Iya, istilahnya nggak tepat. Maksud saya “menghargai” itu pricing sebenarnya, ngehargain, ngitung harga, bukan menghargai atau memuliakan. Hehehe…
Ceritanya, sebagai project manager, pagi-pagi kita udah ketempuan satu project dan kita musti estimasi harga untuk kemudian dimasukkan ke proposal atau report atau ke si orang marketing atau entah siapa aja. Mau dihargai berapa sih project ini? Itu pertanyaannya. Lanjut.
(Read the rest…)
Coba deh, menarik juga baca artikelnya Wired tentang bug paling parah.
Dulu ada juga cerita tentang kegagalan pendaratan di Mars awal 1999 yang lalu, yang kemudian diketahui biangnya ada di sebaris code di software. Hheh, software memang rentan banget! Ini bedanya bangun rumah dengan bikin software. Kadang-kadang kalau ada baut yang nggak terpasang biasanya relatif gampang keliatan. Tapi kalau masalahnya di line slot[i-1]=k;, mana ada yang tahu.
Kali ini denger dari postingan Slashdot: sistem bea cukai di Australia lagi ngaco, gara-garanya… software! ICS (Integrated Cargo System) ini sebelumnya adalah inti dari sebuah e-gov project terbesar di Aussie, yang tujuannya untuk mengganti sistem EDI yang lama ke web-based model. Mereka lagi ketar-ketir apakah mau balik ke sistem lama.
Penasaran juga. Kenapa ya?
Kalau lihat providernya sih nama-nama besar juga. Ada CA (pimpro), NCR dan IBM (professional service). Novell kebagian bikin directory service. Softwarenya sendiri running di IBM OS390 mainframe (OS-nya ZOS, databasenya DB2). Web interfacenya Java-based di WebSphere. CCF (Customs Connect Facility) jalan di Sun Solaris (lagi-lagi databasenya DB2, dan interface-nya WebSphere Java).
Wait, wait… Does the technology matter?
Dari sisi planning dan design memang agak serem. Design documentnya sendiri 19.000 halaman. Ada 800 screens, 16.000 business rules, 70 complex business messages, 850 database tables, 3700 executable load modules, 1800 CICS transaction types, 55 batch jobs, 90 reports and 35 system interfaces. Jangka waktu: 2 tahun. Ampun!
Wait, wait… Big-design up-front? Kalau lihat estimasi awalnya A$80 juta yang membengkak sampai A$250 juta, kayaknya sih gitu tuh. Nggak tahu lah. Barangkali emang gini nasib software project.
Berapa probability sebuah project pembuatan software akan berhasil - on-time, on-budget, as expected? Awalnya saya ngira ini pertanyaan iseng, tapi semakin ke sini justru kok semakin relevan. Rekan-rekan saya di sesama field pastilah punya cerita “gila” tentang bagaimana kami semua, bukannya sekali dua kali saja, tapi hampir selalu dibuat terkapar oleh software-project yang entah kenapa kok nggak kelar-kelar.
Tapi kita nggak sendirian ternyata. Laporan dari The Standish Group (a must-read!) yang menganalisa lebih dari 8.000 software-project di U.S. menyimpulkan sesuatu yang membuat kami semua langsung manggut-manggut mengiyakan:
(Read the rest…)
Konon dulu, jauh sebelum Microsoft Office menjadi sacred cash cow, Bill Gates berbicara di hadapan Word 1.0 Team: “I want the best word-processor ever, in 12 months!”
Belasan ribu programmer pun dikerahkan, untuk sesuatu yg sungguh ambisius, tapi di sela waktu yang terasa nggak masuk akal… “That was a no-win game,” kenang salah seorang dari team. Tiada hari tanpa overtime. Stress. Depresi. Dan menghadapi excessive schedule, tim programmer punya trik jitu: bila ada trade-off antara quality dan schedule, quality-lah yg musti dikorbankan. “Just throw out the code to the tester, and we’ll fix them later on.”
(Read the rest…)
Security… Nostalgia lama. Waktu browsing-browsing lagi, yah nggak banyak berubah dari dulu sampe sekarang:
…format string vulnerabilities exist in a component of Checkpoint’s FireWall-1… a buffer overflow exists within the Symantec firewall product line… Successful exploitation of this flaw yields remote KERNEL access to the system… a remote code execution vulnerability exist in Barracuda Spam Firewall…
Dan sebagainya. Dan sebagainya… It means only one thing: we cannot depend on products.
(Read the rest…)
Microsoft suka kok kalau software-nya dibajak. Nggak percaya? Berikut petikan kata-kata Bill Gates sendiri:
“Although about 3 million computers get sold every year in China, but people don’t pay for the software,” he said. “Someday they will, though. As long as they are going to steal it, we want them to steal ours. They’ll get sort of addicted, and then we’ll somehow figure out how to collect sometime in the next decade.”
So, biarin mereka ngebajak, tunggu sampe jadi standard (i.e. via Network Effect) - toh someday kalo mereka mau “being legitimate” akan bayar juga. Kalo nggak, ya mustinya nyari country-director yg background-nya “collector”. ;-)
Seorang fans-nya Mac ngeposting: apa ini juga alasannya Apple mau support Intel untuk MacOS X, biar gampang dibajak? Hmmm… nggak yakin. Agak beda kasusnya. Orang beli OS kan sebenarnya bukan karena OS-nya, tapi karena aplikasi-aplikasi yg jalan di atasnya. Sekalipun MacOS bisa jalan di Intel, tapi kalo nggak bisa jalanin aplikasi yg udah mature di Windows, apa ada yg mau ngebajak?