<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Watung Blog</title>
	<atom:link href="http://watung.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://watung.org</link>
	<description></description>
	<pubDate>Tue, 19 Aug 2008 10:15:04 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Listen to the tree</title>
		<link>http://watung.org/2008/08/19/listen-to-the-tree/</link>
		<comments>http://watung.org/2008/08/19/listen-to-the-tree/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Aug 2008 08:42:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Watung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Spirituality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://watung.org/?p=420</guid>
		<description><![CDATA[Seorang murid bertanya kepada Sang Guru, &#8220;Di tingkat mana saya berada kini?&#8221;
Guru berkata, &#8220;Benih mustilah ditanam tepat waktunya. Tatkala ia mulai tumbuh, akar-akarnya menjulur perlahan ke dalam tanah, merambah ke segala arah. Tanaman itu pun berkembang menjadi sebuah pohon, dan pohon itu tumbuh membesar, menghasilkan bunga dan buah-buahan. Tatkala berbuah, buah-buahan itu terpisah dengan tanah. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://watung.org/wp-content/uploads/2008/08/tree1.jpg"><img class="alignleft alignnone size-full wp-image-421" style="float: left;" title="tree1" src="http://watung.org/wp-content/uploads/2008/08/tree1.jpg" alt="" width="150" height="137" /></a>Seorang murid bertanya kepada Sang Guru, &#8220;Di tingkat mana saya berada kini?&#8221;</p>
<p>Guru berkata, &#8220;Benih mustilah ditanam tepat waktunya. Tatkala ia mulai tumbuh, akar-akarnya menjulur perlahan ke dalam tanah, merambah ke segala arah. Tanaman itu pun berkembang menjadi sebuah pohon, dan pohon itu tumbuh membesar, menghasilkan bunga dan buah-buahan. Tatkala berbuah, buah-buahan itu terpisah dengan tanah. Meski sebuah pohon terhubung dengan tanah di bawahnya, namun buah-buah itu hanya terhubung dengan manusia dan semua makhluk yang memanfaatkannya.</p>
<p>&#8220;Anakku, seperti itu jualah kehidupanmu. Engkau telah tumbuh tinggi, seperti pohon, hubungan dan keterikatan dalam pikiranmu, perhatianmu, dan keinginanmu tertuju pada tanah dan dunia ini. Seperti itulah tingkatanmu sekarang.</p>
<p>&#8220;Meski demikian, anakku, engkau memiliki suatu keterhubungan di dalam <em>qalb</em>-mu, hatimu, yang berpikir dan mencari Tuhan. Ijinkan aku menjelaskan bagaimana membangun keterhubungan itu. Camkan dan ikuti dengan baik.</p>
<p><span id="more-420"></span></p>
<p>&#8220;Betapa pun banyaknya perhatian dan keterhubunganmu pada dunia ini, jika engkau ingin mencari Tuhan, jika engkau hendak mengarungi jalan menuju Tuhan ini, maka dirimu, seluruh doa dan sujudmu haruslah bak sebuah pohon: meski tertancap ke tanah, ia menyerahkan buah-buahnya kepada semua makhluk. Meski engkau terhubung ke dunia ini seperti pohon, perhatianmu mustilah seperti buah-buahan itu: doa-doamu, pengabdianmu, ibadah dan sujudmu, sifat-sifat dan tidakanmu musti terhubung dengan Tuhan, dan engkau harus melakukan tugas tanpa mementingkan dirimu sendiri, yang bermanfaat bagi seluruh kehidupan. Maka engkau akan selamat dalam perjalanan menuju Tuhanmu.&#8221;</p>
<p>Diterjemahkan dari <em>A Seed Must Be Planted At The Correct Time</em>, buku <em><a href="http://www.bmfstore.com/Scripts/prodView.asp?idproduct=48" target="_blank">The Golden Words of a Sufi Sheikh</a></em>, oleh <a href="http://www.bmf.org/" target="_blank">Bawa Muhaiyaddeen</a>.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>So dear friends, do you remember quotes from Quran:</p>
<blockquote><p>Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan <em>kalimah </em>yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,</p>
<p>pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.</p>
<p>QS [14]:24 - 25</p></blockquote>
<p>Salaam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://watung.org/2008/08/19/listen-to-the-tree/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Arah Kiblat dengan Google Maps</title>
		<link>http://watung.org/2008/07/29/arah-kiblat-dengan-google-maps/</link>
		<comments>http://watung.org/2008/07/29/arah-kiblat-dengan-google-maps/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Jul 2008 10:50:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Watung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Fun Stuff]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://watung.org/?p=405</guid>
		<description><![CDATA[Kayaknya ini cara termudah menentukan arah kiblat. Bener-bener fun, akurat dan rasanya nggak pake banyak perhitungan seperti sekian derajat miring dari arah barat atau dengan bayangan matahari (walaupun bersyukurlah yang masih inget pelajaran geografi atau astronomi). Dan yang lebih utama: straight to the point. Baiklah saudara-saudara, kita tampilnya&#8230;
Google Maps!
Betul sekali. Hoho, kebayang nggak? Cukup kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://watung.org/wp-content/uploads/2008/07/b_kiblat01.jpg"></a>Kayaknya ini cara termudah menentukan arah kiblat. Bener-bener <em>fun</em>, akurat dan rasanya nggak pake banyak perhitungan seperti sekian derajat miring dari arah barat atau dengan bayangan matahari (walaupun bersyukurlah yang masih inget pelajaran geografi atau astronomi). Dan yang lebih utama: <em>straight to the point</em>. Baiklah saudara-saudara, kita tampilnya&#8230;</p>
<p><a href="http://maps.google.com/" target="_blank">Google Maps</a>!</p>
<p>Betul sekali. Hoho, kebayang nggak? Cukup kita tarik garis lurus antara Ka&#8217;bah di Mekah ke rumah kita, atau kantor kita, hotel kita, apartemen kita, villa kita. Sangat bermanfaat kalau kita lagi ada di negara yang susah cari masjid. Ok, mari kita lihat.</p>
<p>Pertama-pertama, kita cari dulu Ka&#8217;bah di Mekkah (sebenarnya tinggal search, tapi kalau nggak ketemu masukin aja koordinat berikut: <a href="http://maps.google.com/maps?q=21.4225N,+39.8262E&amp;z=16&amp;t=k" target="_blank">21.4225N, 39.8262E</a>)</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-406" title="b_kiblat01" src="http://watung.org/wp-content/uploads/2008/07/b_kiblat01.jpg" alt="" width="380" height="258" /></p>
<p><span id="more-405"></span>Kita zoom sedikit, dan <em>add placemark</em> tepat di tengah Ka&#8217;bah untuk menandai, biar gampang kalau mau bolak-balik.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-407" title="b_kiblat02" src="http://watung.org/wp-content/uploads/2008/07/b_kiblat02.jpg" alt="" width="380" height="258" /></p>
<p>Ok selanjutnya, mencari rumah kita, atau tempat yang ingin kita tentukan arah kiblatnya. Tahap ini rasanya yang paling time-consuming (yang punya GPS gak usah sombong), tapi percaya deh: <em>it&#8217;s fun</em>! Atau mungkin <a href="http://watung.org/2007/02/09/bujur-dan-lintang-di-google-earth/">tulisan sebelumnya</a> membantu? Setelah ketemu, kita <em>add placemark</em> di situ.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-408" title="b_kiblat03" src="http://watung.org/wp-content/uploads/2008/07/b_kiblat03.jpg" alt="" width="380" height="258" /></p>
<p>Yah&#8230; that&#8217;s my home sweet home.</p>
<p>Anyway, balik ke Ka&#8217;bah dengan klik di <em>placemark</em> yang sudah kita simpan tadi. Klik &#8220;Draw a line&#8221; tool, klik sekali di atas Ka&#8217;bah.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-409" title="b_kiblat04" src="http://watung.org/wp-content/uploads/2008/07/b_kiblat04.jpg" alt="" width="380" height="258" /></p>
<p>Terus klik placemark menuju ke rumah, dan klik dua kali di rumah kita. Dan <em>voila</em>, arah kiblat!</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-410" title="b_kiblat05" src="http://watung.org/wp-content/uploads/2008/07/b_kiblat05.jpg" alt="" width="380" height="258" /></p>
<p>Keliatan nggak garis biru? Kalau dizoom dikit, kita bisa memperkirakannya dari patokan jalan, tembok, gedung sekitar, dan sebagainya.</p>
<p>Di-zoom lebih besar, just to make sure our blue line fit with the big picture of this idea.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-411" title="b_kiblat06" src="http://watung.org/wp-content/uploads/2008/07/b_kiblat06.jpg" alt="" width="380" height="259" /></p>
<p>Good. Nah, gimana? Very-very straight forward dan guampang tenan tho?</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Satu hal yang juga <em>fun </em>adalah kita bisa cek apakah masjid di sekitar kita bener-bener mengarah kiblat atau nggak. Saya sih hanya cek beberapa, dan sebagian besar&#8230; tidak benar-benar mengarah kiblat! Misalnya masjid yang terdekat dengan rumah saya di bawah ini:</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-415" title="c_kiblat07" src="http://watung.org/wp-content/uploads/2008/07/c_kiblat07.jpg" alt="" width="380" height="259" /></p>
<p>Agak miring dikit (garis kuning itu untuk memperjelas saja), dan kita nggak tau di ujung sana garis itu mengarah ke negara mana. ;-) Kemudian juga, Masjid Jami yang nggak jauh juga dari situ:</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-416" title="c_kiblat08" src="http://watung.org/wp-content/uploads/2008/07/c_kiblat08.jpg" alt="" width="380" height="259" /></p>
<p>Miringnya parah keliatannya, ya nggak sih?</p>
<p>Masjid Kubah Emas di Depok yang terkenal itu, juga sedikit melenceng kelihatannya, tapi masih lumayan.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-417" title="b_kiblat11" src="http://watung.org/wp-content/uploads/2008/07/b_kiblat11.jpg" alt="" width="380" height="259" /></p>
<p>Yang cukup <em>precise</em> dan sejajar dengan blue line adalah <strong>Masjid Istiqlal</strong>, walaupun kalau diperhatikan detil melenceng sedikit beberapa derajat.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-414" title="b_kiblat09" src="http://watung.org/wp-content/uploads/2008/07/b_kiblat09.jpg" alt="" width="380" height="258" /></p>
<p>So what about your masjid? Please share and&#8230; have fun! Salaam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://watung.org/2008/07/29/arah-kiblat-dengan-google-maps/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Guru Sejati</title>
		<link>http://watung.org/2008/05/11/guru-sejati/</link>
		<comments>http://watung.org/2008/05/11/guru-sejati/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 May 2008 09:19:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Watung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Spirituality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://watung.org/2008/05/11/guru-sejati/</guid>
		<description><![CDATA[Guru Sejati dan Muridnya
Karya: Bawa Muhaiyaddeen
Alih bahasa: Herry Mardian
Sejengkal seorang hamba dekati Tuhannya, sehasta Tuhan akan datangi. Selangkah ia datangi, seribu langkah Ia akan berlari menjemput.
Sebuah hadits yang sungguh menentramkan. Dia Maha Baik. Tapi begitulah agaknya bila seorang hamba&#8230; kembali. Bila kita datang dan mengetuk, pasti Ia membukakan pintu. Bahkan sekerling lirikan, sejumput doa yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="float: left;" src="http://watung.org/wp-content/uploads/2008/05/guru_sejati_cover_blog.jpg" alt="guru_sejati_cover_blog.jpg" /><a href="http://tokobukusobari.blogsome.com/2008/03/21/judul-guru-sejati-dan-muridnya/" target="_blank"><strong>Guru Sejati dan Muridnya</strong></a><br />
Karya: Bawa Muhaiyaddeen<br />
Alih bahasa: <a href="http://suluk.blogsome.com/" target="_blank">Herry Mardian</a></p>
<p><em>Sejengkal seorang hamba dekati Tuhannya, sehasta Tuhan akan datangi. Selangkah ia datangi, seribu langkah Ia akan berlari menjemput.</em></p>
<p>Sebuah hadits yang sungguh menentramkan. Dia Maha Baik. Tapi begitulah agaknya bila seorang hamba&#8230; <em>kembali</em>. Bila kita datang dan mengetuk, pasti Ia membukakan pintu. Bahkan sekerling lirikan, sejumput doa yang tulus, tak akan disia-siakan. Ia menarik, memikat, dengan segala cara. Dibuat-Nya kita betah berkumpul di sebuah pengajian, atau membaca berlama-lama tentang kebaikan, atau senang berderma diam-diam. Jika kita miskin, Ia akan cukupkan. Jika kita terlampau kaya, Ia pun akan cukupkan.</p>
<p>Dan karena perjalanan ini adalah sebuah perjalanan <em>kembali</em>, perjalanan melintasi belantara ujian dan gurun ilusi &#8212; bukan sembarang perjalanan &#8212; Ia akan menghadirkan seorang pembimbing, seorang guru. Bukan pula sembarang guru: guru yang sesungguhnya, guru sejati.</p>
<p>Buku ini adalah sebuah rekaman pengajaran seorang guru Sufi, Bawa Muhaiyaddeen, tentang Guru Sejati, tentang perjalanan <em>kembali</em>, tentang bagaimana berinteraksi dengan Sang Guru selama perjalanan.</p>
<p>Yang menarik dari buku ini adalah juga yang membedakannya dengan kebanyakan buku-buku sufi yang ditulis di era dahulu. Bawa berkisah dengan konteks abad ini. Ia berhadapan dengan kita yang didera hidup, yang terasing oleh bisnis dan kerja siang malam, yang mulai muak dengan istilah-istilah agama yang kering dan tak sedikit pun menyentuh rasa dahaga. Ia bercerita tentang lampu dan saklar, mobil yang memiliki klakson berbentuk seperti terompet, binatang-binatang dan sertifikat kepemilikan rumah. Ia berbicara dengan <em>bahasa kita</em>.</p>
<p><span id="more-400"></span>Dan tak seperti kebanyakan buku agama, Bawa menyebut-nyebut Tuhan&#8230; dengan sungguh intens! Hampir tak satu paragraf pun lewat tanpa menyebut nama-Nya. Ia meyakinkan kita semua tentang betapa Maha Kasih dan Sayang-Nya, tentang sosok nafsu dan api amarah, tentang 18.000 alam dan 400 trilyun 10 ribu penyakit hati, tentang lika-liku perjalanan <em>kembali</em>&#8230; hampir bak orang yang telah melihat semua itu dengan mata kepala. Dalil-dalil, hampir tak dibutuhkannya.</p>
<p><img src="http://watung.org/wp-content/uploads/2008/05/sheikh-disciple.jpg" border="1" alt="sheikh-disciple.jpg" align="left" />Buku ini diterjemahkan dengan sangat baik oleh <a href="http://suluk.blogsome.com/">seorang kawan</a>; sebuah terjemahan yang luar biasa dari buku aslinya yang ditulis dalam bahasa Inggris, <a href="http://www.bmfstore.com/Scripts/prodView.asp?idproduct=40" target="_blank">Sheikh and Disciple</a>. Apa yang tertuang di sini hampir tanpa perantara, kita tak akan kehilangan sesenti pun nuansa keteduhan kalimat-kalimat seorang Guru Sejati. Catatan kaki berupa referensi dari Al Quran dan Hadits diimbuhkan di sana-sini, memberi pesan bahwa apa yang diutarakan bukannya tanpa dasar dan bersumber dari mata air yang sama.</p>
<p>Dan jika teman-teman, seperti saya, tersentuh bahkan di kalimat-kalimat awal buku ini yang merupakan sapaan favorit Bawa kepada para pendengarnya &#8220;Duhai, anak-anakku semua&#8230;&#8221; please share your comments. <em>Salaam</em>.</p>
<p><strong>Catatan</strong>: Setahu saya buku ini bisa diperoleh di toko-toko buku. In case nggak dapat, bisa dipesan via <a href="http://tokobukusobari.blogsome.com/">Toko Buku Apuy</a>, cek di <a href="http://tokobukusobari.blogsome.com/pemesanan-dan-informasi/" target="_blank">pemesanan dan informasi</a>. Tentang Bawa Muhaiyaddeen, bisa mampir ke <a href="http://www.bmf.org/">situs BMF</a>.</p>
<p><em>Great job, Her. You did it flawlessly.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://watung.org/2008/05/11/guru-sejati/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Terbang</title>
		<link>http://watung.org/2008/05/06/terbang/</link>
		<comments>http://watung.org/2008/05/06/terbang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 May 2008 17:09:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Watung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Family]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://watung.org/2008/05/06/terbang/</guid>
		<description><![CDATA[
Dunia anak adalah ruang 7 x 7 meter di arena bermain, dimana mereka diajari menggambar di atas selembar 11 x 16 inci, dengan krayon 13 warna. Tapi coba letakkan anak-anak di tengah lapangan bola, maka mereka akan terbang kesana kemari, berpusing bak gasing.
Dipa, kini 15 bulan, berjalan, berlari. Dan itu berarti petualangan baru, dunia baru, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><img src="http://watung.org/wp-content/uploads/2008/05/dipajalan1.jpg" border="0" alt="dipajalan1.jpg" /></p>
<p align="left">Dunia anak adalah ruang 7 x 7 meter di arena bermain, dimana mereka diajari menggambar di atas selembar 11 x 16 inci, dengan krayon 13 warna. Tapi coba letakkan anak-anak di tengah lapangan bola, maka mereka akan terbang kesana kemari, berpusing bak gasing.</p>
<p align="left">Dipa, kini 15 bulan, berjalan, berlari. Dan itu berarti petualangan baru, dunia baru, dengan sejuta milyar kemungkinannya. Berputar-putar, jatuh dan bangun tak jadi soal. Tak ada tembok yang membenturnya. Tak ada kursi meja yang melilit kakinya. Tak ada kulkas, dispenser, kabel-kabel. Lihatlah wajah itu, teman-teman, seperti wajah kupu-kupu yang baru beroleh sayapnya.</p>
<p align="left"><em>Spread your wings. Fly, dear Dipa. Fly.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://watung.org/2008/05/06/terbang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Reog Ponorogo, Indonesia, Malaysia</title>
		<link>http://watung.org/2007/12/02/reog-ponorogo-indonesia-malaysia/</link>
		<comments>http://watung.org/2007/12/02/reog-ponorogo-indonesia-malaysia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Dec 2007 17:54:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Watung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Misc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://watung.org/2007/12/02/reog-ponorogo-indonesia-malaysia/</guid>
		<description><![CDATA[Sekarang ini kantor kok isinya orang ngributin Reog Ponorogo dan Rasa Sayange yang diklaim Malaysia. Ya bukan apa-apa sih, tapi entah gimana ceritanya kita ini &#8212; yang pemuja sandang Calvin Klein dan penikmat assiette du pecheur (mampus gak tuh bacanya) &#8212; tiba-tiba kok jadi apresiatif dengan yang namanya reog. Lha wong pertunjukan asli Jawa Timuran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://watung.org/wp-content/uploads/2007/12/reog4.jpg" title="reog4.jpg" alt="reog4.jpg" align="left" border="0" />Sekarang ini kantor kok isinya orang ngributin <a href="http://kompas.com/ver1/Nusantara/0711/22/090654.htm">Reog Ponorogo</a> dan Rasa Sayange yang diklaim Malaysia. Ya bukan apa-apa sih, tapi entah gimana ceritanya kita ini &#8212; yang pemuja sandang Calvin Klein dan penikmat <em>assiette du pecheur</em> (mampus gak tuh bacanya) &#8212; tiba-tiba kok jadi apresiatif dengan yang namanya <em>reog</em>. Lha wong pertunjukan asli Jawa Timuran ini (hidup Arema!) di Taman Mini aja nggak ada yang nonton, kalah sama meriahnya <a href="http://www.kompas.com/ver1/Hiburan/0710/25/233412.htm">festival tari Salsa</a> (joget <em>a la</em> Jennifer Lopez) di Hotel Mulia bulan kemarin.</p>
<p>C&#8217;mooonnn guys&#8230; kapan sih terakhir kita nonton reog? Setahun lalu? 10 tahun lalu?</p>
<p><strong>Tari Barongan</strong></p>
<p>Tari Barongan yang diklaim Malaysia ini memang mirip dengan Reog Ponorogo. Bayangan saya tadinya pemerintah mereka datang ke Ponorogo, nonton reog lalu terbetik ide di kepala mereka &#8220;Kita klaim aja ini punya kita!&#8221;?</p>
<p>Mmm, kayaknya they are not that stupid deh&#8230;</p>
<p><span id="more-388"></span>Surprisingly, saya baru kebayang apa yang sebenarnya mungkin terjadi ketika coba <em>simple search</em> di Google. Guess what? Ada <a href="http://pkukmweb.ukm.my/~sejarah/kataloglist/p37.html">sebuah makalah tahun 1994 di Universiti Kebangsaan Malaysia</a> yang judulnya &#8220;<em>Perkembangan Seni Tari Barongan Sebagai Satu Permainan Tradisional Orang-orang Jawa di Batu Pahat, Johor</em>.&#8221; Orang-orang Jawa?? Guys, ini orang-orang kita juga! Orang-orang kita yang barangkali dulunya punya kelompok seni reog tapi ditinggalkan pemirsanya, lalu pergi mencari rejeki yang rada layak ke Negeri Jiran,   menjadi warga negara sana, mengembangkan kesenian <em>a la</em> reog di sana, mengubah pakem-pakem reog kecuali atributnya dan memberinya dengan nama lain Tari Barongan&#8230; dan disambut baik!</p>
<p><img src="http://watung.org/wp-content/uploads/2007/12/reog3.jpg" alt="reog3.jpg" /></p>
<p>Salahkah?</p>
<p>Lha gimana, wong di negerinya sendiri orang-orangnya lebih suka mengunjungi pentas Christina Aguilera atau menghabiskan Rp 1,5 juta untuk nonton <em>Disney On Ice</em> milik Feld Entertainment buat anak-anaknya?</p>
<p>Ada kasus lain.</p>
<p><strong>Spy Plane</strong></p>
<p><img src="http://watung.org/wp-content/uploads/2007/12/endri_rachman2.jpg" title="endri_rachman2.jpg" alt="endri_rachman2.jpg" align="right" border="0" />Cuma beberapa gelintir saja negara yang memiliki pesawat mata-mata tanpa awak (<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Unmanned_aerial_vehicle">UAV</a>). Amerika dan Israel jelas yang paling aktif memproduksi. Di Asia ada India, Pakistan, Jepang, Cina dan Korea yang punya program khusus untuk bikin <em>spy plane</em> semacam itu, walau masih bergantung pada perangkat-perangkat dari Israel. <a href="http://www.haaretz.com/hasen/spages/777565.html">Indonesia juga mau beli dari Israel</a> (padahal kita nggak punya hubungan diplomatik sama mereka). Tapi Malaysia&#8230; <a href="http://www.defenseworld.net/dsa2006/news/malaysian_uavs_soon.htm">mereka bisa bikin sendiri</a>!</p>
<p>Siapa otak di balik UAV bikinan Malaysia ini? Dr. Endri Rachman, seorang mantan engineer di IPTN yang hijrah ke Malaysia dan menjadi pengajar di Universiti Sains Malaysia&#8230; orang Indonesia!</p>
<p>Salahkah? Ya kalau di IPTN cuma digaji Rp 500 - 900 ribu, sementara pemerintah Malaysia mau mengucurkan 1 milyar untuk bikin prototipe UAV&#8230; Kita bener-bener punya sejarah yang buruk tentang bagaimana memperlakukan orang-orang pinter negeri ini.</p>
<p><strong>So&#8230;</strong></p>
<p>Kebayang gak situasinya?</p>
<p>Bagaimana pun di hati kecil ini, kasihan juga sebenarnya Malaysia&#8230; Mereka itu negara seuprit. Tidak sebesar dan sekaya &#8212; secara budaya &#8212; Indonesia. Mereka punya program Visit Malaysia Year 2007, mencoba mati-matian menggali budaya sendiri dan menemukan bahwa nggak banyak yang bisa diperoleh hanya dari satu rumpun, yakni Melayu. Sementara &#8217;sang kakak&#8217; Indonesia&#8230; begitu melimpah ruah.</p>
<p>Tahukah kita bahwa Indonesia punya 300 suku dengan budaya yang beragam satu sama lain?</p>
<p>Tahukah kita berapa banyak bahasa daerah yang ada Indonesia? Lima? 20?</p>
<p>Kita punya <a href="http://www.ethnologue.com/show_country.asp?name=indonesia">742 bahasa daerah</a>! Itu pun yang tercatat. (Gimana caranya 742 bahasa bisa ada di wilayah kecil Nusantara ini?) Bayangkan, bukankah Indonesia sebenarnya adalah <em>miniatur</em> dunia?</p>
<p>Miniatur dunia, <a href="http://www.atlan.org/">negeri Atlantis yang &#8216;hilang&#8217;</a> (katanya), dengan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Grasberg_mine">tambang emas terbesar</a> di Papua sana dan tembaga terbesar ketiga di dunia (yang semuanya diangkut ke Amerika),  kepulauan terbesar di dunia dengan 17.000 pulau (sampe kita bingung gimana jaganya), produsen minyak berkualitas tinggi (yang kita ekspor, sementara minyak kualitas rendah kita impor untuk dalam negeri), produsen timah terbesar di dunia!&#8230; Bayangkan, kita ini negara kaya!</p>
<p><img src="http://watung.org/wp-content/uploads/2007/12/pengemis.jpg" alt="pengemis.jpg" /></p>
<p>Kembali ke reog-reogan ini.</p>
<p>Oh, oh ya&#8230; Tentu saja: ini semua bukan soal budaya atau soal kita yang tiba-tiba begitu perhatian dengan pelestarian warisan leluhur. Ini adalah &#8212; yah seperti halnya seluruh kejadian di sepanjang sejarah manusia sejak jaman <em>paleolithicum</em> dulu: soal harga diri. Soal kita yang ngerasa kecolongan dan mereka yang kita anggap mencuri tanpa kita sebenarnya pernah tahu <em>apa </em>sebenarnya yang dicuri.</p>
<p>Teman-teman yang baik, apa sih sebenarnya yang dicuri &#8212; di luar harga diri? Pahamkah kita berapa <em>nilai</em> yang dicuri? Berapa &#8216;harga&#8217; Reog Ponorogo bagi kita? Karena jangan-jangan kita cuma kehilangan apa yang sudah kita sendiri anggap sebagai <em>sampah</em>. Pernahkah kita melongok sejenak apa yang hendak dikisahkan melalui tarian-tarian itu, di sela-sela kursus Tango dan senam Pilates kita yang intens? Tentang orang-orang gila bertopeng yang mencak-mencak? Dongeng konyol tentang binatang?</p>
<p><strong>Credits</strong>: Gambar paling atas diambil dari <a href="http://flickr.com/photos/ikhlasulamal/1307189388/">koleksi foto Ikhlasul Amal</a> (Thanks!). Gambar lainnya murni dicuri dari Internet (a.k.a Google Image, nggak tahu juntrungannya) &#8212; silakan complain langsung ke saya kalau ada hasil karyanya yg terpajang secara tidak senonoh di sini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://watung.org/2007/12/02/reog-ponorogo-indonesia-malaysia/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Backup your &#8216;life&#8217;&#8230; online</title>
		<link>http://watung.org/2007/11/15/backup-your-life-online/</link>
		<comments>http://watung.org/2007/11/15/backup-your-life-online/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Nov 2007 12:00:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Watung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Misc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://watung.org/2007/11/15/backup-your-life-online/</guid>
		<description><![CDATA[Biasanya gini: kalau kita punya rencana, mencoba bersiap-siap akan sesuatu, sesuatu itu malah nggak terjadi. Jadi saya dan istri mulai berencana tentang hal-hal terburuk: tabrakan di jalan, rumah kebakaran, disamber tsunami, gunung meletus, gempa bumi&#8230; yang kayak gitu lah. ;-)
Lalu muncul pertanyaan, apa yang kita akan bawa seandainya, misalkan nih, ada kebakaran di kanan kiri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://watung.org/wp-content/uploads/2007/11/pg.gif" title="pg.gif" alt="pg.gif" align="left" />Biasanya gini: kalau kita punya rencana, mencoba bersiap-siap akan sesuatu, sesuatu itu malah nggak terjadi. Jadi saya dan istri mulai berencana tentang hal-hal terburuk: tabrakan di jalan, rumah kebakaran, disamber tsunami, gunung meletus, gempa bumi&#8230; yang kayak gitu lah. ;-)</p>
<p>Lalu muncul pertanyaan, apa yang kita akan bawa seandainya, misalkan nih, ada kebakaran di kanan kiri sebelah rumah atau ada tsunami warning di radio?</p>
<p>Saya ingat dulu jamannya tsunami di Aceh, di antara korban-korban yang selamat ternyata banyak yang kesulitan mengakses account bank-nya, atau mengklaim asuransi, atau bahkan mengklaim hak miliknya sendiri lantaran satu hal: nggak ada dokumen, bahkan fotokopinya sekalipun.</p>
<p>So we came up with this idea:</p>
<p><img src="http://watung.org/wp-content/uploads/2007/11/dash.gif" title="dash.gif" alt="dash.gif" align="left" />Kami scan semua dokumen-dokumen penting: KTP, paspor, asuransi, sertifikat (ijazah, penghargaan, apa aja), kartu keluarga, akte kelahiran, BPKB, … sampai kartu kredit, buku tabungan dan surat nikah. Kami scan semuanya. Hasilnya: 50-an file yang totalnya nggak nyampe 60 Mb (kalau diturunin resolusinya mungkin bisa lebih kecil lagi).</p>
<p><span id="more-383"></span></p>
<p><img src="http://watung.org/wp-content/uploads/2007/11/dash.gif" title="dash.gif" alt="dash.gif" align="left" />Upload ke photo-sharing site semacam <a href="http://www.flickr.com/">Flickr</a>, <a href="http://photobucket.com/">Photobucket</a>, atau <a href="http://picasaweb.google.com/">Google Picasa</a>. Dan  set ke <em>no-sharing</em> atau <em>restricted</em>.</p>
<p align="center"><img src="http://watung.org/wp-content/uploads/2007/11/docpicasa2.jpg" alt="docpicasa2.jpg" /></p>
<p><img src="http://watung.org/wp-content/uploads/2007/11/dash.gif" alt="dash.gif" />Mmm… mungkin bisa juga dimasukin ke kalung USB Flashdisk kita. Perlu nggak ya? (security nih&#8230;)</p>
<p>So, begitu ada banjir atau sirine tsunami, atau gempa bumi, atau pemboman oleh tentara sekutu (apaan sih?), gak usah repot nyari macem-macem, langsung wurrrr… kabur (setelah evakuasi anggota keluarga tentunya). Selain buat backup, bayangin kasus-kasus misalnya pas kita lagi di luar negeri dan kedutaan minta akte kelahiran atau PBB rumah kita (heh?), ketika di kantor ada yg minta fotokopi anu-ini-itu-dan-ani… Gampang, tinggal download, trus print.</p>
<p>Keren nggak? ;-)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://watung.org/2007/11/15/backup-your-life-online/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Azka berdoa</title>
		<link>http://watung.org/2007/10/30/azka-berdoa/</link>
		<comments>http://watung.org/2007/10/30/azka-berdoa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Oct 2007 04:49:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Watung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Family]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://watung.org/2007/10/30/azka-berdoa/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Mama, Azka hebat dong: diludahin sama temen Azka, tapi Azka malah mendoakan dia.&#8221;
Wuah! Mustinya ini nurun dari ayahnya&#8230; Saya langsung ingat kisah tokoh yang urung membunuh musuhnya yang telah meludahinya ketika berperang. Bukankah anjuran para nabi juga, kalau ditampar pipi kiri, kasih pipi kanan? Keren!
&#8220;Hebat tuh! Emangnya Azka berdoa seperti apa?&#8221;
&#8220;Azka berdoa semoga lidah teman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Mama, Azka hebat dong: diludahin sama temen Azka, tapi Azka malah mendoakan dia.&#8221;</p>
<p>Wuah! Mustinya ini nurun dari ayahnya&#8230; Saya langsung ingat kisah tokoh yang urung membunuh musuhnya yang telah meludahinya ketika berperang. Bukankah anjuran para nabi juga, kalau ditampar pipi kiri, kasih pipi kanan? Keren!</p>
<p>&#8220;Hebat tuh! Emangnya Azka berdoa seperti apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Azka berdoa semoga lidah teman Azka itu ada ulatnya…&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://watung.org/2007/10/30/azka-berdoa/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Majelis Agung</title>
		<link>http://watung.org/2007/10/14/majelis-agung/</link>
		<comments>http://watung.org/2007/10/14/majelis-agung/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Oct 2007 07:16:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Watung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Spirituality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://watung.org/2007/10/14/majelis-agung/</guid>
		<description><![CDATA[Ffiuhh, selesai juga akhirnya cicilan panjang ini: sebuah tulisan yang aslinya berjudul &#8220;Divine Assembly&#8221;, diterjemahkan dari buku The Tree That Fell To The West, karya Bawa Muhaiyaddeen.
Sedikit pengantar. Bawa Muhaiyaddeen adalah seorang sufi Muslim asal Srilanka, yang bertugas mengajar agama melampaui wilayahnya, sampai ke Amerika dan Kanada, sampai ke Kristen, Hindu, dan Buddha. Sedikit sekali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ffiuhh, selesai juga akhirnya cicilan panjang ini: sebuah tulisan yang aslinya berjudul &#8220;Divine Assembly&#8221;, <a href="http://books.google.com/books?id=ChkA19wTauMC&amp;printsec=frontcover&amp;dq=isbnli7li10914390678" target="_blank">diterjemahkan</a> dari buku <a href="http://www.bmfstore.com/Scripts/prodView.asp?idProduct=22"><em>The Tree That Fell To The West</em></a>, karya <a href="http://www.bmf.org/fellowship/founder.html">Bawa Muhaiyaddeen</a>.</p>
<p>Sedikit pengantar. Bawa Muhaiyaddeen adalah seorang sufi Muslim asal Srilanka, yang bertugas mengajar agama melampaui wilayahnya, sampai ke Amerika dan Kanada, sampai ke Kristen, Hindu, dan Buddha. Sedikit sekali fakta sejarah tentang beliau ini, di samping beliaunya sendiri kalau ditanya soal asal-usulnya selalu bilang, &#8220;<em>I am nothing. I am nothing. Only God is important!</em>&#8221; (dalam bahasa Tamil tentu saja). Di sini, Bawa  bercerita sekelumit tentang ikhtiar pencarian beliau sendiri tentang Tuhan. FYI, beliau sendiri tidak bisa berbahasa Inggris, sehingga jadinya semua tulisan di buku itu adalah transkrip terjemahan dari ucapan beliau selama mengajar (buat yang ingin tahu seperti apa beliau mengajar dan suasananya, lihat videonya <a href="http://video.google.com/videoplay?docid=8792902203037392333" target="_blank">di sini</a> dan <a href="http://video.google.com/videoplay?docid=-8213026409971160782" target="_blank">di sini</a>, keren!).</p>
<p>Ini bakalan panjang, bacanya juga mungkin perlu nyicil &#8212; kalo niat. ;-) Anyway&#8230; semoga menikmati seperti halnya saya yang menikmati sekali ketika meterjemahkannya. Kalau ada beberapa bagian yang bikin pusing, lewatin aja.  Semoga banyak mengambil pelajaran dari sini.</p>
<p><span id="more-379"></span></p>
<p align="center">* * *</p>
<p><strong>Majelis Agung</strong><br />
oleh Bawa Muhaiyaddeen</p>
<p><img src="http://watung.org/wp-content/uploads/2007/10/bawa01.jpg" title="Bawa Muhaiyaddeen" alt="Bawa Muhaiyaddeen" align="left" border="0" />Pencarian saya akan Tuhan berlangsung 21 tahun lamanya pada tahap pertama: tahapan <em>syari&#8217;at</em>. Saya pergi mencari Tuhan di pura dan candi-candi, gereja, masjid-masjid &#8212; tanpa makan, minum dan tidur, selama 21 tahun. Dan sepanjang itu pula saya menemui para tokoh, <em>swami</em> atau <em>yogi</em>. Pengalaman bersama mereka seperti meyakinkan saya bahwa walaupun apa yang mereka ajarkan tampak benar, namun terasa seperti tanpa garam, tak berasa apa-apa. Saat saya tanyakan apakah mereka melihat Tuhan, mereka tak sanggup menjelaskan-Nya. Kata-kata mereka hambar. Mereka sempat mengatakan bahwa satu-satunya jalan untuk melihat Tuhan adalah dengan bersemedi. Maka saya pun mendaki bukit di hutan, duduk di bawah sebuah pohon, menutup mata dan bersemedi 41 tahun lamanya. Namun saya tetap tak melihat Tuhan. Meski banyak hal tampil di sana, kerlap-kerlip, kilau cahaya dan berbagai keajaiban, namun kala saya acungkan senjata yang diberikan guru, mereka pun habis terbakar, pupus.</p>
<p>Saya telah bertemu banyak tokoh agama, <em>swami</em>, orang-orang suci yang datang meminta tolong kepada saya, karena tak mampu menunjuki apapun. Mereka mohon perlindungan. Mereka meminta agar saya tak menghancurkan mereka. Lantaran tak seorang pun sanggup memenuhi apa yang saya inginkan, saya pun mengurung diri ke pegunungan Himalaya selama 12 tahun. Di puncak gunung, di atas sana, saya berdiri dengan satu kaki pada bekas tetesan air yang telah membeku yang kelihatan seperti akar sebuah pohon. Saya berdiri seperti itu 12 tahun lamanya, berharap untuk dapat melihat Tuhan. Jika kalian mencoba berdiri dengan posisi yoga seperti itu, kalian tak akan sanggup membengkokkan tubuh.</p>
<p><img src="http://watung.org/wp-content/uploads/2007/10/meditate.gif" title="meditate.gif" alt="meditate.gif" align="right" border="0" /> Setelah 12 tahun waktu berjalan, saya pun terbangun dan menemukan tubuh saya telah tertutup es dan ditangkupi kabut tebal. Saya gunakan senjata dari guru untuk memecah es itu, dan seketika itu pun saya menyaksikan sebuah pemandangan yang luar biasa. Saya melihat banyak orang, yakni mereka yang telah begitu lama berada di tempat itu, mereka yang berdiri dengan dua kaki, dan mereka yang tertidur atau yang sekedar beristirahat beberapa tahun. Kebanyakan mereka tak sanggup bertahan dan meninggalkan tempat itu setelah sekian lama. Saya juga melihat bangkai-bangkai orang mati di sekeliling saya. Beberapa di antaranya tanpa jantung atau bahkan tak lagi berdaging, sementara yang lainnya benar-benar hanya tinggal tengkorak. Mereka adalah orang-orang yang datang untuk yoga, namun mereka tak lagi bernyawa. Saya katakan kepada pikiran saya sendiri, &#8220;Lihatlah, pikiranku, engkau telah menyia-nyiakan masa hidupku. Aku menghabiskan 70 tahun mencoba menemukan Tuhan, namun tak sedikit pun suara-Nya, kata-kata-Nya atau bahkan gaung-Nya terdengar. Kita berdua telah membuang waktu sia-sia. Demikian pula orang-orang di sini, mereka binasa di tengah jalan. Tuhan tidak di sini, aku harus mencarinya lebih jauh.&#8221; Saya pun turun dan pergi dari tempat itu.</p>
<p>Lalu terdengarlah sebuah suara. Saya acungkan senjata ke arah suara itu. Saya mendengarnya seperti sebuah nyanyian, tapi bukan nyanyian sihir, bukan nyanyian yang memperdayakan. Ternyata kemudian, itulah waktu ketika hati (<em>qalb</em>) saya menerima Hikmah Agung. Diri saya disulut oleh <em>Al-Hikmah</em>. Segalanya menjadi terang benderang dan saya melihat segalanya, segala yang ada! Seluruh misteri ditampakkan di hadapan saya. Lewat pemahaman akan misteri-Nya dan rahasia-rahasia dari ciptaan-Nya itu, saya melihat Tuhan Sendiri bagai pelita suci yang terang benderang.</p>
<p>Itulah tahapan ketika saya menjadi guru di wilayah empat agama, bekerja sekuat tenaga mempelajari makna dari agama-agama ini. Dari keempat agama ini, masing-masing terpilih 60 orang yang telah mencapai tahapan hikmah yang sangat tinggi, dan saya menjadi guru bagi mereka, mencerahkan mereka dengan hikmah yang lebih dalam. Saya bertemu mereka dalam keberagamaan mereka masing-masing, di pura atau candi-candi, di gereja, di masjid, mencoba memberi mereka pemahaman tentang Tuhan dan kebenaran-Nya. Saya mengajari mereka tentang apa yang mereka cari selama ini. Mereka masih hidup sampai kini, tidak mati. Meski mereka telah meninggalkan wujud fisik mereka, tapi mereka tetap hidup, walau tersembunyi. Mereka tidak mati.</p>
<p>Mereka termasuk ke dalam sebuah majelis yang mengatur bumi. Seperti halnya Kongres di negeri ini, ada sebuah kongres Ketuhanan, Majelis Agung. Dan seperti halnya Kongres yang terdiri dari Senat dan dewan-dewan perwakilan, Majelis Agung ini yang berisi orang-orang suci di dalamnya, juga terbagi ke dalam dewan-dewan yang memiliki urusan yang berbeda-beda. Sebagian berurusan dengan penyakit, bagaimana ia menjangkiti, dan apa penyebabnya. Sementara bagian lain bertanggungjawab pada produksi dan distribusi makanan. Ada juga yang berurusan dengan penyebaran hikmah dan pengetahuan. Sementara yang lainnya lagi, yakni para utusan Tuhan, <em>gnani</em> dan wali-wali bertugas menyampaikan pesan-pesan Tuhan bagi dunia ini. Mereka berada di pucuk gunung, bertugas menjaga kebutuhan fisik dan spiritual kaumnya. Yang lainnya adalah para wali yang ditugaskan untuk melaksanakan urusan tertentu. Seperti itulah alam ini berjalan.</p>
<p align="center"><img src="http://watung.org/wp-content/uploads/2007/10/angels.jpg" alt="angels.jpg" /></p>
<p>Barangsiapa menyerahkan tubuh fisiknya untuk masuk ke wilayah hikmah, maka ia akan masuk ke dalam kelompok ini, Majelis Agung, menjalankan tugas-tugas di 18.000 alam. Majelis ini bertanggungjawab atas hujan, bagaimana dan di mana ia turun, seperti apa pengendaliannya. Mereka bertanggungjawab atas makanan, siapa yang menanam, di mana, dan bagaimana ia didistribusikan. Mereka mengawasi penyakit-penyakit, paceklik, dan wabah, bagaimana datangnya, bagaimana cara mengendalikannya. Seluruh aspek kehidupan dijalankan oleh mereka yang berada di majelis ini, termasuk pula di dalamnya para malaikat yang agung: Jibril a.s., Mikail a.s., Izrail a.s. sang pencabut nyawa, Israfil a.s., Munkar a.s. dan Nakir a.s., Raqib a.s. dan Atid a.s. Para malaikat ini membawa perintah Tuhan kepada majelis untuk didiskusikan, dan ketika sesuatu hal selesai dibahas, berbagai keputusan pun diambil.</p>
<p>Saya pun terhubung dengan majelis ini. Saya pernah ditugaskan mengepalainya, yakni sebagai sheikh dari majelis ini. Ini bukan satu hal yang saya inginkan, tapi ini dilimpahkan kepada saya. Tapi sudahlah, saya tak akan membicarakan itu lebih jauh lagi, mari kita membahas yang lain.</p>
<p>Anak-anakku terkasih, lebih dari 400 tahun terakhir, tak seorang pun di bumi ini tergabung dengan Majelis Agung. Dan untuk itulah alasan saya didatangkan ke sini, yakni menemukan orang-orang di dunia ini untuk kemudian dijadikan anggotanya. Dalam menjalankan misi ini, saya telah membawa dan menebarkan hal-hal, cukup banyak sampai memenuhi sebuah bahtera yang bahkan sanggup membawa jutaan kapal-kapal kecil. Demikian banyak yang telah saya bawa dan coba berikan, namun selama seratusan tahun terakhir itu hanya enambelas-setengah orang yang benar-benar menjadi manusia yang sesungguhnya. Berapa jutakah jumlah orang di dunia ini? Dari semua itu, hanya sedikit sekali yang menerima apa yang saya tawarkan. Mereka menginginkan apa yang ada di dalam bahtera, namun ketika mereka datang kepada saya, mereka membawa beban-beban yang begitu banyak sehingga tak sanggup lagi menampung apa yang saya coba tawarkan.</p>
<p>Tampaknya tak seorang pun siap menerima apa yang saya bawa. Malahan, semua orang mencoba menawari saya dengan apa-apa yang mereka miliki, mereka berusaha menjual barang-barang yang saya tak mungkin membelinya. Juga meski sebagian orang berkeinginan menerima apa yang saya bawa, akan tetapi gudang mereka telah penuh, dan tak ada lagi ruang bagi apa-apa yang hendak saya berikan. Bahkan ketika mereka telah meraihnya sekalipun, seketika itu pula mereka membuangnya kala menyadari mereka <img src="http://watung.org/wp-content/uploads/2007/10/anubis01.jpg" title="Anubis" alt="Anubis" align="right" border="0" />tiada sanggup menyimpannya. Beberapa dari mereka berkata, &#8220;Tunjukkan Tuhanmu kepadaku, tunjukkan Tuhan yang engkau bicarakan itu. Kami punya satu tuhan yang dapat kami lihat. Lihat, Bawa, lihat tuhan milik kami ini,&#8221; dan mereka menunjukkan saya tuhan anjing mereka, patung Krishna mereka, atau tuhan apapun yang mereka miliki. Mereka berkata, &#8220;Bawa, engkau berbicara tentang Tuhan yang tak tampak, mana Tuhanmu?&#8221;</p>
<p>Saya jawab, &#8220;Meski engkau dapat melihat tuhanmu, dapatkah engkau berbicara dengannya, dapatkah ia berbicara denganmu?&#8221;</p>
<p>Mereka bilang, &#8220;Tidak, kami tak dapat bercakap-cakap dengannya, tapi paling tidak kami bisa melihatnya.&#8221; Apa yang mereka inginkan hanyalah sesuatu yang mereka bisa lihat dengan mata kepala. Lalu mereka bertanya lagi, &#8220;Mana Tuhan yang engkau omongkan itu?&#8221;</p>
<p>Saya jawab, &#8220;Dia ada di dalam dirimu, Dia ada di dalam diriku, Dia di sini, Dia di sana, Dia ada di mana-mana. Jika engkau menginginkan-Nya, engkau musti menempatkannya di sebuah bejana khusus. Lihat ini, ambil pelita ini. Ini adalah permata yang tak ternilai harganya. Jika engkau menyimpannya dengan baik, engkau akan melihat di mana Tuhan berada. Begitu permata ini memandang kepada-Nya, seketika itu pula ia akan mengeluarkan pelita pesan-pesannya. Engkau tak akan sanggup melihat Tuhan tanpa kekuatan dari cahaya ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mana cahaya itu?&#8221; tanya mereka, &#8220;Tunjukkan cahaya itu, tunjukkan mana Tuhanmu!&#8221; Namun ketika saya berusaha menunjukkannya, saya perhatikan mereka membawa empat bejana yang berbeda untuk menampung apa yang saya coba berikan kepada mereka. Bejana yang pertama adalah saringan, persis seperti serat-serat pohon kelapa. Bejana yang kedua mirip seekor kerbau. Yang ketiga bagai pot rusak. Dan yang keempat menyerupai angsa. Semua yang datang, membawa salah satu dari keempat bejana ini untuk mewadahi apa yang saya coba berikan.</p>
<p>Ketika dijelaskan kepada mereka, &#8220;Tuhan adalah seperti nektar yang lezat tiada putus-putusnya,&#8221; ketika saya mengajak mereka untuk minum madu ilahiah ini, dan ketika saya mengarahkan dan mencoba menuangkannya kepada mereka, bejana yang mereka miliki tak sanggup menampungnya. Saya serukan kepada mereka yang datang dengan pikiran yang seperti saringan, &#8220;Kemarilah wahai anakku, ini madu, ini nektar.&#8221; Namun ketika saya menuangkannya, madunya hanya meluncur ke bawah; dan hanya kotoran yang tertinggal di atasnya.</p>
<p>Kala mereka melihatnya, mereka bilang, &#8220;Apa ini? Aku hanya melihat sampah di sini!&#8221; dan mereka pun pergi.</p>
<p>Selanjutnya datanglah mereka yang memiliki pikiran layaknya pot rusak. Saya berkata, &#8220;Ini, simpan ini, minumlah.&#8221; Saya pun menuang nektar itu, mereka melihat ke dalam pot itu dan menemukannya telah kosong.</p>
<p>Segala yang saya tuang hanya lewat saja melalui lubang-lubang pot. Pot rusak dari pikiran rendah yang tanpa iman ini tak sanggup menampungnya. Lalu mereka mulai membentak saya, &#8220;Mana hal-hal yang engkau ceritakan itu? Aku tak melihatnya. Engkau berbohong, engkau tak benar-benar melihat Tuhan,&#8221; dan mereka pun pergi.</p>
<p><img src="http://watung.org/wp-content/uploads/2007/10/buffalo.jpg" title="buffalo.jpg" alt="buffalo.jpg" align="left" border="0" />Kemudian datanglah mereka yang memiliki pikiran kerbau. Saya menunjuk kepada lautan nektar di sana, danau yang berisi air jernih yang lezat tiada tara, mengajak mereka meminum sarinya. Akan tetapi, bukannya berdiri di tepi danau dan meminumnya perlahan, mereka masuk ke tengah danau, melompat-lompat dan mengaduk-aduk lumpur di bawahnya, mengotori airnya. Mereka kembali dari tengah danau dan bertanya-tanya, &#8220;Mana air jernih yang engkau ceritakan itu, mana rasa yang lezat itu? Kami hanya melihat lumpur dan kotoran ini!&#8221; Mereka yang mengotori air, mereka pula yang kembali bertanya. Mereka adalah orang-orang yang mengambil tiga langkah awal dari perjalanan mendaki: <em>sariyai</em>, <em>kiriyai</em>, dan <em>yogam</em>, mengganggu kejernihan nektar dengan tiga langkah ini. Mereka pun akhirnya pergi.</p>
<p>Yang keempat adalah mereka yang seperti angsa, seekor burung yang begitu indah, putih bersih dengan paruhnya yang panjang. Angsa semacam ini, konon, sukar ditemui di dunia ini. Jika engkau mencampur air dengan susu, burung ini akan memasukkan paruhnya dan menghisap hanya susunya dan menyisakan air di dalamnya. Ia memiliki kemampuan untuk membedakan susu dengan air. Mereka yang datang bak angsa ini sanggup membedakan antara yang duniawi dan yang ilahiah. Mereka dengan hati-hati menyerap yang ilahiah dan meninggalkan apa yang cuma sekedar ilusi. Dalam kata-kata seorang guru atau apa saja yang ada dalam pikiranmu, senantiasa ada campuran antara susu murni dengan air. Barangsiapa sanggup membedakan antara keduanya dan mengambil sari-sari kemurnian, sari-sari kebenaran, mereka telah mencapai tingkatan <em>gnani</em>, sosok yang memiliki hikmah agung.</p>
<p align="center"><img src="http://watung.org/wp-content/uploads/2007/10/swan.jpg" alt="Loving Swan" /></p>
<p>Hanya ia yang mampu membedakan realitas dari yang bukan-realitas akan mampu pula melihat dirinya, melihat Tuhan dan bersatu dengan-Nya. Ia akan dapat melihat kebenaran, paham akan ilusi-ilusi. Ia akan melihat kehidupannya sendiri, ia akan melihat kehidupan yang lainnya dan dapat berkomunikasi dengan semuanya. Ia akan mendengar tasbih atau meditasi yang berbeda-beda dari setiap makhluk di bumi ini. Ia akan paham sifat dari tasbih-tasbih ini. Ia akan mendengar suara-suara keluar dari tasbih-tasbih ini. Ia akan sanggup menyetel telinganya untuk mendengar suara-suara malaikat atau makhluk-makhluk lainnya, memahami tasbihnya. Ia pun sanggup menyetel telinganya untuk mendengar suara-suara Tuhan keluar dari dalam dirinya. Kebanyakan orang melihat dengan kedua belah matanya, namun ia melihat dengan setiap pori-pori di kulitnya. Setiap pori adalah mata yang dengannya ia dapat melihat. Ia memiliki milyaran pori yang dibangkitkan dengan cahaya ilahiah, dan seluruh pori ini melihat apa yang di sekelilingnya, di belakang, depan, dan di semua sisi. Ia melihat surga, dunia dan semuanya, semua yang ada. Ia melihat semuanya dengan sangat jelas, total. Tak ada satu makhluk pun luput dari mata seperti ini, karena setiap helai bulu, setiap pori di kulitnya adalah penglihatan baginya.</p>
<p>Jika engkau nyalakan dirimu dengan baterai hikmah, setiap pori akan disinari dengan pelita, seperti bola lampu. Jika semua pelita di sini menyala, seluruh kota adalah cahaya yang lengkap gemerlap. Engkau akan bagaikan mentari, senantiasa terang, tiada pernah malam. Suatu tingkatan yang tak ada lagi siang atau malam, segalanya adalah siang. Anakku tersayang, semoga Tuhan menganugerahkanmu hikmah yang seperti ini. Banyak di antara kalian datang meminta untuk memberi kalian apa yang ada padaku. Namun jika engkau membawa bersamamu hal-hal semacam tadi, tak akan ada ruang bagi apa yang hendak kuberikan kepadamu. Buang semua hal itu. Tak ada ruang di gudangmu untuk hal-hal seperti itu. Datanglah dengan tanpa apa-apa dan tangan terbuka, maka engkau akan mampu menyimpan apa-apa yang kuberikan kepadamu. Semoga engkau dapat mencapai hikmah yang seperti ini. Amin.</p>
<p align="center">* * *</p>
<p><strong>Credits</strong>: Semua gambar dicuri dari Internet. Selamat Hari Raya! Mohon maaf, lahir dan batin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://watung.org/2007/10/14/majelis-agung/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bersabar dalam &#8220;kesempitan&#8221;</title>
		<link>http://watung.org/2007/10/02/bersabar-dalam-kesempitan/</link>
		<comments>http://watung.org/2007/10/02/bersabar-dalam-kesempitan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Oct 2007 16:05:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Watung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Spirituality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://watung.org/2007/10/02/bersabar-dalam-kesempitan/</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah kisah tentang seorang buta, tuli, dan bodoh yang bermaksud bertemu Gustinya.
Duh, Gusti. Ijinkan aku menuju-Mu.
Baik sekali, Nak. Baik sekali. Karena &#8220;&#8230;sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka&#8230;&#8221; (QS [10]:7). Kemari, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://watung.org/wp-content/uploads/2007/10/bukit.jpg" title="bukit.jpg" alt="bukit.jpg" align="left" border="0" hspace="2" />Sebuah kisah tentang seorang buta, tuli, dan bodoh yang bermaksud bertemu Gustinya.</p>
<p><img src="http://watung.org/wp-content/uploads/2007/10/dash.gif" title="dash.gif" alt="dash.gif" align="left" />Duh, Gusti. Ijinkan aku menuju-Mu.</p>
<p>Baik sekali, Nak. Baik sekali. Karena &#8220;<em>&#8230;sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka&#8230;</em>&#8221; (QS [10]:7). Kemari, ayo kemari. Tapi waspadalah karena jalanan berbukit, amat terjal dan berbatu. Jangan kuatir, anak-Ku sayang, Aku akan menuntunmu, jika engkau mau&#8230;</p>
<p><img src="http://watung.org/wp-content/uploads/2007/10/dash.gif" title="dash.gif" alt="dash.gif" align="left" />Duh, Gusti. Tuntun hamba. &#8220;<em>Tunjuki hamba Jalan Yang Lurus itu&#8230;</em>&#8221; (QS [1]:6)</p>
<p><span id="more-369"></span>Duhai, hamba-Ku. Lihatlah dirimu. Apakah itu yang engkau usung bersama dirimu?</p>
<p align="center"><img src="http://watung.org/wp-content/uploads/2007/10/bebanbeban.jpg" alt="bebanbeban.jpg" /></p>
<p><img src="http://watung.org/wp-content/uploads/2007/10/dash.gif" title="dash.gif" alt="dash.gif" align="left" />Milikku. Tak mungkin aku meninggalkan jerih payahku selama ini. Ini pula bekalku selama perjalanan nanti. Bukankah perjalanan akan menjadi sukar dan berbahaya? Bawa bekal, bawa semuanya.</p>
<p>Watung bodoh. Bagaimana mungkin engkau bisa mudah sampai kepada-Ku dengan segala beban-bebanmu? Engkau tak membutuhkan semua itu di perjalanan ini. Mari sini, Nak. Sini, biar Aku leluasakan dirimu barang sedikit dan &#8220;<em>&#8230;membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka</em>&#8221; QS [7]:157.</p>
<p><img src="http://watung.org/wp-content/uploads/2007/10/dash.gif" title="dash.gif" alt="dash.gif" align="left" />Mobilku! Kemana mobilku?!</p>
<p><img src="http://watung.org/wp-content/uploads/2007/10/dash.gif" title="dash.gif" alt="dash.gif" align="left" />Laptopku!</p>
<p><img src="http://watung.org/wp-content/uploads/2007/10/dash.gif" title="dash.gif" alt="dash.gif" align="left" />iPod-ku! Kursiku! Duhai Paduka Yang Maha Agung. Kenapa Paduka sengsarakan hidup hamba-Mu ini? Apa salah hamba? Duh Gusti, bukankah aku telah berusaha mendekati-Mu, bersholat lima waktu dan bersedekah untuk-Mu?</p>
<p>Wahai, anak yang bodoh, &#8220;<em>&#8230; boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu&#8230;</em>&#8221; QS [2]:216. Maka bersabarlah barang sebentar, Nak. Karena &#8220;<em>&#8230; sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.</em>&#8221; (QS [2]:155)</p>
<p>Nak, ini semua &#8220;<em>&#8230;untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu.</em>&#8221; (QS [3]:154)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://watung.org/2007/10/02/bersabar-dalam-kesempitan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Titik-titik</title>
		<link>http://watung.org/2007/09/26/titik-titik/</link>
		<comments>http://watung.org/2007/09/26/titik-titik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Sep 2007 17:08:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Watung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Family]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://watung.org/2007/09/26/titik-titik/</guid>
		<description><![CDATA[Azka, laki-laki, kelas 2 SD. Seminggu yang lalu, seperti puluhan atau bahkan ratusan temannya yang lain menjalani ujian Kewarganegaraan, sebuah mata pelajaran sekolah yang diharapkan, yah bisa membentuknya menjadi seorang warga negara yang baik, for whatever it means.
Salah satu soal di ujian itu berbunyi begini: &#8220;Yang bertugas mengumpulkan uang sumbangan di sekolah adalah &#8230;&#8221; Titik-titik. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://watung.org/wp-content/uploads/2007/09/108155319_6a3f06ffa8.jpg" title="108155319_6a3f06ffa8.jpg" alt="108155319_6a3f06ffa8.jpg" align="left" border="0" />Azka, laki-laki, kelas 2 SD. Seminggu yang lalu, seperti puluhan atau bahkan ratusan temannya yang lain menjalani ujian Kewarganegaraan, sebuah mata pelajaran sekolah yang diharapkan, yah bisa membentuknya menjadi seorang warga negara yang baik, for whatever it means.</p>
<p>Salah satu soal di ujian itu berbunyi begini: &#8220;Yang bertugas mengumpulkan uang sumbangan di sekolah adalah &#8230;&#8221; Titik-titik. Jawaban Azka? &#8220;Kita&#8221;. Hmmm, sepertinya jawaban yang bagus (anak sendiri, jadi agak bias juga nih). Menariknya, it&#8217;s wrong-wrong-wrong, salah, nol, kosong. The correct answer? Well&#8230; I have no clue. Bisa si Ina, si Tasya, si Michael, si Rachel, ketua kelas, wakil ketua kelas, atau bahkan Bu Guru sendiri&#8230; don&#8217;t you think? Lhah, harusnya siapa sih?</p>
<p>Oh, soal semacam itu bukan satu-satunya. &#8220;Kita harus (titik-titik) pada orang yang bicara&#8221;. &#8220;Membersihkan got mampet adalah contoh perbuatan gotong royong yang dilakukan di &#8230;&#8221; &#8220;Manusia membutuhkan manusia lain karena &#8230;&#8221; Dan kalau kita menjawab &#8220;untuk minta tolong&#8221; buat soal yang terakhir, kita akan senasib dengan Azka: nol, kosong, karena jawaban yang benar adalah &#8220;karena manusia adalah makhluk sosial&#8221;. Hah?</p>
<p><span id="more-367"></span>Seluruh soal di ujian itu, ada 30 totalnya, seluruhnya, saya ulangi, seluruhnya&#8230; adalah jenis &#8216;titik-titik&#8217;. Cepat-cepat saya peluk Azka, &#8220;Dapat remedial ya? Hebat banget!&#8221; Itu serius. Biar. Biar saja dianggap bodoh oleh &#8230; <em>stupidity </em>semacam itu.</p>
<p>Maka kita pun tersadar, mimpi buruk macam apa yang dialami anak-anak. Sebuah mimpi tentang pakem-pakem para orang tua, tentang ketentraman yang tak ingin diusik. Jenis soal titik-titik ini adalah sebuah sejarah pendidikan yang memberangus, yang seolah berkata, &#8220;Wahai, anak-anakku. Kalian anak-anak, kami orang tua. Ikuti kami. Kami orang tua sudah punya cerita. Tak usah kau mencari-cari kisahmu sendiri. Lanjutkan saja sejarah kami. Lanjutkan kemegahan kami. Belumkah cukup ruang <em>titik-titik</em> itu bagimu? Isi dengan baik. Isi yang benar. Sesuai yang kami ajarkan dahulu. Sungguh kami mencintaimu&#8230; apa adanya, jika engkau seperti kami.&#8221;</p>
<p>Teman-teman yang baik, bukankah anak-anak adalah jiwa-jiwa yang bebas sebenarnya? Kita memberi mereka selembar kertas gambar yang lalu dicoret-coretnya sampai habis seluruh lantai kamar, sprei tempat tidur, dan mulutnya sendiri. Jiwa tak berbatas. Lihatlah mata itu, tangan mungil itu baik-baik. Bukankah hanya mereka anak-anak yang berani mengkritik buku-buku kita sebagai coret-coretan hitam putih yang jelek tanpa warna? Bukankah hanya tawa dan senyum anak-anak yang tanpa dibuat-buat?</p>
<p>Di manakah anak-anak kini, teman-teman yang baik?</p>
<p>Adakah kita yang membunuh jiwa-jiwa itu? Mungkin tidak. Barangkali kita hanya membonsainya sedikit, mengikat tumbuh kembang batang dan rantingnya agar tampak rapi, menaruhnya di vas kecil nan cantik seukuran <em>tiga titik</em>&#8230; bertahun-tahun. Bertahun-tahun! Agar kita dapat menaruhnya di pojok-pojok ruangan dan mengundang decak kagum para saudara saudari dan tetangga yang bertepuk tangan akan kehebatan kita sendiri.</p>
<p align="center"><img src="http://watung.org/wp-content/uploads/2007/09/bonsai.jpg" alt="bonsai.jpg" /></p>
<p>Anak-anak, teman-teman yang baik, pada akhirnya adalah <em>bangunan keinginan kita sendiri</em>. Anak-anak adalah makhluk yang kita ciptakan sendiri bertingkah menyerupai kita para dewasa, yang bertubuh mini.</p>
<p>Bonsai. Sebuah teknik yang mengerikan. Tapi barangkali itu gambaran masa depan kita. Mahal, indah. Tapi bonsai.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://watung.org/2007/09/26/titik-titik/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
