
Dunia anak adalah ruang 7 x 7 meter di arena bermain, dimana mereka diajari menggambar di atas selembar 11 x 16 inci, dengan krayon 13 warna. Tapi coba letakkan anak-anak di tengah lapangan bola, maka mereka akan terbang kesana kemari, berpusing bak gasing.
Dipa, kini 15 bulan, berjalan, berlari. Dan itu berarti petualangan baru, dunia baru, dengan sejuta milyar kemungkinannya. Berputar-putar, jatuh dan bangun tak jadi soal. Tak ada tembok yang membenturnya. Tak ada kursi meja yang melilit kakinya. Tak ada kulkas, dispenser, kabel-kabel. Lihatlah wajah itu, teman-teman, seperti wajah kupu-kupu yang baru beroleh sayapnya.
Spread your wings. Fly, dear Dipa. Fly.
“Mama, Azka hebat dong: diludahin sama temen Azka, tapi Azka malah mendoakan dia.”
Wuah! Mustinya ini nurun dari ayahnya… Saya langsung ingat kisah tokoh yang urung membunuh musuhnya yang telah meludahinya ketika berperang. Bukankah anjuran para nabi juga, kalau ditampar pipi kiri, kasih pipi kanan? Keren!
“Hebat tuh! Emangnya Azka berdoa seperti apa?”
“Azka berdoa semoga lidah teman Azka itu ada ulatnya…”
Azka, laki-laki, kelas 2 SD. Seminggu yang lalu, seperti puluhan atau bahkan ratusan temannya yang lain menjalani ujian Kewarganegaraan, sebuah mata pelajaran sekolah yang diharapkan, yah bisa membentuknya menjadi seorang warga negara yang baik, for whatever it means.
Salah satu soal di ujian itu berbunyi begini: “Yang bertugas mengumpulkan uang sumbangan di sekolah adalah …” Titik-titik. Jawaban Azka? “Kita”. Hmmm, sepertinya jawaban yang bagus (anak sendiri, jadi agak bias juga nih). Menariknya, it’s wrong-wrong-wrong, salah, nol, kosong. The correct answer? Well… I have no clue. Bisa si Ina, si Tasya, si Michael, si Rachel, ketua kelas, wakil ketua kelas, atau bahkan Bu Guru sendiri… don’t you think? Lhah, harusnya siapa sih?
Oh, soal semacam itu bukan satu-satunya. “Kita harus (titik-titik) pada orang yang bicara”. “Membersihkan got mampet adalah contoh perbuatan gotong royong yang dilakukan di …” “Manusia membutuhkan manusia lain karena …” Dan kalau kita menjawab “untuk minta tolong” buat soal yang terakhir, kita akan senasib dengan Azka: nol, kosong, karena jawaban yang benar adalah “karena manusia adalah makhluk sosial”. Hah?
(Read the rest…)
Ingat sebuah kalimat di film Peterpan, “Kala bayi tertawa, maka tawa itu pecah ribuan keping yang lalu bertebaran ke seluruh penjuru sambil berjingkat-jingkat. Itulah awal muasal para peri.”

Walau lama-lama kita akhirnya mengerti, especially misalnya when all neighbours fall asleep and they still come to AAARRRRGGGHH-ing together at 11:00 PM: raising kids is part joy and part guerilla warfare. Teriakan keras di satu sisi, dan tak ada sopan santun di sisi lain.

… and they don’t have an OFF button.
Bikin puisi, buat anak umur 6 tahun yang hobinya maeeeeeen terus kayak anak saya, bisa jadi mimpi buruk. Nggak kebayang bagaimana anak-anak bisa survive berpuisi di sekolah yang mengajarkan murid-muridnya tentang definisi puisi.
But I tell you what, they DO survive… Tanpa diberitahu musti bagaimana (bikin puisi nggak ada teorinya, bener nggak sih?), tanpa bantuan siapa-siapa, nggak pernah tahu juga mereka belajar darimana.
Anyway… berikut adalah puisi karya Azka.
(Read the rest…)

Yah sejauh ini baik-baik saja, alhamdulillah. Yang menarik ketika mendapati titipan kedua adalah kita mengulangi kembali segala keribetan di titipan pertama. Kembali lagi ke soal popok, ASI, pipis di mana-mana, timang-timang malam hari… setelah 6 tahun berselang.
Padahal anak sebenarnya adalah ’spesies’ yang berserah diri. Mereka tak punya rasa khawatir. Nggak pusing soal makan dan minum. Nggak peduli mau kelewatan nonton Heroes atau bangun kesiangan. Nggak mikirin besok, bulan depan, masa depannya. Dia hanya tahu satu hal: segalanya sudah dijamin. Ketika lapar, kesepian, atau takut, yang ia lakukan adalah cukup dengan, “EEEEEAAAAAAAKK!” Maka seluruh masyarakat dunia pun tergopoh-gopoh menyambut.
(Read the rest…)
Sekedar cuplikan kecil dari hidangan besar yang disuguhkan bagi kami pada hari ini, 15 Februari 2007. Setelah timbang-timbang, juga konsultasi, akhirnya kami putuskan juga: bedah caesar.
17:00
Maka kami pun bersiap-siap. Helmy dibawa ke ruang operasi di lantai 2, dan saya membuntutinya dari belakang. Good luck, Hel. May Allahu Ta’ala bless and protect you. Agak dag-dig-dug dan mual, barangkali karena atmosfer rumah sakit dengan bau alkohol dan chloroform yang menyengat, tapi agak tenang setelah mendengar para suster yang cekikan di ruangan sana.
(Read the rest…)