannya..menjadikan saya abadi….
makin seru nih…hehheee

» Comment by kuyazr — May 9, 2008 @ 4:57 pm

diannovi says:

Hwuaduh mas, read carefully aah.. kayaknya saya ndak ada mention bahwa saya yang ’struggling-to-choose my destiny’. Ndak banget. Not at all. Mana mungkin saya se’kurang-ajar’ itu..;)

Mau kurang ajarpun ndak mungkin lah lari dari takdir. Ndak mungkin juga lah saya memilih takdir saya. Dari fisik saja, sudah memperlihatkan kalo kita tidak bisa berkelit dari takdir. Contoh, kecerdasan saya yang cuma pas-pas-an itu kan takdir saya, bagaimana cara saya menambah IQ saya? operasi otak apa? atau, tinggi tubuh, jenis rambut, orangtua saya, tanggal lahir saya, dan sebagainya. Apa saya bisa berkelit dari fixed-destiny yang seperti itu? Kalo bisa mah..saya ndak akan bersibuk-sibuk mencari jalan menujuNya..termasuk berkelana di blog-blog orang..;)

Yang saya maksud tuh, apapun kehidupan yang tengah kita jalani saat ini; mau sebagai istri, kek. Ketua rt, pedagang, whatever.. harus menjadi sarana pengenalan Dia ta’ala, musti bisa menstimulasi kita agar terbangun kesadaran apa yang Dia ta’ala kehendaki dari takdir yang menyentuh kita hari ini.

Intinya, mah, coba untuk memaknai kehidupan kita.

Memahami maksud Dia ta’ala menakdirkan kita -sebagaimana kita yang- hari ini. Bukan lari dari takdir..

Hijrah dari kehidupan yang buruk sih, boleh. Tapi pasti ada batas/boundaries yang membuat kita tidak bergeming.. batasan itu yang biasanya menjadi trigger kita untuk lari mendekat padaNya..bukan mencoba-coba men-create takdir kita dengan berangan-angan memiliki kehidupan yang lain.

Mudah-mudahan saya ndak seburuk yang di duga mas..;)

» Comment by diannovi — May 9, 2008 @ 8:18 pm

diannovi says:

Oh ya tentang bagaimana kita -dengan segala kefanaan- bisa mencapai dan memahami Ia ta’ala -yang baqo-..

Nah, tentu tidak semua aspek dari Dia bisa kita pahami sepenuhnya. Hanya fungsi ke-Rabb-annya ta’ala yang bisa tersentuh. DzatNya tidak akan mungkin..

Mencoba memahami af’alNya..
Paling mudah mengkritisi dari sejarah, mas. Kalo jeli akan terlihat ‘pola’ dari peradaban suatu bangsa..dan itu akan sangat terkait dengan proses pengimanan para individu di dalamnya. Paling tidak dari memahami sejarah besar itu, kita akan paham -garis besar- peran kita yang ‘terdampar’ di sini hari ini, terlahir sebagai bangsa Indonesia.. bukan suatu hal yang coincidence.

Takdir itu bukan sesuatu hal yang datang ujug-ujug.. ada track yang harus kita lintasi untuk suatu tujuan tertentu. Yang membuat kita sulit untuk kembali sebenarnya karena kita tidak berjuang untuk menjadi seorang yang on-the-track..

Bagaimana mengenal atau mencari jalan itu..
Emmm.. gimana nih, banyak yang ingin saya ungkap. Tapi.. this is not my blog.:)

» Comment by diannovi — May 9, 2008 @ 8:37 pm

diannovi says:

Lanjut ke imel saya, gimana? diannovi@yahoo.com

» Comment by diannovi — May 9, 2008 @ 8:41 pm

watung says:

#kuyazr
Betul, mas kuyazr. Kita berusaha, namun tak bisa menentukan hasil. Seperti kita disuruh pergi ke suatu kota, tapi ternyata bukan kota itu tujuan yg sebenarnya. Mutiara akan diperoleh, justru… di sepanjang perjalanan!

#diannovi
Terimakasih mbak dian. Comment yg sangat bagus.

» Comment by watung — May 10, 2008 @ 8:15 am

siska says:

guys, wise man said..masa lalu udah lewat, masa depan belum ditangan. So let’s live today.. anyway..(kata nina simone)..Menghayati tiap detik di saat ini. Carpediem. seize the day! jangan serius-serius amat..:))

» Comment by siska — May 12, 2008 @ 10:48 am

diannovi says:

Sis my sist,

Sorry takut misunderstanding..yang Siska maksud dengan “jangan serius-serius amat” itu kan dalam konteks orang yang masih berorientasi pada keduniawian kan? maksudmu, jangan menseriusi -hanya- urusan duniawi saja, kan? am i right?

Dan menghayati tiap detik itu.. adakah terkait dengan proses perjuangan untuk membangun kebaktian padaNya ta’ala..? bukankah mustinya begitu, Sis?

Pasti bukan maksudmu bahwa -menikmati hidup berarti: bisa seenaknya ketawa-ketiwi, becanda all-the-time, hanya mengikuti kemana kecenderungan nafsu mengarah.. merasa cukup dengan ibadah kita hari ini, dan merasa aman, nyaman dengan keadaan/kondisi perhari ini?

I hope not so..;))

Btw, seorang pencari itu tidak berarti tidak pernah menikmati hidup, loh.. hanya saja jenis ‘nikmat’nya beda ama view-nya kita..

Justru ketika bisa bersungguh-sungguh (baca: serius) dalam perjalanan pencarian.. merupakan kenikmatan luar biasa bagi seorang pencari..

Pingin seperti itu..;))

» Comment by diannovi — May 13, 2008 @ 12:07 am

 

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

(required, but will not be displayed)



Garis
RSS | My Yahoo! | Google | Bloglines | My AOL | FeedLounge
All contents ©2005-2010 by Watung Arif, unless otherwise noted.
Contents under Creative Commons License.