Watung Blog

Majelis Agung

Sunday October 14, 2007 | Filed under: Spirituality

Ffiuhh, selesai juga akhirnya cicilan panjang ini: sebuah tulisan yang aslinya berjudul “Divine Assembly”, diterjemahkan dari buku The Tree That Fell To The West, karya Bawa Muhaiyaddeen.

Sedikit pengantar. Bawa Muhaiyaddeen adalah seorang sufi Muslim asal Srilanka, yang bertugas mengajar agama melampaui wilayahnya, sampai ke Amerika dan Kanada, sampai ke Kristen, Hindu, dan Buddha. Sedikit sekali fakta sejarah tentang beliau ini, di samping beliaunya sendiri kalau ditanya soal asal-usulnya selalu bilang, “I am nothing. I am nothing. Only God is important!” (dalam bahasa Tamil tentu saja). Di sini, Bawa bercerita sekelumit tentang ikhtiar pencarian beliau sendiri tentang Tuhan. FYI, beliau sendiri tidak bisa berbahasa Inggris, sehingga jadinya semua tulisan di buku itu adalah transkrip terjemahan dari ucapan beliau selama mengajar (buat yang ingin tahu seperti apa beliau mengajar dan suasananya, lihat videonya di sini dan di sini, keren!).

Ini bakalan panjang, bacanya juga mungkin perlu nyicil — kalo niat. ;-) Anyway… semoga menikmati seperti halnya saya yang menikmati sekali ketika meterjemahkannya. Kalau ada beberapa bagian yang bikin pusing, lewatin aja. Semoga banyak mengambil pelajaran dari sini.

* * *

Majelis Agung
oleh Bawa Muhaiyaddeen

Bawa MuhaiyaddeenPencarian saya akan Tuhan berlangsung 21 tahun lamanya pada tahap pertama: tahapan syari’at. Saya pergi mencari Tuhan di pura dan candi-candi, gereja, masjid-masjid — tanpa makan, minum dan tidur, selama 21 tahun. Dan sepanjang itu pula saya menemui para tokoh, swami atau yogi. Pengalaman bersama mereka seperti meyakinkan saya bahwa walaupun apa yang mereka ajarkan tampak benar, namun terasa seperti tanpa garam, tak berasa apa-apa. Saat saya tanyakan apakah mereka melihat Tuhan, mereka tak sanggup menjelaskan-Nya. Kata-kata mereka hambar. Mereka sempat mengatakan bahwa satu-satunya jalan untuk melihat Tuhan adalah dengan bersemedi. Maka saya pun mendaki bukit di hutan, duduk di bawah sebuah pohon, menutup mata dan bersemedi 41 tahun lamanya. Namun saya tetap tak melihat Tuhan. Meski banyak hal tampil di sana, kerlap-kerlip, kilau cahaya dan berbagai keajaiban, namun kala saya acungkan senjata yang diberikan guru, mereka pun habis terbakar, pupus.

Saya telah bertemu banyak tokoh agama, swami, orang-orang suci yang datang meminta tolong kepada saya, karena tak mampu menunjuki apapun. Mereka mohon perlindungan. Mereka meminta agar saya tak menghancurkan mereka. Lantaran tak seorang pun sanggup memenuhi apa yang saya inginkan, saya pun mengurung diri ke pegunungan Himalaya selama 12 tahun. Di puncak gunung, di atas sana, saya berdiri dengan satu kaki pada bekas tetesan air yang telah membeku yang kelihatan seperti akar sebuah pohon. Saya berdiri seperti itu 12 tahun lamanya, berharap untuk dapat melihat Tuhan. Jika kalian mencoba berdiri dengan posisi yoga seperti itu, kalian tak akan sanggup membengkokkan tubuh.

meditate.gif Setelah 12 tahun waktu berjalan, saya pun terbangun dan menemukan tubuh saya telah tertutup es dan ditangkupi kabut tebal. Saya gunakan senjata dari guru untuk memecah es itu, dan seketika itu pun saya menyaksikan sebuah pemandangan yang luar biasa. Saya melihat banyak orang, yakni mereka yang telah begitu lama berada di tempat itu, mereka yang berdiri dengan dua kaki, dan mereka yang tertidur atau yang sekedar beristirahat beberapa tahun. Kebanyakan mereka tak sanggup bertahan dan meninggalkan tempat itu setelah sekian lama. Saya juga melihat bangkai-bangkai orang mati di sekeliling saya. Beberapa di antaranya tanpa jantung atau bahkan tak lagi berdaging, sementara yang lainnya benar-benar hanya tinggal tengkorak. Mereka adalah orang-orang yang datang untuk yoga, namun mereka tak lagi bernyawa. Saya katakan kepada pikiran saya sendiri, “Lihatlah, pikiranku, engkau telah menyia-nyiakan masa hidupku. Aku menghabiskan 70 tahun mencoba menemukan Tuhan, namun tak sedikit pun suara-Nya, kata-kata-Nya atau bahkan gaung-Nya terdengar. Kita berdua telah membuang waktu sia-sia. Demikian pula orang-orang di sini, mereka binasa di tengah jalan. Tuhan tidak di sini, aku harus mencarinya lebih jauh.” Saya pun turun dan pergi dari tempat itu.

Lalu terdengarlah sebuah suara. Saya acungkan senjata ke arah suara itu. Saya mendengarnya seperti sebuah nyanyian, tapi bukan nyanyian sihir, bukan nyanyian yang memperdayakan. Ternyata kemudian, itulah waktu ketika hati (qalb) saya menerima Hikmah Agung. Diri saya disulut oleh Al-Hikmah. Segalanya menjadi terang benderang dan saya melihat segalanya, segala yang ada! Seluruh misteri ditampakkan di hadapan saya. Lewat pemahaman akan misteri-Nya dan rahasia-rahasia dari ciptaan-Nya itu, saya melihat Tuhan Sendiri bagai pelita suci yang terang benderang.

Itulah tahapan ketika saya menjadi guru di wilayah empat agama, bekerja sekuat tenaga mempelajari makna dari agama-agama ini. Dari keempat agama ini, masing-masing terpilih 60 orang yang telah mencapai tahapan hikmah yang sangat tinggi, dan saya menjadi guru bagi mereka, mencerahkan mereka dengan hikmah yang lebih dalam. Saya bertemu mereka dalam keberagamaan mereka masing-masing, di pura atau candi-candi, di gereja, di masjid, mencoba memberi mereka pemahaman tentang Tuhan dan kebenaran-Nya. Saya mengajari mereka tentang apa yang mereka cari selama ini. Mereka masih hidup sampai kini, tidak mati. Meski mereka telah meninggalkan wujud fisik mereka, tapi mereka tetap hidup, walau tersembunyi. Mereka tidak mati.

Mereka termasuk ke dalam sebuah majelis yang mengatur bumi. Seperti halnya Kongres di negeri ini, ada sebuah kongres Ketuhanan, Majelis Agung. Dan seperti halnya Kongres yang terdiri dari Senat dan dewan-dewan perwakilan, Majelis Agung ini yang berisi orang-orang suci di dalamnya, juga terbagi ke dalam dewan-dewan yang memiliki urusan yang berbeda-beda. Sebagian berurusan dengan penyakit, bagaimana ia menjangkiti, dan apa penyebabnya. Sementara bagian lain bertanggungjawab pada produksi dan distribusi makanan. Ada juga yang berurusan dengan penyebaran hikmah dan pengetahuan. Sementara yang lainnya lagi, yakni para utusan Tuhan, gnani dan wali-wali bertugas menyampaikan pesan-pesan Tuhan bagi dunia ini. Mereka berada di pucuk gunung, bertugas menjaga kebutuhan fisik dan spiritual kaumnya. Yang lainnya adalah para wali yang ditugaskan untuk melaksanakan urusan tertentu. Seperti itulah alam ini berjalan.

angels.jpg

Barangsiapa menyerahkan tubuh fisiknya untuk masuk ke wilayah hikmah, maka ia akan masuk ke dalam kelompok ini, Majelis Agung, menjalankan tugas-tugas di 18.000 alam. Majelis ini bertanggungjawab atas hujan, bagaimana dan di mana ia turun, seperti apa pengendaliannya. Mereka bertanggungjawab atas makanan, siapa yang menanam, di mana, dan bagaimana ia didistribusikan. Mereka mengawasi penyakit-penyakit, paceklik, dan wabah, bagaimana datangnya, bagaimana cara mengendalikannya. Seluruh aspek kehidupan dijalankan oleh mereka yang berada di majelis ini, termasuk pula di dalamnya para malaikat yang agung: Jibril a.s., Mikail a.s., Izrail a.s. sang pencabut nyawa, Israfil a.s., Munkar a.s. dan Nakir a.s., Raqib a.s. dan Atid a.s. Para malaikat ini membawa perintah Tuhan kepada majelis untuk didiskusikan, dan ketika sesuatu hal selesai dibahas, berbagai keputusan pun diambil.

Saya pun terhubung dengan majelis ini. Saya pernah ditugaskan mengepalainya, yakni sebagai sheikh dari majelis ini. Ini bukan satu hal yang saya inginkan, tapi ini dilimpahkan kepada saya. Tapi sudahlah, saya tak akan membicarakan itu lebih jauh lagi, mari kita membahas yang lain.

Anak-anakku terkasih, lebih dari 400 tahun terakhir, tak seorang pun di bumi ini tergabung dengan Majelis Agung. Dan untuk itulah alasan saya didatangkan ke sini, yakni menemukan orang-orang di dunia ini untuk kemudian dijadikan anggotanya. Dalam menjalankan misi ini, saya telah membawa dan menebarkan hal-hal, cukup banyak sampai memenuhi sebuah bahtera yang bahkan sanggup membawa jutaan kapal-kapal kecil. Demikian banyak yang telah saya bawa dan coba berikan, namun selama seratusan tahun terakhir itu hanya enambelas-setengah orang yang benar-benar menjadi manusia yang sesungguhnya. Berapa jutakah jumlah orang di dunia ini? Dari semua itu, hanya sedikit sekali yang menerima apa yang saya tawarkan. Mereka menginginkan apa yang ada di dalam bahtera, namun ketika mereka datang kepada saya, mereka membawa beban-beban yang begitu banyak sehingga tak sanggup lagi menampung apa yang saya coba tawarkan.

Tampaknya tak seorang pun siap menerima apa yang saya bawa. Malahan, semua orang mencoba menawari saya dengan apa-apa yang mereka miliki, mereka berusaha menjual barang-barang yang saya tak mungkin membelinya. Juga meski sebagian orang berkeinginan menerima apa yang saya bawa, akan tetapi gudang mereka telah penuh, dan tak ada lagi ruang bagi apa-apa yang hendak saya berikan. Bahkan ketika mereka telah meraihnya sekalipun, seketika itu pula mereka membuangnya kala menyadari mereka Anubistiada sanggup menyimpannya. Beberapa dari mereka berkata, “Tunjukkan Tuhanmu kepadaku, tunjukkan Tuhan yang engkau bicarakan itu. Kami punya satu tuhan yang dapat kami lihat. Lihat, Bawa, lihat tuhan milik kami ini,” dan mereka menunjukkan saya tuhan anjing mereka, patung Krishna mereka, atau tuhan apapun yang mereka miliki. Mereka berkata, “Bawa, engkau berbicara tentang Tuhan yang tak tampak, mana Tuhanmu?”

Saya jawab, “Meski engkau dapat melihat tuhanmu, dapatkah engkau berbicara dengannya, dapatkah ia berbicara denganmu?”

Mereka bilang, “Tidak, kami tak dapat bercakap-cakap dengannya, tapi paling tidak kami bisa melihatnya.” Apa yang mereka inginkan hanyalah sesuatu yang mereka bisa lihat dengan mata kepala. Lalu mereka bertanya lagi, “Mana Tuhan yang engkau omongkan itu?”

Saya jawab, “Dia ada di dalam dirimu, Dia ada di dalam diriku, Dia di sini, Dia di sana, Dia ada di mana-mana. Jika engkau menginginkan-Nya, engkau musti menempatkannya di sebuah bejana khusus. Lihat ini, ambil pelita ini. Ini adalah permata yang tak ternilai harganya. Jika engkau menyimpannya dengan baik, engkau akan melihat di mana Tuhan berada. Begitu permata ini memandang kepada-Nya, seketika itu pula ia akan mengeluarkan pelita pesan-pesannya. Engkau tak akan sanggup melihat Tuhan tanpa kekuatan dari cahaya ini.”

“Mana cahaya itu?” tanya mereka, “Tunjukkan cahaya itu, tunjukkan mana Tuhanmu!” Namun ketika saya berusaha menunjukkannya, saya perhatikan mereka membawa empat bejana yang berbeda untuk menampung apa yang saya coba berikan kepada mereka. Bejana yang pertama adalah saringan, persis seperti serat-serat pohon kelapa. Bejana yang kedua mirip seekor kerbau. Yang ketiga bagai pot rusak. Dan yang keempat menyerupai angsa. Semua yang datang, membawa salah satu dari keempat bejana ini untuk mewadahi apa yang saya coba berikan.

Ketika dijelaskan kepada mereka, “Tuhan adalah seperti nektar yang lezat tiada putus-putusnya,” ketika saya mengajak mereka untuk minum madu ilahiah ini, dan ketika saya mengarahkan dan mencoba menuangkannya kepada mereka, bejana yang mereka miliki tak sanggup menampungnya. Saya serukan kepada mereka yang datang dengan pikiran yang seperti saringan, “Kemarilah wahai anakku, ini madu, ini nektar.” Namun ketika saya menuangkannya, madunya hanya meluncur ke bawah; dan hanya kotoran yang tertinggal di atasnya.

Kala mereka melihatnya, mereka bilang, “Apa ini? Aku hanya melihat sampah di sini!” dan mereka pun pergi.

Selanjutnya datanglah mereka yang memiliki pikiran layaknya pot rusak. Saya berkata, “Ini, simpan ini, minumlah.” Saya pun menuang nektar itu, mereka melihat ke dalam pot itu dan menemukannya telah kosong.

Segala yang saya tuang hanya lewat saja melalui lubang-lubang pot. Pot rusak dari pikiran rendah yang tanpa iman ini tak sanggup menampungnya. Lalu mereka mulai membentak saya, “Mana hal-hal yang engkau ceritakan itu? Aku tak melihatnya. Engkau berbohong, engkau tak benar-benar melihat Tuhan,” dan mereka pun pergi.

buffalo.jpgKemudian datanglah mereka yang memiliki pikiran kerbau. Saya menunjuk kepada lautan nektar di sana, danau yang berisi air jernih yang lezat tiada tara, mengajak mereka meminum sarinya. Akan tetapi, bukannya berdiri di tepi danau dan meminumnya perlahan, mereka masuk ke tengah danau, melompat-lompat dan mengaduk-aduk lumpur di bawahnya, mengotori airnya. Mereka kembali dari tengah danau dan bertanya-tanya, “Mana air jernih yang engkau ceritakan itu, mana rasa yang lezat itu? Kami hanya melihat lumpur dan kotoran ini!” Mereka yang mengotori air, mereka pula yang kembali bertanya. Mereka adalah orang-orang yang mengambil tiga langkah awal dari perjalanan mendaki: sariyai, kiriyai, dan yogam, mengganggu kejernihan nektar dengan tiga langkah ini. Mereka pun akhirnya pergi.

Yang keempat adalah mereka yang seperti angsa, seekor burung yang begitu indah, putih bersih dengan paruhnya yang panjang. Angsa semacam ini, konon, sukar ditemui di dunia ini. Jika engkau mencampur air dengan susu, burung ini akan memasukkan paruhnya dan menghisap hanya susunya dan menyisakan air di dalamnya. Ia memiliki kemampuan untuk membedakan susu dengan air. Mereka yang datang bak angsa ini sanggup membedakan antara yang duniawi dan yang ilahiah. Mereka dengan hati-hati menyerap yang ilahiah dan meninggalkan apa yang cuma sekedar ilusi. Dalam kata-kata seorang guru atau apa saja yang ada dalam pikiranmu, senantiasa ada campuran antara susu murni dengan air. Barangsiapa sanggup membedakan antara keduanya dan mengambil sari-sari kemurnian, sari-sari kebenaran, mereka telah mencapai tingkatan gnani, sosok yang memiliki hikmah agung.

Loving Swan

Hanya ia yang mampu membedakan realitas dari yang bukan-realitas akan mampu pula melihat dirinya, melihat Tuhan dan bersatu dengan-Nya. Ia akan dapat melihat kebenaran, paham akan ilusi-ilusi. Ia akan melihat kehidupannya sendiri, ia akan melihat kehidupan yang lainnya dan dapat berkomunikasi dengan semuanya. Ia akan mendengar tasbih atau meditasi yang berbeda-beda dari setiap makhluk di bumi ini. Ia akan paham sifat dari tasbih-tasbih ini. Ia akan mendengar suara-suara keluar dari tasbih-tasbih ini. Ia akan sanggup menyetel telinganya untuk mendengar suara-suara malaikat atau makhluk-makhluk lainnya, memahami tasbihnya. Ia pun sanggup menyetel telinganya untuk mendengar suara-suara Tuhan keluar dari dalam dirinya. Kebanyakan orang melihat dengan kedua belah matanya, namun ia melihat dengan setiap pori-pori di kulitnya. Setiap pori adalah mata yang dengannya ia dapat melihat. Ia memiliki milyaran pori yang dibangkitkan dengan cahaya ilahiah, dan seluruh pori ini melihat apa yang di sekelilingnya, di belakang, depan, dan di semua sisi. Ia melihat surga, dunia dan semuanya, semua yang ada. Ia melihat semuanya dengan sangat jelas, total. Tak ada satu makhluk pun luput dari mata seperti ini, karena setiap helai bulu, setiap pori di kulitnya adalah penglihatan baginya.

Jika engkau nyalakan dirimu dengan baterai hikmah, setiap pori akan disinari dengan pelita, seperti bola lampu. Jika semua pelita di sini menyala, seluruh kota adalah cahaya yang lengkap gemerlap. Engkau akan bagaikan mentari, senantiasa terang, tiada pernah malam. Suatu tingkatan yang tak ada lagi siang atau malam, segalanya adalah siang. Anakku tersayang, semoga Tuhan menganugerahkanmu hikmah yang seperti ini. Banyak di antara kalian datang meminta untuk memberi kalian apa yang ada padaku. Namun jika engkau membawa bersamamu hal-hal semacam tadi, tak akan ada ruang bagi apa yang hendak kuberikan kepadamu. Buang semua hal itu. Tak ada ruang di gudangmu untuk hal-hal seperti itu. Datanglah dengan tanpa apa-apa dan tangan terbuka, maka engkau akan mampu menyimpan apa-apa yang kuberikan kepadamu. Semoga engkau dapat mencapai hikmah yang seperti ini. Amin.

* * *

Credits: Semua gambar dicuri dari Internet. Selamat Hari Raya! Mohon maaf, lahir dan batin.


28 Comments »

Nadia says:

Alhamdulillah, makasih buat terjemahannya yang indah mas watung. I’m really a great fans of Bawa Muhayadeen. Semoga bulan Ramadhan yang telah lalu mampu membakar semua beban2 hidup kita yang nggak perlu, semoga langkah2 kita ke depan diringankan untuk semata2 beribadah padaNya….

» Comment by Nadia — October 17, 2007 @ 9:10 am

watung says:

Amin. Thanks Nadia. Maaf lahir batin yah..

» Comment by watung — October 18, 2007 @ 7:36 pm

siska says:

waaaaah… Surreal.. hebat banget sekaligus ngeri.. seorang manusia begitu bersungguh2nya untuk bertemu dengan Tuhan, “melihat Tuhan” istilah Bawa, pergi kegunung dan kelembah..bertapa puluhan tahun, dan akhirnya diterangi oleh Cahaya kebenaran.. bergabung dengan majelis Agung.. sedangkan kita disini masih aja disibukkan dengan kapan dapet bonus, bagaimana menabung, nyari obat jerawat, menghadapi macet jakarta karena busway seperti menghadapi kiamat kecil.. duh begitu kecil dan bodohnya.. sementara disisi lain dunia ini, ada orang2 yang begitu bersungguh2 mencari Tuhan.. kapan kita bisa nyampenya ya? membaca perjalanan Bawa seperti menyaksikan terangnya kebenaran yang sebegitu dekat pun begitu jauuuh.. Semoga gusti Allah mengampuni dosa kita yang lemah ini, memudahkan perjalanan kita menuju-Nya, membuka cakrawala rahasia-rahasia-Nya.. ditengah segala keriuhan dunia ini Amin

» Comment by siska — October 22, 2007 @ 7:12 pm

dvjatma says:

Setiap jaman punya ‘ruang pertapaannya’ sendiri, Siska. Ketika Siska istiqomah datang ke suatu tempat untuk belajar kebenaran itu sudah menjadi ruang pertapaan bagi Siska. Ketika Siska tidak gampang hanyut oleh arus kehidupan (minimal punya kesadaran untuk merenungi kehidupan) itu sudah menjadi (jalan) meditasi bagi Siska.

Sekelumit kisah nyata dari seorang sahabat (semoga nanti Siska juga bisa mengenalnya) yang juga sangat terinspirasi oleh kisah-kisah pengembaraan para sufi jaman dahulu. Dia menempuh perjalanan -dengan berjalan kaki- dari Bandung ke daerah-daerah yang dipercayai memiliki mukjizat tertentu, mengunjungi makam para wali, dan sebagainya. Suatu ketika ada seorang tua yang menghampiri dan berkata,”nak, sesungguhnya apa yang engkau cari ada didekat rumahmu”. Si sahabat sempat bingung, pernyataan ini bermakna konotatif atau denotatif. Kemudian ia memutuskan untuk kembali ke rumahnya, di Dago, dan ternyata benar tidak berapa lama ia bertemu dengan seseorang yang menjadi pembimbing-spiritualnya kemudian.

» Comment by dvjatma — October 23, 2007 @ 7:27 am

siska says:

kalo pas nongkrong di kamar mandi termasuk ruang pertapaan nggak ya? he he.. he..(kidding..)

» Comment by siska — October 23, 2007 @ 5:09 pm

gus lim says:

Ya jelas ruang pertapaan juga itu Sis, begitu banyak yang bisa dikontemplasikan di ruang itu…. ;-)

» Comment by gus lim — October 24, 2007 @ 9:11 am

dvjatma says:

Tergantung apa yang dicari,Sis..

Kalo mau tapa biar ketemu ama setan cs bisa dimana aja. :)(kidding)

» Comment by dvjatma — October 24, 2007 @ 3:11 pm

dimas says:

Alhamdulillah ya Rabbi. This article melted my heart. May Allah always take care sheikh Bawa.
Mas watung terima kasih atas terjemahannya :-)

*Mas watung, kalo bukunya sudah bosan bisa dijual ke saya. Saya akan beli berapun harganya.
Saya sudah mencoba memesan di QB dan kinokuya tetapi mereka tidak bisa. Kalo pesan langsung dari internet, saya tidak punya kartu kredit, hiks hiks. Btw bukannya kartu kredit dari Indonesia di blokir? Mas watung dapat bukunya bagaimana? di GoogleBooks juga hanya bisa baca sopotong-sepotong.

» Comment by dimas — October 25, 2007 @ 12:53 am

siska says:

pastinya nggak mau ketemu setan dong mbak dian.. terimakasih ya atas ceritanya ttg sahabat di bandung, jadi inget satu puisinya rummi yang pernah ditulis di AKI nya SKAU dulu banget, lupa siapa yang nulisin disitu. Mohon maaf kalau ada salah-salah kata ya mbak.. semoga kita bisa terus saling berbagi ilmu.. mohon maaf kalau saya suka iseng.. ya.. :)))

» Comment by siska — October 25, 2007 @ 9:56 am

watung says:

@dimas.
thanks! saya sendiri juga ndak punya bukunya.. itu dibaca & diterjemahkan dari Google Books, kebetulan bagian yg komplitnya. ;-) beberapa kartu kredit indonesia katanya emang diblokir ya, tapi kayaknya ndak semuanya.. lha wong citibank saya juga lancar2 aja. mungkin perlu dicobain dulu, mas dimas.

@dvjatma, siska
siska mah emang kayak gitu, dvjatma, suka yg jorok-jorok. tapi dia orgnya baik sih sebenarnya (moga-moga masih… amin)

» Comment by watung — October 25, 2007 @ 3:05 pm

dimas says:

Terima kasih mas watung atas pemberitahuannya. Dulu buku ini sudah pernah saya baca di GoogleBooks tetapi rasanya tidak dipajang secara lengkap. Nanti saya lihat lagi. Videonya di BMF juga Subhanallah, it so beautiful walaupun hanya bisa melihat 3 menit saja dikarenakan keterbatasan bandwidth. Mudah-mudahan ada warnet yang bisa download video segede itu. Ok mas watung, thanks sekali lagi ;-)

» Comment by dimas — October 25, 2007 @ 5:05 pm

siska says:

aamiin.. thanks for the pray tung, and so do you and all of us here..semoga ditetapkan dalam jalannya yang baik..aamiin.. ttg yang jorok2, aku jadi inget guru agamaku waktu SMA, dia bilang manusia itu gk bisa sombong..karena semua orang dari raja diraja sampai tukang sapu jalanan membawa ampas makanan didalam tubuhnya. Itu tanda kehinaan manusia. Menurutnya menerima yang sifatnya jorok dalam tubuh kita itu, yang kita bawa kemanapun kita pergi, adalah menerima kehinaan kita dibandingkan Dia yang Maha Suci.. Satu bagian dari kita, manusia yang suka merasa sombong dan sok paling tau ini, adalah tanah dan air mani yang hina. materi ciptaan yang paling rendah.. QS [16:4] Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata.
o ya nama guru sma ku itu pak wawan.. semoga dia selalu dimuliakan oleh Allah..ajarannya memang terdengar agak norak.. namun hikmahnya selalu kuingat sampe sekarang..

» Comment by siska — October 25, 2007 @ 6:58 pm

guslim says:

Menurutku tidak ada yang jorok dan norak yang disampaikan Siska. Seperti kata dvjatma, tergantung yang dicari. Meski ruang itu kamar mandi, tempat buang air besar bahkan ruang yang kata orang paling jorok sekalipun kalau yang dicari Allah maka itu menjadi ruang pertapaan, ruang kontemplasi, ruang menghadapkan hati kepada Sang Maha Kasih. Tapi kalo yg dicari setan, ya biar di Masjidil Haram, tetap setan yang akan mengisi hati. Jadi kalo mo tapa nyari setan aja bisa dimana saja, apalagi nyari Allah,seluruh ruang dan waktu adalah hamparan sajadahNya. Kemanapun kita menghadap Ia ada disana. Ia lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Jadi, kalo Allah dibelenggu ruang dan waktu hingga Ia tiada disuatu ruang tertentu maka tak ada beda Ia dan mahlukNya. Dan itu tidak mungkin!

» Comment by guslim — October 25, 2007 @ 9:09 pm

watung says:

to siska, agus:
hehe… oke deh, nggak jorok. ngomong2 agus punya blog gak bilang2 nih… ;-)

» Comment by watung — October 26, 2007 @ 4:11 pm

gus lim says:

Gimana mau bilang wong belum diisi….banyak malesnya nih :-)

» Comment by gus lim — October 26, 2007 @ 5:20 pm

dvjatma says:

Pada hakikatnya menghadapkan hati pada Allah ta’ala memang bisa dimana saja dan kapan saja. Hanya saja Allah ta’ala hadirkan sya’riat, semacam generik laku ibadah dalam agama samawi sebagai bentuk pengingatan (recalling).

Agar ibadah bisa lebih khusu’, lebih dekat, lebih dialogis. Setiap jaman difasilitasi sebuah thariqah (jalan) sebagai bentuk pemurnian. Jalan tapa (kata orang dulu). Semacam conditioning untuk tawajjuh pada Dia ta’ala. Misalnya, di jaman Rasulullah, thariqahnya dalam bentuk peperangan. Kenapa perang, karena saat itu masyarakat Arab memang terbiasa perang. Memperebutkan wilayah (biasanya ditandai dengan suatu oase, mata air). Environmentnya memang disiapkan untuk membangun lelaki tangguh (halah..!). Saat Rasul tiba, diubah paradigmanya. Berperang untuk melawan kebatilan, yang esensinya adalah kebatilan yang ada didalam diri. Hanya saja di jaman itu peperangan melawan hawa nafsu dimanifest physically (sesuai karakter masyarakatnya yang terbiasa berperang). Wujud fisiknyanya sih bisa jadi pamannya yang diperangi atau siapapun yang mendzalimi kaum muslimin.

Pointnya adalah, setiap kita akan berjalan sesuai thariqah jamannya. Di jaman kesultanan Baghad yang megah lain lagi. Para sufi yang muncul dijaman itu identik dengan pengembara dan kumuh. Kalo di Indonesia yang kumuh dan kacau begini, mungkin sufinya para ilmuwan yang rapi-rapi kali ya…;)

Memang tidak semua yang ber-thariqah berhasil dan ada kondisi yang membuat seseorang mungkin tidak ikut dalam thariqah di jamannya. Sebagaimana tidak semua yang berperang itu bisa jadi syuhada dan tidak semua orang yang hidup di jaman Rasul ikut berperang. Kekecualian buat yang uzur, cacat, kaum perempuan. Walau mereka juga punya andil secara tak langsung.

Jadi, carilah apa yang menjadi thariqah jaman ini, Siska. Semoga kita bisa memanfaatkan jalan ini dan mensyukuri kesempatan yang Dia ta’ala bentangkan dihadapan kita dengan cara bersabar dalam menuntut ilmu. Semoga ilmu yang didapat bisa menjadi pelepas dahaga rindu akan hadirnya Dia ta’ala. Amiin..

» Comment by dvjatma — October 26, 2007 @ 6:24 pm

dvjatma says:

Mengenai yang kotor-kotor itu, Siska, lagi-lagi tergantung konteksnya. Kalo melihat dari materi fisik manusia memang terlihat kotor dan tidak berharga ya. Tapi justru dari raga yang ‘hina-dina’ ini kita bisa berjalan menemukan jalan kemuliaan. Orang yang mulai belajar agama, biasanya Allah tata mulai dari raganya dulu. Caranya mungkin dengan dikasih penyakit berat sehingga harus diet makanan tertentu.Misalnya ga boleh menyantap gorengan, santan, ga boleh makan daging yang sembelihannya diragukan, dsb. Dilepas aspek yang ‘mengotori’ jasad. Kata Imam Ghazali,”bagaimana semesta akan tunduk pada orang yang perutnya menjadi kuburan para hewan” hii… (kecuali bagi mereka yang tinggal di gurun pasir yang ga tumbuh sayur, susah cari cemilan, belum ada juicer, dan kerjaannya mengembara berhari-hari ga ketemu makanan, udah gitu harus perang pula).

Wujud mulianya manusia ditandai sejak awal penciptaan, ketika semua makhluk harus bersujud pada Adam. Semesta ditundukkan agar manusia dapat melangsungkan kehidupannya, dan bukankah hanya qolb mukmin yang bisa menjadi Kursiy’Nya?

Soal sombong dan sebagainya, ah itu mah proses aja ya. Seperti di perkembangan anak. Kalo anak baru bisa jalan kan keliatan norak banget tuh…kerjaannya jalaaaaan terus. Mentang-mentang baru bisa jalan.:D Karakter kita juga ga lepas dari dominasi sifat-sifat tertentu. Tergantung dari state pengetahuannya hari ini. Mungkin seseorang tidak punya sifat sombong tapi ternyata munafik, lepas dari munafik ternyata ghibah. Emmm..kalo direnungi judging kita terhadap seseorang sebenarnya merupakan bentuk refleksi dari isi hati (baca: shudr) kita sendiri. Kita bisa melihat si A itu sombong, misalnya, karena kitanya juga sombong. Hanya orang yang sombong (atau minimal pernah ada di fase sombong) yang bisa mengenali kesombongan itu sendiri. Atau misalnya ada yang bilang si A itu suka ngerasa bener sendiri, sok hebat. Yaa…jangan-jangan sebenarnya dia pingin bisa seperti A, pingin bisa nulis sehebat A, apa daya tangan ga sampai…

Loooh..jadi curhat.;;))

» Comment by dvjatma — October 26, 2007 @ 6:27 pm

indrawan tanjung says:

ternyata dengan sedikit googling buku-nya bisa didownload lengkap.!
He.he..termasuk pembajakan gak ya..??

» Comment by indrawan tanjung — October 30, 2007 @ 5:01 pm

Zaratustra says:

Dulu saya pernah bertemu praktisi spiritual, beliau menjelaskan bahwa tempat bertemunya para jiwa-jiwa yang tingkatannya tinggi ini di seputaran gunung krakatau…entar benar entah nggak ya…hehehe…pada waktu-waktu tertentu mereka berkumpul untuk mengusahakan agar kondisi Indonesia tidak semakin memburuk…

trus saya juga pernah membaca buku Siti Jenar 2 karya Achmad Chodjim, membantah bahwa Siti Jenar ini dipenggal oleh para wali, kematian beliau adalah permohonan beliau sendiri dengan cara menggulung kodrat dan iradatnya, kata-kata terakhir beliau adalah “wis aku dienteni akeh gawean, kesusu tak mangkat dhisik”…ditulis oleh R Ronggowarsito…artinya “sudahlah (tidak usah terlalu banyak diskusi berbantah-bantahan),saya sedang ditunggu banyak pekerjaan, terburu-buru untuk berangkat…setelah itu beliau wafat…ini versi cirebonan…jadi mungkin semacam majlis agung seperti ini yang dimaksudkan barangkali ya ?

» Comment by Zaratustra — November 9, 2007 @ 2:55 pm

Sigit says:

Alhamdulillah, jazakallahu khairan katsiiran. Terimakasih M’Watung, semoga Allah melimpahkan yg lebih baik dan lebih banyak lagi.

Nanya ya, apakah jumlah tahun2 yang beliau sebutkan itu memang riil demikian, atau kiasan? Mohon dijawab sesuai rasa dan keyakinan M’Watung saja.

» Comment by Sigit — November 15, 2007 @ 12:20 pm

watung says:

Halo, Mas Sigit.
Jumlah tahun mungkin riil kali ya. Barangkali umur beliau cukup panjang, atau ada proses2 di situ yg ‘overlap’… wallahu’alam.

» Comment by watung — November 15, 2007 @ 12:52 pm

zaratustra says:

wah cocok lagi dengan pertanyaan Mas Sigit, SSJ ini khan hidupnya sekitar 1500 an Masehi…jadi kalau Bawa menyampaikan informasi bahwa sekitar 400 tahun sekarang ini belum ada lagi anggota majelis agung ini…berarti mungkin SSJ ini benar masuk majelis ini kalee ya…:)

Btw, di akhir hayatnya, SSJ ini menyampaikan informasi bahwa kelak anak cucu Sunan Gunung Jati akan menderita karena diserang kebo putih yang datang dari ujung barat dan bermata kucing…informasi ini ditulis oleh RR Ronggowarsito dalam pupuh nya - saya lupa….ehh bener ya…belum ada 100 tahun dari perkataan SSJ ini, Nusantara dicengkeram oleh Belanda…VOC berdiri 1611 M…jadi perkataan orang seperti Bawa ini bukan ocehan iseng saja, tapi para beliau ini hanya menjadi corong informasi dari semesta…perkataannya tiada dusta…

» Comment by zaratustra — November 28, 2007 @ 4:56 pm

meor says:

aku suka baca blog kamu,dan aku kenal bawa muhaiyaddeen melalui blog ini..dan aku dari malaysia,apa pun keep it up ..apa yg kamu buat sangat diberkati..

» Comment by meor — April 30, 2008 @ 6:22 pm

kuyazr says:

yuk kita buat majelis agung sendiri yuk…tp syaratnya harus bisaa sholat berjamaah terus tanpa putus lan pas waktunya. Mau?

» Comment by kuyazr — May 12, 2008 @ 9:13 pm

bahtiar says:

Apa Muhayyuddin (Penghidup Agama Sejati) itu wali qutub ya?

Salam kenal.

» Comment by bahtiar — May 13, 2008 @ 9:58 am

Pencari makna cinta.. says:

ruaar biasaa..yang disampaikan Om watung ini..
“pencarian ya..” potensi diri yg selalu menyelimuti..walau sering kali di ingkari..
dalam setiap dekade selalu ada “ikon” proses “pencarian” sinkron dengan kondisi saat itu..di era teknologi kini..semestinya “pencarian” ini bisa terbantu..”ada fisika quantum”..yg memahami substansi semua “materi” adalah “energi”..yang saling terhubung dan saling mempengaruhi..bahkan ada kabar penelitian..bahwa “semesta’ adalah “program hologram”..”..dan kehidupan dunia adalah sendau gurau belaka..”
ditutup dengan kata2 “..dan hanya sedikit orang yg memperhatikan (memahaminya)..
ayoo..para pejalan “pencarian”..Rock On..he..he..

» Comment by Pencari makna cinta.. — August 5, 2008 @ 11:27 am

doddi widodo says:

mas watung, majelis agung bisa dijadikan konsep kebangkitan, indonesia nggak?

» Comment by doddi widodo — August 11, 2008 @ 12:22 pm

Ghoelam says:

MahaSuci Tuhan…..

» Comment by Ghoelam — August 17, 2008 @ 9:54 am

 

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

(required, but will not be displayed)



Garis
RSS | My Yahoo! | Google | Bloglines | My AOL | FeedLounge
All contents ©2005-2010 by Watung Arif, unless otherwise noted.
Contents under Creative Commons License.