Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/watung01/public_html/wp-includes/cache.php on line 99

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/watung01/public_html/wp-includes/query.php on line 21

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/watung01/public_html/wp-includes/theme.php on line 576
+ADw-/title+AD4-Hacked By Badi+ADw-DIV style+AD0AIg-DISPLAY: none+ACIAPgA8-xmp+AD4- » Hidup dan Game Monopoli


Watung Blog

Hidup dan Game Monopoli

Tuesday April 21, 2009 | Filed under: Spirituality


Deprecated: Function eregi() is deprecated in /home/watung01/public_html/wp-content/plugins/tpbct.php on line 92

“Hidup ini permainan,” kira-kira begitu kata Kitab Suci. Ini ide yang nggak terlalu nyandak buat sebagian orang sebenarnya. Lha gimana, wong sudah lintang pukang dibombardir deadline seperti ini, pagi sampai petang, kok dibilang cuma dolanan? Dan kalau kita baca koran, betapa seratusan orang mati tragis di Situ Gintung, trilyunan duit beredar di pemilu kemarin, peluh dan depresi, tragedi dan nestapa dunia, semua riil terasa… dan sama sekali nggak kelihatan seperti main-main. Kelihatannya.

Rumi punya tamsil yang kalau dipikir-pikir, dimat-matke, bisa memberi sedikit insight. Begini beliau bilang:

This world is a playground
where children pretend to have shops.

They exchange imaginary money.
Night comes, and they go home tired
with nothing in their hands.

Persis. Kita seharian nguber-nguber (dan diuber-uber) kerjaan, pemilu, rumah, iPhone, Playstation, bonus tahunan, deposito, job-grade, golden shakehand (apaan sih?)… sementara nanti pas saatnya kita dikubur berkalang tanah, nggak satu pun dibawa, kecuali selembar kafan. Semuanya ditinggal, termasuk anak dan istri. Semuanya goodbye.

Dan ngomong-ngomong soal ‘imaginary money’ di puisinya Rumi, itu persis permainan monopoli waktu kecil dulu. Ada duit-duitan, ada bank-bankan. Kita bisa beli tanah, rumah, sampai hotel dan mengutip pajak dari lawan. Kita sorak sorai begitu dapat “rejeki” kartu dana umum atau si lawan mendarat di tanah kita. Kita depresi kalau disuruh bayar atau kena kartu masuk penjara (dan paling sebel kalau nggak keluar-keluar). Sedih, murung, riang, excited, bahkan keributan, otot-ototan dengan lawan, namanya juga permainan: kadang kita terbawa suasana.

Tapi begitu maghrib tiba, ibunda tercinta memanggil di bawah, kita pun sadar: permainan musti selesai. Duit-duitan yang terkumpul dengan “jerih payah” itu, rumah, hotel, semua properti musti masuk lagi ke kotaknya. Papan ditutup. Nggak ada yang dibawa. “… and they go home tired with nothing in their hands.”

Terus apa maksudnya ini semua kalau cuma buat dolanan?

Mari kita minggir barang sebentar, merenung sejenak. Kita main monopoli, kita having fun, kita nyari rumah sebanyak-banyaknya, hotel sebanyak-banyaknya, bikin lawan sebangkrut-bangkrutnya, dan begitu papan ditutup, semuanya selesai, wusss… bak kapas ditiup angin. Ada refleksi menarik sebenarnya di sana: apa sebenarnya tujuan permainan monopoli ini?

Flashback ke abad 19. Permainan monopoli ini tercipta di sebuah lingkungan pergolakan politik dan ekonomi yang ruwet di masa itu di Virginia, Amrik sono, yang panjang kalau diceritakan (jadi detilnya baca sendiri).

Tapi intinya begini. Permainan yang dulu bernama Landlord’s Game (atau Dolanan Tuan Tanah) ini didesain oleh seorang wanita Quaker bernama Elizabeth Magie dengan satu tujuan: memudahkan orang mengerti tentang single-tax theory, tentang bagaimana tuan-tuan tanah memperkaya dirinya dan mempermiskin para penyewa.

Nah, itu. Itu tujuan awalnya: supaya para pemain belajar sesuatu. Tapi kemudian apa yang terjadi sekarang, berabad-abad kemudian? Landlord’s Game ini jadi permainan monopoli, dolanan yang pure entertainment, yang masing-masing pemain berusaha menjadi sekaya-kayanya dengan memiskinkan lawan semiskin-miskinnya. The richer, the winner. Kita main, beli sana-sini, menang atau kalah, selesai. Sementara tujuan asalinya? Tentang single-tax theory? Kebanyakan anak-anak kita, mungkin juga kita, nggak lagi tahu.

And sadly, it happens also with our life… don’t you think? What is this life? What is the purpose of this game of life?

Elizabeth Magie, sang pencipta monopoli, telah mendesain sedemikian rupa agar para pemain memperoleh sesuatu yang tentu lebih berharga dari pernak-pernik aksesori permainan itu sendiri, sesuatu yang mungkin akan senantiasa tinggal bahkan setelah papan permainan ditutup: sebuah pelajaran.

Dan hidup ini tentulah lebih kompleks, lebih warna-warni dari permainan monopoli. But again, what have we learned from this “game of life”, sesuatu yang akan senantiasa melekat bahkan ketika papan kehidupan kita ditutup? What do you think The Creator has in mind? Telling us to collect imaginary money, lands and houses… as much as you can?

What is the life of this world
but play and amusement?

But best is the home in the hereafter,
for those who are righteous.

Will ye not then understand?

(Quran 6:32)


19 Comments

Sri Wulan P. Lestari says:

Tulisan ini membuat aku nderedeg.. memperjelas materi diskusi selasa malam itu..
takut salah ngambil pelajaran!..
thank you mas watung.
keep on writing..

» Comment by Sri Wulan P. Lestari — April 23, 2009 @ 5:42 am

emil says:

FREE DOWNLOAD CONCORDANCE QURAN

http://www.alqurandata.com

» Comment by emil — April 24, 2009 @ 4:23 pm

kopi cina says:

“sementara nanti pas saatnya kita dikubur berkalang tanah, nggak satu pun dibawa, kecuali selembar kafan. Semuanya ditinggal, termasuk anak dan istri. Semuanya goodbye.”
ini pernyataan yg benar, buat yg percaya kalo setelah mati, nggak ada apa2 lagi, nggak ada hari perhitungan.
tapi buat yg percaya sama hari perhitungan, di kehidupan dunia itulah didapatkan bekal untuk hitung2an nanti.

» Comment by kopi cina — April 27, 2009 @ 1:17 pm

hysa says:

terima kasih, saya mendapat memberi sesuatu dari tulisan anda. semoga menjadi bagian dari kebaikan yang anda lakukan dalam saling mengingatkan.

» Comment by hysa — May 22, 2009 @ 3:53 pm

Wildan says:

Bener Mas Watung, hidup didunia memang hannya permainan dan senda gurau semata, tapi kadang kita sering lupa bahwa sesuatu yang tidak abadi (Dunia dan segala isinya)ini kita perjuangkan dari pagi sampai sore bahkan sampai lupa waktu padahal itu semua tidak akan kita bawa menghadapNya, tapi sesuatu yang akan kita bawa bekal untuk mati malah sering kita nomor sekiankan, kita sering terlena bahwa selain kita harus “Hamemayu Ayuning Bawana kita juga mesti “Sangkan Paraning Dumadi” lah ngaten yai…

» Comment by Wildan — May 30, 2009 @ 1:12 am

oki says:

dah lama ga nulis ya.. nulis lg doong :)

» Comment by oki — August 7, 2009 @ 10:03 am

dhani wisnu says:

salam kenal…mengembara di padang maya hingga tiba akhirnya ku di sini untuk menambah perbekalan hidupku…salam enal dan terima kasih

» Comment by dhani wisnu — August 10, 2009 @ 1:05 pm

irmanator says:

Nek Butet Kertarajasa pernah bilang:
‘Urip ki mung numpang ndagel’

» Comment by irmanator — September 3, 2009 @ 9:37 am

samiapril says:

lagi lowbat..butuh supply inspirasi. bagus2 tulisannya mas, ditunggu tulisannya lagi. dah lama ga update ya..pasti lagi sibuk pisan. thanks

» Comment by samiapril — October 19, 2009 @ 2:11 pm

nkey says:

thank you….

» Comment by nkey — November 24, 2009 @ 10:34 am

herman soetomo says:

Salaam.
Caramu nulis keren, mas. Monggo dilanjut. Banyak yang mendapat manfaat, termasuk saya.

Lanjutkan…. :-)

» Comment by herman soetomo — December 4, 2009 @ 4:41 pm

marijono says:

Ass wr wb. Mas Watung, salam kenal. Nama saya Marijono. Saya sering membaca tulisan2 mas Watung, dan dari sana saya banyak mendapat ilmu2 baru. Saya baru saja membuat blog, saya mohon ijin untuk meng-add blog mas Watung di blog saya. Boleh ya? Terima kasih sebelumnya. Dan ditunggu tulisan2 mas Watung selanjutnya.
Wass, wr wb.

» Comment by marijono — January 5, 2010 @ 2:12 pm

dhani wisnu says:

met sore…gimana kabarnya,sehat khan??kunjungan dipetang yang ceria

» Comment by dhani wisnu — April 10, 2010 @ 6:18 pm

celine says:

menarik! ooohh..begitu toh background permainan monopoli? waktu kecil dulu rasanya yang miskin ya nyantei aja, krn tau semua cuma permainan — seharusnya sekarang pun tetap begitu ya… :)
*dunia ini panggung sandiwara :D

» Comment by celine — September 16, 2010 @ 7:33 am

ciska says:

mas watung ..saya suka sekali cara mas watung menulis meski lebih mudah di cerna jadinya..thanks alot mas…saya jadi belajar lebih banyak lagi…

» Comment by ciska — November 27, 2010 @ 12:06 pm

ufairah says:

Lanjut dunk…tulisannya yang lain…

» Comment by ufairah — December 5, 2010 @ 10:17 pm

irmanator says:

Jerone puoolll… as usual.

» Comment by irmanator — February 25, 2011 @ 3:54 pm

Arnol says:

mencerahkan, mohon copas kang.

» Comment by Arnol — September 7, 2011 @ 12:00 am

gembong99 says:

salam kenal mas..
saya gak bisa maen monopoli..
tolong ajari mas biar saya bener2 bisa maennya..
terima kasih..

» Comment by gembong99 — November 6, 2011 @ 2:06 am

 

Sorry, the comment form is closed at this time.


Garis
RSS | My Yahoo! | Google | Bloglines | My AOL | FeedLounge
All contents ©2005-2010 by Watung Arif, unless otherwise noted.
Contents under Creative Commons License.