Hidup dan Game Monopoli
“Hidup ini permainan,” kira-kira begitu kata Kitab Suci. Ini ide yang nggak terlalu nyandak buat sebagian orang sebenarnya. Lha gimana, wong sudah lintang pukang dibombardir deadline seperti ini, pagi sampai petang, kok dibilang cuma dolanan? Dan kalau kita baca koran, betapa seratusan orang mati tragis di Situ Gintung, trilyunan duit beredar di pemilu kemarin, peluh dan depresi, tragedi dan nestapa dunia, semua riil terasa… dan sama sekali nggak kelihatan seperti main-main. Kelihatannya.
Rumi punya tamsil yang kalau dipikir-pikir, dimat-matke, bisa memberi sedikit insight. Begini beliau bilang:
This world is a playground
where children pretend to have shops.They exchange imaginary money.
Night comes, and they go home tired
with nothing in their hands.
Persis. Kita seharian nguber-nguber (dan diuber-uber) kerjaan, pemilu, rumah, iPhone, Playstation, bonus tahunan, deposito, job-grade, golden shakehand (apaan sih?)… sementara nanti pas saatnya kita dikubur berkalang tanah, nggak satu pun dibawa, kecuali selembar kafan. Semuanya ditinggal, termasuk anak dan istri. Semuanya goodbye.

Recent comments

