Film-film karya M. Night Shyamalan memang selalu menarik.
Ini sutradara muda asal India di balik film-film blockbuster seperti The Sixth Sense, Unbreakable, dan Signs. Lady in the Water, tak terkecuali sebenarnya. Tapi ia punya sedikit warna yang lain. Lebih personal, lebih idealis, lebih menunjukkan sisi spiritualis seorang Shyamalan. Yah, meski masih kita dengar suara sumbar para kritikus seperti di Yahoo! Movies bahkan mainstream-critics (I don’t give ‘em a sh*t actually, tapi rasanya itu juga lantaran mereka nggak paham ide sentral dari film itu).
Film yang berasal dari dongeng anak-anak di keluarga Shyamalan sendiri ini, berkisah tentang seorang peri laut yang tiba-tiba muncul ke sebuah kolam renang di balik apartemen, demi suatu tujuan: bertemu dengan seseorang yang nantinya akan menjadi bibit perubahan besar bagi peradaban dunia, di masa depan. Walau kita bisa merasakan insting mass-entertainment a la Spielberg, bumbu Twilight Zone di sana-sini, plus olah syaraf khas Alfred Hitchcock (adonan favorit saya!), tapi pesan utama dari seluruh film itu, buat saya, adalah berawal dari kalimat Story ini, sang peri laut:
(Read the rest…)
Tulisan seorang sahabat, dan kakak saya. Mungkin agak terlambat karena Idul Qurban telah sekian minggu lewat, tapi bukankah senantiasa ada hal yang tetap melekat dari sebuah tulisan yang baik?
* * *
Sudahkah kita berkurban?
oleh Kuswandani
Bismillah ar-Rahman, ar-Rahim, semoga hamba bisa meminjam dua asma-Mu ya Rabb, semoga ini menjadi tulisan pengantar renungan kita semua. Better late than never…
Iedul Qurban, bersumber dari dua kata dalam bahasa Arab, “Ied” dari kata ‘aada - ya’uudu, artinya “kembali”. “Qurban”, dari kata qaraba-yaqrabu, “mendekat”… Iedul qurban kemudian dimaknai oleh nalar saya sebagai sebuah hari di mana setiap kita belajar untuk kembali merenungi hal apa yang dapat membuat kita dapat mendekati Dia Sang Maha Lembut.
(Read the rest…)
“Urip mung mampir ngombe,” tegas nenek saya. Hidup itu cuma bersinggah untuk minum.
Mari sini, teman-teman yang baik, mari sini. Sembari mengukur jalan ini, membuang kembali ingatan ke masa kecil, yang kata orang, masa paling indah. Ingatkah ruang itu, ketika kita menyusuri kebun tebu dan melempari danau bersama kawan-kawan sebaya, tanpa tuntutan, tanpa prasyarat? Dan jejak-jejak gairah itu, luka itu, rasanya baru kemarin, bukankah demikian?
Dan sungguh, waktu meluncur begitu cepat. Hal-hal yang tak terbayangkan di masa kecil, kini kita hadapi. Maka sampailah kita di sini, para penyusur jalanan dan gedung-gedung kota yang suram. Pergi pagi pulang petang. Lalu untuk apa? Mengisi lambung yang hanya seukuran setengah bantal ini? Menunggu maut?
(Read the rest…)
Comment seorang teman nih (not you, just some angered-fella): jilbab is the symbol of oppression (termasuk juga symbol of “terror”, ngikutin trend dunia saat ini), it is but one aspect of how women are oppressed by Islam. Ouww, reallyyy?
Now, historically…
(Read the rest…)
Najafi adalah seorang ulama terpandang, di Quchani nun jauh di sana, di negeri Iran. Suatu hari ia mengalami peristiwa yang sungguh luar biasa yang telah mengubah seluruh kehidupannya sejak itu: sebuah pengalaman tentang kematian.
Dan aku pun meninggal dunia. Kala itu aku menyaksikan diriku dalam keadaan berdiri, sementara jasadku terkulai tanpa daya. Sanak keluargaku menangisi tubuh yang terbaring itu, dan aku pun sedih melihatnya. Aku berkata kepada mereka bahwa aku belum mati. Namun tak seorang pun dari mereka mendengarku. Mereka tak melihatku, tak mendengar suaraku. Maka aku pun sadar, mereka sungguh jauh dariku…
(Read the rest…)
Wah, kasihan nih blog… terbengkalai. Maaf buat yang sudah neriakin untuk update, tapi dicuekin. Alasannya, yah… kalau “males” dan “sibuk” udah basi, jadi nggak usah pake alasan aja. ;-) Anyway…
Semoga menjadi awal yang baru lagi. Dengan sedikit tentang Quran.
Kalau kita flashback ke belakang, sepanjang ngaji Quran dari dulu sampai sekarang walau seayat dua ayat, sering kita bertemu dengan keterangan-keterangan yang mencengangkan di sana. Apa-apa yang dulu kita percayai dibuat nggak berlaku lagi. Menjadi mitos-mitos. Barangkali begitu cara Quran menuntun para pembacanya. Kadang lembut setahap demi setahap, tapi kadang mendobrak sampai dalam.
Berikut 10 hal-hal yang buat saya telah menjadi mitos, walau bahkan sampai detik ini pun tak sepenuhnya bisa lepas dari mitos-mitos itu.
(Read the rest…)
Seorang guru agama pernah bilang begini: bahwa tubuh ini seperti sarung keris, esensi seorang manusia sebenarnya ada di dalam, yakni kerisnya itu sendiri. Maka, teman-teman yang baik, untuk apakah ujian itu digosokkan kepada seseorang selain demi menajamkan apa yang menjadi jati dirinya? Berikut petikan diskusi antara Bawa Muhaiyaddeen (iya, iya, nggak bosen-bosennya) dengan para muridnya, diterjemahkan dari buku Questions of Life - Answers of Wisdom Vol 1.
Buat yang baru dengar nama ini, Bawa Muhaiyaddeen adalah seorang sufi kontemporer asal Sri Lanka, ditugaskan mengajar agama Islam kepada khalayak manapun - salah satunya, di Amerika.
(Read the rest…)