Watung Blog

Gender (1): Jeep & Mercedes

Saturday September 8, 2007 | Filed under: Spirituality

Laki-laki dan perempuan itu kayak Jeep dan Mercedes-Benz. Don’t you think?

mercyjeep__01.jpg

Yang di sebelah kiri itu adalah sebuah SL Class. Lembut, anggun, cantik. Bau harum di jok belakang, dibawa semilir udara AC sepoi-sepoi. Mampu melesat bak permadani terbang di jalan tol, tak terasa sedikit pun guncangan. Empuk. Menggoda. Seperti seorang perempuan, bukankah begitu?

Sementara yang sebelah kanan, Wrangler Rubicon! Yah, dream machine… It’s a Jeep, it’s 4×4 and it’s 4000 cc. Naik turun lembah dan bukit, melintas sungai dan rawa, tak akan membuatnya berhenti menderu. Walau memang nggak seanggun SL Class, tapi ia kokoh, kuat, tangguh. Sebuah angkutan ex-militer yang legendaris, sangar, peluh penuh debu, macho. Barangkali seperti itulah natur laki-laki.

Now which one is better?

Ya nggak bisa, ya nggak sih? Nggak bisa kita menyandingkan Jeep dan Mercedes lalu memilih mana yang lebih baik? Teman saya yang di marketing sana bisa bilang bahwa they serve different segments, masing-masing punya proposed-value, punya pasarnya sendiri-sendiri.

Rasanya begitu juga dengan laki-laki dan perempuan. Punya kelemahan dan kelebihan sendiri.

Banyak orang, feminist, masculinist, dan ist-ist yang lain, membincangkan tentang “gender equality”. Tapi apa yang ‘equal‘ sebenarnya?

Can you drive Mercedes the way you drive Jeep? And vice versa? Pernah tahu rasanya melarikan Jeep dengan kecepatan di atas 100 km/jam di jalan tol? Mobil terasa seperti dipasangi fasilitas vibra, ya nggak sih? Beberapa tulisan-tulisan feminist juga seolah berteriak, “Kami para SL Class berhak ikutan kejuaraan off-road di Hutan Sadawarna daerah Subang sana!” Lucu kan?

But again, kalau kita ngomong soal ‘gender equality’, what should be equal then?

you_yourbody.jpg

Aha, right! The drivers! Supir, you know… apa yang ada ‘di dalam’. Jiwa… which is beyond the concept of bodies, beyond the concept of male and female. Poin yang satu ini rasanya nggak banyak disentuh di perbincangan tentang ‘gender equality’. Look, friends, our bodies are like cars, aren’t they? Persoalan penting lain selain ngeributin Jeep dan Mercedes adalah: mau kemana sih sebenarnya? Do you know? And how to get there?

Jiwa yang baik, seperti halnya supir yang baik, adalah yang paham benar tipe kendaraan apa yang dipakainya (nggak gebyah uyah for the sake of equality), yang mengendarainya sesuai dengan kondisi kendaraannya, tahu mau kemana, dan tahu bagaimana supaya nyampe ke sana.

Ya nggak sih?

Part 2, from a Sufi Master, Bawa Muhaiyaddeen.


11 Comments »

leviathan says:

watung, it’s a false analogy. apakah perempuan harus “lembut, anggun, cantik”? bagaimana jika terdapat perempuan yang ternyata “kokoh, kuat, tangguh” dan menjuarai off-road di subang? harus meninggalkan keperempuanannya? :) ganti kelamin? :P

» Comment by leviathan — September 8, 2007 @ 8:26 pm

watung says:

wan, that’s not my point. jika kemudian ada perempuan yang musti menjuarai off-road di subang, then she must be driving an SUV… a BMW X5 or an ML Series or a Porsche Cayenne. those are exceptional cars designed originally as sedans but able to hit Paris-Dakar race.

my point is… kita datang ke sini dengan sebuah mobil yang kita nggak pernah memilihnya. but remember: you are the driver, not the vehicle. drivers are generally equal, but does it make any sense to attribute equality among vehicles? drivers are sent here for special missions and equipped with certain vehicles specific for those missions, don’t you think? kalo seorang perempuan tahu bahwa dia mengendarai SUV, ngapain juga dia musti wira-wiri di jalan-jalan protokol.

» Comment by watung — September 8, 2007 @ 11:04 pm

leviathan says:

kalau memang kendaraannya BMW X5 , berarti analogi dua mobil mercy-jeep nya ngga tepat dong :)

kalimat
“kalo seorang_perempuan_tahu bahwa dia mengendarai SUV, ngapain juga dia musti wira-wiri di jalan-jalan protokol.”

mungkin lebih tepat

“kalo seseorang_tahu bahwa dia mengendarai SUV, ngapain juga dia musti wira-wiri di jalan-jalan protokol.”

jadi, imho, ini bukan persoalan gender karena berlaku pula pada laki-laki. seseorang perlu tahu kapasitas dari masing-masing entah itu dia laki2 maupun perempuan. jika ini maksudnya, i’m with you.

pertanyaannya: selama orang tsb mempunyai kapasitas, apakah suatu persoalan jika dia itu perempuan? :)

» Comment by leviathan — September 9, 2007 @ 10:22 pm

watung says:

mustinya emang nggak masalah laki-laki atau perempuan. yg masalah adalah, again, ketika kita mengendarai sedan tapi brangasan layaknya pegang jip, juga sebaliknya. masing-masing punya yg namanya general-featuresnya sendiri-sendiri. you know… most sedans punya ground clearance lebih kecil dibanding jip, and men generally don’t listen and women can’t read map.

ribuan riset dilakukan untuk membuktikan kesamaan gender, but failed… simply because they have no idea what should be equal… men and women are generally, scientifically different. tapi orang melupakan satu hal: the soul, the driver… when you look at the souls of men and women, can you see the differences?

» Comment by watung — September 10, 2007 @ 9:31 am

Andru says:

Hi Watung,

Long time no hear. I hope you’re doing great and getting enough sleep, with the new baby and all :)

Quite interesting thread. Dari sedikit yang saya tahu, gender equality adalah masalah social construction. Bagaimana laki-laki dan perempuan sudah dikotak-kotakan pada peran masing-masing oleh masyarakat.

My understanding is, persamaan yang dicari lebih kepada persamaan atas kesempatan, equal opportunity. Noone denies laki-laki dan perempuan beda. All we need is to look down when we pee to see undeniable evidence :) Tapi kita harus akui juga bahwa ada perbedaan kesempatan yang cukup besar antara laki-laki dan perempuan ketika berkiprah sebagai anggota masyarat. Stereotipe laki-laki pencari nafkah sedangkan perempuan mengurus rumah adalah salah satu contoh pengkotak-kotakan yang cukup berakar kuat.

Analogi Jeep Vs Mercedes sendiri IMHO sudah masuk perangkap kotak-kotak tersebut. It’s not saying those vehicles are interchangeable but I think gender equality would mean be the driver being able to choose what vehicles she/he wants to use depending on her/his preferences as opposed to society saying you’re a jeep, you’re a mercedes and based on your specs you are destined to travel on smooth road/off-roads all your life, because so says the “rules”.

You’re right, it’s all about the driver. The thing is, from a gender equality perspective, the car you are talking about is socially constructed.

» Comment by Andru — October 11, 2007 @ 2:44 pm

watung says:

hi, dru! hehe… new baby, begitulah, kenapa nature nggak punya ide soal OFF atau STANDBY button for new babies yah, if theory of evolution is true…? ;-)

ok. great comment! dru, ini sebenarnya kategori spirituality, so pastinya ada persinggungan dgn “belief part” di sana-sini. maksudnya gini:

jeep & mercedes adalah analogi utk tubuh, beserta seluruh aspeknya. the driver is the soul, the self, the “I”. we, the drivers, datang ke dunia ini sudah dengan tubuh yang ini. we did not choose what vehicle we wanted to have, don’t you think? now, what might The Creator have in mind when deciding which vehicle is best for you before sending you to the world? take a guess… what is the rationale for you to buy for your wife an SUV instead of sedan?

yes, THE PURPOSE!

dru, we’re NOT sent here with the hom-pim-pah alaiyum-gambreng, we’re sent to this world with the PURPOSE of life… as Muhammad s.a.w once said, “tiap-tiap diri dimudahkan sesuai dengan maksud untuk apa ia diciptakan” (HR Bukhari).

sampai di sini, nggak ada masalah sebenarnya. masing2 jiwa dapat perannya sendiri2, nggak ada yg lebih tinggi atau lebih rendah. masing2 dinilai sesuai performance dalam menjalankan perannya masing2.

kemudian, semakin sedikit orang yg paham maksud penciptaannya. why are we here? what is this world? there are jewelry, money, houses, cars, sony vaio, wii… hanging on the top mountains, they’re gorgeous, are we here to chase them? what happened then was that society started thinking that jeep is superior than sedan, because it can beat on the rougher, tougher trails.

akhirnya si mercedes, yg sama2 nggak paham maksud penciptaannya, mulai merasa bahwa dunia semakin menyesakkan dan nggak adil. but they went into wrong direction… they demand gender equality, dan menuntut equal opportunity to go off-road…!

see my point dru? gw nggak menutup mata soal kasus2 perempuan yang ditindas, yg sulit dapat kerja, male chauvinism, dan semacamnya itu. tapi gw nggak bahas itu, terlalu klasik. ini hanya sekedar mencoba melihat dari sisi yg berbeda aja… cheers!

» Comment by watung — October 16, 2007 @ 4:32 am

Andru says:

Thanks for explaining it again, ‘tung. I know this is an old thread but I hope I’m not boring you by continuing our chat.

Mungkin yang saya kurang bisa tangkap secara jelas itu masalah purpose in life tadi itu. Maksudnya gini, dari pemahaman saya atas tulisan Watung di atas, tersirat bahwa purpose of life tadi tergantung sekali pada the sex in which you’re born with. Bahwa The Creator, in His infinite wisdom, assigns a purpose to a soul and then as the soul is physically manifested in this world, is (necessarily) given a sex. With the analogy you’re using, you’re saying there’s a very strong correlation between the sex of a person and his/her purpose of life as assigned by the Creator. Have I understood you correctly?

» Comment by Andru — November 12, 2007 @ 7:14 pm

watung says:

hi, dru. yes. not only does the gender correlate with the purpose of life, but our characters, our strengths and weaknesses, tendencies, intelligences, our all-inherent features… they do correlate with our purpose of life. Some people are good at calculating, some are at managing, some are at persuading others, some are at composing music, etc. If you’re sent here to cut wood, you will be given an axe, don’t you think?

what much more important then is… what your purpose of life is, dru, why you are here. silly question, heh… ;-)

Rumi once said:

“It is just as if a king had sent you to the country to carry out a specified task. You go and perform a hundred other tasks; but if you have not performed that particular task on account of which you had gone to the country, it is as though you have performed nothing at all. So man has come in this world for a particular task, and that is his purpose; if he does not perform it, then he will have done nothing.”

Again, “tiap-tiap diri dimudahkan sesuai dengan maksud untuk apa ia diciptakan” (HR Bukhari)

» Comment by watung — November 12, 2007 @ 8:16 pm

Andru says:

Ah, yes, I see your point ‘tung. I can understand how our “attributes” have been set to enable us to fulfil our Purpose in life.

But in regard to women (and that’s why I asked whether sex is a determinant or not) asking for gender equality, I don’t think that’s going in the wrong direction. If we can agree that gender equality simply means equal opportunity, I believe those women are simply trying to make it easier for themselves to fulfil their Purpose of Life, whatever it may be (only the Creator knows for certain, right?) Perhaps there are souls out there whose purpose of life is to lead other people into battle, to fight, but were given a female body at the start of the journey. Joan of Arc would come to mind. Some would say that this is like a Mercedez trying to go off-road. But I believe that the Creator also likes to challenge His subjects. Perhaps being in a female body was just an extra added challenge in the quest to fulfil her purpose of life. The Creator likes to challenge His subjects but will not burden us with challenges that we cannot overcome, no?

So yes, as you wrote, the attributes will have been set to enable us to fulfil our purpose of life. But gender-equal-ist would say that someone’s sex simply determines their reproductive roles. If you’re a man, you plant your seeds (aren’t we lucky to be men, reproductively speaking. No sweat!). If you’re a woman, you will bear the child for 9 months, give birth and can breastfeed the baby. The other attributes (e.g. intelligence, strengths, etc) does not correlate with the sex, right?

From what I understand, the problem is how humans, through socially constructed norms, have put labels on what women (and men) should be measured against. Thus we get “jalan tol”, “off-road”, “mercedez”, “Jeep” and from there a measure of what’s “appropriate” for each. I’d tend to say that with such labelling, we’re actually limiting those souls that happened to be given a female body to begin the journey and start figuring out what their purpose of life might be. We’re overriding what the Creator has assigned for each soul as his/her purpose of life and hijacking it with what society believes it should be, along the lines of Men vs Women. A big part of fulfilling that purpose of life is actually figuring out what your assigned purpose of life is. That in itself is not an easy task. That’s why we need equal opportunity. We need it so that the soul can soar and begin exploring his/her assigned purpose of life.

I hope that makes sense. As you know, I’m not that spiritual a person so what would I know.

Thanks a bunch ‘tung, it’s always a learning experience chatting with you. Cheers, mate!

» Comment by Andru — November 13, 2007 @ 7:17 pm

Kurniasih (Ani) says:

beberapa buku, yang disebut-sebut sebagai buku babon feminisme pernah saya edit. untung terjemahannya bagus jadi saya tinggal menikmati saja isinya.

salah satu judul bukunya adalah The Feminist Thought. beraneka ragam aliran dan perkembangan feminisme dikupas disitu. mulai dari pragmatis sampai yang abstrak. mulai dari membicangkan kaum perempuan Amerika yang pingin dapet hak pilih sampe filsuf perempuan yang tak terjebak kedalam kategori feminis atau nonfeminis karena itu menjeratnya pada fundamentalis. tapi tahukah Anda-Anda, tidak ada sedikit pun pembahasan, “Siapa itu perempuan? apa itu perempuan?” semua pembahasan dilandaskan pada tema “persoalan yang dihadapi perempuan”

tentu saja jadi terasa ga enak menelusuri persoalan serta berbagai cara untuk menanggulanginya karena sosok perempuannya itu sendiri ditinggalkan. saya malah curiga jangan-jangan memang tak banyak yang tahu makhluk apakah sebenenrya perempuan itu.

kata-kata Bawa tentu saja beyond dari semua perdebatan itu. seperti mengatakan begini, “mari kita berpikir lebih dalam. bukan semata terjebak pada jasadiah saja.”

beberapa waktu lalu saya membaca sebuah tulisan pendek mengenai fase kehidupan perempuan. sungguh, saya merasa tidak tersapa. karena seperti juga banyak ditulis dalam tema-tema serupa, yaitu ttg perempuan, bahwa kemuliaan perempuan seringkali dinisbatkan pada jasadiah saja.

fase yang dialami perempuan adalah: bayi-dewasa, mencari pasangan, menikah, melahirkan, menyusui, mendidik anak. ini memang standar umum yang dialami perempuan. lalu bagaimana dengan kemuliaan perempuan yang masih lajang hingga umur tiga puluhan, atau bahkan meninggalkan kepala tiga. bagaimana kemuliaan perempuan yang sudah lama menikah tapi belum juga punya anak. sehingga mereka ini tidak termasuk sebagai istri atau ibu. sementara kita tahu di zaman sekarang perempuan ala Jane Austen semakin banyak. mereka belum ditakdirkan untuk mempunyai suami apalagi anak kandung. perempuan ala Oprah Winfrey pun tidak sedikit. sudah sangat dewasa tapi belum pula berkeluarga. di manakah kemuliaan perempuan seperti mereka (termasuk saya kali ya :) karena usia 30 belum nikah)

fokus kemuliaan yang hanya pada tingkat jasadiah apalagi biologis/reproduksi semata tentu saja bukanlah yang paling benar. siapa “supirnya” yang di dalam itulah yang pada akhirnya lebih sejati. bahwa melahirkan itu bukan semata melahirkan anak yang berdarah daging tetapi juga berupa khasanah dan potensi yang ada di dalam dirinya (di dalam sang supirnya). indah bukan? bahwa kemudian perempuan yang belum menikah atau tidak punya anak tidak akan nelangsa dan meratapi diri karena tak jua jadi istri atau ibu.

» Comment by Kurniasih (Ani) — January 1, 2008 @ 11:58 am

Ariasa says:

wah setuju dengan tulisan nih. ternayata ada juga yang paham bahwa sesungguhnya kita ni adalah sebuah jiwa yang sangt berbesda dengan badan ni. dan badan adalah atribut yang dimiliki oleh sang jiwa. Pandangan dan pemahaman yang bagus tentang sang diri…

» Comment by Ariasa — March 2, 2009 @ 11:46 am

 

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

(required, but will not be displayed)



Garis
RSS | My Yahoo! | Google | Bloglines | My AOL | FeedLounge
All contents ©2005-2010 by Watung Arif, unless otherwise noted.
Contents under Creative Commons License.