Ingat sebuah kalimat di film Peterpan, “Kala bayi tertawa, maka tawa itu pecah ribuan keping yang lalu bertebaran ke seluruh penjuru sambil berjingkat-jingkat. Itulah awal muasal para peri.”

Walau lama-lama kita akhirnya mengerti, especially misalnya when all neighbours fall asleep and they still come to AAARRRRGGGHH-ing together at 11:00 PM: raising kids is part joy and part guerilla warfare. Teriakan keras di satu sisi, dan tak ada sopan santun di sisi lain.

… and they don’t have an OFF button.
Ingatan kita dulu adalah tentang seorang tua gempal di Yunani sana yang hidupnya hanya beredar di pasar-pasar bak gelandangan, menggetok pikiran dan mendebat anak-anak muda tentang sesuatu yang… entah soal apa sebenarnya. Yang lalu diadili dan mati diteguk racun oleh penguasa.
Gadfly of Athena, julukannya, Lalat Pengganggu Athena. Dan beliau ini memang bak lalat: hinggap, menggelitik, lalu terbang… hampir tanpa jejak. Maka sampai kini pun, tak pernah orang menemukan bahkan sebaris pun tulisan-tulisan Socrates. Kisahnya yang ajaib, tentu, masih dapat kita simak lewat karya-karya Plato yang banyak merekam gurunya yang aneh ini.
Aneh, karena yah… ngapain ya ngider di jalan-jalan seperti itu? Cuma untuk berdiskusi dan menanyai orang-orang? He is a prominent philosopher, a smart guy! Dan apa yang dituju sebenarnya, diskusi apa, tentang apa — sebegitu hebohnya sampai musti disidang di depan 500 juri di pengadilan Athena?
Nah, kita bisa membaca Apologia (download ebook) karya Plato. Apologia adalah rekaman dari sesi pembelaan Socrates di pengadilan sebelum ia dihukum mati. Agak panjang, tapi saya coba cuplikkan yang menariknya (juga mengejutkan!) So please sit down and relax…
(Read the rest…)
Bikin puisi, buat anak umur 6 tahun yang hobinya maeeeeeen terus kayak anak saya, bisa jadi mimpi buruk. Nggak kebayang bagaimana anak-anak bisa survive berpuisi di sekolah yang mengajarkan murid-muridnya tentang definisi puisi.
But I tell you what, they DO survive… Tanpa diberitahu musti bagaimana (bikin puisi nggak ada teorinya, bener nggak sih?), tanpa bantuan siapa-siapa, nggak pernah tahu juga mereka belajar darimana.
Anyway… berikut adalah puisi karya Azka.
(Read the rest…)
oleh Bawa Muhaiyaddeen
Cucu-cucuku tersayang, perempuan maupun laki-laki. Tuhan telah menempatkan seluruh kekayaan-Nya di dalam diri kita. Dia telah menganugrahkan kepada kita kekayaan mubarokat, kekayaan tiga dunia. Temukanlah khazanah ini melalui perilaku yang baik. Kekayaan itu benar-benar ada, namun tersembunyi jauh di dalam diri kita. Kita sendirilah yang telah menguburnya, terpendam oleh rasa iri dan dengki, dan kini kita musti menggalinya dalam-dalam untuk memperoleh kembali kekayaan itu. Kita musti mengeruk dan menepis jauh-jauh kegelapan untuk memperolehnya.
Anak-anakku terkasih. Untuk menjelaskannya, ijinkan aku bercerita tentang sebuah kisah. Cerita tentang Rasulullah s.a.w.
Di kota Madinah, tersebutlah seorang tua. Hidupnya sangatlah nestapa. Kesulitan demi kesulitan menimpanya, masalah demi masalah. Ia mengadukan nasib hidupnya ini kepada orang-orang yang kemudian menyuruhnya pergi ke tempat ini dan itu. Awalnya ia memohon kepada raja dan raja berkenan membantunya, namun pak tua itu tak beroleh banyak dari uluran tangannya. Lalu ia pergi ke para guru yang kemudian membantunya ala kadarnya, namun ia tetap miskin. Tampaknya tak seorang pun sanggup mengangkat kesulitan yang dihadapinya. Tak satu pun cara mampu mengubah keadaannya. Dan tiada henti ia bertanya siapa gerangan yang dapat mengakhiri kesengsaraan hidupnya ini.
(Read the rest…)

Tanya: Berapa banyak dari hidup kita yang sudah ditakdirkan, dan berapa banyak yang kita sendiri bertanggungjawab atasnya?
Bawa Muhaiyaddeen: Tuhan telah mengajarimu segenap hal. Segalanya tertulis di dalam dirimu. Sebelum engkau datang ke dunia ini, Dia mengatakan, “Aku mengirimmu ke sebuah sekolah bernama ‘dunia‘. Sebuah tempat sementara. Pergilah ke sana barang sebentar untuk belajar tentang ’sejarah’-Ku, sejarahmu sendiri, dan sejarah yang lain. Cari tahu siapa yang menciptakan semuanya ini, siapa yang bertanggungjawab atas semuanya ini, siapa Sang Penjaga yang melindungimu, dan apa yang menjadi milikmu sebenarnya. Jika engkau telah belajar dan paham seluruh sejarah ini, engkau akan tahu siapa dirimu dan siapa Dia yang engkau butuhkan, Dia yang sebenarnya, Dia yang akan hidup selamanya.
(Read the rest…)

Yah sejauh ini baik-baik saja, alhamdulillah. Yang menarik ketika mendapati titipan kedua adalah kita mengulangi kembali segala keribetan di titipan pertama. Kembali lagi ke soal popok, ASI, pipis di mana-mana, timang-timang malam hari⦠setelah 6 tahun berselang.
Padahal anak sebenarnya adalah ’spesies’ yang berserah diri. Mereka tak punya rasa khawatir. Nggak pusing soal makan dan minum. Nggak peduli mau kelewatan nonton Heroes atau bangun kesiangan. Nggak mikirin besok, bulan depan, masa depannya. Dia hanya tahu satu hal: segalanya sudah dijamin. Ketika lapar, kesepian, atau takut, yang ia lakukan adalah cukup dengan, “EEEEEAAAAAAAKK!” Maka seluruh masyarakat dunia pun tergopoh-gopoh menyambut.
(Read the rest…)
Ada sebuah fase ketika seorang pejalan dan orang-orang yang percaya musti sejenak berhenti, barangkali di antara jeda-jeda nafas ini: apa yang sebenarnya Tuhan inginkan? Apakah diam saja bagai emas atau berbicara? Apakah tetap tinggal atau hijrah? Apakah musti ke dokter atau biarkan saja? Apakah sekolah lagi atau bekerja? Apakah musti memberinya atau membiarkannya?
Yang mana yang Ia maui?
Pertanyaan serupa diajukan di sebuah diskusi bersama Bawa Muhaiyaddeen (seorang sufi asal Srilanka), terekam di (dan diterjemahkan dengan semena-mena tanpa ijin dari) buku Questions of Life, Answers of Wisdom Vol. 2.
* * *
Tanya: Kadang saya tak tahu lagi apa yang Tuhan maui. Apakah Dia ingin saya melakukan sesuatu agar terjadi, atau Dia mau saya diam saja dan menerima apapun yang terjadi?
(Read the rest…)