Watung Blog

Reog Ponorogo, Indonesia, Malaysia

Sunday December 2, 2007 | Filed under: Misc

reog4.jpgSekarang ini kantor kok isinya orang ngributin Reog Ponorogo dan Rasa Sayange yang diklaim Malaysia. Ya bukan apa-apa sih, tapi entah gimana ceritanya kita ini — yang pemuja sandang Calvin Klein dan penikmat assiette du pecheur (mampus gak tuh bacanya) — tiba-tiba kok jadi apresiatif dengan yang namanya reog. Lha wong pertunjukan asli Jawa Timuran ini (hidup Arema!) di Taman Mini aja nggak ada yang nonton, kalah sama meriahnya festival tari Salsa (joget a la Jennifer Lopez) di Hotel Mulia bulan kemarin.

C’mooonnn guys… kapan sih terakhir kita nonton reog? Setahun lalu? 10 tahun lalu?

Tari Barongan

Tari Barongan yang diklaim Malaysia ini memang mirip dengan Reog Ponorogo. Bayangan saya tadinya pemerintah mereka datang ke Ponorogo, nonton reog lalu terbetik ide di kepala mereka “Kita klaim aja ini punya kita!”?

Mmm, kayaknya they are not that stupid deh…

Surprisingly, saya baru kebayang apa yang sebenarnya mungkin terjadi ketika coba simple search di Google. Guess what? Ada sebuah makalah tahun 1994 di Universiti Kebangsaan Malaysia yang judulnya “Perkembangan Seni Tari Barongan Sebagai Satu Permainan Tradisional Orang-orang Jawa di Batu Pahat, Johor.” Orang-orang Jawa?? Guys, ini orang-orang kita juga! Orang-orang kita yang barangkali dulunya punya kelompok seni reog tapi ditinggalkan pemirsanya, lalu pergi mencari rejeki yang rada layak ke Negeri Jiran, menjadi warga negara sana, mengembangkan kesenian a la reog di sana, mengubah pakem-pakem reog kecuali atributnya dan memberinya dengan nama lain Tari Barongan… dan disambut baik!

reog3.jpg

Salahkah?

Lha gimana, wong di negerinya sendiri orang-orangnya lebih suka mengunjungi pentas Christina Aguilera atau menghabiskan Rp 1,5 juta untuk nonton Disney On Ice milik Feld Entertainment buat anak-anaknya?

Ada kasus lain.

Spy Plane

endri_rachman2.jpgCuma beberapa gelintir saja negara yang memiliki pesawat mata-mata tanpa awak (UAV). Amerika dan Israel jelas yang paling aktif memproduksi. Di Asia ada India, Pakistan, Jepang, Cina dan Korea yang punya program khusus untuk bikin spy plane semacam itu, walau masih bergantung pada perangkat-perangkat dari Israel. Indonesia juga mau beli dari Israel (padahal kita nggak punya hubungan diplomatik sama mereka). Tapi Malaysia… mereka bisa bikin sendiri!

Siapa otak di balik UAV bikinan Malaysia ini? Dr. Endri Rachman, seorang mantan engineer di IPTN yang hijrah ke Malaysia dan menjadi pengajar di Universiti Sains Malaysia… orang Indonesia!

Salahkah? Ya kalau di IPTN cuma digaji Rp 500 - 900 ribu, sementara pemerintah Malaysia mau mengucurkan 1 milyar untuk bikin prototipe UAV… Kita bener-bener punya sejarah yang buruk tentang bagaimana memperlakukan orang-orang pinter negeri ini.

So…

Kebayang gak situasinya?

Bagaimana pun di hati kecil ini, kasihan juga sebenarnya Malaysia… Mereka itu negara seuprit. Tidak sebesar dan sekaya — secara budaya — Indonesia. Mereka punya program Visit Malaysia Year 2007, mencoba mati-matian menggali budaya sendiri dan menemukan bahwa nggak banyak yang bisa diperoleh hanya dari satu rumpun, yakni Melayu. Sementara ’sang kakak’ Indonesia… begitu melimpah ruah.

Tahukah kita bahwa Indonesia punya 300 suku dengan budaya yang beragam satu sama lain?

Tahukah kita berapa banyak bahasa daerah yang ada Indonesia? Lima? 20?

Kita punya 742 bahasa daerah! Itu pun yang tercatat. (Gimana caranya 742 bahasa bisa ada di wilayah kecil Nusantara ini?) Bayangkan, bukankah Indonesia sebenarnya adalah miniatur dunia?

Miniatur dunia, negeri Atlantis yang ‘hilang’ (katanya), dengan tambang emas terbesar di Papua sana dan tembaga terbesar ketiga di dunia (yang semuanya diangkut ke Amerika), kepulauan terbesar di dunia dengan 17.000 pulau (sampe kita bingung gimana jaganya), produsen minyak berkualitas tinggi (yang kita ekspor, sementara minyak kualitas rendah kita impor untuk dalam negeri), produsen timah terbesar di dunia!… Bayangkan, kita ini negara kaya!

pengemis.jpg

Kembali ke reog-reogan ini.

Oh, oh ya… Tentu saja: ini semua bukan soal budaya atau soal kita yang tiba-tiba begitu perhatian dengan pelestarian warisan leluhur. Ini adalah — yah seperti halnya seluruh kejadian di sepanjang sejarah manusia sejak jaman paleolithicum dulu: soal harga diri. Soal kita yang ngerasa kecolongan dan mereka yang kita anggap mencuri tanpa kita sebenarnya pernah tahu apa sebenarnya yang dicuri.

Teman-teman yang baik, apa sih sebenarnya yang dicuri — di luar harga diri? Pahamkah kita berapa nilai yang dicuri? Berapa ‘harga’ Reog Ponorogo bagi kita? Karena jangan-jangan kita cuma kehilangan apa yang sudah kita sendiri anggap sebagai sampah. Pernahkah kita melongok sejenak apa yang hendak dikisahkan melalui tarian-tarian itu, di sela-sela kursus Tango dan senam Pilates kita yang intens? Tentang orang-orang gila bertopeng yang mencak-mencak? Dongeng konyol tentang binatang?

Credits: Gambar paling atas diambil dari koleksi foto Ikhlasul Amal (Thanks!). Gambar lainnya murni dicuri dari Internet (a.k.a Google Image, nggak tahu juntrungannya) — silakan complain langsung ke saya kalau ada hasil karyanya yg terpajang secara tidak senonoh di sini.


34 Comments »

mutiara says:

Penyakit kronis bangsa ini, krisis jati diri.
Reog kayaknya kurang funky..mungkin kalo pake musik nge-rap dan berbusana bikini ..lu..lu pada doyan..

» Comment by mutiara — December 2, 2007 @ 7:51 am

yon’s revolta says:

di magelang tempatku juga da loh ternyata group reog :-).

tp ada hikmahnya ribut ribul soal ini. jadi pd suka baca sejarah kebudayaan :-)

» Comment by yon's revolta — December 2, 2007 @ 7:08 pm

Ciptadi says:

He he.. Tulisan Watung selalu asyik emang..

Kalau orang ditanya: wingko itu makanan mana? Sebagian besar akan bilang wingko itu makanan orang (dan berasal dari) Semarang. Tidak banyak yang tahu bahwa Wingko berasal dari Babad, sebuah kota kecamatan di Jawa Timur (dekat Ponorogo).

Kesalahan orang Babad dengan Wingko-nya adalah kegagalan mengangkat Wingko ke tingkat yang lebih sophisticated, sebagaimana orang Semarang melakukannya.

Kalau ditanya: apa orang Babad sedih dengan kenyataan ini? Saya gak tahu dan mungkin juga mereka gak peduli.

Makanan Padang bisa jadi mengalami hal yang sama. Pelan tapi pasti, Malaysia dan Singapura mulai melakukan sofistikasi. Kelak mungkin mereka juga akan mengklaim Nasi padang sebagai makanan nasional mereka, dan bisa jadi ini sah, wong semua orang di Negeri Sembilan adalah orang Padang.

Habis lebaran kemarin, di Phnom Penh saya bertemu dengan sebuah restoran Malaysia di salah satu boulevard utamanya, dan yang dijual adalah: rendang, ikan teri padang, gulai pete, balado, dan gudeg Padang. Semuanya Padang totok, hanya rasanya dua level dibawah Nasi Padang-nya si Jon di kantin karyawan BCA..

Walah walah!

» Comment by Ciptadi — December 2, 2007 @ 10:54 pm

watung says:

lho, lho… kok ciptadi bisa nyasar sini? ;-) hehe. cip, nomor hape lu kirim ke watung [at] gmail.com ya. pa kabar?

ya gitulah, mustinya emang malaysia kita klaim aja sebagai milik indonesia. sekalian. ;-)

» Comment by watung — December 2, 2007 @ 11:20 pm

zaratustra says:

Ya bagaimana nggak 742 bahasa ngumpul disini ? Lha wong pusat kebudayaan memang biasanya di lembah. Tahu lembah-nya dimana sekarang ? Ya di laut jawa. Di laut jawa yang rata-rata kedalamannya cuman 200 - 300 m an itu, dulu adalah pusat kebudayaan Lemuria. Tahu dari mana ada peradaban Lemuria ini ? Ternyata dari Belanda, lho kok…iya ternyata Belanda pada tahun 1800-an mengangkut buku-buku dari Jawa sebanyak 5 kapal…bisa dipahami sekarang mengapa kok kita seperti bangsa yang kehilangan akar-nya…

Peradaban Lemuria itu tenggelam ketika permukaan laut naik hampir 400 m seiring mencairnya es di kutub akibat perubahan iklim global….

Jadi, peradaban manusia dulu pernah mencapai kejayaannya…nah kita dan para leluhur ini logikanya adalah orang-orang gunung…yang justru dengan keterbelakangan intelektual dan keluguannya justru selamat dari bencana maha dahsyat itu…jadi ya wajar kalo kita sekarang “terseok-seok” lagi menghadapi kehidupan…lha wong kaum yang pinter2 udah musnah…hehehe

Hampir sama dengan Benua Atlantis, mereka lebih dahulu tenggelam daripada Lemuria, jadi tingkat evolusi intelektual bangsa eropa memang lebih matang ketimbang kita…jadi yaaa wajarrrr….itulah kehidupan…

» Comment by zaratustra — December 3, 2007 @ 10:35 am

siska says:

hi hi.. malaysia lagi.. perdebatan ttg malaysia memang meramekan milis2 yang aku ikuti, dari yang nadanya gregetan sampai yang sifatnya lebih undrestanding kaya tulisan ini.
jadi inget aku pernah ngobrol sama seorang diplomat yang pernah ditugaskan di malaysia, dia sebenarnya menjawab kekagetan-ku setelah aku sempet pergi ke malaysia sebentar dan ngeliat kok dibalik segala high tech nya orang malaysia, menara petronas yang mereka banggakan, dan bahasa inggris beraksen melayu yang not bad itu.., kenapa kok anak muda mereka yang biasa nongkrong di mall2 itu pake baju-nya, sorry, rada - rada norak ya? ada sesuatu yang gk pas antara sense memadu-madankan warna dan model baju dengan kemodernan mereka.. (for example: pernah siti nur haliza difoto di sebuah tabloid indonesia dengan kaos yang berwarna merah muda dengan gambar panda yang besar di tengah, lengkap dengan topi pet yang mungkin dipake anggun c sasmi tahun 80-an dulu, rikiplik banget, he he..) dan pemandangan yang sama bertebaran di kuala lumpur, so called center urbannya anak-anak muda disana.. nah jawabannya rada menarik, diplomat itu bilang: “Yah jelas gk mengagetkan, wong mereka itu sebenarnya suku pinggiran kok, melayu yang di malaysia itu sejarah kerajaannya memang pinggiran, pusatnya kan di riau.., dan juga kalah dengan kerajaan jawa jaman itu.. jadi ya, sense yang “marginal” itu memang diturunkan..” katanya..hehe.. jawabannya memang menghina banget.. atau menghibur diri sendiri.. aku gk tau lah.
Tapi faktanya, adalah kaum pinggiran itu sekarang cukup cerdas dan kaya raya. revolusi mahathir untuk membuat seluruh text book murid murid sekolah di malaysia berbahasa inggris terbukti memajukan mind masyarakatnya.
mereka jadi cukup up to date, matang memikirkan.. misalnya: bahwa infrastruktur dulu yang harus di mantapkan untuk memboost-up wajah suatu negara di dunia internasional, coba deh liat airport di malaysia, metrorail di kota-kotanya, bis antar kotanya wah.. keren, (nggak usah ngomongin Changi di Singapore yang udah kelas dunia lah yauw..sama malaysia aja kita kalah berat.. dan lebih sedih lagi waktu denger katanya arsitektur airportnya malaysia orang indonesia).
Itu sebabnya Al-Jazeera english news chanel lebih memilih pusatnya Asia tenggara di Malaysia, walaupun semua orang tau bahwa denyut sosial-politik-ekonomi asia tenggara itu ada di Indonesia. Al-Jazeera lebih memilih KL karena cost untuk produksinya lebih rendah. Nah kalo di jakarta, ngitung biaya macetnya dulu..bisa-bisa gk on air karena para anchor2 bule itu terjebak macet gara2 pembangunan busway he he..
Tapi patut diakui juga kalau malaysia dan singapore, dibalik kejayaan infrastruktur dan pertumbuhan ekonominya, belum bisa melahirkan karya budaya dan sastra yang unggul di kawasan. Pendeknya kalau sastra dan hasil kebudayaan masyarakatnya diukur sebagai parameter peradaban.. (cieee, rada ngawur nih, sory) mereka belum bisa melahirkan sesuatu yang unggul di kawasan asia tenggara.
Jadi, untunglah walaupun kita miskin penduduknya, kekayaan tanahnya dikeruk pihak asing karena kebodohan para pemimpin masa dulu, tapi kita masih melahirkan budaya yang unggul di kawasan ini..seperti cerminan dari temen saya, orang malaysia, anak -anak muda di key el akan lebih diakui trend dan modernitasnya kalau sudah mengkoleksi kaset nidji, peter pan, padi, maliq and de essential.. dan minimal sudah menonton ada apa dengan cinta dan Heart.. heheheh.. belum lagi kegemaran para intelektual sastra mereka baca pramudya, dan seno gumira ..jadi jangan aneh kalo ke malaysia kita akan mendengar frase “gue- elo” dan betapa mereka membanggakan pernah datang ke Tanah abang dan belanja di FO bandung.. heheheh.. kaya gitu udah nge trend bangettt di mata mereka ..he he..
tapi ngomongin malay dan indo relation memang kompleks.. ada masalah illegal migran, ada masalah etnisitas dll, dll..
tapi pendeknya, buat refleksi ke kita ya.. dari pada nyelain orang melulu.. kayanya kita harusnya yang lebih menghargai diri sendiri.. seperti mengapresiasi seniman daerah dan membayar para intelektual kita dengan pantas.. sebelum pada kabur dan memakmurkan negara - negara tetangga yang kaya :))

» Comment by siska — December 3, 2007 @ 11:51 am

Sandal Bakiak says:

Selama pemerintah gak peduli dengan bangsa dan rakyatnya sendiri dan hanya mengenal jurus Aji Mumpung…

Selama rakyat Indonesia hanya mengejar keuntungan semata yang tidak peduli dengan asset negara…

Selama banyak sekali orang Indonesia yang hanya bisa ngomong besar tanpa ada pelaksanaan…

maka Indonesia sudah sepatutnya menjadi olok-olokan dan pembodohan bangsa lain termasuk Malaysia yang merasa banyak celah yang dapat dipergunakan untuk masuk ke wilayah Indonesia, termasuk untuk meyakinkan bahwa mereka adalah serumpun dengan Indonesia.

Melihat hal-hal tersebut diatas, kapan bangsa Indonesia mau bangkit dan membangun negara ini bersama-sama.

Keberagaman suku dan alam harusnya bisa menjadi sumber kekuatan kebudayaan dan pariwisata yang harus dilestarikan dan dicintai oleh seluruh rakyat, bukannya dengan mengimpor kebudayaan asing yang jelas-jelas menguntungkan pihak asing baik dan merugikan kita secara finansial maupun kejiwaan seseorang.

Semoga bangsa Indonesia dapat sadar atas kesalahan yang mereka perbuat. AMIN.

» Comment by Sandal Bakiak — December 3, 2007 @ 12:15 pm

mr. gt says:

sebagai bangsa Indonesia, kita wajib menjaga budaya kita. tidak perlu melebar kemana0mana. esensinya, kita harus introspeksi, sudah sejauhmana kita menghargai dan mengerti serta paham akan budaya sendiri? mari tetap jalin siltaturahmi sebagai wujud kita ikut serta mewujudkan perdamaian dunia. Namun jangan lupa, Negeri sendiri juga harus damai. ingat Gomblok (alm) dalam lagunya.Bagaimanapun, sebagai manusia yang “telah dilahirkan” di Indonesia, kita wajib untuk menjaga segenap tumpah darah Indonesia.

» Comment by mr. gt — December 3, 2007 @ 12:28 pm

faubell says:

Bangsa malaysia sedang mencari jati diri. Ternyata jati dirinya ada pada bangsa besar yang sudah melupakan jati dirinya, yaitu Indonesia.
Semua tahu, pohon jati paling baik di dunia adanya di Indonesia (apa hubungannya ya??)
Biarkan bangsa malaysia melakukan itu, demi kebaikan kita juga, peringatan dari Yang Maha Kuasa untuk mengingatkan bangsa Indonesia kembali ke jati dirinya……
Syukur Alhamdullilah….

» Comment by faubell — December 3, 2007 @ 5:08 pm

abu suci says:

Mas, mungkin perlu berhati-hati dengan statement ini:

“Teman-teman yang baik, apa sih sebenarnya yang dicuri — di luar harga diri? Pahamkah kita berapa nilai yang dicuri? Berapa ‘harga’ Reog Ponorogo bagi kita? Karena jangan-jangan kita cuma kehilangan apa yang sudah kita sendiri anggap sebagai sampah. Pernahkah kita melongok sejenak apa yang hendak dikisahkan melalui tarian-tarian itu, di sela-sela kursus Tango dan senam Pilates kita yang intens? Tentang orang-orang gila bertopeng yang mencak-mencak? Dongeng konyol tentang binatang?”

Tak bisa dipungkiri aroma emosi kental dalam konflik negeri (negeri, bukan negara) ini dengan tetangga. Dan emosi jelas tidak sejalan dengan rasionalitas. Mereka yang emosi, terutama “para pemilik” reog Ponorogo tentu tidak akan mudah menerima dengan prasangka baik kata “sampah” yang seakan merujuk ke “reog Ponorogo”, dan “Tentang orang-orang gila bertopeng yang mencak-mencak? Dongeng konyol tentang binatang?” sebagai penggambaran tarian tersebut.

Saya tidak paham tarian tersebut, pun juga memang tidak terlalu memerhatikannya karena bukan budaya suku saya, tidak tahu apakah ada filosofi kuat yang mendasari tarian tersebut (it is possible), oleh karena itu rasanya tidak tega membaca alenia terakhir tulisan Mas yang sangat bagus ini. I got your whole point, but… i hope i just simply misunderstood in the last paragraph.

» Comment by abu suci — December 3, 2007 @ 11:10 pm

watung says:

#abu suci:
statement itu seperti saya bilang ke anak saya yg males banget sekolah: “ya udah, ndak usah sekolah! emang apa sih sekolah buatmu? cuma mengganggu waktu mainmu aja kan?”

kira-kira gitu. ;-) bukan berarti saya bilang bahwa sekolah cuma mengganggu waktu main. hehe… tapi ini lebih ke gaya saya nulis aja.

» Comment by watung — December 4, 2007 @ 7:47 am

mini says:

Mas Abu,
Sepertinya anda salah menangkap maksud penulis. Ini model gaya agak sarkastik..nyindir pemikiran banyak orang. Honestly banyak orang Indonesia yang gak peduli dengan budayanya (termasuk saya). Kita lebih asyik menelaah budaya lain yang nampak lebih modern, dan sama sekali enggan mempelajari budaya sendiri. Saya terus terang tersindir dengan tulisan ini, bukan karena saya suka pilates dan salsa tapi karena gak pernah terlintas di pikiran saya buat membaca apa itu reog ponorogo, or males mengajari anak saya berbahasa daerah karena gak keren seperti bahasa Inggris or Mandarin. Menurut saya ini menjadi perenungan bagi kita..bahwa mungkin di apa yang kita lakukan selama ini terhadap budaya bangsa adalah nothing, BIG ZERO.

Pak penulis.correct me if I’m wrong..

Cheers,

» Comment by mini — December 4, 2007 @ 8:06 am

abu suci says:

Seperti saya sampaikan, saya nangkep maksudnya. Saya setuju banget dan sangat mengapresiasi tulisannya. Hanya sedikit kekhawatiran saja ada yang tambah uring-uringan dengan gaya menulisnya, alih-alih tersindir/tersadarkan. Makasih buat mas watung & mini atas responnya.

Sedikit share: dua kakak ipar saya, yang satu orang ponorogo, yang satu orang malaysia… Yang berantem? Anak-anaknya yang pada usia SD!! Seru. Hehehe…

» Comment by abu suci — December 5, 2007 @ 11:53 am

watung says:

oh oke… thx kalo gitu. sarkastik ya? hehe.. welcome to my blog! ndak lah.. biar nanti yg uring-uringan langsung email ke saya aja. ;-)

» Comment by watung — December 5, 2007 @ 2:46 pm

Non Blok….! says:

memang sih indonesia kaya akan segalanya,tapi didalam itu semua masih ada yang namanya diskriminasi,terutama diskriminasi etnis,agama.kenapa yang jadi presiden dinegara indonesia harus orang yang beragama islam??kenapa gak boleh orang yang beragama kristen,buddha,hindu.kan bukan dilihat dari agama kita mengelola negara ini,melainkan kemampuan kita untuk mengelolanya.dan kenapa orang yang bersuku jawa saja yang boleh menjadi presiden,coba liet tu…mana ada mentri2 yang dari suku laen…..bayangkan amerika saja,balon presiden boleh dari golongan mana saja…..coba liat Barrack Obama,dia kan calon presiden Amerika dari partai oposisi,dia aja boleh……kenapa yang laen gak boleh…….!Amerika negara Super Power aja boleh ky gitu,mengapa kita tidak boleh???kan aneh y pertanyaannya n jawabannya….!jadi politik neh…!huahuahuahuahuahua1sekian dan terima kasih…!!hahahha.dalam tulisan saya ini tidak ada maksud untuk mengintimidasi suku dan agama yang ada…..!!!!sebelumnya bila ada kata-kata yang salah,kami cuma just for fun,just for laugh..!hehehehe!ky tukul…!bye…………!

» Comment by Non Blok....! — December 5, 2007 @ 3:06 pm

Non Blok….! says:

maksud saya..Barrack Obama beragama Islam sedangkan kultur yang ada diUSA kan lebih lekat dengan yang namanya jesus christ…!hehehe!sekian terima kasih!!!

» Comment by Non Blok....! — December 5, 2007 @ 3:09 pm

watung says:

#non-blok
Barrack Obama beragama Kristen.

» Comment by watung — December 5, 2007 @ 3:27 pm

siska says:

hi non blok, setahuku US itu dikenal amat diskriminatif, anda tahu kan bagaimana George Washington yang menuliskan konstitusi di US ttg persamaan hak? matinya digantung oleh orang2 kulit putih yang membenci ide itu. Sampai sekarang pemerintah US didominasi orang kulit putih, kalau anda melihat orang kulit hitam seperti Collin powel atau Condoleeza rice dalam kabinet itu sifatnya tokenistik.. pandangan yang rasis dan prejudice itu gk bisa ilang dimana-mana sampai sekarang.. Indonesia memang masih mempunyai itu, kita liat banyak provinsi di bagian timur yang terbelakang memang didominasi non muslim. Tapi non blok juga lihat ke philipines, dimana muslimnya yang tinggal di kepulauan mindanao, juga terpinggirkan tidak seperti mayoritas katolik yang di kepulauan Luzon. apakah prasangka rasial itu bagian dari sifat dasar manusia?

» Comment by siska — December 5, 2007 @ 6:53 pm

agus ferdian says:

klo menurut aku, kita telah dicuri ,kenapa nggak kita pertahankan kebudayaan yang sudah lama kita miliki.

» Comment by agus ferdian — December 6, 2007 @ 8:24 am

R0 says:

aduh…sdr. non-blok ini bikin saya ketawa…(upss maaf).
Barrack Obama itu Kristen..plek-plek..
di negri uncle sam ada mitos seputar presiden US; yg menjadi presiden harus White…artinya orang kulit putih. kedua, gak cuma sekedar White, tapi yg White itu harus dari Anglo Saxon…nenek moyangnya US yg dari British. ketiga, agamanya harus Kristen…(#%^$%^).
aduh…mau ketawa lagi….

» Comment by R0 — December 7, 2007 @ 5:01 pm

R0 says:

gamelan juga udah lama diklaim kebudayaan negeri Johor lho..ada yg udah tau? dedengkot pengajar gamelan di johor itu ya Pak Herman, yg ngajar di UTM, masih ktp Indonesia lho. asli jago banget. dan itu salah satu aja dari peranan orang indonesia (masih ktp indo) dalam membangun malaysia. lha gimana…di negeri sendiri dizalimi mulu…

» Comment by R0 — December 7, 2007 @ 5:13 pm

aquamarinewannabe says:

wow …

harusnya mrk [org indo] yg lg sibuk2 “perang kata” indo-malay, hrs baca blog ini dulu d …
biar pikirannya jg terbuka …

stlh membaca artikel ini g membayangkan masa depan fisikawan2 muda kita yg menang di olimpiade kmrn, apa bakal di sia2 kan jg di negri sendiri smp akhirnya mengabdi k negara lain?

slm ini kita tuh ga sadar klo kita “autis” sm bangsa sendiri [bahkan lingkungan sekitar-kampus,kantor,rmh,dsb]. g jg termsk. bahkan saking autisnya g akan negara g sendiri, g pernah smp nanya “riau itu di sblh mn y?” parah bukan … he8.

selain autis lingkungan, kita terkadang suka iri sm negara lain … tp, cm sebatas iri aj. misalnya, g kagum bgt sm transportasi umum di jepang [teratur, terawat, dan BERSIH]. sedangkan kondisi busway kita [terutama di harmoni, jelambar, cengkareng, blok M], pdhl belum ada 10 thn beroperasi … tp, liat aja skrg … memprihatinkan bkn? g sering bgt blg dlm hati “coba klo di Jepang, busnya terawat, org2nya “bs” antri…dst…dst”, tp, finally g sadar klo budaya antri dan ga buang sampah sembarangan di halte bs di mulai dr g, dan akhirnya mulai menular ke tmn2 g [mungkin krn males jg g ocehin.he8]. jd, jgn ngiri doank, meskipun kita airport kita ga bs sebagus malay dan SG, setidaknya kita bs bikin bersih dan teratur kan …

sekalian curhat jg … kebetulan ada tmn g ada yg kuliah di LN [SF dan Jerman]. mrk dg sukses mengenalkan tari pendet [soalnya ini doank tarian yg mrk hafal.he8] di kampus n tmn2 mrk di sana … bahkan tmn g yg di SF smp pake kostum lengkapnya pas hallowen.

Soalnya sblm berangkat, kita sempet ktm sm guru nari waktu SD [Pak Nyoman], nah dia kasih wejangan spy kita tetep inget tuh tarian dan nyuruh tmn2 g bw kostum plus kasetnya [plus seminggu latian gila2an sblm mrk pegi, krn qt sbnrnya uda lupa, tp dia maksa ngajarin lg smp akhirnya inget lg].

Nah, intinya … setiap kita sbnrnya bs kok ikut partisipasi mulai dr hal yg kecil2 aj.
kayak mengingat ciri khas tiap daerah apa, misal semarang-lumpia.
bs jg ngajak tmn2 kita, yg org asing, spy liburan di sini, trus kita yg jd tour guidenya.
menyarankan ade/ponakan/sepupu/dsb utk belajar tari daerah di samping cheerleader/balet/modern dance

» Comment by aquamarinewannabe — December 14, 2007 @ 12:25 am

dhodok says:

asu

» Comment by dhodok — December 27, 2007 @ 3:37 pm

Amal says:

Tolong pak, untuk pemakaian foto dari situs lain agar disebutkan sumbernya. Selain sebagai kelaziman di dunia penulisan, lisensi yang saya pasang untuk foto tersebut adalah Creative Commons Attribution - Share Alike.

Terima kasih atas kerja sama Anda.

» Comment by Amal — December 28, 2007 @ 4:23 pm

Watung says:

Ok, Pak Amal. Saya cantumkan di bagian Credits (kecuali anda ingin gambar itu dicabut sama sekali — monggo kasih tahu saya). Terimakasih dan salaam.

» Comment by Watung — December 28, 2007 @ 4:45 pm

Kurniasih (Ani) says:

Hallo, Mas Watung,
saya udah sering denger blog ini menarik banget. dan emang terbukti pas saya baca yang ttg Reog ini. sedih campur bingung sebenarnya baca kenyataan ttg negeri ini dan jeroan-jeroannya yang kadang carut marut. ingin optimis tapi kok ya selalu diganggu dengan berbagai fenomena “aneh”.

saya suka ngumpul-ngumpul di FSK ITB. Pak Yasraf itu sering cerita bagaimana dosen-dosen yang baik dan berkualitas sering “dibuang” jadi pegawai administrasi semata. padahal mereka-mereka itu baru balik sekolah dari luar negeri dan punya reputasi sangat baik di bidangnya. Pak Yasraf pun termasuk yang, menurut saya gemilang. suatu hari beliau dapat surat dari pembimbingnya waktu sekolah diInggris. dia bilang “Anda lebih mengerti posmodernisme daripada saya.” tapi ya itu dia ada semangat kecemburuan intelektualisme sehingga orang-orang seperti beliau sering disisihkan keberadaannya. dan itu konon banyak. bahkan ada yang sampe dipanggil kembali ke sekolah di luar negeri, almamaternya, untuk mengajar di sana. karena orang ini hanya dikaryakan jadi administratur.

waktu lagu Rasasayange itu konon diembat sama Malay, saya pun sempet gemes. bahkan kegirangan ketika namanya diplesetkan jadi “Maling-Sia”. tapi saya insyaf (huek huek :) bahwa orang kita seringkali lupa cara menghargai kekayaan sendiri.

wah kalau mau disebutin satu-satu fenomena yang nyesekin dada ini, bisa mati keleyengan :) di kampus saya aja, pengajar tuh dianggap semacam tenaga sukarela. yang dibayar seingetnya. jual beli nilai jadi rahasia umum.

belum lagi kenyataan bahwa ternyata orang-orang lulusan universitas di negeri kita ternyata berkarya sangat indah di luar negeri. di koran Tempo, pernah diliput lima orang tenaga kerja di Malaysia, Arab Saudi, Singapura. mereka bekerja sambil harus tabah karena dihina-hina sebagai orang Indonesia. tapi karya mereka membuktikan bahwa mereka sangat berkualitas.seperti yang mbak Siska bilang.

tahun baru, dimulai dengan membaca Reog ini. wah huek huek jadi sedikit meradang :(

» Comment by Kurniasih (Ani) — January 1, 2008 @ 11:10 am

irmanator says:

Kalo saya mah, setuju sama iklan salah satu jamu cair di tipi ttg berbagai budaya indonesia, tepatnya ide pembuat iklan jamu tsb.
Kalo masalah kemampuan dan visi misi pemerintah Indonesia, wah mending tutup mata and do something better deh… hehehe

» Comment by irmanator — January 4, 2008 @ 6:54 pm

reveal the truth says:

exactly. bener banget tuh. selama ini kita ga terlalu peduli sama apa yang kita miliki. kekayaan budaya indonesia yang beraneka ragam. tapi setelah di claim malaysia kita sok sok marah. padahal kita sendiri jg ga ngerti apa yang sebenernya di klaim.

» Comment by reveal the truth — January 8, 2008 @ 10:37 pm

BunBil says:

Emang, bangsa kita tuh selalu ributnya telat kl nanggapin sesuatu yg menyangkut bangsa.. wong kita dulu2 ya cuek aja gt lho sama budaya sendiri, spt yg diributin skrg, reog, lagu rasa sayange, batik, dll. Baru aja setelah di klaim ama yg lain, kalang kabut sndiri. Merasa diinjak-injaklah, ga dihargailah, dan sederet negative feeling lainnya. Kayaknya kita lebih bangga kl bisa menghabiskan ratusan ribu rupiah buat nonton si seksi Beyonce, or Black Eyed Peas, misalnya. Baru deh hbs itu bingung.. Diselipkanlah dlm iklan, dgn menampilkan macem2 budaya dr berbagai daerah tsb, sambil diiringi dgn nyanyian rasa sayange, yg dinyanyikan artis ngetop tanah air. Basi banget kan! (Tp ya mendinglah, timbang ga ada usaha sama sekali..he..he..) Dgn kejadian ini, sebenarnya kita tuh lagi DIINGATKAN untuk lebih care n respect sama budaya sndiri. Misalnya nih, ketika ada artis yg ngadain konser, diselipkan ada unsur tarian reog ponorogonya, atau si artis disamping nyanyiin lagu hitsnya, jg nyanyiin rasa sayange or lagu daerah lain. Itu br namanya menunjukkan bahwa kita cinta budaya sndiri (jgn cuma kl pas 17 agustus-an aja..) Tp ngomong2, kayaknya bangsa kita memang lg senang bgt ya kl udh disuruh ribut ama Malaysia..he..he.. (Buat mas penulis, ditunggu hasil karyanya lagi..) PEACE!!

» Comment by BunBil — January 10, 2008 @ 6:41 am

kathy says:

sedikit OOT, nama kami sekeluarga agak berbau bule bule, “willy-dicky-dendy-kathy-dion”, tapi di rumah, orang tua kami membiasakan kami untuk berbicara dengan bahasa sunda halus. mungkin, supaya kami menghargai budaya sendiri. baru baru ini, Cindai, anak saya si 3 tahun, tanya ke nini (neneknya), “ni…bawang bodas, bawang beureum na di rendos ?”, terjemahannya : nek, bawang putih dan bawang merahnya di ulek ?. dan….semua tertawa. lucu dan (mungkin kampungan), anak kecil berbahasa sunda…ditengah trend anak dari umur seuprit diajar berbahasa inggris…. sigh….kasian cindai ku, mungkin banyak yang menganggap dia anak kampung…padahal sumpah mati, saya bangga kalau nanti dia bisa berbahasa sunda halus seperti saya !

» Comment by kathy — January 26, 2008 @ 4:34 pm

R0 says:

TO Zarasutra

“Di laut jawa yang rata-rata kedalamannya cuman 200 - 300 m an itu, dulu adalah pusat kebudayaan Lemuria.”

Zara…dimana saya bisa mendapatkan literatur sejarah tersebut? makasih infonya

» Comment by R0 — February 28, 2008 @ 5:21 pm

grandika says:

yah saya rasa emang udah saatnya indonesia bangkit dari kterpurukan dengan begitu kita lebih sadar akan budaya kita yang sangat mahal

» Comment by grandika — March 10, 2008 @ 12:04 am

Tita says:

sebenernya orang-orang malaysia manggil kita indon itu menghina ya? emang artinya apa sih??

» Comment by Tita — March 31, 2008 @ 8:46 pm

Mutiara says:

update..update…update..

» Comment by Mutiara — April 6, 2008 @ 1:48 pm

 

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

(required, but will not be displayed)



Garis
RSS | My Yahoo! | Google | Bloglines | My AOL | FeedLounge
All contents ©2005-2010 by Watung Arif, unless otherwise noted.
Contents under Creative Commons License.