Watung Blog

Hidup dan Game Monopoli

Tuesday April 21, 2009 | Filed under: Spirituality
19 Comments

“Hidup ini permainan,” kira-kira begitu kata Kitab Suci. Ini ide yang nggak terlalu nyandak buat sebagian orang sebenarnya. Lha gimana, wong sudah lintang pukang dibombardir deadline seperti ini, pagi sampai petang, kok dibilang cuma dolanan? Dan kalau kita baca koran, betapa seratusan orang mati tragis di Situ Gintung, trilyunan duit beredar di pemilu kemarin, peluh dan depresi, tragedi dan nestapa dunia, semua riil terasa… dan sama sekali nggak kelihatan seperti main-main. Kelihatannya.

Rumi punya tamsil yang kalau dipikir-pikir, dimat-matke, bisa memberi sedikit insight. Begini beliau bilang:

This world is a playground
where children pretend to have shops.

They exchange imaginary money.
Night comes, and they go home tired
with nothing in their hands.

Persis. Kita seharian nguber-nguber (dan diuber-uber) kerjaan, pemilu, rumah, iPhone, Playstation, bonus tahunan, deposito, job-grade, golden shakehand (apaan sih?)… sementara nanti pas saatnya kita dikubur berkalang tanah, nggak satu pun dibawa, kecuali selembar kafan. Semuanya ditinggal, termasuk anak dan istri. Semuanya goodbye.

(Read the rest…)


Malaikat & Para Asisten Profesor

Thursday October 2, 2008 | Filed under: Spirituality
17 Comments

Bahkan malaikat pun bertanya (kayak judul apa ya?). Ada satu ayat di Quran yang merekam kejadian ini.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS [2]:30)

Menarik. Coba ya, apa ini sebenarnya?

Sebuah protes? Barangkali. Malaikat telah memicingkan mata di ufuk depan sana, tahu apa yang akan terjadi: tentang sebuah tragedi sang makhluk ‘mulia’ bernama manusia yang menebar kerusakan dan menumpahkan darah. Keniscayaan yang tragis, bukankah begitu? Dan kita pun mengamini para malaikat: mengapa, untuk apa semua itu?

Yah, nggak tahu. ;-) Tapi, teman-teman yang baik, saya punya sebuah kisah.
(Read the rest…)


Listen to the tree

Tuesday August 19, 2008 | Filed under: Spirituality
13 Comments

Seorang murid bertanya kepada Sang Guru, “Di tingkat mana saya berada kini?”

Guru berkata, “Benih mustilah ditanam tepat waktunya. Tatkala ia mulai tumbuh, akar-akarnya menjulur perlahan ke dalam tanah, merambah ke segala arah. Tanaman itu pun berkembang menjadi sebuah pohon, dan pohon itu tumbuh membesar, menghasilkan bunga dan buah-buahan. Tatkala berbuah, buah-buahan itu terpisah dengan tanah. Meski sebuah pohon terhubung dengan tanah di bawahnya, namun buah-buah itu hanya terhubung dengan manusia dan semua makhluk yang memanfaatkannya.

“Anakku, seperti itu jualah kehidupanmu. Engkau telah tumbuh tinggi, seperti pohon, hubungan dan keterikatan dalam pikiranmu, perhatianmu, dan keinginanmu tertuju pada tanah dan dunia ini. Seperti itulah tingkatanmu sekarang.

“Meski demikian, anakku, engkau memiliki suatu keterhubungan di dalam qalb-mu, hatimu, yang berpikir dan mencari Tuhan. Ijinkan aku menjelaskan bagaimana membangun keterhubungan itu. Camkan dan ikuti dengan baik.

(Read the rest…)


Guru Sejati

Sunday May 11, 2008 | Filed under: Spirituality
7 Comments

guru_sejati_cover_blog.jpgGuru Sejati dan Muridnya
Karya: Bawa Muhaiyaddeen
Alih bahasa: Herry Mardian

Sejengkal seorang hamba dekati Tuhannya, sehasta Tuhan akan datangi. Selangkah ia datangi, seribu langkah Ia akan berlari menjemput.

Sebuah hadits yang sungguh menentramkan. Dia Maha Baik. Tapi begitulah agaknya bila seorang hamba… kembali. Bila kita datang dan mengetuk, pasti Ia membukakan pintu. Bahkan sekerling lirikan, sejumput doa yang tulus, tak akan disia-siakan. Ia menarik, memikat, dengan segala cara. Dibuat-Nya kita betah berkumpul di sebuah pengajian, atau membaca berlama-lama tentang kebaikan, atau senang berderma diam-diam. Jika kita miskin, Ia akan cukupkan. Jika kita terlampau kaya, Ia pun akan cukupkan.

Dan karena perjalanan ini adalah sebuah perjalanan kembali, perjalanan melintasi belantara ujian dan gurun ilusi — bukan sembarang perjalanan — Ia akan menghadirkan seorang pembimbing, seorang guru. Bukan pula sembarang guru: guru yang sesungguhnya, guru sejati.

Buku ini adalah sebuah rekaman pengajaran seorang guru Sufi, Bawa Muhaiyaddeen, tentang Guru Sejati, tentang perjalanan kembali, tentang bagaimana berinteraksi dengan Sang Guru selama perjalanan.

Yang menarik dari buku ini adalah juga yang membedakannya dengan kebanyakan buku-buku sufi yang ditulis di era dahulu. Bawa berkisah dengan konteks abad ini. Ia berhadapan dengan kita yang didera hidup, yang terasing oleh bisnis dan kerja siang malam, yang mulai muak dengan istilah-istilah agama yang kering dan tak sedikit pun menyentuh rasa dahaga. Ia bercerita tentang lampu dan saklar, mobil yang memiliki klakson berbentuk seperti terompet, binatang-binatang dan sertifikat kepemilikan rumah. Ia berbicara dengan bahasa kita.

(Read the rest…)


Majelis Agung

Sunday October 14, 2007 | Filed under: Spirituality
37 Comments

Ffiuhh, selesai juga akhirnya cicilan panjang ini: sebuah tulisan yang aslinya berjudul “Divine Assembly”, diterjemahkan dari buku The Tree That Fell To The West, karya Bawa Muhaiyaddeen.

Sedikit pengantar. Bawa Muhaiyaddeen adalah seorang sufi Muslim asal Srilanka, yang bertugas mengajar agama melampaui wilayahnya, sampai ke Amerika dan Kanada, sampai ke Kristen, Hindu, dan Buddha. Sedikit sekali fakta sejarah tentang beliau ini, di samping beliaunya sendiri kalau ditanya soal asal-usulnya selalu bilang, “I am nothing. I am nothing. Only God is important!” (dalam bahasa Tamil tentu saja). Di sini, Bawa bercerita sekelumit tentang ikhtiar pencarian beliau sendiri tentang Tuhan. FYI, beliau sendiri tidak bisa berbahasa Inggris, sehingga jadinya semua tulisan di buku itu adalah transkrip terjemahan dari ucapan beliau selama mengajar (buat yang ingin tahu seperti apa beliau mengajar dan suasananya, lihat videonya di sini dan di sini, keren!).

Ini bakalan panjang, bacanya juga mungkin perlu nyicil — kalo niat. ;-) Anyway… semoga menikmati seperti halnya saya yang menikmati sekali ketika meterjemahkannya. Kalau ada beberapa bagian yang bikin pusing, lewatin aja. Semoga banyak mengambil pelajaran dari sini.

(Read the rest…)


Bersabar dalam “kesempitan”

Tuesday October 2, 2007 | Filed under: Spirituality
38 Comments

bukit.jpgSebuah kisah tentang seorang buta, tuli, dan bodoh yang bermaksud bertemu Gustinya.

dash.gifDuh, Gusti. Ijinkan aku menuju-Mu.

Baik sekali, Nak. Baik sekali. Karena “…sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka…” (QS [10]:7). Kemari, ayo kemari. Tapi waspadalah karena jalanan berbukit, amat terjal dan berbatu. Jangan kuatir, anak-Ku sayang, Aku akan menuntunmu, jika engkau mau…

dash.gifDuh, Gusti. Tuntun hamba. “Tunjuki hamba Jalan Yang Lurus itu…” (QS [1]:6)

(Read the rest…)


Gender (2): Words of a Sufi Master

Saturday September 8, 2007 | Filed under: Spirituality
7 Comments

sun-moon02.jpgoleh Bawa Muhaiyaddeen

Tanya: Orang banyak mendebatkan tentang laki-laki dan perempuan, apa sebenarnya perbedaan pokok antara keduanya?

Bawa Muhaiyaddeen: Keduanya dibentuk dari lima elemen yang sama. Konsep laki-laki dan perempuan adalah konsep tentang tubuh, jasad. Sang Seniman yang mencipta laki-laki dan perempuan memang ‘mendekorasinya’ dengan cara berbeda. Tubuh adalah sebuah cangkang, rumah bagi masing-masing untuk ditempati. Namun engkau terlena oleh dekorasinya.

Jika engkau perhatikan baik-baik, perempuan bersifat lemah lembut. Pada ‘dekorasi’ ini terdapat keindahan bak emas berlian, kecantikan yang menarik. Energi di wajah dan tubuh-tubuh mereka seperti magnet. Laki-laki juga memiliki energi yang sama, tapi energi itu terletak di dalam. Walau laki-laki tak punya kelemahlembutan-luar seperti perempuan, mereka memiliki energi magnetik-dalam yang tertarik dan terhubung dengan magnetik-luar di wajah dan wujud seorang perempuan.

(Read the rest…)



Garis
RSS | My Yahoo! | Google | Bloglines | My AOL | FeedLounge
All contents ©2005-2010 by Watung Arif, unless otherwise noted.
Contents under Creative Commons License.