Ffiuhh, selesai juga akhirnya cicilan panjang ini: sebuah tulisan yang aslinya berjudul “Divine Assembly”, diterjemahkan dari buku The Tree That Fell To The West, karya Bawa Muhaiyaddeen.
Sedikit pengantar. Bawa Muhaiyaddeen adalah seorang sufi Muslim asal Srilanka, yang bertugas mengajar agama melampaui wilayahnya, sampai ke Amerika dan Kanada, sampai ke Kristen, Hindu, dan Buddha. Sedikit sekali fakta sejarah tentang beliau ini, di samping beliaunya sendiri kalau ditanya soal asal-usulnya selalu bilang, “I am nothing. I am nothing. Only God is important!” (dalam bahasa Tamil tentu saja). Di sini, Bawa bercerita sekelumit tentang ikhtiar pencarian beliau sendiri tentang Tuhan. FYI, beliau sendiri tidak bisa berbahasa Inggris, sehingga jadinya semua tulisan di buku itu adalah transkrip terjemahan dari ucapan beliau selama mengajar (buat yang ingin tahu seperti apa beliau mengajar dan suasananya, lihat videonya di sini dan di sini, keren!).
Ini bakalan panjang, bacanya juga mungkin perlu nyicil — kalo niat. ;-) Anyway… semoga menikmati seperti halnya saya yang menikmati sekali ketika meterjemahkannya. Kalau ada beberapa bagian yang bikin pusing, lewatin aja. Semoga banyak mengambil pelajaran dari sini.
(Read the rest…)
Sebuah kisah tentang seorang buta, tuli, dan bodoh yang bermaksud bertemu Gustinya.
Duh, Gusti. Ijinkan aku menuju-Mu.
Baik sekali, Nak. Baik sekali. Karena “…sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka…” (QS [10]:7). Kemari, ayo kemari. Tapi waspadalah karena jalanan berbukit, amat terjal dan berbatu. Jangan kuatir, anak-Ku sayang, Aku akan menuntunmu, jika engkau mau…
Duh, Gusti. Tuntun hamba. “Tunjuki hamba Jalan Yang Lurus itu…” (QS [1]:6)
(Read the rest…)
Azka, laki-laki, kelas 2 SD. Seminggu yang lalu, seperti puluhan atau bahkan ratusan temannya yang lain menjalani ujian Kewarganegaraan, sebuah mata pelajaran sekolah yang diharapkan, yah bisa membentuknya menjadi seorang warga negara yang baik, for whatever it means.
Salah satu soal di ujian itu berbunyi begini: “Yang bertugas mengumpulkan uang sumbangan di sekolah adalah …” Titik-titik. Jawaban Azka? “Kita”. Hmmm, sepertinya jawaban yang bagus (anak sendiri, jadi agak bias juga nih). Menariknya, it’s wrong-wrong-wrong, salah, nol, kosong. The correct answer? Well… I have no clue. Bisa si Ina, si Tasya, si Michael, si Rachel, ketua kelas, wakil ketua kelas, atau bahkan Bu Guru sendiri… don’t you think? Lhah, harusnya siapa sih?
Oh, soal semacam itu bukan satu-satunya. “Kita harus (titik-titik) pada orang yang bicara”. “Membersihkan got mampet adalah contoh perbuatan gotong royong yang dilakukan di …” “Manusia membutuhkan manusia lain karena …” Dan kalau kita menjawab “untuk minta tolong” buat soal yang terakhir, kita akan senasib dengan Azka: nol, kosong, karena jawaban yang benar adalah “karena manusia adalah makhluk sosial”. Hah?
(Read the rest…)
oleh Bawa Muhaiyaddeen
Tanya: Orang banyak mendebatkan tentang laki-laki dan perempuan, apa sebenarnya perbedaan pokok antara keduanya?
Bawa Muhaiyaddeen: Keduanya dibentuk dari lima elemen yang sama. Konsep laki-laki dan perempuan adalah konsep tentang tubuh, jasad. Sang Seniman yang mencipta laki-laki dan perempuan memang ‘mendekorasinya’ dengan cara berbeda. Tubuh adalah sebuah cangkang, rumah bagi masing-masing untuk ditempati. Namun engkau terlena oleh dekorasinya.
Jika engkau perhatikan baik-baik, perempuan bersifat lemah lembut. Pada ‘dekorasi’ ini terdapat keindahan bak emas berlian, kecantikan yang menarik. Energi di wajah dan tubuh-tubuh mereka seperti magnet. Laki-laki juga memiliki energi yang sama, tapi energi itu terletak di dalam. Walau laki-laki tak punya kelemahlembutan-luar seperti perempuan, mereka memiliki energi magnetik-dalam yang tertarik dan terhubung dengan magnetik-luar di wajah dan wujud seorang perempuan.
(Read the rest…)
Laki-laki dan perempuan itu kayak Jeep dan Mercedes-Benz. Don’t you think?

Yang di sebelah kiri itu adalah sebuah SL Class. Lembut, anggun, cantik. Bau harum di jok belakang, dibawa semilir udara AC sepoi-sepoi. Mampu melesat bak permadani terbang di jalan tol, tak terasa sedikit pun guncangan. Empuk. Menggoda. Seperti seorang perempuan, bukankah begitu?
Sementara yang sebelah kanan, Wrangler Rubicon! Yah, dream machine… It’s a Jeep, it’s 4×4 and it’s 4000 cc. Naik turun lembah dan bukit, melintas sungai dan rawa, tak akan membuatnya berhenti menderu. Walau memang nggak seanggun SL Class, tapi ia kokoh, kuat, tangguh. Sebuah angkutan ex-militer yang legendaris, sangar, peluh penuh debu, macho. Barangkali seperti itulah natur laki-laki.
Now which one is better?
(Read the rest…)
Ingat sebuah kalimat di film Peterpan, “Kala bayi tertawa, maka tawa itu pecah ribuan keping yang lalu bertebaran ke seluruh penjuru sambil berjingkat-jingkat. Itulah awal muasal para peri.”

Walau lama-lama kita akhirnya mengerti, especially misalnya when all neighbours fall asleep and they still come to AAARRRRGGGHH-ing together at 11:00 PM: raising kids is part joy and part guerilla warfare. Teriakan keras di satu sisi, dan tak ada sopan santun di sisi lain.

… and they don’t have an OFF button.
Ingatan kita dulu adalah tentang seorang tua gempal di Yunani sana yang hidupnya hanya beredar di pasar-pasar bak gelandangan, menggetok pikiran dan mendebat anak-anak muda tentang sesuatu yang… entah soal apa sebenarnya. Yang lalu diadili dan mati diteguk racun oleh penguasa.
Gadfly of Athena, julukannya, Lalat Pengganggu Athena. Dan beliau ini memang bak lalat: hinggap, menggelitik, lalu terbang… hampir tanpa jejak. Maka sampai kini pun, tak pernah orang menemukan bahkan sebaris pun tulisan-tulisan Socrates. Kisahnya yang ajaib, tentu, masih dapat kita simak lewat karya-karya Plato yang banyak merekam gurunya yang aneh ini.
Aneh, karena yah… ngapain ya ngider di jalan-jalan seperti itu? Cuma untuk berdiskusi dan menanyai orang-orang? He is a prominent philosopher, a smart guy! Dan apa yang dituju sebenarnya, diskusi apa, tentang apa — sebegitu hebohnya sampai musti disidang di depan 500 juri di pengadilan Athena?
Nah, kita bisa membaca Apologia (download ebook) karya Plato. Apologia adalah rekaman dari sesi pembelaan Socrates di pengadilan sebelum ia dihukum mati. Agak panjang, tapi saya coba cuplikkan yang menariknya (juga mengejutkan!) So please sit down and relax…
(Read the rest…)