Mari kita bayangkan. Sebuah laporan penting musti disiapkan oleh masing-masing country director dalam 2 minggu ini. Laporan yang kompeks dan cukup memerlukan effort sebenarnya. Namun 2 minggu, cukup masuk akal.
Bu Country Director: Halo, Pak Vice President. Bisa disiapkan laporannya dalam 10 hari ini untuk saya bawa ke Singapore nanti di board review? (Note: 10 hari, karena dia perlu review dulu sebelum submit. Lagi pula, dia habis ikut seminar Six Sigma tentang How To Stretch Your Employees)
Pak Vice President: 10 hari ya, Bu. Baik, Bu.
Pak Vice President: Halo, Pak Senior Manager. Bisa disiapkan laporannya dalam seminggu ini? (Note: dia juga perlu review dulu sebelum submit)
Pak Senior Manager: Minggu depan, Pak? Ok, pak. Saya usahakan.
Pak Senior Manager: Halo, Bu Manager. Bisa disiapkan laporannya dalam 5 hari ini? Saya coba review dulu sebelum saya submit minggu depan. (Note: sama, perlu review dulu. Dan seterusnya…)
Bu Manager: 5 hari? Ok, saya coba usahakan sebelum Jumat ya, Pak.
Bu Manager: (Gila! Gue Senin dan Selasa cuti…). Kroco, saya tahu ini agak mendadak. Tapi tolong siapkan laporannya sampai besok malam sebelum saya cuti lusa? Saya coba review dulu sebelum saya submit Jumat-nya.
Kroco: … (Note: Kroco melakukan head bang a la Sepultura ke keyboard dan monitor di depannya).
Menarik kan? Dari 2 minggu alokasi waktu di tingkat atas, menjadi 1 hari di tingkat bawah.
Yang terjadi kemudian: isi laporan menjadi sangat-sangat minim, dan musti direvisi bolak-balik ketika di-review di masing-masing tingkat, karena kurang ini dan itu. Dan waktu yang dibutuhkan untuk merevisi, mereview lagi, revisi lagi, review lagi… ehm, 2 minggu.
Sama-sama 2 minggu sih, tapi yang ini lebih stress.
Rupanya ada debat seru nih di milis-milis soal rencana pemerintah membeli lisensi produk-produk Microsoft. 35 ribu lisensi Windows dan sekitar 180 ribu MS Office ke berbagai instansi, yang kalau ditotal (kata ini dan itu)… yah sekian ratus milyar rupiah.
Dan kita semua pada ngungun: Kenapa kok nggak pake yang open source aja sih? Selain bikin pinter, apa pemerintah ndak tahu bahwa dengan begitu bisa dihemat sekian juta dollar?!
Sebentar, sebentar. Bikin pinter? Kalau buat bapak-bapak di bagian pengadaan, kayak nggak nyambung ya. Pembelian software, buat instansi seperti itu, sama saja dengan pembelian kebutuhan material lain, dan nggak akan ujug-ujug beli sesuatu karena jatuh cinta pada “The Cathedral and the Bazaar” atau for the sake of… bikin pintar (plis deh)? Mau software, mau kertas A4, pita mesin ketik, tissue toilet, kalender, baju safari, … nggak ada bedanya. Dan prinsip ekonomi tetap berlaku: asal bisa murah, mudah, kualitas sip, dan get things done… ya udah, deal.
But, Watung, Linux is $0!
(Read the rest…)
Yes, this blog’s not dead yet! ;-)
Setelah hampir 3 minggu (wakkk, 3 minggu?!), baru bisa sempat “pulang” kembali: ngecek blog, baca-baca milis, ngublek-ublek laptop. Kadang orang perlu merunduk sejenak di saat ashar dan maghribnya, yahh… walau sekedar untuk melempar pertanyaan pada diri sendiri “oh my dear me, what the hell are you doing here today, Watung?” Istilah Goenawan Mohamad: sebuah “catatan pinggir” di sela mainstream hari-hari yang gerah dan sumpek. Karena dunia itu — gimana ya — it’s just a mirror, don’t you think? Refleksi, evaluasi… kita perlu itu, just to make sure we’re not lost (and hey, what is the right path, anyway, my dear friends?)
(Read the rest…)
“Produktivitas”, menurut Wikipedia, … is typically measured as output per worker or output per labour-hour.
Sebuah ukuran, tentang seberapa banyak yang kita hasilkan per satuan waktu. Seberapa banyak invoice yang bisa kita proses per jam. Seberapa banyak lines of code program yang bisa kita tulis per hari. Semakin banyak output yang kita keluarkan dalam suatu waktu, semakin produktif kita.
Productivity = output / time
(Read the rest…)
Kata yang lagi trend nih: “beta”.
Kerasa nggak, semakin banyak produk beta akhir-akhir ini? Misalnya saja kemarin, pas mau upload foto di Flickr. Nggak nyangka kalau service itu sebenarnya masih juga beta sampai sekarang. Batin saya, “C’mon Flickr, it works, you released. It’s done!”
Dan kalau kita inget dulu, Friendster juga cukup lama punya logo beta yang warna biru itu. Termasuk juga GMail… wuahh, entah sejak dari abad berapa tuh dia beta, sampai sekarang? Dan berbicara tentang Google, rasanya hampir semua produk mereka di-introduce sebagai beta, ya nggak sih? GTalk, Google Page, Desktop Search, Google Map. Belum lagi sekarang kita notice servis-servis baru yang lagi menjamur: Orkut, Kinja, Riya… Bahkan Microsoft pun nggak mau ketinggalan: lima produk baru di unit MSN, semuanya launched as beta!
(Read the rest…)
Berita Detik kemarin: Microsoft bilang bahwa 87% software di Indonesia adalah bajakan, merugikan perekonomian, menghalangi budaya kreasi, bla-bla-bla… Dalam hati saya nih, “C’monnn!!”
Teman saya punya pertanyaan lucu: ya kenapa software-software itu gampang dibajak?
Dulu waktu bareng teman-teman bikin riset kecil tentang solusi copy-protection, kita mendapati sebuah fakta yang menarik ini: kebanyakan software mass-product bisa dibilang nggak diproteksi sama sekali. Kita beli license dari distributor, dapat CD, install ke PC cukup dengan memasukkan serial-number yang selanjutnya bisa kita share ke seribu teman-teman kita yang lain. There’s little to no copy protection in business software!
(Read the rest…)
I’ve lost this post, so I rewrite it.
Zero-defect methodology adalah salah satu best-practice dalam pengembangan software, terutama di sisi quality-assurance. Secara harfiah, agak utopis sebenarnya, jarang sekali (kalau nggak mau dibilang nggak ada) software yang zero-defect. Tapi kalau kita pahami benar, metodenya bukannya tidak men-tolerate sama sekali defect atau bug, tapi ini adalah satu teknik untuk mengkonvergensikan (susah amat sih bahasanya) semua usaha ke arah zero-defect. Microsoft adalah penganutnya yang paling sejati.
Salah satu filosofinya yang menarik:
Test your product every day as you develop it, and fix defects as soon as you find them.
Persis seperti sebuah ayat di Al-Quran:
Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera… Quran [4]:17
Tidak untuk membatasi kreatifitas, keberanian kita, sehingga kita jadi takut untuk mencoba, belajar. Yang penting adalah, bila kita sadari telah berbuat kesalahan, fix as soon as you find them! Jangan takut! Seperti kata Rumi:
Come again,
even if you may have violated your vows a hundred times
Come again…
Mohon maaf bila terlalu menggurui. Sekian, untuk minggu ini. Salaam.