Watung Blog

Titik-titik

Wednesday September 26, 2007 | Filed under: Family

108155319_6a3f06ffa8.jpgAzka, laki-laki, kelas 2 SD. Seminggu yang lalu, seperti puluhan atau bahkan ratusan temannya yang lain menjalani ujian Kewarganegaraan, sebuah mata pelajaran sekolah yang diharapkan, yah bisa membentuknya menjadi seorang warga negara yang baik, for whatever it means.

Salah satu soal di ujian itu berbunyi begini: “Yang bertugas mengumpulkan uang sumbangan di sekolah adalah …” Titik-titik. Jawaban Azka? “Kita”. Hmmm, sepertinya jawaban yang bagus (anak sendiri, jadi agak bias juga nih). Menariknya, it’s wrong-wrong-wrong, salah, nol, kosong. The correct answer? Well… I have no clue. Bisa si Ina, si Tasya, si Michael, si Rachel, ketua kelas, wakil ketua kelas, atau bahkan Bu Guru sendiri… don’t you think? Lhah, harusnya siapa sih?

Oh, soal semacam itu bukan satu-satunya. “Kita harus (titik-titik) pada orang yang bicara”. “Membersihkan got mampet adalah contoh perbuatan gotong royong yang dilakukan di …” “Manusia membutuhkan manusia lain karena …” Dan kalau kita menjawab “untuk minta tolong” buat soal yang terakhir, kita akan senasib dengan Azka: nol, kosong, karena jawaban yang benar adalah “karena manusia adalah makhluk sosial”. Hah?

Seluruh soal di ujian itu, ada 30 totalnya, seluruhnya, saya ulangi, seluruhnya… adalah jenis ‘titik-titik’. Cepat-cepat saya peluk Azka, “Dapat remedial ya? Hebat banget!” Itu serius. Biar. Biar saja dianggap bodoh oleh … stupidity semacam itu.

Maka kita pun tersadar, mimpi buruk macam apa yang dialami anak-anak. Sebuah mimpi tentang pakem-pakem para orang tua, tentang ketentraman yang tak ingin diusik. Jenis soal titik-titik ini adalah sebuah sejarah pendidikan yang memberangus, yang seolah berkata, “Wahai, anak-anakku. Kalian anak-anak, kami orang tua. Ikuti kami. Kami orang tua sudah punya cerita. Tak usah kau mencari-cari kisahmu sendiri. Lanjutkan saja sejarah kami. Lanjutkan kemegahan kami. Belumkah cukup ruang titik-titik itu bagimu? Isi dengan baik. Isi yang benar. Sesuai yang kami ajarkan dahulu. Sungguh kami mencintaimu… apa adanya, jika engkau seperti kami.”

Teman-teman yang baik, bukankah anak-anak adalah jiwa-jiwa yang bebas sebenarnya? Kita memberi mereka selembar kertas gambar yang lalu dicoret-coretnya sampai habis seluruh lantai kamar, sprei tempat tidur, dan mulutnya sendiri. Jiwa tak berbatas. Lihatlah mata itu, tangan mungil itu baik-baik. Bukankah hanya mereka anak-anak yang berani mengkritik buku-buku kita sebagai coret-coretan hitam putih yang jelek tanpa warna? Bukankah hanya tawa dan senyum anak-anak yang tanpa dibuat-buat?

Di manakah anak-anak kini, teman-teman yang baik?

Adakah kita yang membunuh jiwa-jiwa itu? Mungkin tidak. Barangkali kita hanya membonsainya sedikit, mengikat tumbuh kembang batang dan rantingnya agar tampak rapi, menaruhnya di vas kecil nan cantik seukuran tiga titik… bertahun-tahun. Bertahun-tahun! Agar kita dapat menaruhnya di pojok-pojok ruangan dan mengundang decak kagum para saudara saudari dan tetangga yang bertepuk tangan akan kehebatan kita sendiri.

bonsai.jpg

Anak-anak, teman-teman yang baik, pada akhirnya adalah bangunan keinginan kita sendiri. Anak-anak adalah makhluk yang kita ciptakan sendiri bertingkah menyerupai kita para dewasa, yang bertubuh mini.

Bonsai. Sebuah teknik yang mengerikan. Tapi barangkali itu gambaran masa depan kita. Mahal, indah. Tapi bonsai.


20 Comments »

mamahnya Azka says:

Let’s find another school..
Any info..please..

» Comment by mamahnya Azka — September 26, 2007 @ 4:24 am

diannovi says:

pindah sekolah bukan solusi yang tepat sebenarnya. apalagi kalo Azkanya ngerasa baik2 aja,ga ngaruh ama penilaian sekolah, orangtuanya juga fine aja;) kesempatan ngebangun mind-set yang positive -sebenarnya-dengan menggali perasaan2 dan pandangan dia melalui problem yang dia hadapi (itupun kalo dianggap problem oleh Azka). kadang yang dianggap ribet ama kita, ga gitu2 amat buat mereka. kecuali kalo dia udah mulai complain. itupun sebenarnya masih bisa disiasati dengan alternatif lain; pendampingan mungkin?

bukan. bukan maksudku merubah anak agar adjust dengan sistem pendidikan (yang belum tentu benar), atau berusaha mencelup dia dengan warna yang bukan dirinya. aku suggest agar kita lebih fokus untuk -membantu,dan-mengenali ketahanan anak dalam menghadapi persoalan, termasuk kemampuan untuk melihat positiveness dari kehidupan yang dia jalani.mendidik dia supaya tajam melihat mana yang jadi persoalan bagi dirinya dan diluar dirinya; bukan persoalan orangtua, persoalan sekolah, apalagi persoalan tetangga…;)banyak fenomena yang kadangkala terlihat blur,bias. bikin orang sulit lepas dari simpul persoalan.judulnya:terpuruk, karena ga mampu ngeliat esensi persoalan…

anyway, kalopun mau pindah,pindah kemana nih? mending jangan tanggung2. aku recommend ke sekolah semipalar di Bandung(www.semipalar.net),meet andy sutioso.atau sekolah gagas ceria, di Bandung juga, meet kak santy. mau tetep di jakarta? ya, kalo ga mau banyak aturan yang mengikat, mungkin bisa coba sekolah international yang ga pake kurikulum diknas, such as: global jaya, high-scope. actually, i don’t recommend it (for Azka, of course)…atau dwimatra, mungkin? kurikulumnya std banget siy,tapi, at least disana ada Sentari yang mungkin bisa bantu observasi. kalo ada data yang lengkap dari guru, semoga aku juga bisa bantu..

good luck.

» Comment by diannovi — September 26, 2007 @ 8:37 am

diannovi says:

punten, nimbrung lagi..

emmm, pernah sharing dengan orangtua temen2 sekelas Azka (via POMG/PTA?), gimana tanggapan mereka? punya concern terhadap fenomena ini juga? kalo iya, ajak untuk bikin action. pihak sekolah ga mungkin ignore complain dari ortu murid, apalagi kalo banyakan, rame2.kalo perlu nanti libatkan tokoh pendidikan yang se-visi dengan concernnya kita.

kalo masih ga ngaruh, bikin opini publik melalui tulisan di media-massa. kalo masih lembam juga, baru deh pikirin buat mindahin Azka.eh, tapi itu juga setelah ortu observe; persoalan seperti ini akan melemahkan atau justru menguatkan Azka? lemah tuh artinya, dia jadi gampang terpengaruh, gampang didrive oleh situasi eksternal. misalnya, memilih untuk memberi jawaban sesuai yang guru mau ketimbang berargumen tentang pendapatnya.

kuncinya emang di orangtua siy (fffiiuuuh). mau ga mau kita harus piawai mensiasati keadaan; gimana caranya agar anak bisa well-adjusted tanpa kehilangan warna dirinya. asiiik tuh…ortu jadi dipancing supaya kreatif, dan ga jadiin sekolah sebagai ‘pusat’ kehidupan dia, apalagi ngandelin guru…engga banget deeeeh…

ok, selamat berjibaku…;;))

big hug for Azka.

» Comment by diannovi — September 27, 2007 @ 6:50 pm

watung says:

Mbak Dian, thanks.

You suggest: “kita lebih fokus untuk membantu dan mengenali ketahanan anak dalam menghadapi persoalan…” Tapi bukankah kita mengirim anak ke sekolah so he can learn things, bukan untuk tahu seberapa jauh ketahanan anak menghadapi hal-hal yang bukan ‘milik’nya? Jika memang ketahanan yang dituju, ya kita akan kirim anak ke Karate class, fitness class, or whatever ‘ketahanan’ class. Itu juga nggak bisa dijadikan alasan seorang guru, “Oh kami memang sedang ingin melihat seberapa tahan anak-anak dengan metode yg jelek ini…” don’t you think?

Yang jadi pertanyaan sebenarnya adalah: seberapa besar sih impact-nya, dan di titik mana pengaruh terbesarnya? Azka looks fine so far, masih sehat, bermain seperti biasa… tapi itu semua adalah fenomena di permukaan. Apa yang terjadi di dalam, bagaimana dia memandang kehidupan ini, apa yang terjadi dengan nilai-nilai yg tumbuh di dalam dirinya… itu sebenarnya yg kami berusaha cari tahu.

Memindahkan ke sekolah lain? Wah masih jauh… Those fancy schools are expensive, we cannot afford. Hehhe…

» Comment by watung — September 27, 2007 @ 8:52 pm

watung says:

class action… hmm. mungkin kita mau nulis ke sekolah dulu, sebagai feedback, yg terpikir awalnya sih gitu dulu.

» Comment by watung — September 27, 2007 @ 9:08 pm

diannovi says:

he..he..yang dimaksud dengan ‘ketahanan’ tentu ga terkait dengan fisik atau (gojlokan) mental. ada-ada aja si…:D

i’m psycholog loh, bukan menwa.

gini. harus dipilah, bahwa ada 2 variable yang diunderline dalam urusan ini: 1.(perkembangan psikis)Azka, 2.sistem pendidikan yang ngawur.

kita mulai membahas Azka. sebagai psikolog yang pejalan, aku definisikan ketahanan itu terkait dengan ‘kekuatan’ qolb dia dalam menyaring segala-sesuatu (fenomena) yang bisa mempengaruhi aspek shudr (pikiran,perasaan, dan unsur mental dalam istilah psikologi)dia. makanya aku saranin, untuk banyak menggali/memancing pertanyaan, kesan, perasaan dia terhadap berbagai hal yang dia hadapi dalam kehidupannya (yang fokusnya saat ini adalah; sekolah).banyak komunikasi, asah logika berpikir dia;giring dia agar bisa menempatkan atau melihat persoalan dengan tepat. kenapa demikian? karena esensinya, dalam perjalanan hidupnya, Azka akan banyak menempuh persoalan dalam kehidupannya. nah, berbagai problem (mau gurunya yang ga becus lah, pembantu yang kasar, temen-temen yang liar, tetangga yang hedonis,de el el, de es be) itu kan harus bisa direspon (oleh Azka)dengan tepat. kenapa harus direspon dengan tepat? karena kalo ga selesai (urusannya), Azka akan terus dikuntit persoalan seperti ini. mau pindah sekolah super canggih sekalipun, pasti akan ketemu masalah-masalah lain.menyikapinya harus dengan penyikapan seorang pejalan. bukan dengan reaksi awam yang reaktif.

ajak Azka pelan-pelan untuk mreteli kenapa misalnya ujiannya jeblok.bahwa itu bukan semata kesalahan Azka, yes! ajak Azka melihat persoalan dirinya dan diluar dirinya: bahwa Azka sudah berusaha belajar, itu harus diappreciate. mengenai hasil yang jeblok, itu yang harus dibahas bersama. kenapa Azka menjawab begini, kenapa menurut bu guru begitu. biar dia mengambil kesimpulan bahwa tidak setiap ikhtiar selalu mendapat hasil yang kita harapkan. dan dia juga belajar menjembatani dikotomi paradigma/sudut pandang tiap orang.

itu juga membantu dia agar tidak hanya sekedar menyumpah-serapahi kondisi diluar. toh,takdir dia bersentuhan dengan problem ke-hari-ini-an nya pasti bukan tanpa maksud. Maa khlaqtaa hadzaa bathiila…

kita sama-sama belajar menyikapi dengan tepat. ortu juga belajar agar ga mudah terjebak dengan ‘asumsi psikologis’ dan mencemari dia dengan banyak kekhawatiran. bahwa kemudian kita memutuskan untuk ngasih input kesekolah lewat tulisan atau memutuskan pindah sekolah (whatever) itu hanya variable ikutan. fokus kita Azka. yang ditransformasi: A Z K A! bukan sekolah.

nah, sekarang tentang langkah yang akan kita tempuh ke sekolah Azka.yang aku maksud dengan bikin action itu, bukan berarti harus bikin class-action yang demonstratif gitu. udah ga jaman. actionnya tentu yang terkait perubahan paradigma, dong. via tulisan, diskusi dengan tokoh2, pendampingan atau observasi dari psikolog pendidikan, atau apapun.

sekarang gini, fungsi sekolah tuh sebenarnya apa sih? kenapa nyekolahin Azka, tujuannya apa? learn things…??? bo’! kalo learn things -aja- sih, taro aja dia dijalanan, pasti dia learn things..much! lebih ‘kaya’ pengalaman bahkan, lebih banyak yang bisa dia serap, malah mungkin bisa bikin dia lebih ‘mature’.

fungsi sekolah tuh sebenarnya: untuk membangun logika berpikir anak. kalo itu udah kebangun. trust me! dia akan mencari sendiri apa yang tepat bagi dia dan ga tepat. nah, prakteknya pendidikan sekarang kan udah salah kaprah, ga sesuai dengan visi. visi kadang canggih, aplikasinya masih babak belur. kenyatannya, pihak sekolah memfungsikan diri sebagai pemberi input sebanyak-banyaknya pada anak. kalo udah gini kejadiannya, mau ga mau orangtua yang harus berperan mengambil alih fungsi pendidikan.

fungsi orangtua sendiri apa? menemukan object-interest anak: apa yang dia minati, ujian yang jelek, puisi yang dia buat, apa yang bikin dia berbinar-binar,anything…bisa jadi data yang akan memandu kita untuk mengenali apa yang sih yang paling berkesan buat dia, apa yang paling cepat menstimulasi kesadaran dia.

jadi, tolong dipilah, mana yang jadi fokus kita. bahwa kedua hal tersebut (Azka dan sekolah) bersinggungan dan saling terkait, iya banget. tapi penanganannya, penyikapan kita, ga boleh campur-aduk. harus jernih. ada apa nih, kok Azka ‘diceburkan’ dalam kondisi pendidikan yang carut-marut? mau pindah keluar negeri -yang mungkin dipandang canggih ama ortunya- juga belum kebuka kesempatannya. jadi harus gimana, nih? .penuhi diri kita dengan pertanyaan2 seperti ini. perenungan2 seperti ini yang pasti akan ngefek banyak ke anak.

ada yang salah, kalo malah faktor eksternal (sekolah,misalnya) yang lebih banyak ngasih dampak ke dia. lampu merah buat orangtua. idealnya ga gitu. kalo, Azka kokoh (dengan panduan ortu) dia ga bakal kelimpungan menghadapi dunianya.

tapi kita juga harus sama2 jujur. kalo memang dirasa butuh penanganan, pemantauan dari psikolog, atau ahli lainnya, kenapa engga..? makanya aku juga saranin sharing dengan ortu murid yang lain, mungkin bisa jadi input berharga buat kita. sangat perlu buat ortu memperluas wawasan. wajib hukumnya.

persoalan yang dihadapi anak kudu jadi pemancing ortu untuk membangun visi hidup yang benar. itu yang harus dipegang kuat-kuat.

ketangkep pointnya ga, mas?
punten, kalo jadi intervensi banyak. you stimulate me…;;))

» Comment by diannovi — September 28, 2007 @ 7:55 am

watung says:

yes, i got your points, and i think you got mine too. Azka masuk ke sebuah bis, and we think the bus has gone wrong. Tentu kita bisa berbincang dgn Azka, “Hai, Azka, look where the bus is taking you…” And he probably answer, “Perhaps to the kingdom of playstation!” laugh out loud..

but yes you might be right bahwa sering kita terlalu terpaku dengan bisnya sendiri, seharusnya itu juga jadi sarana komunikasi, pembelajaran antara ortu dan anak.

thank you.

» Comment by watung — September 28, 2007 @ 9:10 am

Agnes says:

poor azka…Jadi inget Faiz, anaknya mba helvy TR, dulu ortunya bertahan di sekolah negri, tp akhirnya ga kuku jg, idem ngalamin soal kaya diatas juga, berikut gurunya ga bisa diajak diskusi, dan akhirnya pindah skul jg :(. Sekolah recomendedku klo di bandung : mutiara bunda. Tp jalan terbaik emang protes sama gurunya dengan sesama ortu lain ya, mudah2an di denger :-) kalo engga demo aja kali mas hehe

» Comment by Agnes — September 28, 2007 @ 1:58 pm

diannovi says:

hehe..mas selalu bisa ngasih amtsal yang lucu,ya..:D

punten, aku terlalu menggebu-gebu, jadi ga menata tulisan.

jujur, aku tuh sebenarnya pingin banget ngeliat respon seorang anak dalam usahanya agar bisa ’survive’dalam kondisi yang yaaah..mungkin dipandang tidak menguntungkan. ngeliatnya kayak tantangan..hehe.. kondisi seperti ini kan (juga akan) sangat men-challenge ‘kreativitas’ dari orangtua.iya ga, sih?

tapi itu kan opini dari outsider. ga semua ngeliat dengan angle yang sama. yaa… ortu paling tahu lah apa yang paling ‘aman’ dan baik buat anaknya.

actually, i do really care of your concerns…

» Comment by diannovi — September 28, 2007 @ 3:36 pm

sugarlini kamal says:

Mas Watung, mbak Helmy,
Itulah dunia kita. Hari ini, nanti dan sampai kapan kita tidak tahu. Kalaupun harus ada perubahan dari segi konsep pendidikan yang seharusnya seperti apa.. dan semua wacana tsb sudah kita tahu, biarlah itu menjadi urusan orang yang mempunyai amanah di situ. Mari kita berharap dan doakan agar mereka mampu bekerja dan melakukan perubahan bagi perbaikan di masa depan. Sekarang, apa yang menjadi tugas dan amanah kita sebagai orang tua? Menurut versi saya, adalah memberikan suasana yang kondusif bagi si anak untuk menemukan jati dirinya dalam kondisi apapun dan lewat tantangan seberat apapun sehingga khazanah dirinya akan terpancar sebagaimana mestinya. Sehingga output secara fenomena jasadiahnya akan muncul dalam bentuk yang tidak terbatas yang juga mungkin tidak mampu kita pahami secara sederhana.

Secara praktis, kalau buat saya, anak diajak untuk tetap mengekspresikan dirinya sendiri namun bentuk ekspresinya mampu beririsan dengan kondisi di luar dirinya, atau anak mampu mengemas ekspresi dirinya dalam bahasa yang setidak-tidaknya diminta oleh paradigma berfikir di luar dirinya saat itu (mungkin ini adalah derivatisasi kesekian dari sifat rahman rahiim dan rahmatan lil ‘alamin–bukan kah tujuan digelarnya alam semesta adalah untuk mengekspresikan hal ini?). Misalnya, untuk kasus nilai PPKN Azka, saya akan tetap appreciate tanpa mencela jawaban dia (seperti yang telah mas Watung lakukan). Tetapi untuk membantu anak mampu beririsan dan mampu memahami bagaimana mind set lingkungan di luar dirinya saya akan mencoba secara tidak langsung untuk membantu anak membaca dahulu uraian di dalam buku PPKN (karena setiap buku panduan (paket) biasanya didahului dengan cerita sebelum ada pertanyaan.
Saya yakin Azka adalah anak pandai (siapa dulu bapak ibunya) he..he.. Dan memang, salah satu karakter anak pandai adalah ‘melompat’langsung ke sasaran. Seperti jawaban dia …’untuk minta tolong’ .. sebagai ganti …’makhluk sosial’ seperti yang diinginkan oleh ibu gurunya. Coba kita lihat secara obyektif dari 2 jawaban itu? Engga ada yang salah kan? (setidak-tidaknya ada hubungan antara minta tolong dan sifat manusia sebagai makhluk sosial). Justru kita mungkin mempunyai kesempatan memberikan pendidikan ‘plus’ buat Azka untuk mampu beririsan dengan dunia di mana dia berada. Bentuknya bisa dalam : 1)tidak mendoktrin anak untuk langsung mengatakan siapa yang benar dan siapa yang salah 2)akan menjadi ajang diskusi antara anak dan ortu sebagai sumber informasi utama dalam pencarian jati dirinya. 3)diharapkan bergulir suatu solusi yang sifatnya intern dan ekstern. Intern, pemaknaan dalam batin si anak (tidak memberangus atau mendzolimi dirinya.) Ekstern, misalnya berani melakukan diskusi dengan gurunya.
Jadi, di urusan ini kita harus hati-hati dan adil. Jangan sampai terjebak. Alih-alih ingin melindungi anak dari pendzoliman system pendidikan di sekolah malahan kalau tidak hati-hati hanya memindahkan pelaku pendzoliman itu kepada diri kita, sebagai orang tua.

Jadi, kita tinggal berprasangka baik, tersenyum, menyaksikan atau menanti hasil sebuah proses penggalan perjalanan anak kita tercinta untuk menemukan dirinya. Semoga Allah selalu membimbing kita, orang tua mereka. Bagi saya ini adalah bentuk tawakal secara praktis. Selamat menjembatani dunia luar dengan dunia dalam diri Azka.
Sebuah keniscayaan, kita (semua termasuk Azka dan anak-anak saya) akan diberondong terus dengan kasus seperti ini di manapun dalam bentuk apapun yang kadang di luar dugaan kita. Dan itu adalah proyek besar dalam tujuan penciptaan manusia yang harus mampu menjadi ‘insan kamil’ dalam mewujudkan ‘misinya’ (khalifah.., saksi Allah.., ).

Jadi malu… sebetulnya saya juga mengalami hal yang sama dengan mas Watung dan mbak Helmy mengenai pendidikan anak. Jadi, tolong doakan saya juga. ;-D

» Comment by sugarlini kamal — September 29, 2007 @ 8:04 am

watung says:

Mbak Agnes, thanks infonya. Faiz is a little prince, of course… hehe. Sementara Azka, he’s just my sweet big boy… (how can I describe him?)

Mbak Dian, rasanya sih dia akan survive. Bukankah kita sendiri dulu berada di lingkungan pendidikan yg seperti itu, may be even worse? Dan kita survive. Well… at least we think we did survive. ;-)

Mbak Sugar. Halo mbak sugar… welcome to my blog. Ok, penjelasan Mbak Sugar bikin saya bertanya: ini problem nggak sih sebenarnya? Atau saya cuma exaggerating aja, melebih-lebihkan? Tapi kalo dipikir ya, banyak orang besar di dunia punya masa kecil, atau hidup di lingkungan pendidikan, yg nggak menguntungkan sebenarnya. So… mungkin Mbak Sugar benar, bis yang mengantar Azka bisa end-up di suatu tempat yg nggak semestinya. Tapi selama kita bisa mengajarkan kepadanya cara kembali, then it would be okay. Hmm…

Anyway, kami akhirnya bertanya ke Azka. Do you like your school now?

“Yes”.

You like your school now better than High/Scope??

“Yes”.

Kenapa?

“Karena yg sekarang ini istirahatnya dua kali. Yg dulu nggak ada istirahatnya.”

See? Istirahat means PLAY TIME. He’s just my sweet big boy whose the only dream in his life is… to PLAY! FYI, he can now open my laptop, dial a modem, go to Google and type… “play”. Ke website manapun, cuma kata PLAY yg dia cari. PLAY. PLAY. PLAY. Hmm… mungkin saya belum mengenal dengan baik para penghuni Neverland ini…

» Comment by watung — September 29, 2007 @ 11:37 pm

diannovi says:

iya, mas. setiap anak tuh sebenarnya punya mekanisme alamiah untuk mengatur ‘ritme’ dirinya. punya kapasitas untuk menetralisir diri.kalo sekolahnya sudah banyak mengikat dia dengan berbagai rules -termasuk tuntutan agar sesuai ‘kata bu guru’- lingkungan rumahnya hendaknya memberi ruang yang membebaskan, yang bisa jadi sarana ekspresi diri dia. kalo sekolah dipandang tidak bisa menjalankan fungsinya sebagai sarana stimulasi, rumah harus bisa memfasilitasi dia dengan pengalaman yang bisa menggugah kesadaran.

misalnya nih,orangtua ingin anak ga kebanyakan nonton tv atau maen play-station saja, beri dia aktivitas alternatif.soalnya buat anak seumuran Azka, kalo kebanyakan dinasehatin pake mulut, efeknya:1.bikin dia kebal dengan omelan, 2.malah bisa bikin dia makin ngeyel.

libatkan dia dalam komunitas teman-teman sebaya, dimana mereka bisa set-up permainan ala mereka tanpa intervensi dari orang dewasa. kalo dipandang perlu,boleh aja ngasih masukan jenis permainan yang bisa mereka lakukan. waktu kecil kan, banyak banget ya permainan anak-anak; dari kasti, perang-perangan, gobak-sodor, gundu, geprak buah karet,mancing,bola bekel,ngadu jangkrik..hehe. apalagi kalo melibatkan alat/mainan. wah,jaman sekarang udah makin canggih2. banyak pilihan mainan yang edukatif. atau bikin sendiri juga bisa. waktu jaman kecil dulu, karena mainan masih terbatas, malah bikin kita jadi kreatif; bikin perahu2an dari kertas koran, bikin layangan sendiri, bikin ‘mahkota’ dari daun-daun (belum jaman barbie:), bikin rumah2an dari kotak milo, bikin boneka dari kaos kaki bekas, ngoleksi bekas serutan kayu (termasuk serutan pinsil) buat ditempel di kertas surat, untuk yang satu ini, aku ama temen-temen sampe hunting ke rumah2 yang lagi dibangun/renovasi, terus nungguin tukangnya nyerut kayu.;) ciri khas anak-anak; apa aja bisa jadi maenan. aku inget, waktu orangtuaku pertama kali beli kulkas, yang menarik perhatian kami bukan kulkasnya, tapi styrofoam-nya itu loh, buru-buru kami bawa ke pohon nangka dan cempedak (yang serat kayunya lumayan kasar), terus diserut deh sampe jadi serpihan kecil2..hehe..jadi nostalgia.

fungsi mainan dan permainan itu untuk menstimulasi. awalnya mungkin hanya stimulasi yang terkait psikis ya (dalam kaidah psikologi), tapi data psikis itu pasti akan merembes pada aspek dalam dia, kalo bersua dengan sesuatu yang pas. dengan memberikan banyak alternatif, bisa jadi pemandu bagi orangtua untuk tahu minat, bahkan mungkin talent dia.

engga kok, mas enggak melebih2kan.wajar kalo orangtua merasa khawatir. mba Sugar dan aku hanya mencoba memberi persfektif dari sudut pandang pejalan. seperti kata mba Sugar, (kalo ga menghayati pengenalan diri) maka, alih2 ingin melindungi anak dari pendzoliman system di sekolah, kalo ndak ati2 malah hanya memindahkan pelaku pendzoliman kepada orangtua. naudzubillah…

tentang dialog dengan Azka, aku juga pernah mengajukan pertanyaan yang sama, waktu itu jawaban dia;”soalnya disekolah yang sekarang bisa jajan…”. jajan dan maen. jadi inget padanan yang laen: kopi dan rokok.jangan-jangan itu derivatisasi kesekian juga ya…hehe

» Comment by diannovi — September 30, 2007 @ 2:03 am

diannovi says:

Halah…tante dian kok kesannya ngedukung Azka untuk maen terus yaa…
Pointnya si, setiap fase itu harus dituntaskan. Kalo fasenya maen, ya tuntasin aja.;)kontrol tetep ditangan ortu, disesuaikan ama kadar diri anak. orangtua deh yang paling bisa ngukur; ini udah kebablasan atau bisa ditolerir.

Terkait maenan. Fungsi utamanya memang sebagai alat stimulasi untuk mengenal (jatidiri). Ada kisah menarik. Sesaat setelah –tanpa sengaja- Arthur mencabut pedang dari bongkahan batu, seluruh penduduk menisbatkan Arthur sebagai pemimpin mereka. Arthur merasa ketakutan dan langsung melarikan diri. Ditengah kekalutannya, tiba-tiba ia ‘melihat’ 3 buah benda, diantaranya;cermin dan boneka, yang semuanya dikenali sebagai mainannya semasa kecil. Semula Arthur bingung, apa maksud penampakan dari ke-3 mainan tersebut. Kemudian ia sadar, bahwa takdir yang menyentuh dia hari ini, peran yang harus ia jalankan saat ini; hakikatnya adalah sesuatu yang harus ia mainkan. Bahwa hidup itu sebenarnya permainan juga, yang harus dikenali rules of games-nya seperti apa. Lagi, terkait mainan. Ingat kisah Avatar (pernah dishare di milis) –walau ini kisah fiksi, tapi inti kisahnya diadopsi dari serat-serat kuno-, para biksu menisbatkan Aang sebagai Avatar berikutnya, setelah melihat mainan yang Aang pilih sewaktu kecil. Ini menunjukkan penting banget observasi (dan dokumentasi) di usia dini. Atau kisah sahabat Nabi, Khalid bin Walid yang dijuluki ‘Pedang Allah’, semasa kecil juga hobinya maen perang-perangan pake pedang-pedangan.

Pengalaman pribadi juga mengindikasi hal yang sama..hehe..curhat lagi, dari sekian banyak permainan waktu kecil,yang paling mengesankan yaa..waktu maen sekolah-sekolahan, tante dian tuh, seneeeng banget kalo berhasil memprovokasi temen-temen buat maen sekolah2an. Tapi lama-lama temen2 pada bosen juga, wong, udah tiap ari ke sekolah, pulang ke rumah maennya juga sekolah2an. Udah gitu, ga pernah ganti peran lagi, yang jadi gurunya selalu tante dian, ga mau tukeran…hehe. Sekarang kan kliatan jejaknya; hobi menggurui.:D

sorry…

» Comment by diannovi — September 30, 2007 @ 9:26 am

Agnes says:

Mas watung, apa hubnya little prince or not :-), dlm hal ini ga ada yg diperlakukan istimewa koq, kasusnya persis kaya Azka. Klo mau cerita lengkapnya bisa baca disini : http://helvytr.multiply.com/journal/item/109

lebih tepatnya di bagian komentar mba helvy untuk mas wahyu, ada cerita spt ini, saya kutipkan yg nyambung ya :
“Kejengkelan kami bertambah manakala kami mengoreksi hasil ulangan Faiz. Di rumah, kami membiasakan Faiz untuk berfikir luas. Antara hitam dan putih ada warna-warna lain. Faiz biasa berfikir dalam warna-warni. Tapi di sekolahnya hanya ada hitam dan putih.

Dalam matematika, 2+2=4. Tak ada yang menyangkal itu. Tapi untuk pertanyaan “Apa yang Ayah kamu lakukan sepulang dari kantor?” ada sejuta jawaban. Maka Faiz menjawab, “Membuka komputer.” Tentu saja salah, karena jawaban yang tersedia di buku panduan guru hanyalah “Membuka sepatu.”

Kami protes. Saya tulis dalam kertas ulangan Faiz, “Bu guru, jangan perlakukan mata pelajaran sosial seperti mata pelajaran eksakta.”

Apa yang terjadi? Sang Ibu Guru marah. Dan ia melampiaskannya pada Faiz. Saya naik darah. Tapi isteri saya buru-buru mencegah. Dia menawarkan diri untuk menemui gurunya. Tapi si guru malah berkelit.

Berulang kali terjadi hal yang sama. Sampai-sampai Faiz berkata, “Ayah Bunda gak usah protes lagi deh.. Kenanya ke aku nih..”

Selanjutnya sila dibaca aja diskusinya disana, cukup menarik dan saya pikir related sekali dengan kasus Azka, sapa tau habis baca itu dpt pencerahan baru :-)

agnes

» Comment by Agnes — October 1, 2007 @ 6:04 pm

watung says:

Hehe… persis banget tuh, Mbak Agnes!
Itu juga tuh repotnya. Guru punya posisi sentral di sini, master of the show, penguasa panggung kelas. Mungkinkah kita bilang, “Bu Guru, your teaching method is ridiculous and is slowly decomposing my son’s brain cells…”? ;-) Oh yeah? And who the hell are you? Maria Montessori?

» Comment by watung — October 2, 2007 @ 5:09 pm

siska says:

*”Bu Guru, your teaching method is ridiculous and is slowly decomposing my son’s brain cells…?” * tung, tung.. this kind of cynics, arrogance approach will not help you nor your child to find better teacher or school or method. For me teaching a child is beyond those psychological or education theories. I think, we, generation who read Toto Chan, and admire Ivan Illich even not brave enough to leave the school :)), and watched Dead Poet Society, will always have those ideals of how school should be, hate all the state/institutionalize/injected system for teaching and always, always spot an irony in so called school (remember, the song, lupa deh yang pemain musiknya insinyur semua, dan video clipnya ttg anak sekolah yang dimasukkan pabrik?). Reality on education system will always disappointing, mate.. he he.. anyway, dimanapun azka bersekolah, di sekolah yang canggih ataupun biasa aja, kalau dijaga oleh orang tua yang mempunyai hati (dan terus berusaha mendengarkan hati :)) ) he’ll be okay (insya allah) dan nggak akan jadi bonsai. Azka has great parent and thats enough :)) ..cari sekolah baru ya silahkan aja, he he.. tapi “radar” nyarinya pasti beda-kan? yang komersil belum tentu bagus lohh..he he..
ps: new banner is great.. remind me of a book :)) btw is it dog guard the moon? cool!

» Comment by siska — October 2, 2007 @ 6:29 pm

diannovi says:

good point, Siska!

as a beginner (in suluk),you’re really a fast-learner…

» Comment by diannovi — October 5, 2007 @ 4:44 pm

dimas says:

mas watung, posting ini mengingatkan saya akan sesuatu yang cukup menarik bagi saya. Dulu ketika di Sekolah Dasar, pada saat kita belajar membaca kita selalu menyebut…

“IBU BUDI PERGI KE PASAR MEMBELI SAYUR”

Ternyata kehidupan si pembuat kurikulum mempengaruhi isi kurikulum yang dia ciptakan. Yang membuat kurikulum mungkin seorang pekerja atau pegawai, yang mungkin jika ia pergi ke pasar yang terpikir olehnya hanyalah “membeli…membeli dan membeli!”
Apa jadinya jika yang membuat kurikulum adalah seorang pengusaha? Maka kalimatnya akan berubah menjadi…

“IBU BUDI PERGI KE PASAR MENJUAL SAYUR”

Jika saja kurikulum di Sekolah Dasar menggunakan kalimat kedua, mungkin di Indonesia akan lahir banyak pengusaha…hahaha.

Lebih lanjut mas watung, saya belum menikah tetapi alhamdulillah saya memiliki keponakan yang saat ini kelas dua SD. Saya juga cukup prihatin dengan pola pendidikan kita saat ini. Salah satu contohnya adalah pendidikan agama. Begitu banyak ayat-ayat yang harus dihapalkan oleh keponakan saya. Seharusnya yang mengajarkan agama bukanlah seorang penghapal ayat-ayat, tetapi seseorang yang telah tercerahkan, jadi mengerti kebutuhan si anak dalam mempelajari agama. Kalo yang mengajar seorang penghapal ayat-ayat maka isinya hanya surga-neraka, kerjanya hanya menakut-nakuti. Saya teringat buku sheikh Bawa “Come to the Secret Garden” yang isinya ceramah untuk kita semua khususnya anak-anak kecil, isinya Subhanallah, benar-benar memberikan ketenangan batin bagi anak yang membacanya.
Kasihan keponakan saya, pikirannya di BONZAI seperti mas watung katakan. Mungkin jalan terbaik untuk saat ini adalah jangan menyerahkan tanggungjawab sepenuhnya kepada sekolah. Kita juga harus aktif membimbing anak kita pada kehidupan yang terjadi di luar sekolah.

Terima kasih mas watung telah memberikan kesempatan bagi saya untuk berbagi.

» Comment by dimas — October 25, 2007 @ 12:34 am

Djajadiwangsa says:

DH.
Perkenalkan saya ortu Klareza, kelas 3 Kempo SD Mutbun …
Tulisanyang sangat bagus … kita CC ke manajemen ya … :-)

» Comment by Djajadiwangsa — March 28, 2009 @ 9:32 am

mom pro kids says:

Hahahahaha seriously… Dr atas ampe bawa baca nya dr tawar - emosi - binggung - heran - lucu - ngakak… Sebenernya yg bener adalah: tipe orang tua seperti apa kalian dan anak² kalian itu? Audible? Visual? Theoretical? Trs apakah kalian ortu yg pro anak belajar belajar dan belajar agar masa depan lebih terjamin? Atau main main main alias asal anak enjoy? Atau kalian belajar sambil bermain? Atau kalian sekolah adalah tempat belajar dan bermain? Semua tergantung tipe apa kalian itu secara individual. Tiap sekolah memiliki kriteria dan metode masing2. Ga bisa saling nyalahin… Maka, ambil winwin solution… Cari lah sekolah yang “menurut” kalian pendidikanya yg pas dgn prinsip kalian (minimal mirip) krn itu akan memudahkan utk anak² belajar didalam/diluar sekolah… Yaitu konsistensi (ortu, guru dan skolah pny peraturan), trs kedua… Anak² hrs enjoy berada diskolahan saat mrk belajar… Cara nya? Bawa anak itu ke sekolah yg dituju… Jangan tny mrk enjoy ato ga alias jangan mulut mulu yg kerja… Tp mata dan telinga. Observasi, mencermati dan mengambil keputusan… Gitu loh… Ga sah binggung soal azka, pendidikan ato apa pun… Nobody is perfect. No school is perfect. But terdiri nya bnyk sekolah, gunanya utk kita lebih bny option utk memilih. Sekian… Over :p

» Comment by mom pro kids — March 24, 2011 @ 6:49 pm

 

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

(required, but will not be displayed)



Garis
RSS | My Yahoo! | Google | Bloglines | My AOL | FeedLounge
All contents ©2005-2010 by Watung Arif, unless otherwise noted.
Contents under Creative Commons License.